
Untuk beberapa alasan, Zero ingin memastikan kebenaran dari rantai yang melilit jantung Gladius. Alasan yang paling utama yaitu soal janji yang dikatakan olehnya tadi.
Gladius awalnya tidak terlalu terkejut dengan apa yang Zero lakukan karena sebelumnya dia sudah menebak Zero akan melakukan ini padanya. Namun ketika melihat api merah kelam di satu tangannya yang lain, Gladius terkejut sebab dia mengenali api itu dan pernah melihatnya. Gladius tidak menyangka Zero ternyata bisa memanggil api itu juga.
Bukan hanya terkejut Gladius juga merasakan rasa sakit saat tubuhnya dihantam ke tembok disertai lehernya dicekik hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"T-Tuan, tolong pelankan... cengkramanmu terlebih dahulu...aku tidak bisa...berbicara dengan baik." Gladius dengan susah payah berbicara.
Menuruti kemauannya, Zero melemaskan cengkramannya tapi tidak berniat melepaskannya. Begitupun dengan api merah kelam yang masih berkobar di tangannya, dia tidak akan memadamkannya sebelum bisa mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Gladius.
"Coba katakan yang sejujurnya, janji apa yang kau tanam dalam rantai itu?" Zero mengulangi perkataannya dengan intonasi yang sama.
"Aku sudah berkata jujur, Tuan. Janji yang kutanam pada rantai yang melilit jantungku ini yaitu, aku tidak akan berkhianat padamu dan selamanya akan menjadi bawahanmu." Gladius mencoba meyakinkan Zero.
Zero mengamati raut wajah Gladius dalam-dalam untuk mencari kebohongan dalam ucapannya. Sayangnya hasilnya tetap sama seperti sebelumnya, dia tidak menemukan kalau apa yang Gladius katakan itu bohong.
'Apa dia berkata jujur atau skill Lie Detection milikku tidak berpengaruh padanya.' Kedua kemungkinan itu sejak kemarin selalu terpikirkan oleh Zero saat mencari tahu kebenaran dalam ucapan Gladius.
Zero melepas cengkramannya dan memadamkan api nerakanya seiring berkata, "Kau mempunyai kemampuan yang menakutkan yang mampu menaklukan orang sepertiku, tapi kenapa kau repot-repot ingin menjadi bawahanku?" tanya nya dengan tatapan curiga.
Gladius yang sudah berhenti terbatuk-batuk karena cengkraman tadi menjawab, "Sudah kubilang bukan, aku ingin menjadi bawahanmu karena aku tertarik padamu, Tuan," jawabnya sungguh-sungguh.
"Cih, suatu saat kau bisa saja menanamkan rantai itu pada jantungku." Zero tidak ingin mempercayainya meskipun Gladius tidak sedang berbohong.
Zero sebenarnya tidak takut jika suatu saat Gladius menggunakan rantai itu untuk melilit jantungnya atau orang-orang terdekatnya. Alasan pertama tentu saja karena dia abadi dan yang kedua karena dia bisa membangkitkan kembali mereka.
"Aku bersumpah tidak akan pernah melakukannya, Tuan. Andai aku melakukannya pun aku akan mati lebih dulu karena rantai di jantungku ini akan langsung membunuhku jika sekali saja aku mempunyai niatan untuk mengkhianatimu. Jika ada cara agar Tuan bisa mempercayaiku, aku akan melakukannya." Gladius berusaha membuat Zero yakin.
Zero terdiam mengamati kesungguhan Gladius lalu berkata, "Ada. Ada satu cara agar aku bisa mempercayaimu," katanya.
__ADS_1
"Apa itu, Tuan?"
"Dengan membuktikan kebenaran rantai itu." Zero menunjuk dada Gladius.
"Kau mempunyai dua pilihan, pertama kau bisa membuktikannya dengan menggunakan rantai yang melilit jantungmu sendiri dan yang kedua dengan menggunakan orang lain," ujar Zero menekan pilihan yang pertama.
"Aku masih ingin hidup, Tuan. Untuk itu aku memilih menggunakan orang lain. Aku akan segera mencarinya sekarang juga dan membawanya kesini." Gladius yang mengerti segera mencari orang yang bisa dijadikan sebagai bahan percobaan untuk membuktikan kebenaran rantainya.
Tak lama Zero menunggu akhirnya Gladius datang dengan membawa kelinci percobaannya.
"A-Apa yang ingin kau lakukan padaku? Kenapa kau membawaku kesini? Tolong lepaskan aku! " Pria bertubuh pendek bertampang preman yang dibawa oleh Gladius ketakutan. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena tangan dan kakinya terikat oleh rantai milik Gladius.
Mengabaikan pria pendek itu, Gladius mendekati Zero lalu berbisik pelan di telinganya, "Aku akan menanamkan rantaiku di jantungnya dengan janji orang itu tidak akan berbohong. Tuan bisa membuktikannya langsung dengan..." Gladius memberitahukan cara untuk membuktikannya pada Zero.
Gladius kemudian memutar pandangannya kembali pada pria pendek itu dan menanamkan rantai kutukannya pada jantung pria pendek itu.
Pria pendek itu berpikir dia akan mati saat jantungnya dihujam oleh rantai itu namun saat melihat ke arah jantungnya dia tidak menemukan apa-apa seolah rantai itu tidak pernah menembus dadanya.
"Bukan apa-apa. Kau diam saja dan jawab semua pertanyaan yang akan dia ajukan jika kau masih ingin hidup." Gladius tersenyum menakut-nakuti agar pria itu menerima perintahnya.
"Baik, aku akan membuktikan ucapanmu." Zero menepuk pundak Gladius lalu mendekati pria pendek itu.
"Menanyakan apa? Apa yang ingin kau cari tahu dariku? Aku tidak mengetahui apa-apa!" Firasat buruk yang pria pendek itu rasakan semakin besar saat Zero mendekatinya.
Zero berdiri di depan pria pendek itu dengan tatapan tajam yang membuat pria pendek itu mengeluarkan dingin ketakutan.
"Aku adalah seorang ksatria suci yang bertugas di kota ini. Aku ingin mencari tahu sesuatu darimu. Jawab dengan jujur," kata Zero penuh penekanan.
"A-Apa itu?" Pria pendek itu tambah ketakutan saat mengetahui sosok di depannya adalah seorang ksatria suci.
__ADS_1
"Kau kemarin yang sudah membunuh anak seorang bangsawan di kota ini, kan? Kalau benar, aku akan memenjarakanmu," kata Zero terdengar tajam.
"Ti-Tidak! Bukan aku! Aku bahkan tidak tahu anak bangsawan siapa yang kau maksud!" Pria pendek itu menggeleng keras.
"Begitu, ya…" Zero menemukan pria pendek itu tidak berbohong
"Kalau begitu apa kau yang kemarin sore mencuri perhiasan milik bangsawan yang menjual barang antik di kota ini? Aku sudah mendengarnya dari dia. Jika benar, kau akan aku bawa ke tempat bangsawan itu, biar dia yang menentukan hukumanmu." Zero menatap tajam rantai yang melilit jantung pria pendek itu untuk membuktikan kebenaran.
"Ti-tidak! Aku tidak melakukannya! Aku tidak—" Kata-kata pria pendek itu terhenti saat dadanya terasa sangat sakit sebelum dia terjatuh ke tanah.
"Apa yang... sebenarnya tadi.. kau lakukan padaku…" Pria pendek itu menghembuskan nafas terakhirnya seiring menatap samar-samar Gladius yang tampak seperti sedang menyeringai sinis.
Pria pendek itu yakin penyebab dia tewas pasti ada kaitannya dengan rantai yang menusuk jantungnya tadi.
Zero melebarkan matanya saat memastikan secara langsung bagaimana jantung pria pendek itu pecah saat dililit dengan keras oleh rantai itu.
"Apa Tuan sudah memastikannya?" Gladius mendekati Zero.
"Ya. Aku melihatnya…" Zero melihat tepat saat pria pendek itu berbohong rantai itu bereaksi dengan cepat membunuhnya.
Apa yang dikatakan Gladius terbukti benar sekarang.
"Jadi bagaimana? Apa Tuan sudah bisa mempercayaiku?" tanya Gladius.
Zero mengehela nafas pelan kemudian melangkah sambil menjawab, "Baiklah, mulai sekarang aku akan mencoba memercayaimu," jawabnya tanpa menoleh dan terus berjalan meninggalkan Gladius.
"Terima kasih, Tuan." Gladius tersenyum mendengarnya.
"Sudah lupakan tentang itu, kita kembali pada tujuan kita sekarang." Zero melambaikan tangannya menyuruh Gladius untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Baik…" Gladius mengikuti Zero dari belakang sambil tersenyum. Lambat laun senyumannya semakin melebar sebelum kembali melengkung ke bawah dan tatapannya berubah menjadi dingin.
"Akhirnya…"