
Tring!
Tring!
Tring!
Suara dentingan pedang terdengar keras di ruangan pemimpin perampok Bulan Merah yang luas itu.
Zero dan Netero baru memulai pertarungannya selama beberapa menit sebelum Zero bergerak mundur karena menyadari sesuatu.
'Ada apa ini? Kenapa pedangku menjadi terasa berat seperti ini? Berat tubuhku juga seperti bertambah dua kali lebih berat dari biasanya.' Zero menatap heran kedua pedangnya beserta tubuhnya.
"Kenapa berhenti? Apa kau sudah menyerah, hah?" Netero tidak memberi kesempatan bagi Zero untuk mencari tahu alasan kenapa pedangnya seiring waktu terus bertambah berat.
Zero yang melihat Netero melesat menyerangnya segera menepis kedua pedang yang diayunkan olehnya menggunakan pedang miliknya.
Saat itulah Zero menyadari alasan kenapa pedangnya seiring waktu terus bertambah barat.
Zero bergerak mundur dan berkata, "Oh, jadi pedangku menjadi terasa berat seperti ini karena kemampuan pedangmu rupanya..." ucapnya terkekeh sambil menunjuk pedang kembar milik Netero.
"Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?" Netero balas terkekeh.
"Ternyata benar, ya…" Zero mengembalikan kedua pedangnya yang terasa sangat berat itu kembali tempatnya.
"Kenapa? Apa sekarang kau berpikir lebih baik melawanku menggunakan tangan kosong dari pada menggunakan senjata, begitu?" ejek Netero lalu melesat menyerang Zero yang kini tanpa senjata.
Zero tidak menyambut pedang milik Netero melainkan menghindarinya selagi mengukur kemampuan berpedang Netero yang cukup menarik menurutnya.
"Apa pedangmu salah satu harta suci?" tanya Zero selagi menghindari setiap serangan yang dilontarkan oleh Netero.
"Tidak, pedang ini hanya senjata Class S yang memiliki kemampuan unik saja. Setiap kali pedang ini menyentuh sesuatu maka berat sesuatu yang disentuh itu akan bertambah dua kali lipat sesuai dengan berat sesuatu yang disentuh," jelas Netero tanpa memberi celah bagi Zero menyerang.
"Oh, begitu, ya. Jadi karena pedang milikmu sudah menyentuh pedang milikku yang masing-masing beratnya 2 kg sebanyak delapan kali, itu berarti berat pedangku tadi bertambah menjadi 256 kg. Jika dijumlahkan dengan kedua pedang itu keseluruhannya yaitu 512 kg. Pantas saja terasa sangat berat sekali…" Zero tersenyum tipis menghitung jumlah berat pedang yang tadi dia masukan.
"Benar. Aku cukup terkesan melihat kau masih mampu mengangkat pedang seberat itu dengan baik." Netero membalas senyuman Zero dan masih mengayunkan pedangnya.
__ADS_1
"Selain itu sebelumnya kau juga sudah menyentuhkan pedang itu pada leherku, oleh karena itu berat tubuhku kini bertambah menjadi dua kali lipat. Bawahanku juga tadi pasti merasakan hal yang sama denganku."
"Ya. Hanya tinggal beberapa kali lagi kau terkena pedangku ini, sudah dipastikan kau akan kalah." Netero menunjukkan senyuman percaya diri sembari meningkatkan gerakan pedangnya.
"Aku akui kau memiliki senjata yang merepotkan sekaligus mengerikan…" Zero mengakui kemampuan pedang kembar tersebut. Disaat yang sama dia tidak bisa lagi meremehkan Netero dan harus lebih serius.
"Tuan, apa Tuan perlu bantuan?" Gladius menghampiri Zero yang masih bertarung dengan Netero.
Zero dan Netero bergerak mundur, menghentikan pertarungannya lalu serempak mengalihkan pandangannya pada Gladius.
"Oh, apa kau sudah selesai mengurus mereka?" tanya Zero sambil bergerak menghampiri Gladius.
"Sesuai perintahmu, Tuan. Aku sudah membunuh mereka tanpa menghancurkan tubuhnya…" Gladius tersenyum sambil menunjukkan sesuatu di tangannya.
Zero dan Netero yang di kejauhan melebarkan matanya saat menemukan jantung yang masih berdetak terlihat di tangan Gladius sebelum jantung itu akhirnya berhenti berdetak.
"Mengesankan...kau membunuh mereka dengan cara seperti itu?" Zero terkesan melihat Gladius mampu mencabut jantung kedua orang rekan Netero tadi dan membunuh mereka dengan cepat, mengingat mereka berdua bisa dikatakan cukup kuat menurutnya.
"Begitulah, Tuan. Aku hanya menggunakan beberapa trik untuk melakukannya…" Gladius tersenyum sebelum melemparkan jantung yang dia cabut dari salah satu lawannya tadi pada Netero.
"Kepparatt…! Aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan pada rekanku!" Netero yang murka mengeluarkan semua aura serta energi sihir dalam dirinya bersiap membalas kematian kedua rekannya.
Netero kini memperlihatkan kekuatan aslinya yang berada di tingkat Magic General tahap akhir.
"Tuan, apa lebih baik aku saja yang menghadapinya?" usul Gladius.
"Tidak perlu, biar aku saja. Kau cukup jaga pintu itu agar tidak ada orang yang masuk ke dalam ruangan ini dan mengganggu pertarunganku." Zero mengarahkan.
"Baik, aku akan melaksanakannya, Tuan. Semoga beruntung." Gladius berjalan mendekati pintu masuk ruangan itu.
Gladius tidak menghentikan langkahnya sedikitpun meski menyadari Netero kini melesat ke arahnya sambil menghunuskan pedang berniat menghabisinya. Karena sebelum Netero berhasil melakukannya, sebuah tendangan mendarat di perutnya dan membuatnya terpental hingga menghantam tembok.
"Dia bukan lawanmu. Aku lah lawanmu…" Zero tersenyum mengejek Netero dan membuatnya semakin murka.
Gladius yang dengan cepat berada di depan pintu segera mengeluarkan cahaya dari ujung telunjuknya kemudian berjongkok dan menuliskan sesuatu di bawah, sampai setelah dia selesai menulisnya sebuah rune terpasang di sana.
__ADS_1
Gladius memasang rune di tempat itu agar tidak ada orang yang masuk dan mengganggu pertarungan tuannya.
Zero menoleh sejenak ke arah Gladius dan terkesan melihatnya mempunyai kemampuan untuk membuat rune.
Tak ingin terlalu lama terkesan, Zero memutar pandangannya kembali pada Netero yang sudah berdiri dan bersiap bertarung melawannya kembali.
Zero mengeluarkan sarung tangan penghancur dari inventory-nya lalu memasangkannya pada kedua kepalan tangannya.
"Baiklah, kalau begitu aku hanya perlu menggunakan ini untuk melawanmu…" Zero mengepalkan satu tangan yang terbalut sarung tangan itu ke atas.
Netero mengangkat kedua pedang kembarnya sebelum menyatukannya menjadi satu, merubahnya menjadi pedang tunggal dengan ukuran dua kali dari pedang tadi.
"Majulah, aku akan menghabisimu, setelah itu aku akan menghabisinya juga," kata Netero yang sudah sangat serius.
Zero dan Gladius berpikir dengan menyatunya kedua pedang Netero pasti kekuatan dari pedang itu akan bertambah besar.
Netero dan Zero mulai mempersingkat jarak sebelum serempak melesat menyerang. Netero menggunakan pedangnya yang digabung sedangkan Zero menggunakan sarung tangan penghancurnya.
Gladius yang bersandar di tembok dekat pintu mengamati pertarungan mereka dengan senyuman. Meski dia sudah menebak siapa yang akan menang tetapi dia masih tertarik menyaksikan pertarungan mereka, karena jarang-jarang dia bisa menemukan tontonan seru seperti ini.
Zero kali ini tidak menghindari ayunan pedang Netero melainkan menangkisnya menggunakan sarung tangan penghancurnya yang dialiri energi sihir.
'Cih, aku tidak bisa menghancurkan sarung tangan itu untuk menyentuh kulitnya. Sepertinya dia sudah mengetahui cara untuk mengatasi kemampuan pedangku,' batin Netero yang kesal.
"Aku bisa menebak apa yang sekarang kau pikirkan." Zero tersenyum melihat ekspresi kusut Netero.
"Seperti yang kau pikirkan, alasanku menggunakan sarung tangan ini untuk melawanmu karena bahan dari sarung tangan ini sangat ringan. Jadi berapa kalipun sarung tangan ini menyentuh pedangmu, itu tidak akan berpengaruh padaku," ujar Zero selagi menangkis pedang itu dan mendaratkan serangan Netero.
"Jangan berbangga dulu. Aku masih mempunyai sesuatu yang belum aku perlihatkan padamu." Netero semakin beringas menyerang Zero.
"Hahaha, kalau begitu perlihatkan semua kekuatan yang kau miliki padaku." Zero yang dibuat bersemangat oleh pertarungan itu ikut mengeluarkan semua aura serta energi sihirnya juga.
'Magic Emperor!' Netero terkejut saat mengetahui tingkatan sihir milik Zero. Spontan dia pun langsung bergerak mundur.
'Gawat… aku tidak yakin bisa menang melawan orang sepertinya. Apakah ini akhirnya…"
__ADS_1