
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
"Zaltra, apa kau yakin dengan cairan ini. Kau tidak sedang mencoba meracuniku, kan?" Akira mengamati cawan yang berisi air suci di tangannya, tampak penuh keraguan untuk meminumnya.
Zaltra terkekeh pelan mendengar perkataan Akira. Dia mengangkat kedua tangannya, "Tentu saja tidak. Tuan bisa memastikannya sendiri. Mungkin Tuan hanya akan merasakan efek dari meminum air suci ini selama beberapa waktu saja, setelah itu Tuan bisa merasakan khasiatnya."
"Efek?"
"Ya. Meski terasa sangat sakit, tapi aku percaya Tuan pasti bisa menahannya."
Akira menelan ludah mendengar efek dari meminum cairan yang ada tangannya ini, semakin merasa ragu untuk meminumnya. Tapi dengan keadaannya sekarang Akira tidak memiliki banyak waktu untuk merasa ragu.
Setelah memantapkan diri, Akira mulai menggerakkan tangannya untuk meminum cairan dalam cawan tersebut.
"Argh!!"
Begitu Akira selesai meneguk habis cairan itu, dia langsung mengerang kesakitan sambil memegangi leher yang urat-uratnya terlihat mengencang.
Akira berbaring, mencoba menahan sakit dari rasa bakar yang membakar tenggorokan dan sistem pernafasannya.
Zaltra yang melihat keadaan Akira hanya bisa menahan nafas, sementara Faltra yang bersandar di tembok memandang Akira yang tengah kesakitan itu dengan senyuman tipis seakan puas merasa dendamnya terbalaskan.
Sampai lima belas menit kemudian rasa bakar yang menggerogoti sistem pernafasannya perlahan menghilang dan sejurus kemudian Akira akhirnya bisa bernafas lagi dengan nafas memburu diikuti keringat bercucuran di seluruh tubuh.
Akira mencoba menstabilkan pernafasannya lalu perlahan membangkitkan diri.
"Aku percaya Tuan pasti bisa menahannya." Zaltra bisa bernafas lega melihat Akira baik-baik saja.
Bahkan bisa dibilang Zaltra sedikit terkejut, karena berdasarkan perkiraannya, setelah Akira merasakan rasa sakit dari efek meminum cairan itu seharusnya dia langsung tidak sadarkan diri dan pingsan selama beberapa hari. Melihat Akira terlihat baik-baik saja, Zaltra hanya bisa terkesan, begitupun dengan adiknya.
"Ya...tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan…" kata Akira dengan nafas yang masih terengah-engah. Jujur, rasa sakit yang dialaminya barusan hampir sama dengan rasa sakit akan kematian.
"Apa sekarang aku sudah bisa bernafas dalam air?" tanya Akira begitu nafasnya sudah stabil.
"Tuan bisa memastikannya nanti."
"Tidak perlu nanti, sekarang saja. Suruh beberapa orang pilihanmu untuk berkumpul. Kita akan memulai ekspedisinya sekarang." Akira membangkitkan dirinya.
"Baik." Zaltra mengangguk kemudian pergi keluar ruangan bersama adiknya.
Akira mempersiapkan diri sejenak, mengganti sepatunya dengan sepatu barunya yang berguna ketika dalam air sebelum keluar ruangan menyusul mereka berdua.
*~*
"Tuan, mereka semua bersedia mengikuti ekspedisi bersama kita."
Akira mengamati mereka semua yang berkumpul. Setidaknya ada lima puluh orang lebih yang keseluruhannya laki-laki yang bersedia untuk ikut ekspedisi, tetapi Akira tidak membutuhkan banyak orang untuk ikut ekspedisinya kali ini.
__ADS_1
"Tidak perlu terlalu banyak, aku membutuhkan sepuluh orang saja."
Mendengar permintaan Akira, mereka yang berkumpul saling berpandangan, berdiskusi untuk memutuskan siapa saja yang akan ikut.
"Kalau begitu izinkan aku ikut." Salah seorang berbadan kekar mengangkat tangan lebih dulu.
"Bawa aku juga."
"Aku sudah siap mempertaruhkan nyawaku."
"Benar, aku juga ikut. Lagi pula jika aku matipun aku bisa hidup kembali."
Hampir semuanya ikut mengangkat tangan meminta untuk bergabung dalam ekspedisi kali ini. Dengan keberadaan Akira mereka merasa yakin ekspedisi kali ini akan berjalan dengan baik.
"Zaltra pilih sepuluh orang yang menurutmu bisa diandalkan." Akira tidak bisa menentukan siapa saja yang harus ikut.
"Baik."
Zaltra segera memilih sepuluh orang terbaiknya. Mereka yang tidak terpilih tidak terlalu ambil hati karena sepuluh orang yang Zaltra pilih menurut mereka memang yang terbaik.
Sepuluh orang terbaik pilihan Zaltra maju ke depan, bersiap mengikuti ekspedisi bersama Akira.
"Apa kalian sudah siap?" Akira memastikan.
"Kami sudah siap!" kata mereka serampak penuh semangat.
"Yosh, kita berangkat sekarang."
Dengan dipandu Zaltra mereka akhirnya sampai di titik keluar.
"Oh, ini titik keluarnya." Akira mengamati titik keluar yang membentuk bulatan besar dan mengarah langsung pada permukaan air.
"Keluarkan senjata kalian," titah Akira yang segera dituruti oleh mereka. Akira ikut mengeluarkan pedang kembarnya, membuat mereka yang belum melihatnya terpana untuk sesaat.
Setelah Zaltra dan Faltra keluar lebih dulu, satu persatu dari mereka ikut menyusul memasuki titik keluar yang mengarah pada permukaan air itu.
Ketika para ras duyung itu memasuki air, kaki mereka berubah menjadi ekor ikan sampai area selankangan. Akira yang melihat perubahan mereka terpana karena ini baru pertama kalinya dia melihatnya.
Akira yang terakhir sejenak masih merasa ragu untuk memasuki air tanpa alat bantu sebelum dengan helaan nafas panjang dia meyakinkan diri untuk mencobanya.
"Tuan, sekarang kau bisa memastikannya." Zaltra melihat Akira yang sudah berada di dalam air masih ragu untuk bernafas.
Akira mencoba percaya dan mengikuti perkataan Zaltra. Dalam satu tarikan nafas pertama, Akira merasakan sensasi aneh pada paru-parunya. Dia merasa tidak percaya saat menyadari kalau dirinya kini bisa bernafas dalam air.
"Bagaimana rasanya?" Zaltra bersama yang lainnya penasaran dengan pendapat Akira.
"Tidak buruk. Dengan begini aku tidak perlu khawatir lagi kehabisan nafas dan bisa melawan Binatang Jahanam itu dengan leluasa." Akira tersenyum puas. Mereka semua ikut merasa puas dan mempunyai keyakinan lebih untuk mengalahkan Binatang Jahanam bersama Akira.
"Kalau begitu kita sekarang menuju ke permukaan." Zaltra yang memimpin di depan berenang ke atas diikuti Akira dan yang lainnya dengan membawa senjatanya masing-masing.
Berbeda ketika bernafas di darat, ketika bernafas di dalam air Akira merasa setiap tarikan nafasnya memberikan sensasi yang menyejukkan pada paru-parunya.
__ADS_1
Selain bisa bernafas dalam air, Akira juga baru sadar kalau dirinya kini bisa berkomunikasi dengan jelas dengan para ras duyung walaupun dia sekarang sedang berada di dalam air.
Satu persatu akhirnya sampai keluar dari titik pelindung yang selama ini selalu melindungi mereka dari Binatang Jahanam.
Akira bisa melihat dari bawah kakinya, sebuah gelembung besar yang menjadi pelindung tempat para ras duyung ini melingkupi setiap sisi kuil bawah laut yang melayang di tengahnya dengan jangkauan yang sangat luas.
Akira mengamati gelembung itu sekali lagi sebelum lanjut mengikuti Zaltra bersama yang lainnya yang sudah lebih dulu berenang ke atas.
*~*
Semuanya serempak berhenti ketika Zaltra mengangkat satu tangannya. Semuanya mulai merasakan kehadiran Binatang Jahanam yang terasa sedang mendekat ke arah mereka.
"Dia mulai mendekat, kita harus hati-hati." saran Zaltra.
"Jangan berkumpul, cepat berpencar. " Faltra ikut memberi saran.
Semuanya mulai berpencar, termasuk Akira. Mereka mulai membentuk formasi untuk meminimalisir serangan Binatang Jahanam yang bisa muncul secara tiba-tiba.
"Itu dia. " Zaltra mulai melihat siluet Binatang Jahanam yang tampak sedang bergerak mengitari mereka semua.
Semuanya memposisikan senjatanya bersiap siaga.
Akira tidak ingin menunggu Binatang itu muncul di depannya. Dia langsung bergerak ke arah Binatang Jahanam itu dan mengikuti laju geraknya.
"Cepat sekali!"
Semuanya tercengang menyaksikan Akira bisa bergerak dengan begitu cepat bahkan bisa menandingi kecepatan Binatang Jahanam.
Semuanya mengamati dalam diam menyaksikan Akira beradu kecepatan dengan Binatang dan sesekali melihat Akira melontarkan serangan demi serangan pada tubuhnya dengan begitu cepat, meskipun serangannya sama sekali tidak ada yang berbekas.
Sementara Akira yang saat ini sedang bergerak mengimbangi kecepatan Binatang Jahanam mencoba mencari celah untuk mencari titik lemah yang dikatakan oleh Faltra tadi. Namun sebelum dia bisa menemukannya tiba-tiba saja Binatang Jahanam hilang dari hadapannya, diikuti keberadaannya tidak lagi dapat terdeteksi.
"Aku melihatnya." Akira sempat melihat bagaimana proses Binatang Jahanam menghilang dari pandangannya. Dia menemukan sesuatu yang menarik dari hal itu.
Suasana dalam air menjadi hening. Akira mulai merasakan firasat yang sama dengan yang sebelumnya, bedanya kali ini Akira berusaha meningkatkan kewaspadaaannya lebih jauh, tidak ingin kejadian seperti sebelumnya kembali terulang.
Bukan hanya Akira saja, semua orang yang sejak tadi mengamati pun ikut meningkatkan kewaspadaannya untuk menghindari serangan Binatang Jahanam yang biasa muncul secara tiba-tiba.
Selama beberapa saat hening secara misterius Binatang Jahanam muncul dari samping kiri Akira.
"Tuan, awas!"
"Ups..." Beruntung Akira kali ini bisa dengan cepat menghindari Binatang Jahanam yang sempat ingin memakannya. Binatang Jahanam yang tidak berhasil memakan Akira kembali menghilang dari pandangan mereka semua.
"Oh, ternyata begitu..." Akira sekali lagi melihat bagaimana proses Binatang Jahanam sebelum dia menghilang dari persepsinya.
"Sekarang aku mengerti..." gumam Akira sebelum menoleh ke sekawanan ras duyung yang tengah mengamatinya lalu bergerak cepat menghampiri mereka.
"Semuanya mundur! Cukup sampai disini dulu!" titah Akira yang membuat mereka semua berkerut dahi namun tidak ada yang ingin bertanya dulu. Mereka semua segera mengikuti arahan Akira untuk bergerak mundur.
Selagi bergerak mundur, Akira mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat dalam dalam kantong ajaibnya lalu menghancurkannya. Seketika asap hitam mengepul dalam air yang dia gunakan untuk menghalangi pandangan Binatang Jahanam.
__ADS_1
Mereka semua segera bergegas kembali sebelum Binatang Jahanam dapat menyusulnya.