
Zero jelas saja terkejut melihat ksatria suci itu tiba-tiba langsung menghunuskan pedang ke lehernya. Apalagi sosok wanita berambut pendek yang menjadi ksatria suci itu dia kenali.
Charla dan Sherria di samping Zero pun sama-sama terkejutnya. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti alasan kenapa ksatria suci itu bertindak demikian.
Sementara Fluffy saat itu juga langsung mengepal tangannya bersiap menghabisi ksatria suci itu jika dia berani macam-macam pada tuannya.
'Jangan khawatir, kalian turuti perkataanku dan bersikap lah seperti biasa.' Dengan menggunakan skill Message-nya, Zero memberikan arahan pada mereka. Ketiga gadis itu mencoba menuruti arahan yang Zero katakan.
"Jangan pernah coba berpikir untuk kabur kalau kau masih sayang nyawamu, dan sekarang jawab semua pertanyaanku," ancam ksatria suci itu. Prajurit di belakangnya bersiaga saat mendengar kaptennya begitu waspada pada Zero.
"Baik, coba katakan, apa itu?" Zero mencoba bersikap santai meski pedang kini terhunus di lehernya.
Untuk sekarang sebisa mungkin dia tidak ingin mencari masalah dulu karena tidak ingin mengacaukan tujuannya.
'Dia...kenapa dia bisa setenang ini. Apa dia tidak takut jika aku benar akan mengayunkan pedang ini ke lehernya, atau dia sedang mengejekku…' pikir ksatria suci geram melihat ekspresi Zero.
"Apa kau seorang pendatang disini?" Ksatria suci itu melontarkan pertanyaan sambil menatap Zero tajam.
Perasaannya mencurigai kalau sosok di depannya ini memang sama dengan bocah yang waktu itu.
"Benar, kami baru sampai di kota ini kemarin. "Zero tersenyum santai.
"Apa tujuanmu datang ke kota ini?" Ksatria suci itu belum mau melepaskan pedangnya. Aksinya itu berhasil menarik perhatian orang-orang sekitar yang penasaran, termasuk pria berambut putih yang tertarik pada Zero.
"Kata rekanku di pusat kota ini terdapat guild petualang, oleh karena itu aku bersama mereka ingin pergi ke sana untuk mendaftarkan diri menjadi petualang." Zero menjelaskan sambil menunjuk ketiga gadis polos di sampingnya.
"Petualang, ya..." Wanita itu tersenyum tidak percaya.
"Benar. " Zero mengangguk bersama yang lainnya.
"Baik, sekarang pertanyaan terakhir, kau harus menjawabnya dengan jujur…"Tatapan dan suara ksatria suci itu terdengar semakin tajam di kedua indra Zero, "Apa kau mengenal bocah bertopeng yang kini sedang menjadi buah bibir?" tanya nya sambil menekan sedikit pedangnya pada leher Zero.
Dari tatapan dan aksi ksatria suci itu, Zero menemukan kalau ksatria suci itu sepertinya memang mengenalnya walaupun dia kini sedang dalam wujud seperti itu.
"Ah...maaf, kalau itu aku tidak tahu. Aku juga penasaran, siapa dia sebenarnya." Zero menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum ringan.
"Ho~Begitu, ya…" Ksatria suci itu menilik Zero dan ketiga rekannya sebelum menarik pedangnya dari leher Zero, membuat ketiga rekannya menghela nafas lega.
Namun ketika ksatria suci hendak menyarungkan pedangnya kembali, dia secara mengejutkan menariknya lagi dan langsung mengarahkannya pada leher Zero.
"Pembohong!"
Geb!
Sebelum pedang itu berhasil sampai di leher Zero, seorang pria berzirah lengkap dengan cepat menghentikan tangan wanita berambut pendek itu.
__ADS_1
"Berhenti. Apa yang kau lakukan, Minerva?" tanya pria itu yang juga merupakan seorang ksatria suci.
Fluffy yang melihat aksi wanita itu hampir saja lepas kendali jika saja tangannya tidak segera ditahan oleh Zero. Charla dan Sherria pun ikut bereaksi demikian.
"Kak Lawrence, lepaskan! Aku sudah menemukannya! Dia pasti orangnya! Dia pasti orang yang telah membuat rambutku seperti ini! Aku harus membunuhnya!" teriak wanita berambut pendek itu mencoba melepas genggaman kakaknya.
Lawrence yang menahan tangan adiknya meneliti wajah Zero yang tengah tersenyum hambar memandangi mereka berdua. Dia menghela nafas saat melihat sebelah mata Zero yang tergores lalu mengalihkan pandangannya kembali pada adiknya.
"Sudah berapa pria yang kau tuduh sebagai orang itu…" Lawrence mendecakkan lidahnya berulang kali menatap adiknya yang selalu saja menyalahkan mereka yang mempunyai mata tergores sebagai orang yang membuatnya menderita.
"Tidak, Kak Lawrence! Kali ini aku yakin dia pasti orangnya!" Minerva berusaha meyakinkan kakaknya. Namun kakaknya tidak yakin sebab tingkatan sihir dalam diri Zero terbilang standar, jelas tidak mungkin kalau itu dirinya.
"Kakak, kumohon percayalah! Tangkap dia—"
Sebelum Minerva berhasil menyelesaikan perkataannya, Lawrence memukul pundaknya hingga membuatnya pingsan. Dia pun meraih tubuh adiknya lalu menyerahkannya pada prajurit di belakangnya dan menyuruh mereka untuk membawanya pergi.
"Maafkan adikku, ya. Sepertinya lagi-lagi dia salah orang." Lawrence terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya canggung.
"Iya, tidak apa-apa…" Zero tersenyum tipis, merasa beruntung Lawrence datang di waktu yang tepat.
"Kalian sepertinya orang baru di sini." Lawrence baru pertama kali ini melihat Zero dan yang lainnya.
"Benar. Kami ke kota ini ingin mendaftarkan diri menjadi petualang," jelas Zero
"Oh, kalau begitu bagaimana kalau aku mengantarkan kalian sebagai permintaan maaf atas kesalahan adikku?" usul Lawrence.
"Baiklah kalau itu mau kalian. Semoga berhasil." Lawrence memberi senyuman pada mereka kemudian pergi menghampiri adiknya yang tengah dibawa oleh beberapa prajurit.
Zero memandangi mereka sekali lalu beralih ke mereka yang sejak tadi mengamatinya sebelum mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya menuju ke pusat kota.
"Ayo," ajak Zero pada yang lainnya yang masih memandangi ksatria suci itu. Charla dan yang lainya kembali mengikuti Zero dari samping.
'Orang itu...tingkatan sihirnya lumayan tinggi juga...sepertinya dia akan menjadi lawan yang merepotkan jika suatu saat aku berhadapan dengannya," pikir Zero saat mengamati fondasi sihir dalam diri Lawrence.
"Zero-sama, apa kau mengenal wanita tadi?" Charla memutuskan bertanya setelah lama diam.
"Tidak. Seingatku aku tidak pernah berurusan dengan orang gila sepertinya," jawab Zero berbohong.
"Lalu kenapa dia bisa semarah itu padamu?"
"Entahlah. Mungkin dia salah orang seperti yang tadi kakaknya katakan."
Charla bertopang dagu sambil mengangguk-anggukan kepalanya memikirkan wanita itu sebelum beralih memikirkan pertanyaan lain.
"Apakah bocah bertopeng yang saat ini sedang menjadi buah bibir orang-orang itu benar, Zero-sama?" Charla bertanya hal lain.
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana?" Zero tersenyum ke arah Charla.
"Jadi benar, ya…" Charla membalas dengan senyuman hambar.
"Ya. Itu aku. Semalam aku menghabisi para b*jingan yang sedang mencabuli seorang wanita di tempat yang sepi..." Zero menjelaskan semua kejadian semalam tanpa ada yang ditutupi.
"Begitu, ya." Charla dan Sherria mengerti yang Zero lakukan tidaklah salah.
"Tuan, aku tidak suka dengan wanita itu. Aku ingin sekali menghajarnya kalau Tuan tidak menahanku tadi." Fluffy memperlihatkan wajah kesal pada Zero.
"Benarkah?" Zero menaikkan alisnya.
"Ya. Kalau aku bertemu dengannya lagi aku akan menghabisinya." Fluffy mengepalkan tangannya ke atas.
"Hahaha…" Zero tertawa pelan menanggapinya.
"Jangan begitu, Flo." Sherria menasihati.
"Eh, kenapa memangnya. Dia kan sudah berani mengganggu Tuan, jadi aku harus menghukumnya." Fluffy memanyunkan bibirnya terlihat masih kesal dengan aksi wanita itu.
Di tengah perjalanan menuju tempat guild petualang, mereka kembali dihadapkan oleh gangguan. Beberapa orang petualang menghadang langkah mereka dan mengganggunya.
"He~ Sepertinya ada wajah-wajah baru disini." Mereka mengerumuni Zero dan yang lainnya, tidak memberi celah untuk melangkah.
Charla dan yang lainnya memandangi mereka dengan tatapan tidak suka. Sedangkan Zero menghela nafas sambil menggaruk belakang kepalanya merasa risi.
"Ada apa gadis cantik, apa kau ingin mendaftar menjadi petualang?" Pemimpin kelompok itu memutari Sherria sambil melirik setiap lekukan tubuhnya yang menggoda. Sherria menjadi ketakutan melihatnya.
"Bagaimana kalau kalian ikut dengan party kita saja. Aku jamin kalian akan menjadi petualang yang hebat." Yang lain ikut memutari Charla dan Fluffy sambil memainkan ekspresi nakal.
Fluffy menundukkan wajahnya dengan tangan terkepal erat, bersiap meluapkan kekesalannya pada mereka semua.
"Dari pada dengan dia...Tingkatan sihirnya saja masih berada di penyihir kelas dua, sampah…" Pemimpin party itu cekikikan menunjuk Zero.
"Hahaha, dia hanya akan menjadi beban kalian!" Tawa mereka menggelegar menertawakan Zero yang mulai dibuat emosi.
"Bagaimana…Apa kalian mau ikut bersama kita…"
"Kalau kau mau ikut denganku, aku berjanji akan memperlakukanmu dengan istimewa…" Pemimpin kelompok itu mulai mendekati Sherria dan berniat menyentuh rambutnya.
Namun sebelum tangan pemimpin party itu berhasil menyentuhnya, Zero dengan cepat menangkapnya lalu menggenggamnya dengan kuat hingga terdengar suara tulang remuk yang kemudian disusul jeritan yang sangat keras.
"ARGHH!!" Pemimpin party itu terjatuh ke tanah sambil memegangi tangannya yang telah hancur.
Zero kemudian memandangi kelam mereka semua yang kini terdiam kaku lalu berkata dengan nada mengancam,
__ADS_1
"Sekali saja kau berani menyentuh mereka akan kubuat kau bersimbah darah dan menyesal pernah hidup di dunia ini…"
Ingat itu...