
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Akira tersenyum pahit menyaksikan perubahan yang terjadi pada Scorpion. Firasatnya mengatakan perubahan Scorpion kali ini menunjukkan bahwa kekuatannya kini meningkat beberapa kali lipat. Api merah kelam yang berkobaran di tubuhnya seolah memberikan peringatan agar jangan disentuh.
Meski begitu Akira sama sekali tidak takut. Rasa percaya diri akan menang masih ada dalam dirinya. Dia merasa pertarungan kali ini akan menjadi pertarungan penentu yang menarik. Dia menjadi semakin bersemangat karenanya.
"Majulah…" Scorpion menatap Akira dengan tatapan bengis menantangnya tuk maju lebih dulu.
"Baiklah…"
Akira tersenyum menuruti kemauan Scorpion kemudian melesat secepat kilat mendekatinya. Ketika jaraknya dekat, Akira langsung melontarkan beberapa serangan beruntun menggunakan kedua senjatanya.
Tring! Tring! Tring! Tring!
Setelah persepsi dan kecepatannya meningkat, Scorpion mampu menyambut serangan Akira kali ini dengan baik.
Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Keduanya saling melemparkan serangan yang mematikan dan masih terlalu awal untuk menentukan siapa diantara mereka yang akan menang.
Tring!
Tring!
Tring!
Ketika kedua senjata itu beradu suara benturan besi yang sangat keras menggema di tempat itu, menandakan bahwa setiap serangan yang mereka kerahkan mempunyai daya hancur yang sangat kuat.
"Harus kuakui, kau bukan lawan yang biasa, bocah. Kau sampai memaksaku bertarung seperti ini." Meski berkata demikian sebenarnya Scorpion merasa kesal karena masih saja dipermainkan oleh kemampuan Akira.
"Kau juga sama. Kau jauh lebih merepotkan dibanding dirinya. " Akira mengakui kekuatan perubahan Scorpion berbeda dengan milik Thamuz dan menurutnya jauh lebih kuat.
"Hahaha, sudah kubilang bukan jangan samakan aku dengan dia. Aku beberapa kali lebih kuat dibanding dirinya. Kau tidak akan bisa mengalahkanku, jadi bersiaplah menjemput ajalmu."
"Ya. Kau benar. Kau juga bersiaplah. "
Mereka berdua tidak terus-terusan bertarung secara frontal seperti itu. Sesekali mereka berdua menggunakan metode pertarungan udara seperti tadi dengan memanfaatkan pilar sebagai medianya.
Gerakan mereka pada saat bergelantungan di pilar kali ini begitu cepat dan terampil, terutama ketika ingin menancapkan senjata pada satu pilar ke pilar lain.
Selama beberapa saat mereka berdua saling bertukar serangan di udara dan melewati beberapa kali pertukaran serangan, dalam satu hentakan kaki yang berpusat pada tembok pilar mereka secara bersamaan melesat menyerang.
Tring!
Saat kedua senjata itu beradu, mereka berdua terpental ke belakang dan menghantam pilar yang tadi mereka berdua jadikan sebagai pijakan hingga roboh. Jelas sekali serangan yang mereka kerahkan barusan memiliki daya hancur yang sangat kuat.
__ADS_1
Bagi Akira mungkin ini pertama kalinya selama pertarungan berlangsung dia terluka. Hantaman itu membuat HP-nya berkurang tetapi tidak terlalu besar.
Kedua pilar di tengah itu sudah roboh dan hanya menyisakan satu pilar lagi. Mereka sekarang tidak bisa menggunakan serangan seperti tadi lagi dan kembali menyerang seperti biasa.
Pertukaran selanjutnya mereka tidak hanya mengandalkan fisik, mereka juga bertarung menggunakan sihir yang mereka miliki.
"Meteor Fall."
Batu-batu berukuran besar berjatuhan dari langit menghantam Akira namun kali ini Akira tidak menggunakan skill pelindungnya dan lebih memilih bergerak menghindar. Batu besar itu hancur menjadi debu saat mendarat di tanah, menghasilkan suara yang menggelegar.
"Eksplosion." Giliran Akira menggunakan skillnya. Cahaya muncul di bawah kaki Scorpion dan sejurus kemudian meledak menghasilkan kepulan asap hitam yang tebal.
Tepat sebelum itu terjadi, Scorpion sudah lebih dulu melompat tinggi begitu menyadari ada bahaya di bawah kakinya.
Pada saat yang sama ketika Scorpion berada di udara dia terlihat seperti tengah merapalkan sesuatu dan setelah kakinya kembali menginjak tanah, Scorpion menyatukan kedua telapak tangannya kemudian berkata, "Wahai teman sejatiku, aku membutuhkan bantuanmu." dan dilanjut dengan seruan,
"Et Beatos Vos De - Scorpio Bellator!"
Selesai merapalkan kata-kata tersebut seekor kalajengking berukuran besar muncul di bawah kaki Scorpion dan langsung mengangkat tubuhnya,menjadi tunggangannya.
Scorpion kini berdiri di atas pundak kalajengking berwarna hitam pekat sepekat langit malam yang tak lain merupakan temannya. Kalajengking ini tentu bukanlah kalajengking biasa, terbukti dari ukurannya yang setara dengan sebuah mobil besar.
"Kenapa? Apa kau takut melawanku sendiri sampai harus memanggil binatang peliharaanmu," ejek Akira.
"Takut? Untuk apa aku takut padamu? Aku hanya bertindak cerdas saja, bodoh." Scorpion tidak ingin mengakui jika sebenarnya dia sedikit merasa demikian.
"Ho~ Begitukah?" Akira menaikkan satu alisnya.
"Teman, ya...konyol sekali. Aku membenci istilah itu." Akira bersiaga terhadap serangan yang akan datang.
Menggunakan kedua capitnya, kalajengking itu berusaha menangkap Akira dan dibantu dengan ekornya juga yang terus menghujam tanah. Sedangkan Scorpion yang berada di atas pundak kalajengking itu ikut menyerang dengan memainkan kunainya tuk mencoba memecah perhatian Akira.
Akira mulai dibuat kerepotan oleh kombinasi serangan mereka. Mereka berdua sama sekali tidak memberikan celah baginya untuk menyerang. Akira kini memposisikan dirinya di posisi bertahan, mencoba mencari cara mengatasi mereka berdua.
"Ada apa bocah? Kau terlihat kesulitan," ejek Scorpion selagi terus melemparkan kunainya ke arah Akira.
"Benarkah?"
Akira yang terus terpojokan oleh mereka berdua akhirnya memutuskan mundur. Dia mencoba memutar otaknya guna mencari cara bagaimana menghabisi kalajengking itu lebih dulu.
Tak lama kemudian sebuah ide terlintas di pikiran Akira ketika pandangannya sesaat terpalingkan pada satu pilar yang tersisa.
Akira segera melancarkan idenya. Dia bergerak kembali mendekati kalajengking itu dan mencoba memancingnya agar mengejarnya dengan gaya seolah-olah dia sedang terpojokan.
Sampai ketika Akira berhasil membawa mereka berdua dekat dengan pilar itu, Akira segera bergelantungan memutar lalu melemparkan sesuatu berbentuk tabung yang dia ambil dari kantong ajaibnya pada mereka berdua.
Mengira ada bahaya dari benda yang Akira lemparkan, Scorpion dengan segera menghancurkannya sebelum benda itu sampai.
__ADS_1
Sayangnya begitu benda itu hancur seberkas cahaya yang menyilaukan membuat dirinya bersama kalajengking itu mematung ditambah dengan suara desingan yang mengganggu. Pada saat itu terjadi Akira sudah mulai melancarkan aksi selanjutnya.
Bum!
"Temanku menjauhlah!" Scorpion segera melompat dari pundak kalajengking itu saat menyadari pilar di depannya roboh dan hendak menimpanya.
Namun naas saat itu terjadi hanya dirinya saja yang berhasil selamat dan akhirnya pilar itu roboh menimpa temannya yang tidak sempat bereaksi.
"Uewkkk!!" Kalajengking itu meronta kesakitan, mencoba melepaskan diri dari reruntuhan.
Melihat kalajengking yang sudah tertiban pilar itu masih hidup, Akira segera melancarkan serangan mematikan untuk membunuhnya.
"Lightning Dragon." Naga petir menyambar kalajengking itu hingga mengubahnya menjadi debu hitam.
"Nah, begini baru adil..." Akira memandangi debu kalajengking itu dengan senyuman angkuh, merasa senang karena rencanannya berhasil.
"Bocah... Beraninya kau…" Scorpion terlihat murka menyaksikan temannya tewas. Dia melesat menyerang Akira dengan nafsu membunuh yang kuat.
Akira tersenyum lalu melemparkan beberapa flashbang seperti tadi ke udara, tepat ketika Scorpion berada di jangkauannya, dia kemudian menghancurkan flashbang tersebut yang seketika membuat Scorpion berhenti bergerak.
Flashbang tersebut nyatanya hanya berpengaruh pada Scorpion sementara Akira tidak terpengaruh sedikitpun. Kenapa? Tentu saja semua itu karena mode berserker-nya.
Mode berserker-nya membuat seluruh inderanya mati, meski anehnya dia masih bisa merasakan semua yang ada di sekitarnya, bahkan kini seluruh inderanya menjadi tajam beberapa kali lipat.
Pada saat mata Scorpion tersilaukan, Akira dengan cepat bergerak mendekati Scorpion lalu mendaratkan satu serangan mematikan di bagian titik vital lehernya.
Akan tetapi saat itu Scorpion berhasil dengan cepat menghindar dan akhirnya serangan yang Akira arahkan sedikit meleset dan hanya memberikan luka yang sangat dalam pada bahu Scorpion. Akira berdecak kesal karena tidak berhasil membunuhnya.
Scorpion bergerak mundur menyelamatkan diri. Dia merasa beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan.
"Sial, hampir saja..." Scorpion melihat luka di bahunya sambil tersenyum pahit.
'Meski aku tidak berhasil membunuhnya tapi setidaknya serangan barusan cukup membuat kekuatannya melemah.'
Disaat Akira berpikir begitu dan yakin kalau luka itu bisa membuatnya menang, sesuatu tiba-tiba terjadi. Secara mengejutkan luka yang berhasil dia daratkan di bahu Scorpion kini perlahan tertutup kembali dengan cepat.
"Kau...bagaimana bisa..." Akira membelalakan matanya terkejut.
"Kenapa? Kau pikir luka seperti ini bisa mengalahkanku?" Scorpion tersenyum angkuh melihat ekspresi Akira.
"Biar kuberitahu alasannya." Scorpion kemudian menunjuk kobaran api yang menyelimuti tubuhnya, "Semua ini karena mantel neraka yang aku gunakan. Mantel ini mampu menyembuhkan setiap luka di tubuhku, jadi sekarang kau tidak akan pernah bisa melukaiku, bocah. " Scorpion tertawa di ujung kalimatnya.
"Dan satu hal lagi…" Scorpion mengangkat satu telunjuknya lalu mengarahkannya pada tangan Akira, "Coba lihat tanganmu…"
Akira mengikuti arah telunjuk itu dan menemukan secuil api milik Scorpion kini menempel di tangannya.
"Api ini..." Secuil api itu perlahan tapi pasti membesar dan terus menjalar di tangan Akira.
__ADS_1
"Api itu akan terus menggerogoti tubuhmu, dan pada saat api itu ******* habis seluruh tubuhmu, kau akan berubah menjadi debu! " Senyuman kemenangan kembali terlukis di bibir Scorpion. Sedangkan ekspresi Akira kini mulai terlihat panik.
"Kau..." Akira memandangi Scorpion dengan tajam namun tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan.