
Lima menit sebelum Zero tiba-tiba terjatuh kesakitan, dua orang gadis dengan pakaian kelas bangsawan berjalan diantara padatnya kerumunan, berlawanan arah dengan Zero dan Sherria yang saat itu juga tengah berjalan di tempat yang sama.
"Sepertinya hari ini tempat yang akan kita kunjungi akan lebih ramai dari yang kemarin, Viona," kata gadis berambut merah pada gadis berambut pirang yang berjalan di sampingnya.
"Maka dari itu kita harus cepat-cepat, Lucy. Nanti kita tidak kebagian tempat lagi," jawab Viona sambil melihat-lihat keramaian di sekitarnya.
Di pelukannya, Viona membawa lembaran kertas, sementara tas kecil yang menyilang di pinggangnya berisikan peralatan untuk menggambar dan menulis.
Mereka saat ini hendak pergi ke sebuah taman di pusat kota yang menjadi tempat favorit banyak orang yang ingin mencari pemandangan dan suasana yang indah.
"Iya aku tahu. Tapi sebelum itu temani aku dulu membeli barang itu, Viona. Aku takut barang yang sejak dulu aku nanti-nantikan itu diambil orang lain," kata Lucy.
"Iya, aku akan menemanimu. Kalau kamu tidak ingin barang itu diambil orang lain, kita harus lebih cepat lagi," ajak Viona.
Viona dan Lucy kemudian mempercepat langkahnya, membelah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang disitu agar sampai di tempat yang dituju lebih cepat.
Di tengah langkahnya, pandangan Viona tak sengaja bersinggungan dengan sosok pria yang dia kenal yang tampak sedang asik bercakap dengan gadis demi-human di sampingnya.
"Akira..." Satu panggilan itu spontan terucap saat Viona melihat pria tersebut. Saat itu juga Viona berhenti melangkah dan memutar pandangannya ke arah pria yang baru saja melewatinya itu.
Namun ketika Viona berbalik, pria yang dikenalinya itu dengan cepat menghilang dimakan kerumunan orang-orang yang ada disitu.
"Kenapa berhenti, Viona? Apa barusan kau mengatakan sesuatu?" tanya Lucy di depannya yang juga ikut berhenti saat melihat Viona berhenti.
"Bukan apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu." Viona kembali melanjutkan langkahnya, mengabaikan pria yang dikenalinya itu.
'Tidak salah lagi… barusan itu pasti kamu, kan…' batin Viona tersenyum penuh kasih.
Viona sangat yakin jika barusan dirinya tidak salah lihat. Dia tidak menyangka jika takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan cepat di kota ini.
Saat baru beberapa langkah jalan, Viona kembali berhenti saat mendengar ada kericuhan di belakangnya.
"Jangan diperdulikan,Viona. Sudah ayo cepat. Nanti barang itu keburu habis," ajak Lucy yang tampak tidak sabaran.
Viona mengangguk dan kembali melangkah sambil sesekali melihat ke belakang karena penasaran dengan sesuatu yang terjadi disana.
Kembali pada situasi Zero yang saat ini terjatuh kesakitan tanpa tahu apa penyebabnya. Dirinya yang kesakitan segera menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.
'Arghh… ada apa ini?' Zero tidak mengerti dengan keadaannya, 'Rasa sakit ini…perasaan ini…' Zero seperti pernah merasakan hal yang serupa, 'Apa ada seseorang yang menyebut nama itu?' Zero mengingat rasa sakit tersebut.
"Zero-sama, ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa tiba-tiba Zero-sama menjadi seperti ini?" Sherria ikut berlutut di samping Zero, sangat cemas melihat keadaannya.
Seiring berjalannya detik, rasa sakit itu mulai reda dengan cepat sampai akhirnya Zero tidak merasakan rasa sakit itu lagi.
"Jika Zero-sama sakit, lebih baik kita pulang saja," saran Sherria yang takut terjadi sesuatu pada Zero.
Orang-orang di sekitarnya yang masih memandangi Zero ikut menyarankan hal yang sama dengan Sherria.
Zero menghela nafas lalu mencoba membangkitkan dirinya dan bersikap seperti biasa, "Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya bercanda..." kata Zero diselingi senyuman berseri, mencoba menutupi apa yang terjadi barusan.
"Hadeh… cuma bercanda ternyata."
"Kirain ada apa… "
"Remaja zaman sekarang banyak tingkah, ya…"
"Kalau ingin bermesraan jangan di tempat ini."
Kata mereka terdengar kecewa karena sudah menyiakan-nyiakan waktunya hanya untuk melihat candaan yang menurut mereka sama sekali tidak lucu. Mereka tidak ingin lagi memperhatikan Zero dan kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Sherria menegakkan tubuhnya kembali dan berkata, "Zero-sama…jangan bercanda seperti itu. Aku tidak suka…" katanya sambil memperlihatkan ekspresi seperti orang yang sedang kesal.
Zero baru pertama kali ini melihat ekspresi kesal Sherria. Alih-alih merasa bersalah dia malah merasa gemas melihatnya.
"Iya, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi..." Zero menyentuh pucuk kepala Sherria sekali lalu melepaskannya, "Sudah jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kita lanjutkan kencannya," katanya diiringi senyuman yang menenangkan.
Ekspresi Sherria yang semula kesal kini kembali seperti biasa setelah mendengar ucapan dan senyuman Zero.
"Kemana kita sekarang?" tanya Zero sambil menggenggam tangan Sherria kembali.
"Terserah Zero-sama saja," jawab Sherria yang dibalas oleh Zero dengan helaan nafas.
"Kenapa terserah aku, Sherria. Bukankah kau yang meminta kencan ini, jadi seharusnya kau yang menentukan tempat yang kau inginkan," kata Zero meminta Sherria yang menentukannya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke restoran? Setahuku tempat seperti itu sangat cocok dijadikan tempat kencan," usul Sherria.
"Ayo. Kebetulan aku juga sedikit lapar. Kita akan mencari restoran terbaik di kota ini." Zero setuju dengan usulan Sherria.
__ADS_1
Setelah itu, Zero pun membawa Sherria ke tempat restoran terbaik yang ada di kota itu.
'Apa barusan itu benar, ada orang yang memanggil namaku yang dulu, ' pikir Zero selagi melangkah menuju tempat yang dituju.
Zero sangat penasaran dengan penyebab rasa sakit yang dialaminya tadi. Rasa sakitnya sama persis seperti ketika Charla menyebutkan namanya kala itu. Setahu Zero hanya Charla seorang di dunia ini yang mengetahui nama terdahulunya itu.
Tetapi, selain Charla ada satu orang lagi yang Zero pikirkan. Dan itu masih berdasarkan kemungkinannya saja.
'Yui…apa yang waktu itu sungguh dirimu…' Zero teringat kejadian saat bertemu dengan sosok yang mirip kekasihnya sewaktu masih di kota Belius, 'Apa mungkin kau ada disini, dan barusan aku tak sengaja berpapasan denganmu lalu kau menyebut namaku…' pikir Zero sambil menoleh ke tempat tadi dia terjatuh, berharap kemungkinannya itu memang benar.
Zero hanya memikirkan kemungkinan itu selama beberapa saat sebelum tidak ingin memikirkannya dulu dan berfokus pada kencannya sekarang dengan Sherria.
*~*
Zero dan Sherria akhirnya sampai di tempat restoran terbaik yang ada di kota itu. Restoran nya begitu mewah dan berkelas. Mereka yang singgah di tempat itu juga bukan orang-orang biasa.
Karena Zero dan Sherria memakai pakaian yang elegan dan memukau, mereka yang ada disitu memandang Zero dan Sherria sebagai orang yang setara dengan mereka.
Tidak ada yang berani mengganggu Zero dan Sherria, terutama para pria yang mencoba menatap Sherria karena terpukau oleh penampilan dan juga kecantikannya, mereka langsung membuang muka saat Zero menatap dingin mereka.
"Zero-sama, restoran ini mewah sekali. Tidak kah ini terlalu berlebihan?" Sherria merasa sungkan.
"Jangan begitu, Sherria. Aku ingin tempat yang bagus untuk kencan kita. Dan restoran ini sangat cocok menurutku." Zero tersenyum lalu mengajak Sherria duduk di tempat yang masih kosong.
Tempat makan yang mereka duduki memiliki kesan mewah dan romantis dengan lilin menyala di tengah-tengah mejanya.
Salah satu pelayan menyapa mereka dan memperlihatkan menu makanan terbaik yang disediakan di restoran tersebut.
Zero memesan makanan dan minuman berkelas tanpa peduli sebesar apapun harganya. Pelayan yang melayaninya tampak antusias apalagi Zero memberikan tip untuknya.
"Makanan disini ternyata enak juga. Apa kau menyukainya, Sherria?" tanya Zero saat mencicipi makanan yang di pesannya.
"Aku menyukainya, Zero-sama. Ini enak sekali, " jawab Sherria tersenyum setelah melahap daging yang dilumuri oleh saus.
Zero balas tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya dan mengelap sedikit saus yang menempel di bawah bibir Sherria.
"Kau sampai makan blepotan seperti ini...seperti Flo saja..." Zero terkekeh.
Wajah Sherria memerah atas apa yang Zero lakukan. Dia malu saat tahu makannya blepotan, apalagi sampai disamakan dengan Fluffy.
Sherria mengangguk lalu menceritakan tentang masa lalunya pada Zero. Sherria menceritakan kalau dirinya tidak tahu siapa orang tuanya karena sewaktu kecil dia sudah di buang ke desa hingga berakhir diangkat oleh orang orang tua Charla dan menjadi bagian dari keluarga mereka.
Zero bisa merasakan apa yang Sherria rasakan karena nasibnya juga tidak jauh berbeda dengannya.
"Tapi aku senang bisa menjadi bagian dari keluarga Nee-san. Apalagi semua orang di desa baik-baik. Mungkin orang tuaku saat itu membuangku ke desa itu karena ingin aku hidup bahagia disana," ujar Sherria mencoba menutupi kesedihannya melalui senyuman.
"Syukurlah kalau kau senang…" Zero kemudian ikut menceritakan cerita masa lalunya pada Sherria.
Meski awalnya sama seperti dengannya yang merupakan seorang anak buangan namun masa lalu Zero berikutnya lebih menyedihkan dari cerita-cerita yang Sherria dengar. Sherria bahkan sampai menangis mendengar ceritanya biarpun dia pernah mendengar cerita itu dari kakaknya.
"Sudah jangan menangis seperti itu. Lagi pula sekarang aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi, karena sekarang aku mempunyai sesuatu yang jauh lebih berharga dari apapun itu, yaitu kalian..." Zero tersenyum penuh kasih, menutupi amarah yang masih ada dalam dirinya saat mengingat cerita masa lalunya itu.
*~*
"Lupakan soal ceritaku tadi. Sekarang bukan waktunya bersedih. Kita sekarang sedang berkencan jadi bersenanglah." Zero mencoba menghibur Sherria yang masih memikirkan ceritanya tadi.
Sherria mencoba menuruti perkataan Zero karena perkataannya memang benar. Sekarang bukan waktunya untuk bersedih.
"Selanjutnya kita kemana?" tanya Zero.
Sherria malu-malu meminta pada Zero untuk mengajaknya ke tempat penjualan pakaian.
Zero tertawa pelan menanggapinya lalu menarik Sherria untuk pergi ke tempat itu segera dan berkata dengan angkuh padanya untuk membeli semua pakaian terbaik yang dia inginkan.
Sherria awalnya ragu, apalagi dirinya saat itu menjadi pusat perhatian para gadis yang berbelanja disana. Namun ketika Zero mengancam akan membeli semua pakaian yang ada disana, Sherria dengan segera memilih beberapa pakaian yang menurutnya terbaik.
Sherria kemudian memakai satu pakaian pilihannya dan menunjukkannya pada Zero.
"Sherria, kau cantik sekali…" Zero kembali terpukau oleh penampilan gadis rubah itu.
Tidak perlu di deskripsikan oleh banyak kata karena penampilannya kini sudah jauh dari kata sempurna.
"Terimakasih. Aku senang kalau Zero-sama menyukainya."
Selesai memenuhi keinginan Sherria, Zero melanjutkan kencannya dengan membawa Sherria ke sebuah taman di pusat kota yang katanya memiliki pemandangan yang bagus.
Memang sesuai dengan apa yang orang katakan. Tempatnya begitu indah, banyak dipenuhi oleh rerumputan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran, serta air mancur yang membentuk lingkaran berdiri di tengah-tengah taman itu. Selain itu tersedia fasilitas-fasilitas yang mendukung tempat itu seperti ayunan, bangku taman alat hiburan dan lainnya.
__ADS_1
Sayangnya saat tiba disana, Zero tidak menemukan tempat yang bagus untuk berdua-duaan dengan Sherria. Hampir semuanya terisi oleh orang-orang yang berpacaran atau sekedar menikmati pemandangan.
"Sepertinya kita tidak kebagian tempat…" kata Zero setelah memastikan seluruh tempat itu.
"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Sherria.
"Mmm… " Zero berpikir, "Tunggu disini sebentar," pinta Zero setelah menemukan ide yang bagus.
Sherria menurut dan mengamati apa yang Zero lakukan. Dia melihat Zero berjalan ke salah satu bangku taman di pojokan yang sudah diisi oleh pasangan yang sedang bermesraan.
Sherria awalnya berpikir Zero akan mengusir mereka secara paksa tapi ternyata Zero hanya meminta mereka untuk meninggalkan tempat itu dengan sogokan uang pemberiannya.
Setelah mendapatkan bangku taman yang cocok untuk kencan mereka, Zero mengajak Sherria untuk duduk dengannya disana.
Mereka saling melemparkan percapakan selagi menikmati pemandangan yang memanjakan mata yang disajikan tempat itu. Suasananya begitu romantis. Hati Sherria berbunga-bunga saat merasakan momen seperti ini bersama Zero.
"Sherria, apa aku boleh tidur di pangkuanmu?" tanya Zero meminta izin.
"Oh, i-iya boleh, Zero-sama…" Sherria terbata-bata menerimanya. Dia cukup terkejut mendengar permintaan Zero yang seperti ini.
Sherria segera menggeser ke samping dan mempersilahkan Zero untuk tidur di pahanya.
"Ah...aku sudah lama tidak merasakan tidur seperti ini…" Zero tersenyum memandangi Sherria di atasnya yang juga tersenyum.
Zero memejamkan mata, menikmati terpaan angin menyejukkan yang tercipta di tempat itu. Sherria hanya diam memandangi wajah tampan Zero dari jarak dekat dengan senyuman yang masih bertahan. Momen seperti ini baru pertama kali dia rasakan dan jujur, dia sangat menyukainya.
Beberapa menit kemudian, Zero membuka matanya kembali. Dia lalu bertanya, "Sherria, apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"
Sherri mengangguk. Dia tentu mengingatnya.
"Saat melihat kondisimu waktu itu, aku sempat berpikir lebih baik meninggalkanmu saja dari pada menolongmu. Jika saja saat itu aku melakukannya, mungkin momen seperti ini tidak akan pernah terjadi," kata Zero teringat pertemuannya dengan Sherria.
"Tapi Zero-sama menolongku. Zero-sama sudah menyelamatkan hidupku. Aku juga merasakan hal yang sama dengan yang Zero-sama rasakan. Jika saja saat itu Zero-sama tidak menolongku, mungkin hidupku tidak akan seindah yang sekarang. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Zero-sama, " ujar Sherria berdasarkan perasaannya.
"Ya. Aku juga senang bisa bertemu denganmu," kata Zero sambil menegakkan tubuhnya kembali.
"Dan soal yang waktu itu...aku sekali lagi ingin meminta maaf, Sherria. Saat itu aku sungguh tidak berniat menamparmu." Zero teringat kejadian tersebut.
Sherria menggeleng keras, "Tidak. Itu salahku, Zero-sama. Waktu itu aku yang sudah salah mengartikan maksud, Zero-sama." Sherria menolak permintaan maaf Zero karena sadar dia yang salah.
Mengingat hal itu, Sherria jadi teringat dengan kejadian saat Zero menciumnya. Ciuman saat itu merupakan ciuman pertama yang paling berkesan menurutnya.
"Zero-sama...waktu itu Zero-sama pernah sekali menciumku, kan... Apa yang Zero-sama rasakan saat itu?" Sherria bertanya malu-malu.
"Aku tidak terlalu merasakannya. Itu hanya sebatas ciuman permintaan maafku," jelas Zero.
"Begitu, ya..." Sherria membuang wajahnya, malu karena sudah menanyakan hal itu pada Zero.
"Ada apa, Sherria?" Zero bisa melihat maksud tertentu dari pertanyaan Sherria.
"Bukan apa-apa..." Sherria menggeleng pelan seiring memalingkan wajahnya kembali.
"Katakan saja, Sherria. Ada apa?" tanya Zero meminta Sherria untuk mengatakan maksudnya.
Sherria terdiam selama satu menit sebelum mengungkapkan maksud lain dari pertanyaannya tadi.
"Anu~ Mmm.. a-apa boleh aku meminta Zero-sama untuk melakukan itu sekali lagi denganku?" lirih Sherria yang malu meminta hal itu pada Zero.
Zero terdiam memandangi Sherria yang tampak menginginkannya melakukan itu.
"Ka-kalau Zero-sama tidak mau—"
"Boleh..." Zero langsung memotong perkataan Sherria dan seketika membuatnya terdiam atas jawabannya itu.
Tanpa menunggu reaksi Sherria selanjutnya, Zero langsung membawa tengkuk Sherria untuk mendekat dan menyatukan bibirnya dengan bibir miliknya. Namun baru beberapa detik melakukannya, Sherria melepas ciuman Zero.
"Ada apa?"
"Aku belum siap. Biar kita melakukannya bersama."
Zero terkekeh lalu menuruti kemauan Sherria. Mereka saling mendekatkan wajahnya hingga masing-masing bibir mereka saling menyatu. Lidah mereka saling bergelut dalam keromantisan ciuman penuh kasih yang saling mereka berikan, tanpa peduli dengan orang-orang sekitar yang sejenak menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan.
Di tempat yang sama, Viona dan Lucy saat itu baru tiba di taman yang tadi hendak mereka kunjungi. Alangkah terkejutnya Viona saat kedua bola matanya tak sengaja melihat Zero dan Sherria tengah bercumbu mesra di pojokan.
Rasa terkejut itu perlahan berubah menjadi rasa sakit hati yang sulit dia artikan. Viona sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan saat melihat sosok yang pernah singgah di hatinya kini bercumbu mesra dengan wanita lain.
Viona pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan hatinya yang kini berkecamuk.
__ADS_1