
Pertempuran penentu melawan binatang jahanam baru berlangsung selama beberapa menit, masih terlalu awal untuk mencari tahu siapa yang akan menang. Namun, perbedaan kekuatan dari kedua belah pihak sudah cukup terlihat untuk mencari tahu siapa yang lebih unggul dan siapa yang kini kesulitan.
Selain di kota Buldovia, ternyata pertempuran melawan binatang jahanam juga terjadi di beberapa tempat. Jika dijumlahkan dari keseluruhan tempat tersebut, sekiranya ada sepuluh binatang jahanam yang muncul. Beruntungnya di setiap tempat itu terdapat orang-orang kuat yang mempunyai kemampuan tinggi untuk mengatasi makhluk tersebut.
Saat ini kota Buldovia merupakan tempat yang paling banyak didatangi oleh binatang jahanam. Tak hanya yang terbanyak, binatang jahanam yang muncul di tempat ini juga merupakan yang terkuat di antara semua binatang jahanam yang tersebar di beberapa tempat. Hal itu membuat situasi di kota tersebut berada dalam level bahaya.
Orang-orang di dalam kota yang saat itu tengah berlindung di dalam rumah tiba-tiba menjadi panik saat mendengar sorakan ketakutan dari para petarung yang tengah bertempur di lokasi pertempuran.
Rasa panik itu semakin menjadi ketika mereka keluar dan melihat ke arah langit, di sana mereka menemukan sesosok kelabang hitam yang menyeramkan dengan ukuran yang tidak masuk akal tengah melayang tanpa hambatan. Kilatan-kilatan kecil yang keluar dari tubuhnya terus menyambar ke bawah seperti petir dan siap menghanguskan apa saja yang mengenainya.
Pemandangan buruk itu berhasil menakuti semua orang yang menyaksikannya. Mereka semua beranggapan bencana besar saat ini telah datang melanda kota mereka.
Sementara itu, situasi di tempat pertempuran saat ini sangat buruk. Para petarung yang ketakutan setelah melihat binatang jahanam mulai menyerang segera berlarian ke arah rune untuk berlindung. Mereka memilih untuk mundur menyelamatkan diri daripada harus tewas seperti rekan-rekannya yang sebelumnya sempat mencoba melawannya.
Dari ketiga binatang jahanam itu, mereka lebih takut dengan kelabang raksasa yang bergerak liar di udara dan memburu orang-orang di bawahnya menggunakan hujan petir yang keluar dari tubuhnya.
Kelabang raksasa itu kini mulai bergerak menuju pembatas rune, tempat di mana orang-orang berlindung. Mereka yang berlindung di situ menjadi panik dan segera berlarian untuk menyelamatkan diri jika pembatas rune itu hancur.
Beruntungnya hal itu tidak sampai terjadi setelah perhatian kelabang besar itu teralihkan oleh beberapa anak panah yang tiba-tiba menerjang ke arahnya.
"Serangan barusan sama sekali tidak memberikan efek apapun padanya. Kalau begini kelihatannya akan sulit untuk mengalahkannya," kata pelaku dibalik serangan anak panah itu. "Ayo kemari, kejar aku." Dia segera menjauh saat kelabang besar itu bergerak ke arahnya.
Semua orang di lokasi pertempuran dapat mengetahui siapa sosok bersayap hitam yang kini melayang di udara dan tengah menghadapi binatang jahanam itu seorang diri. Dia adalah Zero, sosok terkuat yang ada di kota itu.
"Oh, itu pasti dia…"
"Dia datang menyelamatkan kita."
"Syukurlah dia ada di kota ini."
__ADS_1
"Kehadirannya di sini telah menyelamatkan kita."
Jika sebelumnya mereka berharap Zero lebih baik tidak ada di tempat itu, tetapi sekarang mereka bersyukur karena kehadirannya kini telah memberikan mereka rasa aman dari kehadiran binatang jahanam.
Zero saat ini sedang bergerak memancing kelabang hitam itu untuk menjauh dari batas rune. Biarpun anak panah yang diarahkan pada kelabang itu tidak memberikan luka sedikitpun, tetapi itu cukup untuk membuatnya terpancing.
"Baiklah, sekarang bagaimana caraku bersenang-senang melawannya..." Selagi menjauh, Zero mengamati setiap detail tubuh kelabang itu, mencari cara untuk mengalahkannya.
"Binatang jahanam yang satu ini pasti sama kuatnya dengan yang waktu itu. Atau bisa jadi jauh lebih kuat..." Zero mencoba mengukur kekuatan binatang jahanam yang menjadi lawannya.
Zero mengetahui untuk mengalahkan binatang jahanam tidak semudah mengalahkan monster tingkat Ancient. Buktinya saat itu dia sampai harus dibantu oleh para ras duyung untuk bisa mengalahkannya.
Begitu jarak antara kelabang raksasa itu dengan batas rune sudah jauh, Zero mulai melancarkan serangannya kembali menggunakan busur panahnya.
"Bagaimana dengan ini... " Mengetahui serangannya tadi tidak memberikan efek apapun, kali ini Zero mencoba menyerang kelabang raksasa itu menggunakan anak panah yang terbuat dari api neraka miliknya.
Zero tertawa mengetahui serangannya tidak ada satupun yang efektif untuk melukai kelabang itu. Aliran listrik yang menyala di sekujur tubuhnya berhasil menetralkan semua serangan Zero.
"Makhluk ini benar-benar mengesankan. Aku tidak bisa mendekatinya untuk melakukan serangan jarak dekat. Oleh karena itu kupikir serangan jarak jauh merupakan cara terbaik untuk mengalahkannya, tapi kelihatannya tidak demikian. Aliran listrik di tubuhnya merupakan satu-satunya alasan yang membuat makhluk ini jadi sulit untuk ditaklukkan," gumam Zero mengevaluasi pertarungannya barisan selagi masih memposisikan dirinya menyerang.
Alih-alih membuat Zero menyerah saat mengetahui makhluk ini sulit untuk ditaklukkan, hal itu malah membangkitkan semangat bertempur dalam dirinya.
"Meski begitu, sesulit apapun makhluk ini pasti ada cara untuk mengalahkannya. Aku hanya perlu mencari tahu kelemahannya terlebih dahulu seperti yang pernah kulakukan waktu itu." Zero terlihat mulai menikmati pertempurannya kali ini.
Kelabang raksasa itu tidak hanya bergerak mengejar Zero, dia juga sesekali menyerangnya balik dengan cara mengeluarkan bola-bola petir dari mulutnya. Bola-bola petir itu beterbangan dengan cepat ke arah Zero, tetapi Zero dapat menghindarinya lebih cepat.
Ketika beberapa bola petir yang meleset itu tak sengaja mengenai orang-orang di bawah, mereka seketika menjadi gosong sebelum akhrinya tewas dalam posisi berdiri kaku.
"Wah, kelihatannya berbahaya juga ya serangannya barusan," kata Zero memandangi orang-orang yang tewas setelah terkena serangan itu. Dia pun memutuskan beralih haluan, menggiring kelabang itu untuk pergi ke tempat yang tidak ditempati banyak orang.
__ADS_1
"Aku belum menemukan cara terbaik untuk mengalahkan makhluk ini. Untuk mengalahkannya aku hanya perlu mencari titik lemahnya." Zero sejak tadi terus mencari titik lemah binatang jahanam ini, tetapi dia tak kunjung menemukannya juga.
Namun, setelah beberapa kali Zero berusaha mencaritahunya lewat beberapa serangan yang terus dia lancarkan pada binatang jahanam itu, akhirnya dia mendapatkan petunjuk untuk mengalahkan binatang jahanam ini.
"Bodohnya aku. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang…" Zero terkekeh karena telat menyadari sesuatu yang seharusnya dia sadari dari awal.
Zero kemudian mencoba mengambil jarak lebih jauh dari kelabang raksasa itu agar dirinya bisa lebih leluasa mencari sesuatu di dalam menu store-nya.
"Yosh, segini sudah cukup..." Zero selesai membeli belasan ribu senjata yang mungkin bisa digunakan untuk mengalahkan binatang jahanam itu.
"Untuk membuktikannya, aku harus mencobanya terlebih dahulu." Zero kemudian menghilangkan busur panahnya dan beralih mengeluarkan senjata yang baru saja dia beli.
"Dengan tombak biasa ini saja aku rasa sudah cukup untuk mengalahkannya." Di tangan Zero kini tergenggam sebuah tombak panjang dengan ujung mata pisaunya terbuat dari bahan logam yang berfungsi untuk menangkal petir.
Senjata tersebut menurut Zero merupakan senjata yang paling tepat untuk mengalahkan kelabang raksasa itu.
"Aku seharusnya menyadarinya sejak awal kalau serangan anak panah yang terbuat dari energi sihir tidak akan berguna saat bersentuhan dengan aliran listrik yang menyelimuti tubuhnya. Oleh karena itu, untuk bisa melukainya aku harus menembus pertahanannya terlebih dahulu. Dan tombak ini kurasa sudah cukup untuk melakukannya," gumam Zero menganalisa pertarungannya tadi sambil mencari momen yang pas untuk membuktikan teorinya.
"Sekarang!"
Begitu Zero mendapatkan momen yang pas untuk melancarkan serangan, dia segera melemparkan tombak itu sekuat tenaga ke bagian kepala kelabang raksasa itu. Tombak biasa yang Zero lempar itu dengan cepat menerjang udara, bergerak ke arah target hingga akhirnya berhasil menembus aliran listrik yang menjadi pertahanannya.
Namun Zero sedikit kecewa dengan hasil selanjutnya.
"Cih, keras juga rupanya." Zero tersenyum sedikit dipaksa, tidak menyangka jika kulit kelabang raksasa itu keras sekali padahal barusan dia sudah mengeluarkan semua kekuatan fisiknya.
Senyuman Zero yang semula terpaksa perlahan berubah jadi terlihat seperti sangat menikmati pertempuran.
"Tapi setidaknya sekarang aku mempunyai petunjuk untuk mengalahkanmu. Kuharap kau masih bisa menghiburku setelah ini."
__ADS_1