
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Iblis selalu dipandang sebagai sosok yang mengerikan dan sering ditakuti oleh khalayak orang. Mendengar namanya saja bisa membuat orang-orang bergidik ketakutan.
Namun di mata Akira sosok mereka tidak lebih dari sekedar makhluk rendahan yang banyak tingkah. Baginya mungkin mereka hanya dianggap sebagai poin berharga yang berguna untuk meningkatkan level statusnya.
Benar, kepercayaan diri itu Akira dapatkan karena sebelumnya dia pernah menghadapi salah satu iblis yang konon katanya adalah iblis terkuat dan mempunyai tugas yang paling disegani oleh bangsanya, tetapi kenyataannya? sehebat apapun nama dan tugasnya itu pada akhirnya dia tetap kalah olehnya. Bahkan saat itu Akira sampai menyiksanya terlebih lebih dulu sebelum akhirnya dia tewas dengan cara yang menyedihkan.
Jadi apa yang perlu ditakuti?
Membuka menu inventory, Akira mengeluarkan pakaian tahan api yang sebelumnya dia dapatkan dari Super Magical Chest. Baju berwarna merah dengan corak api ini setidaknya bisa meminimalisir hawa panas di sekitar yang menyengat.
"Sepertinya aku tidak perlu menghabiskan waktu sehari untuk menyelesaikan lantai kali ini," kata Akira penuh percaya diri sambil memakai baju itu.
Selesai memakai baju itu, Akira mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang berliku dan menjorok panjang ke bawah dengan santai menuju tempat iblis itu berada.
"Tempat apa ini sebenarnya..." Pandangan Akira menelusuri tempat itu lebih dalam.
Di setiap langkahnya, Akira disapa oleh pemandangan-pemandangan yang mengerikan. Lahar panas yang berasal dari beberapa titik air terjun mengalir seperti air sungai di bawah kakinya.
Akira tidak yakin apakah dia bisa selamat atau tidak andaikan dia kini tiba-tiba terpeleset dan terjatuh ke bawah.
Pertanyaan itu sedikit terjawab ketika Akira menemukan ada beberapa orang tengah bermandikan lahar panas itu secara langsung. Dan suara longlongan kesakitan yang sejak tadi dia dengar ternyata berasal dari mereka.
"Makhluk apa mereka..."
Akira menelan ludah melihat mereka melambaikan tangan ke arahnya seperti meminta pertolongan. Dia tidak yakin apakah mereka benar manusia atau bukan, secara mereka tidak memiliki mata, hidung, telinga maupun mulut, keempat bagian itu seutuhnya ditutupi oleh gumpalan daging. Ditambah lagi dengan fakta kalau mereka masih bisa bertahan hidup meski berada di dalam lahar yang sangat panas.
Jikapun benar itu manusia, Akira hanya bisa menelan semua kenyataan itu dan mencoba untuk tidak memikirkannya lagi.
Akira terus melangkah menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati sampai jaraknya kini kurang dari beberapa puluh anak tangga lagi.
Akira sekarang bisa menyaksikan iblis itu dengan jelas. Seperti biasa sosok iblis selalu berhasil membuat khalayak orang terguncang hanya dengan penampilannya saja—namun tidak terkecuali bagi Akira.
Dari apa yang Akira lihat, Iblis yang akan dia hadapi hanya memiliki satu ikat rambut di tengah-tengah kepalanya yang melengkung ke atas layaknya ekor kalajengking, tubuhnya yang berotot memperlihatkan seberapa kokoh dan kuat kekuatan fisiknya.
Berbeda dengan iblis yang sebelumnya Akira kenal, iblis kali ini mempunyai warna kulit yang sama dengan manusia pada umumnya, tetapi hal itu tidak membuat iblis itu terlihat sama dengan manusia, terbukti ketika Akira tak sengaja melihat bagian depan wajahnya, dia menemukan ada sebuah tanduk berukuran sedang menempel di tengah-tengah dahinya.
"Sial! Sial! Sial! Sial!"
Seperti orang yang sedang kesal, iblis itu melampiaskan kekesalannya dengan menyayat-nyayat tubuh makhluk yang menyerupai manusia itu menggunakan senjata yang menyerupai sebuah kunai.
Makhluk itu disalib pada sebuah pilar dengan kaki dan tangannya ditancapkan oleh besi panas. Dia terus menjerit kesakitan saat iblis itu menyayat setiap seluk tubuhnya dengan kejam.
"Sial! Kenapa pula aku bisa ada disini!" Iblis itu menghentikan aksinya dan memandangi korban penyiksaannya itu penuh amarah sebelum dalam sekali ayunan tangan, kobaran api berwarna merah kelam mel*mat habis tubuhnya hingga mengubahnya menjadi debu.
__ADS_1
Akira yang melihat hal itu dari kejauhan melebarkan sedikit bola matanya terkejut, tetapi tidak ada rasa takut yang dia rasakan malahan dia seperti tertarik dengan apa yang baru saja iblis itu lakukan.
"Aku tidak akan puas jika hanya menyiksa boneka buatanmu sialan! Keluarkan sesuatu yang bisa menghiburku!" teriaknya sambil menghadap ke langit seolah orang yang dia cari ada disana.
"Apa kau perlu hiburan, iblis dungu?!" seru Akira memanggil iblis itu dengan senyuman meremehkan.
Iblis itu menoleh ke sumber suara dan mengerutkan wajahnya saat menemukan seorang bocah tengah tersenyum menatapnya seolah dia sama sekali tidak takut padanya, bahkan dia sampai berani menyebutnya iblis dungu?
"Kalau kau memang perlu hiburan aku bisa sedikit menghiburmu!" Akira langsung melompat dari tangga menuju tempat iblis itu dan mendarat dengan sempurna.
Akira memiringkan kepalanya beberapa derajat ke samping sambil menyeringai, "Bagaimana?"
Iblis itu terkejut bukan main saat menyaksikan Akira bisa melompat setinggi itu dan mendarat di depannya tanpa terluka sedikitpun. Pandangannya pada Akira langsung berubah saat melihat bocah manusia di depannya saat ini seperti tidak takut sama sekali padanya dan seolah menantang.
Iblis itu tersenyum tipis kemudian berjalan mengitari, mendekati bocah ingusan tersebut dan bertanya,"Manusia kecil, siapa kau? Kenapa orang sepertimu bisa ada disini?"
Iblis itu bisa langsung mengetahui kalau manusia kecil di depannya ini pasti bukanlah manusia biasa apalagi saat menemukan ada senjata di balik punggungnya. Dia cukup terkesan melihat kepercayaan diri Akira yang masih bisa tenang, namun disaat yang bersamaan dia juga menganggapnya bodoh karena berani muncul di depannya.
"Cih, pertanyaan itu lagi." Akira berdecih malas sambil sejenak mengamati tempat yang akan menjadi arena pertarungannya sekarang.
Tempat yang kini Akira pijaki membentuk sebuah lingkaran yang cukup luas dengan setiap sisinya diisi oleh pilar-pilar yang jaraknya sedikit berhimpitan sebagai pembatas dan terdapat tiga pilar utama di tengahnya sekarang.
"Baik, aku akan menjawabnya..." Akira menatap iblis itu dengan seringaian, "Pertama, aku adalah makhluk istimewa. Dan yang kedua…" Akira tiba-tiba menghilang dari pandangan iblis itu dan secara mengejutkan tiba-tiba dia sudah berdiri di depannya, "Aku datang kesini untuk menghiburmu..."
"Invisible Fist."
"Pukulan barusan kurasa sudah cukup untuk membuatmu berhenti mencari tahu lebih jauh siapa diriku." Akira tersenyum merendahkan.
Iblis itu terkekeh geli mendengarnya. Pukulan barusan tidak memberikan rasa sakit sedikitpun padanya, hanya saja harus diakui dia cukup terkejut dengan aksi Akira tadi. Dia menegakkan tubuhnya kemudian tertawa lantang seperti orang yang kesurupan.
"Hahaha! Makhluk istimewa?! Sepertinya kau bukan manusia biasa, bocah! Tidak, lebih tepatnya kau bukan manusia! Kau pasti makhluk buatannya! " Iblis itu tidak bisa menerima kenyataan kalau ada manusia sepantaran dengan Akira yang mempunyai kekuatan setinggi ini.
"Menarik! Kau bisa sedikit menghiburku!" Iblis itu menunjuk Akira.
Akira mengerutkan dahi, tidak mengerti pada istilah 'makhluk buatan' yang dikatakan iblis itu tetapi untuk sekarang dia tidak ingin memikirkannya dulu.
"Kuharap kau juga bisa sedikit menghiburku." Akira mengeluarkan kedua pedangnya, masih dengan senyuman percaya diri.
"Sebelum itu, apa kau bisa memperkenalkan dirimu juga? Aku ingin menambahkanmu ke dalam daftar salah satu iblis selanjutnya yang kubunuh."
Tawa iblis itu berhenti saat mendengar penuturan Akira. Dia beralih memandang Akira penuh tanya, 'Selanjutnya? Apa maksud perkataannya. Apa dia ingin bilang kalau dia pernah membunuh salah satu dari bangsaku. Tidak, tidak mungkin. Pasti dia hanya berlagak saja.' Iblis itu tidak bisa percaya dengan kenyataan tersebut.
"Boleh. Tapi apa kau yakin ingin mengetahui siapa diriku?" Iblis itu ikut menunjukkan senyumannya.
"Tentu."
"Baiklah kalau kau sebegitu ingin tahunya..." Iblis itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Akira dan muncul di depannya, " Aku Scorpion, seorang iblis dunia bawah..." Iblis itu lalu melepaskan satu tendangan namun berhasil ditahan oleh Akira yang langsung membuatnya bergerak mundur.
"Hahaha.Apa kau mencoba meniru gayaku, hah? Sayang sekali, kelihatannya kau tidak berhasil. " Akira menaikan satu alisnya mengejek.
__ADS_1
'Dia lumayan cepat juga ternyata.' Dalam hatinya Akira mengakui kecepatan iblis yang mempunyai nama Scorpion ini.
"Kau benar-benar menarik..." Scorpion tersenyum meski sebenarnya dia cukup terkejut melihat Akira mampu menangkis serangannya, menandakan kalau dia mempunyai persepsi yang tinggi.
"Jadi kau berasal dari dunia bawah, ya..." Akira terkekeh pelan.
"Ya. Apa perlu aku menyebutkan tugasku disana?"
"Tidak perlu."
Akira maju lebih dulu menyerang Scorpion, kali ini dengan menggunakan kedua pedangnya.
Tidak ingin meremehkan kemampuan Akira, Scorpion ikut mengangkat kedua kunainya untuk menyambut serangannya. Pertarungan pun dimulai.
Tring!
Tring!
Tring!
"Sudah berapa lama kau terjebak disini?" tanya Akira selagi bertukar serangan dengan Scorpion.
"Mungkin baru beberapa hari ini, " jawab Scorpion menyambut serangan Akira dan balik melontarkan serangan juga.
Mereka berdua masih belum mengerahkan segenap kemampuannya dan menyerang hanya sebatas untuk mengukur kemampuan lawan.
"Begitu, ya. Jika kau adalah iblis dunia bawah apakah kau kenal dengan iblis yang mempunyai nama Thamuz?"
Mendengar hal itu, Scorpion sesaat menjadi lengah dan saat itu juga Akira berhasil merobek sedikit pakaiannya meski tidak berhasil mengenai tubuhnya.
Scorpion bergerak menjauh. Dia sangat terkejut mendengar Akira menyebutkan nama itu.
"Kau...bagaimana kau bisa mengenalnya?" Scorpion tidak bisa menutupi raut terkejutnya lagi.
Akira tertawa lantang melihat ekspresi Scorpion, "Hahaha! Jadi kau mengenalnya ternyata. Ah tidak, seluruh rasmu sudah pasti mengenalnya."
Akira mengerai tawanya dan bertanya,"Bagaimana kabarnya sekarang? apakah dia baik-baik saja setelah keluar dari tempat ini?"
"Apa maksudmu?" tanya Scorpion berkerut dahi, tidak mengerti terhadap penuturan Akira.
Akira menggeleng pelan, masih dengan senyuman yang sama, "Entahlah. Kuharap dia tidak dialih tugaskan menjadi tukang bersih-bersih disana."
Selesai berkata demikian, Akira melesat kembali mendekati Scorpion dan mulai menyerangnya dengan serius.
Scorpion masih belum bisa mencerna perkataan Akira, tetapi dengan keadaannya sekarang dia tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal itu.
Scorpion juga mulai menyambut serangan Akira dengan serius. Dia tidak bisa lagi meremehkan bocah di depannya ini setelah melihat kekuatan sebenarnya yang dia perlihatkan sungguh membuatnya tidak percaya.
'Siapa bocah ini sebenarnya?'
__ADS_1