
"Ahh...Zero-sama… sakit…" Charla mendesah kesakitan. Setengah tubuhnya yang telanjang basah dibanjiri oleh keringat.
"Tahan sedikit lagi. Sebentar lagi keluar…" Zero berusaha menyemangati Charla.
"Cepat, Zero-sama...Aku sudah tidak tahan lagi…" lirih Charla.
"Sebentar lagi, Charla. Bertahanlah…" Zero terus berusaha menyemangati Charla sembari berusaha mengeluarkan sesuatu dalam dirinya.
"Ahk…" Tubuh Charla melengking saat merasakan prosesnya telah selesai.
"Akhirnya keluar juga…" Zero bernafas lega. Dia akhirnya berhasil mengeluarkan sesuatu dalam diri Charla.
Dengan bantuan sumber daya, Zero berhasil membuat elemen baru yang akan membantu meningkatkan kekuatan Charla mulai sekarang.
"Zero-sama…" Charla yang sudah sangat lemas terhuyung tak sadarkan diri ke belakang.
Zero menangkapnya dan tersenyum melihat perjuangan Charla, "Kau berhasil menahannya, Charla," katanya sambil merapikan anak rambut yang menutupi telinga Charla.
Zero melihat gadis kelinci yang setengah tubuhnya tidak tertutupi kain itu lalu membantunya memakaikan pakaian yang tadi dilepasnya. Zero beberapa hari ini sering melihat Charla dalam kondisi telanjang dada jadi dia sudah sedikit mulai terbiasa melihatnya dalam kondisi seperti itu.
Setelah memakaikan pakaiannya kembali, Zero memposisikan Charla berbaring di atas ranjang kasurnya dengan selimut membungkus tubuhnya.
Mencium kening Charla sekali, Zero berjalan ke balkon ruangan dan melihat keadaan kota di malam hari yang selalu ramai seperti biasa.
"Ini akan menjadi malam terakhirku berada di kota ini," gumam Zero kemudian membuka inventory-nya dan mengeluarkan lembaran kertas di sana.
"Tinggal satu lagi, ya…" Zero melihat lembaran permintaan/quest yang saat itu Netero berikan padanya.
Selain melatih Charla dan lainnya, sesekali, setiap malamnya, Zero mengerjakan quest yang belum terselesaikan oleh kelompok perampok Bulan Merah dan kini diserahkan padanya. Kebetulan enam quest yang sebelumnya diselesaikan berada di kota ini dan kini hanya tinggal satu quest lagi yang tersisa.
"Aku akan menyelesaikan tugas terakhirku disini sekarang juga." Zero mengecilkan tubuhnya hingga seukuran anak yang baru remaja dan memakai topeng yang diambil dari menu inventory-nya.
Zero menghilang dari penginapan itu dan bergerak dari satu atap ke atap lainnya dengan cepat.
Gladius yang berada di lantai bawah yang melihat Zero kembali melancarkan aksinya, diam-diam membuntuti nya dari belakang. Penasaran tentunya.
Sepanjang jalan, Zero sering menemukan ksatria suci yang tampak berlalu lalang di jalan seperti sedang menjaga kota itu.
Sebenarnya beberapa minggu yang lalu mereka sudah ditarik kembali dari tempat tugasnya karena sosok bertopeng yang sempat menghebohkan orang-orang tidak lagi menunjukkan keberadaannya.
Namun aksi Zero tiga minggu belakangan ini yang telah memberantas para bangsawan dan konglomerat yang culas berhasil membuat namanya dikenal luas kembali oleh orang-orang di kota tersebut. Kerajaan sampai menyerahkan ksatria-ksatria suci terbaik dengan pangkat tinggi untuk mencari tahu dan menangkap sosok bocah tersebut.
"Kalian pikir bisa menangkapku, hah?" Zero tersenyum tipis memantau keadaan sekitar dari tempat teratas.
Zero kembali bergerak ke tempat tujuannya tanpa peduli dengan Gladius yang selalu mengikutinya dari belakang.
Setibanya di tempat tujuan, Zero menemukan rumah yang menjadi sasarannya kali ini dijaga oleh tiga ksatria suci.
__ADS_1
"Aku bisa saja membunuh mereka langsung tapi sepertinya itu hanya akan memancing ksatria suci yang lain. Aku harus membuat pengalihan untuk menghadapi mereka." Zero menyusun rencana untuk memasuki rumah sasarannya.
Zero mengeluarkan dua undead ogre dalam dirinya dan menyuruhnya untuk mengacau di salah satu tempat yang lokasinya dekat dengan ksatria suci yang menjaga rumah itu.
Segera saja kedua undead itu melaksanakan perintah tuannya. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat orang-orang yang berada di sekitar lokasi panik.
"Ahh! Monster!"
"Tolong, disini ada monster!" teriak mereka yang panik dan segera berhamburan meninggalkan lokasi.
"Apa yang terjadi?" Ketiga ksatria suci yang berjaga di dekat lokasi itu bertanya-tanya sebelum beberapa orang terlihat panik mendekatinya.
"Tolong! Disana ada monster!" kata salah satu orang yang menghampirinya.
"Monster? Bagaimana caranya monster memasuki ke kota ini?" Ketiga ksatria suci itu keheranan.
"Kami juga tidak tahu. Dia tiba-tiba muncul begitu saja." Mereka juga sama herannya.
"Ayo kita lihat kesana," ajak ksatria suci pada kedua orang rekannya.
Mereka pun bersama-sama meninggalkan tempat berjaga mereka dan menuju lokasi yang dikatakan ada monster itu.
Saat tiba di sana mereka terkejut ketika menemukan dua monster undead berukuran besar tengah berhadapan dengan belasan orang prajurit yang mengelilinginya. Dengan segera mereka ikut membantu mereka.
"Bodoh…"
Di sisi lain, Zero terkekeh pelan melihat mereka terpancing oleh umpannya. Dengan begini Zero bisa memasuki rumah yang menjadi sasarannya dengan mudah.
"Dia pasti ada di lantai teratas…" terka Zero lalu segera bergerak ke lantai atas.
Tepat di atas tangga, Zero berpapasan dengan salah satu petugas, tanpa ragu-ragu Zero bergerak cepat memelintir kepalanya hingga tewas dan kembali melanjutkan langkahnya.
Di sepanjang jalan Zero selalu bertemu dengan penghuni rumah itu. Dan di setiap pertemuannya dia tanpa ragu membunuh supaya tidak ada saksi yang mengacaukan rencananya. Hingga beberapa menit kemudian, Zero akhirnya sampai di lantai teratas dan menemukan sosok yang menjadi sasarannya.
Dor!
Zero mendobrak pintu ruang kerjanya dan seketika membuat sosok pria yang tengah bersantai dengan tiga orang wanita di dalamnya terkejut.
Tiga wanita itu sendiri sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Zero dan pandangannya masih fokus ke pria yang kini berdiri di tengahnya. Pandangannya tampak kosong seperti tidak memiliki gairah hidup selain melayani sosok pria yang telah membuatnya seperti itu.
"K-k-kau, ke-kenapa kau bisa ada disini?"Seorang pria dewasa dengan dikelilingi tiga wanita itu menjadi panik melihat seorang bocah bertopeng tiba-tiba memasuki ruangannya. Dia tentu mengenali siapa bocah bertopeng tersebut karena selama ini dia selalu waspada terhadapnya.
"Aku mendapatkan perintah dari malaikat kematian. Dia menyuruhku untuk mengantarkanmu ke tempatnya malam ini." Zero mulai berjalan mendekati pria dewasa itu. Setiap langkahnya menciptakan rasa takut dalam diri pria dewasa itu.
Pria dewasa itu melepaskan diri dari tiga wanita di sekelilingnya dan mundur menjauhi Zero. Sialnya kakinya tiba-tiba tersandung sesuatu dan berakhir membuatnya terjatuh.
"To-tolong! Siapapun tolong aku! Ksatria suci sialan! Kenapa kalian membiarkannya memasuki tempat ini! Bukannya aku sudah menyewa kalian untuk menjaga tempat ini!" teriaknya sambil merangkak mundur ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa kau malah menyalahkan orang lain, bukankah kau sendiri yang telah mengundangku untuk melakukan ini." Suara Zero terdengar mencekam. Pria dewasa itu semakin ketakutan saat mengetahui ajalnya sudah semakin dekat.
"Siapa sebenarnya dirimu. Setahuku aku tidak pernah berurusan denganmu tapi kenapa kau..."
Suara pria dewasa itu terhenti tepat setelah Zero mencekiknya dengan cepat.
"Kenapa kau melakukan ini…"
Krek!
Suara tulang yang patah terdengar saat Zero mengeraskan cengkramannya hingga membuat pria dewasa itu tewas.
"Karena aku tidak suka orang sepertimu..." Zero melepas genggamannya dan menatap pria dewasa yang terkapar di bawah kakinya dengan hina.
Berdasarkan quest yang Zero terima, pria dewasa ini telah melakukan banyak sekali kejahatan, seperti contohnya mengedarkan obat-obatan yang bisa membuat orang menjadi gila.
Zero kemudian memalingkan pandangannya ke arah tiga orang wanita yang masih berekspresi seperti biasa meski ada aksi pembunuhan di depannya.
Zero berjalan mendekati mereka dan mengamati kondisi mereka yang sungguh menyedihkan.
Zero tahu mereka bertiga telah dipaksa mengkonsumsi obat-obatan yang dia kenal seperti narkoba hingga membuatnya menjadi seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian…" kata Zero pada mereka bertiga.
Mereka bertiga hanya tersenyum melihat Zero tapi pandangannya masih kosong.
Zero mencoba menyelamatkan mereka. Dia melambaikan tangannya dan memerintah mereka untuk masuk ke dalam cincinya, tapi sayangnya tidak berhasil, karena mereka tidak menerima perintahnya.
"Sistem, apa di menu store ada obat untuk menyembuhkan mereka?" tanya Zero.
Sistem menjawab
[Di menu store tidak ada obat yang bisa mengembalikan pikiran seseorang yang sudah rusak. Tapi jika anda ingin menyembuhkan salah satu dari mereka anda bisa menggunakan daun yang waktu itu anda dapatkan]
"Jadi aku tidak bisa menyelamatkan mereka sekaligus." Zero menghela nafas. Dia tidak ingin menggunakan daun itu hanya untuk menyelamatkan salah satu dari mereka
"Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan kalian. Tapi setidaknya aku bisa menghilangkan penderitaan kalian selama ini." Zero mengeluarkan api merah kelam di tangannya lalu melemparkannya pada mereka.
Mereka bertiga masih tersenyum menatap Zero sampai api itu mengubah mereka menjadi butiran abu.
Zero kembali menghela nafas. Selain mereka bertiga, Zero tahu di tempat ini masih ada yang lain yang nasibnya sama seperti mereka.
Zero kembali mengeluarkan api merah kelam dalam jumlah yang besar dan membakar tempat itu beserta semua yang ada di dalamnya.
Saat Zero keluar, rumah itu sudah dilahap oleh api neraka miliknya. Api itu terus menjalar hingga akhirnya membesar. Semua orang ada disitu panik dan berjibaku berusaha memadamkan api itu, tapi anehnya tidak ada secuil api pun yang padam, membuat mereka keheranan.
Ketiga ksatria suci yang telah membunuh undead ciptaan Zero merasa gagal melindungi tempat yang seharusnya mereka lindungi, begitupun dengan orang-orang di dalamnya.
__ADS_1
Zero mengamati bangunan besar itu dari ketinggian, berdiri di atas satu tiang dan menghadap api merah kelam yang terus berkobaran.
"Aku harap api neraka itu bisa menghapus semua dosa dan penderitaan kalian…"