Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Menyelamatkan Desa


__ADS_3

Sejak pertama kali membuka kedipan matanya, Zero bisa melihat desa yang tersembunyi dibalik celah tebing itu ternyata tidak jauh berbeda dengan desa pada umumnya. Tembok kayu yang mengelingi desa itu mencakup area yang cukup luas memperlihatkan keadaan dalamnya yang juga luas.


Di dalamnya Zero menemukan bangunan serta rumah tempat penduduk desa itu tinggal terlihat biasa, menggambarkan bahwa penduduk yang menempati tempat ini merupakan orang-orang yang sederhana.


Semua orang yang sebelumnya sedang asik berpesta kini menghentikan aktivitasnya begitu mendengar sebuah suara keras yang berasal dari pintu masuk desa. Visi semua orang yang berada di dalamnya segera tertuju pada seorang bocah yang muncul setelah pintu masuk desa itu hancur.


"Yo, semuanya, apa aku boleh ikut berpesta juga?" seru Zero dengan senyuman percaya diri.


"Bocah…" Beberapa dari mereka serempak menggumamkan kata yang sama saat melihat sosok Zero.


"Siapa bocah itu? Apa kau mengenalnya?"


"Tidak, Tuan."


"Apa dia salah satu penduduk desamu?"


"Bukan, Tuan. Aku juga tidak tahu siapa dia."


Semua orang yang ada disana terkejut dan bertanya-tanya akan kehadiran Zero yang tiba-tiba.


Zero menemukan kondisi penduduk desa memang sedang tidak baik. Terlihat mereka sedang ketakutan dan tidak bisa melakukan apa-apa selain melayani para b*jingan yang sedang berpesta itu.


Meski begitu, aura yang terpancar dari sorot mata mereka memperlihatkan betapa marahnya mereka terhadap para b*jingan yang sudah mengacau di desanya itu, terlebih saat menyaksikan wanita-wanita di desanya sedang dilecehkan.


"Tunggu, apa dia yang barusan menghancurkan pintu itu?" Salah satu dari mereka meragukan apa yang tadi dia lihat. Yang lain pun merasa demikian.


Zero menggaruk belakang kepalanya, "Ahh...sudah selesai ya pestanya? Sayang sekali, padahal baru saja saja aku ingin ikut bergabung," Dia kemudian berjalan dengan santai mendekati mereka. "Tapi tidak masalah, karena pesta yang sebenarnya baru akan dimulai." Tersenyum lebar ke arah mereka.


"Bocah, siapa kau?" Salah satu dari mereka yang mempunyai badan besar bangkit dari kursinya lalu berjalan angkuh mendekati Zero, "Sedang apa kau disini? Apa kau penduduk desa ini juga?" Dia bertanya dengan nada tak suka, apalagi saat melihat Zero sebegitu percaya dirinya di depan mereka.


Zero terkekeh pelan menanggapi pertanyaan itu. Dia lalu menjawab, "Bukan, aku hanya kebetulan lewat saja..." jawabnya santai.


"Kalau begitu kau sudah melakukan kesalahan karena berani muncul di tempat ini dan merusak pesta kami." Pria berbadan besar menatap dingin bocah yang berjalan di depannya. Dia tidak bisa menganggap bocah yang sudah mengahancurkan pintu itu sebagai bocah biasa.


Para penduduk desa yang menyaksikan bocah tersebut merasa kasihan karena tahu situasinya kini sedang dalam bahaya. Sayang sekali mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


"Aku merusak pesta kalian?" Zero kembali terkekeh mendengarnya sebelum kekehannya diganti dengan senyuman sinis, "Kalian salah…"


Yang terjadi berikutnya tiba-tiba Zero menghilang dan muncul di depan pria berbadan besar yang sedang mendekatinya itu, dan sontak membuatnya terkejut.


"Sudah kubilang bukan? Pestanya baru saja dimulai..." Dalam sekali ayunan tangan yang mengeluarkan api, Zero mengubah tubuh pria berbadan besar itu menjadi abu.


"Tidak mungkin…" Semua orang yang menyaksikan tercengang, kesulitan berkata-kata.


"Baiklah, mari kita mulai pesta yang sebenarnya." Zero tersenyum lebar ke arah mereka yang kini terkejut bukan main menyaksikan salah satu rekannya lenyap begitu saja.

__ADS_1


Para penduduk desa pun tidak kalah terkejutnya. Dalam hidupnya mereka tidak pernah melihat atau pun mendengar ada bocah seperti Zero.


"Mo-monster! Dia pasti bocah yang waktu itu!" Mereka yang mengenali sosok Zero tanpa menunggu waktu lagi segera berhamburan melarikan diri.


Suara teriakan mereka menggema sampai terdengar oleh Sherria dan lainnya yang saat ini sedang menunggu diluar.


"Kakak, apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Levy merasa cemas.


"Jangan khawatir, Zero-sama mampu mengatasi mereka semua. Kita turuti saja perkataannya tadi dengan menunggu disini. " Sherria mengelus kepala Levy mencoba membuatnya tenang.


"Teman…" Fluffy yang di sampingnya tersenyum sambil memegangi tangan Levy.


"Baik…" Levy mengangguk mencoba percaya pada perkataan Sherria.


Sedangkan di lokasi kejadian, semua orang yang menyaksikan aksi Zero menjadi panik. Mereka semua segera memilih pergi.


"Oi, siapa suruh kalian pergi…" Zero mengeluarkan aura sihirnya dan seketika membuat mereka—termasuk penduduk desa—yang hendak melarikan diri berhenti.


Namun nyatanya diantara mereka ada satu orang yang tidak terpengaruh oleh aura sihirnya. Dia berlari terbirit-birit ke arah pintu belakang untuk menyelamatkan diri.


"Percuma…" Zero tersenyum tipis sambil menggeleng pelan melihat usaha orang itu.


'Sepertinya dia pemimpin mereka, ' pikir Zero saat melihat orang itu mampu bergerak bebas di tekanan aura sihirnya.


Dia lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki orang itu hingga membuatnya tersungkur jatuh ke depan dan berakhir tidak bisa berlari lagi.


Ketika pandangan mereka bertemu dengan padangan Zero seketika tubuh mereka bergidik keras seolah apa yang mereka pandang saat ini adalah jelmaan lain dari malaikat kematian.


"Kusarankan agar kalian tidak pergi atau kalian akan mengalami hal yang serupa dengannya." Zero berkata dingin memberi peringatan. Dia lalu menarik kembali aura sihirnya.


Sayangnya diantara mereka ada beberapa yang tidak mendengarkan perkataan Zero dan lebih memilih melarikan diri. Tapi sebelum mereka berhasil melakukannya, Zero sudah lebih dulu menembak kepala mereka.


"Bodoh sekali. Padahal sudah kuperingatkan..."


Mereka yang awalnya ingin ikut melarikan diri kini memilih mematung di tempat, tidak ingin berakhir seperti tiga rekannya barusan. Semuanya merasakan rasa takut yang sama saat dihadapkan dengan sosok seperti Zero, yakni rasa takut akan kematian.


Mengabaikan mereka, Zero berjalan mendekati orang yang tadi tidak terpengaruh aura sihirnya. Orang itu tengah mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang berlubang setelah terkena tembakan tadi.


"Kau pasti pemimpin mereka." Zero berdiri di hadapan orang itu.


"B-bukan!" Orang itu merangkak mundur ketakutan, menolak untuk mengakuinya.


Namun dengan skill Lie Detection-nya, Zero bisa mengetahui kalau orang itu sedang bohong.


Zero menembak satu kakinya lagi, "Kau pasti pemimpin mereka."

__ADS_1


Orang itu berhenti merangkak dan memegangi kakinya yang tertembak sambil berteriak kesakitan.


"Arghh! Bukan! Bukan aku pemimpinnya!" Orang itu masih enggan mengakuinya.


Zero kali ini menembak tangannya, "Tidak, kau pasti pemimpin mereka..." Suaranya terdengar dingin.


"Arghh! Bukan! Kumohon percayalah! Bukan aku pemimpinnya!" Orang itu meronta-ronta kesakitan di tanah. Semua orang yang menyaksikan aksi Zero menelan ludahnya ketakutan.


Mereka yang sebelumnya memutuskan untuk meninggalkan tugas dan mengikuti orang itu kini malah menyesalinya.


"Kau yakin tidak ingin mengakuinya?" Zero menodongkan pistolnya tepat ke arah kepala orang itu, bersiap menarik pelatuknya.


"Baik-baik, aku mengakuinya! Aku pemimpinnya! Tolong biarkan aku hidup, Tuan!" Orang itu bersujud di depan kaki Zero, memohon untuk keselamatan dirinya.


"Aku akan menimbangkannya nanti. "Zero menyematkan pistolnya di pinggangnya, "Tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaanku, kenapa kau dan semua rekanmu bisa ada disini?"


"B-Baik, Tuan." Orang itu dengan terbata-bata mulai menjelaskan.


"Kami sebelumnya memutuskan meninggalkan tugas kami dan memulai kehidupan baru. Diperjalanan saat itu kami menemukan sekelompok orang yang sedang membawa muatan barang dan makanan. Kami pun saat itu memutuskan membuntuti mereka dan sampai ke tempat ini..." jelas orang itu.


"Apa hanya itu saja?" Zero belum puas dengan penjelasan tersebut.


"A-Awalnya kami hanya ingin barang dan makanannya saja Tuan, tapi kami terlanjur terbawa suasana." Orang itu menutup penjelasannya dengan wajah pura-pura bersalah.


"Kau pemimpinnya di sini, kan."


"Benar, Tuan."


"Jadi, mewakili mereka semua apa sekarang kau mengakui kesalahanmu?" tanya Zero.


"Iya, Tuan. Aku mengaku salah. Kumohon maafkan aku…"


"Maafkan, ya…" Zero menghela nafas pelan. Dia kemudian menolehkan wajahnya ke arah para penduduk desa.


Dibalik wajah mereka yang ketakutan tersirat amarah yang terpendam pada orang yang memimpin kelompok itu. Sorot mata mereka seolah ingin mengatakan lebih baik bunuh saja orang itu dari pada memaafkannya.


Zero beralih melihat semua rekan orang itu yang terlihat ikut memperlihatkan wajah bersalah, tapi sayangnya ekspresi mereka tidak berlaku di hadapan Zero.


Zero kembali memusatkan pandangannya pada orang yang masih bersujud di bawah kakinya itu.


"Baik, karena kau sudah mengakui kalau dirimu bersalah, sekarang kau boleh pergi…" Zero berbalik, melangkah pergi meninggalkan orang itu.


"Benarkah?" Orang itu menegakkan tubuh merasa senang.


"Ya…" Zero diam-diam mengambil pistolnya, mengarahkannya ke arah orang itu dan memuntahkan satu peluru tepat di kepalanya.

__ADS_1


"Pergi ke neraka maksudku..."


__ADS_2