
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
#Dunia bawah — Tartarus
Tartarus diasosiasikan sebagai suatu tempat jauh di bawah tanah yang kelam dan kejam, ada juga yang menyebutkannya sebagai neraka. Disebutkan bahwa Tartarus terletak sama jauhnya di bawah dunia bawah seperti bumi di bawah surga, yang dimana tempat ini merupakan tempat untuk mengurung sekaligus menghukum para perusak, penjahat dan lainnya yang tergolong merugikan.
Di suatu tempat di dalam Tartarus, seorang raja iblis dunia bawah yang mempunyai nama Azazel tengah menduduki singgasananya dengan tangan bertopang pipi diantara sisi singgasana, menatap datar sosok iblis lainnya yang tengah berlutut di hadapannya.
"Thamuz, dari mana saja kau? Kenapa kau pergi tanpa meminta izin dulu dariku, dan sekarang kau tiba-tiba muncul dihadapanku seperti orang yang sedang marah." Azazel berkata dengan intonasi sedatar mungkin. Perawakannya yang tenang tidak menutupi seberapa menakutkannya raja iblis yang satu ini.
"Mohon maaf Azazel-sama, hamba tidak pernah berniat untuk pergi meninggalkan tempat ini, tetapi hamba dipaksa keluar oleh makhluk sialan itu." Thamuz berkata penuh kesal.
"Ah...ulah dia, ya...sudah lama aku tidak mendengar namanya. Dilihat dari apa yang dia perbuat padamu sepertinya dia mempunyai permainan baru, " Azazel lalu melipat kaki satu ke kaki yang lain sebelum melanjutkan, "Lantas, kenapa sekarang kau terlihat seperti orang yang sedang marah? Apa yang sebenarnya tadi terjadi padamu?" tanya Azazel masih dalam intonasi yang datar.
"Mohon maaf Azazel-sama, hamba tidak bisa mengatakannya. Yang pasti kejadian yang menimpa hamba tadi benar-benar membuat hamba marah."
Azazel mengangguk pelan kemudian mengibaskan satu tangannya, " Ya. Tidak apa-apa. Aku tidak terlalu berharap kau mau menceritakannya."
Thamuz yang masih dalam posisi berlutut merasa lega mendengar Azazel tidak bertanya lebih jauh, sebab andaikan Azazel mengetahui apa yang telah menimpanya tadi, status Thamuz sebagai iblis kemungkinan akan digantungkan.
Selama beberapa saat hening, Thamuz kembali memecah keheningan, "Azazel-sama, hamba mempunyai satu permintaan jika diperkenankan."
"Apa itu?"
"Hamba ingin pergi ke dunia atas. Ada sesuatu yang ingin hamba lakukan."
Azazel tidak langsung menjawab. Dia mengamati wajah Thamuz yang tampak sangat serius akan permintaannya selama beberapa saat, kemudian dia berkata, "Apa kau yakin? Kau tahu bukan situasi iblis di dunia atas seperti apa? Selama ribuan tahun mereka masih saja seperti burung dalam sangkar. Apa yang membuatmu ingin meninggalkan tempat ini dan pergi ke dunia sana?" tanya Azazel kali ini terdengar dingin dan terkesan tidak suka.
"Hamba mempunyai suatu dendam pada salah satu makhluk di dunia sana, dan hamba tidak akan pernah bisa tenang jika belum membalaskannya."
Azazel mengangguk memahami. Dia bisa mengetahui secara garis besar kejadian yang menimpa Thamuz tadi.
"Sekalinya kau memutuskan untuk meninggalkan tugasmu dan pergi kesana kau tidak akan bisa kembali lagi kesini, kau tau konsekuensi itu bukan?" Azazel menguji seberapa yakin Thamuz pada pendiriannya.
"Ya. Hamba sangat mengetahuinya, " kata Thamuz penuh tekad.
Azazel menilik lagi keyakinan Thamuz sebelum memutuskan, "Baiklah jika kau sudah mengerti. Tapi sebelum itu kau harus mencarikan sosok yang akan menggantikan tugasmu dulu disini."
"Hamba sudah mendapatkan pengganti yang cocok dan jauh lebih baik daripada hamba." Thamuz sebelumnya sudah menyiapkan berbagai hal yang dibutuhkan sebelum menghadap pada sang raja iblis Azazel.
"Siapa itu?" Azazel sedikit penasaran.
Merasa terpanggil seorang iblis lain yang sudah sejak tadi berada di luar akhirnya masuk ke dalam ruangan lalu berlutut di hadapan Azazel menunjukkan sikap hormat, "Hamba bersedia menggantikan tugasnya, Azazel-sama."
Azazel merubah posisinya menjadi tegak dengan kedua alis sedikit ke atas, "Oh, kau ternyata. Setelah sekian lama aku tidak melihatmu akhirnya kau keluar juga dari tempat persembunyianmu, Scorpion." Azazel cukup puas dengan pilihan Thamuz.
Azazel melambaikan satu tangannya, "Berdirilah kalian berdua." Kedua orang yang berlutut itu dengan patuh berdiri.
"Scorpion, mulai sekarang kau akan menggantikan tugas Thamuz."
"SementaraThamuz…" Tatapan Azazel menjadi tajam saat menatap Thamuz," Aku akan mengabulkan permintaanmu asalkan dengan satu syarat, kau harus menerima seratus ribu cambukan terlebih dulu tanpa henti, setelah itu kau boleh hengkang dari tempat ini dan balaskan dendam yang memberatkan hatimu itu."
Thamuz menelan ludah mendengar syarat tersebut namun dia sudah bertekad untuk keluar dari tempat ini bagaimanapun konsekuensi yang harus dia terima, semua itu dia persembahkan demi bisa membalaskan dendamnya pada sosok manusia kecil yang sudah membuatnya murka.
__ADS_1
Mereka berdua membungkuk hormat dan berkata, " Baik, hamba akan melaksanakannya. Terima kasih, Azazel-sama."
*~*
#Lantai empat puluh tujuh
Akira saat ini sedang dalam perjalanan menuju lantai empat puluh tujuh. Sensasi yang Akira rasakan saat berpindah lantai kali ini terasa sangat berbeda. Dia seakan seperti sedang disedot ke suatu saluran ruang hampa dengan kecepatan yang mengerikan.
Selama beberapa saat Akira berada dalam sensasi tersebut akhirnya dia bisa keluar dari saluran itu dan sampai di lantai empat puluh tujuh.
[Anda kini berada di lantai empat puluh tujuh]
Tubuh Akira secara spontan merespon tempatnya kini berada. Yang pertama kali merespon yaitu sistem pernapasannya karena tempatnya kali ini memaksanya untuk tidak diperbolehkan bernafas. Akira juga tidak bisa merasakan pijakan apapun di bawah kakinya dan secara sadar Akira segara menyadari dirinya kini sedang melayang.
Akira sangat terkejut saat membuka matanya dan mendapati ada dimana dirinya saat ini.
"Air? Kenapa aku dibawa kesini! Tidak, lebih tepatnya kenapa tempat di lantai empat puluh tujuh seperti ini?!" Akira ingin berteriak namun suaranya terhalang oleh air sehingga hanya terdengar gumaman aneh beserta gelembung-gelembung udara saja yang keluar dari mulutnya.
"Sial, kalau begini aku tidak bisa bernafas."
Akira mengumpat kesal pada misinya kali ini. Dia sama sekali tidak diberitahukan informasi satupun terkait misi yang harus dia jalani di lantai keempat puluh tujuh ini sehingga dia tidak memiliki persiapan apapun.
Akira segera bergerak ke atas untuk mencari tempat bernafas. Akan tetapi pada saat pandangannya ke atas disana Akira tidak menemukan ada ujung dari tempat ini meskipun dia melihat seberkas cahaya menyerupai matahari menelusuk masuk ke dasar air sebagai penerang. Semua yang ada di tempat ini dilingkupi oleh air, sehingga yang dia lakukan saat ini percuma saja.
"Akhh! Tempat ini benar-benar aneh!" Akira berhenti melakukan hal yang sia-sia.
Tidak ingin terbawa panik dengan cepat Akira memutar otaknya tuk mencari cara agar dirinya bisa bernafas.
"Ah iya benar, aku bisa membeli alat bantu bernafas dalam air. Semoga di toko ada menjualnya."
Selesai melakukan transaksi Akira mengambil barang yang dibeli lalu memakaikan semua alat itu pada tubuhnya satu persatu.
"Ah...akhirnya…" Semua peralatan sudah terpasang rapi. Akira akhirnya bisa bernafas dalam helm yang berisikan gas yang dihasilkan dari sebuah tabung kecil yang menempel di punggungnya.
Selagi mencoba menyesuaikan diri dalam air, Akira mengamati keadaan sekitar. Dari apa yang dilihat Akira sama sekali tidak menemukan ada tanda-tanda kehidupan, semuanya kosong, sejauh mata memandang hanya air jernih nan tenang saja yang menjadi ciri tempat keberadaanya sekarang.
Pada saat Akira mengira demikian secara samar-samar persepsinya menangkap ada sesuatu yang bergerak dari bawah kakinya, namun ketika Akira melihat ke bawah dia tidak menemukan apa-apa.
Mungkin hanya perasaanku saja, begitu pikir Akira.
Sejurus kemudian sebuah panel muncul di depannya, memperlihatkan misi yang harus dia jalani.
{Quest lantai empat puluh tujuh — Misi: Kalahkan Binatang Jahanam di lantai ini}
"Binatang jahanam? Makhluk apa itu?"
Sebelum Akira sempat bertanya pada Sistem untuk mencari tahu tentang makhluk apa itu, dia kembali merasakan ada sesuatu yang bergerak sangat cepat di bawah kakinya. Akira kali ini merasakan ada suatu tanda-tanda kehidupan dan Akira berpikir itu pasti adalah makhluk yang disebut Binatang Jahanam itu.
Mengambil kedua pedangnya, Akira mulai bersiaga pada setiap serangan yang akan datang. Akira kini semakin jelas merasakan kehadiran makhluk itu.
Makhluk itu berenang mengitari Akira dengan lihai tanpa sama sekali berhasil tertangkap oleh visinya dan secara mengejutkan tiba-tiba saja dia muncul di hadapannya. Sontak Akira pun segera bergerak menghindar untuk menyelamatkan diri.
Dari apa yang dia lihat barusan sesosok ikan hiu berukuran tiga sampai empat kali dari hiu biasa tertangkap oleh matanya. Jika di kehidupan sebelumnya Akira pasti mengira itu adalah hiu Megalodon, hiu terbesar yang dia ketahui.
Akira menelan ludah saat menyaksikan makhluk sebesar itu bisa bergerak sangat cepat di dalam air. Sementara dia sendiri sedikit kesulitan untuk bergerak bebas ditambah dengan beban tabung gas yang sedang dia bawa.
Akira memposisikan senjatanya bersiap menghadapi makhluk itu, apapun caranya dia harus menang karena dengan begitu dia bisa mendapatkan promosi class yang merupakan tujuan utama dia menyelesaikan misi di lantai sekarang.
__ADS_1
Binatang Jahanam yang menyerupai hiu itu kembali bergerak ke arah Akira, bersiap memangsa tubuh kecilnya dalam sekali lahapan menggunakan gigi-gigi runcingnya.
Sekali lagi Akira berhasil menghindari Binatang Jahanam itu dan menyempatkan memberikan tebasan yang mengarah langsung pada siripnya.Namun pedang milik Akira yang mendarat di sirip Binatang Jahanam itu sama sekali tidak memberikan luka sedikitpun.
"Kulit Binatang Jahanam ini ternyata sangat keras!" Akira mengakui daya tahan milik Binatang Jahanam itu.
Terlepas dari efek pedang milik Akira yang mampu menghancurkan monster bertipe Heavy Armor atau memiliki ketebalan yang tinggi, dia sama sekali tidak berhasil menorehkan luka segores pun.
Kembali pada pertempuran di bawah air. Akira terus menghindari setiap serangan dari Binatang jahanam itu selagi mengamati setiap celah pada tubuhnya untuk mencari titik lemah. Sesekali dia juga mencoba mendaratkan serangan demi serangan pada titik-titik yang menurutnya bisa memberikan luka.
Sayangnya semua titik pada tubuhnya itu sama kerasnya, atau lebih tepatnya tidak ada satupun yang bisa menjadi titik lemahnya.
"Sial! Kalau begini bagaimana caranya aku bisa mengalahkannya!" Akira merasa kesal, apalagi saat mengetahui tabung oksigen miliknya hanya menyimpan sedikit udara dan kini tinggal tersisa sedikit lagi. Dia tidak memiliki waktu untuk berlama-lama di tempat ini.
"Water Slicer!" Akira mencoba menggunakan skill.Tebasan air terbentuk dan mengarah langsung pada tubuh Binatang Jahanam itu. Namun tetap sama saja, serangannya sama sekali tidak berhasil memberikan luka.
Dor! Dor!
Water Cannon!
Water Nebula!
Ice Lancer!
Stone Hammer!
Fire Ball! — "Bodoh, api tidak akan terlalu bekerja dalam air."
Akira terus mencoba segala cara untuk menaklukan Binatang Jahanam itu dari mulai menggunakan semua senjatanya sampai semua skill miliknya. Sayangnya lagi dan lagi semua usahanya itu tidak membuahkan hasil. Dan itu benar-benar membuat Akira kesal bercampur panik dan gelisah.
Akira kembali dalam posisi bertahan, berusaha menghindari setiap serangan dari Binatang Jahanam itu yang seiring waktu semakin cepat.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus menggunakan mode itu lagi."
Sebelum Akira hendak memasuki mode berserker-nya, secara mengherankan Binatang Jahanam itu tiba-tiba menghilang dalam jangkauan persepsinya.
"Kemana dia? Kenapa aku tidak merasakannya?"
Mendadak suasana dalam air menjadi hening. Akira menjadi kebingungan dengan kondisi tersebut. Pada saat yang sama dia meningkat kewaspadaannya ke tingkat yang lebih jauh.
Akira merasakan firasat buruk saat mengetahui Binatang Jahanam itu tidak muncul-muncul. Pandangan Akira memencar ke segala arah untuk mencari keberadaanya yang begitu misterius sampai tidak terdeteksi sedikitpun oleh persepsinya, padahal tadi dia masih bergerak di hadapannya.
Sebelum Akira bisa menemukan Binatang Jahanam itu sesaat berikutnya secara mengejutkan Binatang Jahanam itu tiba-tiba muncul di belakangnya, menubruk tubuh kecilnya dengan sangat keras hingga menghancurkan tabung oksigen miliknya dan memberikan kerusakan yang sangat besar pada status HP-nya
"Agh! Sial! Damage-nya gak ngotak!!"
{HP : 10380/24000 (-13620)} {Fatigue: 32}
Akira menjadi panik saat mengetahui tabung oksigennya sudah hancur. Dia menjadi tidak bisa bernafas sekarang.
"Bagaimana ini?" Akira semakin panik dan gelisah. Dia tidak mau kalah dalam misi ini dan mengulang kembali semuanya dari awal.
Selama beberapa saat Akira mencoba menahan nafas selagi menghindari setiap serangan dari Binatang Jahanam itu, pandangan Akira perlahan memburam sampai pada kondisi dia tidak bisa melihat musuh di hadapannya dengan jelas.
"Apa aku harus mengulang semuanya dari awal lagi..." Akira sudah berada diambang batas hingga sesaat kemudian dia mulai tidak sadarkan diri.
"Siapa itu...?" Sekilas sebelum Akira tidak sadarkan diri dia sempat melihat sesosok manusia berekor ikan menyelamatkannya dari terkaman Binatang Jahanam yang pada saat itu hendak memakannya.
__ADS_1