
"Siapa kau bocah? Kelihatannya kau terlihat begitu percaya diri sekali." Salah satu dari mereka membalas senyumannya dengan senyuman yang sama.
Senyuman Zero menghilang sedikit saat melihat panel quest tiba-tiba muncul di depannya.
—Quest for Hero—
Kategori: Utama
Misi: Selamatkan gadis kecil itu dan bantulah desanya.
Tingkat kesulitan: B
Reward : Golden Chest + 50000 BP
Kegagalan: -75000 BP
—————————
'Kali ini quest wajib. Aku tidak bisa menolaknya.' Zero mengamati misi dari quest dengan kategori utama yang harus dia selesaikan.
"Kakak…" Gadis kecil itu menarik baju Sherria. Dia tidak tahu kenapa Sherria malah berlindung di belakang Zero.
"Jangan takut, ada Zero-sama disini…"kata Sherria pelan mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Apa dia bisa menang melawan mereka?"
"Ya. Kau bisa melihatnya." Sherria tersenyum pada gadis kecil itu.
"Bocah, kalau kau ingin bermain dengan kami, kau bisa ikut dengan kami," ajak salah satu dari mereka.
"Tidak perlu." Zero menolak.
"Kuperingatkan pada kalian lebih baik pergi dari sini jika kalian tidak ingin menyesal." Zero tersenyum dingin memandangi mereka.
"Hahaha! Omonganmu besar juga bocah! Memangnya siapa kau! Apa yang perlu kita takuti darimu!" Mereka tertawa keras melihat kepercayaan diri bocah di depannya.
Menggeleng pelan, Zero menghela nafas bosan. Dia lalu muncul di depan salah satu orang berbadan besar dan langsung mendaratkan satu pukulan yang membuat orang itu terpukul mundur hingga menghancurkan beberapa pohon dan tidak lagi terlihat.
Mereka yang tidak mengenali Zero tercengang menyaksikan apa yang sudah bocah itu lakukan. Pada saat yang sama mereka segera mengenali siapa bocah di depannya ini karena mereka pernah bertemu dengannya satu kali.
__ADS_1
"Sudah kubilang bukan, kalian akan menyesal." Zero memandangi sinis keempat orang yang tersisa. Mereka bergetar ketakutan bahkan ada diantara mereka yang sampai kencing di celana seolah sosok di depannya jauh lebih menakutkan dari monster sekalipun.
"Kau...jangan-jangan…" Salah satu dari mereka menunjuk Zero terbata-bata tanpa bisa melanjutkan perkataannya.
"Hah~? Apa kau mengenalku?" Zero menaikkan satu alisnya.
"Jangan-jangan kau bocah yang waktu itu…" Akhirnya dia bisa melanjutkannya.
Zero mengelus dagunya,"Hmm...Biar kutebak. Karena orang seperti kalian masih hidup saat bertemu denganku pasti kalian perajurit yang berhasil melarikan diri itu, kan?" tebaknya.
"Jadi itu benar kau…" Mereka semakin ketakutan.
Zero tertawa lantang, "Hahaha! Keberuntungan kalian sepertinya akan berakhir disini…" Tawaannya berhenti diganti dengan senyuman menakutkan.
"Lari!" Tanpa menunggu Zero beraksi mereka sudah bergerak melarikan diri.
Zero menghela nafas kemudian memberi perintah pada Fluffy yang sejak tadi terlihat tidak suka memandangi mereka.
Menerima perintah Zero, Fluffy berubah menjadi sesosok naga putih. Sosoknya membuat gadis kecil yang berlindung di belakang Sherria tercengang sekaligus terkagum-kagum melihat ada naga tepat di depan matanya sekarang. Dia bergumam mungkin saat ini dia sedang bermimpi. Atau yang dia saksikan saat ini hanya ilusi.
Sherria yang berada di depannya bisa mendengar gumaman itu dan hanya bisa tersenyum melihat reaksinya.
"Naga itu, tidak salah lagi! Itu memang dia!" Mereka yang melarikan diri menjadi semakin ketakutan saat menyaksikan sekali lagi naga yang sewaktu itu sempat mengguncangkan peperangan tengah mengejarnya.
Setelah membunuh mereka, Fluffy kembali lagi pada Zero dan berubah wujud ke bentuk manusia.
"Yosh, kerja bagus." Zero mengusap-usap rambut Fluffy.
"Uppa!" Fluffy memeluk Zero sambil tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Sudah cukup." Zero melepas pelukannya.
Sherria dan gadis kecil itu menghampiri mereka berdua. Saat tahu anak laki-laki di depannya ini ternyata mempunyai kekuatan yang sangat besar, gadis kecil itu langsung bersujud di depannya memohon bantuan.
"Tuan, kumohon tolong selamatkan desa kami!" Mohonnya. Sherria yang menyaksikan itu di sampingnya terkejut.
Zero tersenyum tipis. Tanpa disuruh oleh gadis kecil itu juga dia akan melakukannya mengingat ini merupakan misi wajib yang harus dia selesaikan.
"Berdirilah. Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
Gadis kecil itu berdiri dengan dibantu Sherria sambil menyeka air mata yang barusan mengalir sedikit di matanya. Dia senang karena akhirnya bisa menemukan seseorang yang bisa dimintai tolong.
"Tapi sebelum itu perkenalkan dulu namamu..."
Gadis kecil itu mengangguk lalu memperkenalkan diri sebagai Levy.
Levy kemudian menceritakan pada Zero tentang kondisi yang dialami desa kecilnya saat ini yang pasti sedang tidak baik.
Sekelompok orang berpakaian layaknya prajurit kemarin tiba-tiba datang mengacaukan desanya. Mereka kini sedang berbuat semena-mena dengan semua orang yang masih terkurung tanpa bisa berbuat apa-apa di sana.
Diantara mereka semua hanya dirinya saja yang saat itu berhasil keluar dari desa, dan sejak tadi dia sedang mencari bantuan untuk menyelamatkan semua orang di desanya.
"Oleh karena itu kumohon bantulah kami, Tuan. Aku siap melakukan apapun yang Tuan inginkan." Levy membungkukkan tubuhnya memohon.
Zero menghela nafas lalu menjawab, "Baik, baik, aku akan membantumu. Sekarang bawa aku kesana." titahnya.
Levy merasa senang mendengar Zero mau membantunya. Sherria dan Fluffy pun ikut senang mendengarnya.
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih, Tuan. Terima kasih, Tuan." Levy membungkukkan tubuhnya tiga kali.
Levy kemudian menuntun Zero bersama yang lainnya ke tempat desanya berada.
Setelah lama berjalan, mereka memasuki hutan berkabut yang menjadi pintu masuk ke tempat desanya. Zero tidak pernah berpikir jika ternyata di dalam hutan berkabut ini akan ada sebuah desa.
Sesampainya di sana dia menemukan ternyata desa tersebut tersembunyi dari balik celah tebing. Levy lalu menuntun mereka untuk memasuki celah tebing itu menuju ke tempat desanya.
"Kita sudah sampai, Tuan. Mereka semua ada di dalam, " kata Levy memperlihatkan desanya.
Dari balik celah tebing yang menjulang tinggi itu Zero menemukan sebuah benteng terbuat dari kayu yang cukup luas. Berbeda dengan tempat sebelumnya, di desa ini tidak terdapat kabut sedikitpun membuat pepohonan kecil dan tanaman di sekitarnya terlihat jelas.
'Desa yang menarik...sepertinya tempat ini cocok...' Zero tersenyum, tertarik dengan desa tersebut.
Disana Zero bersama yang lainnya mendengar sorakan orang-orang yang tengah berpesta. Tak perlu terlalu pintar untuk menebak siapa yang tengah berpesta di sana.
"Kalian tunggu saja disini..." Zero menyuruh mereka untuk menunggu di luar dan berjalan mendekati pintu masuk desa tersebut.
DARR!
Zero kemudian mendobrak pintu masuk yang terbuat dari kayu itu dan seketika membuat mereka yang sedang berpesta di dalamnya dan penduduk desa yang sedang melayani mereka berhenti.
__ADS_1
Semuanya segera mengalihkan pandangannya ke pintu yang sudah hancur itu dan menemukan seorang anak kecil tengah berjalan masuk dengan senyuman percaya memandangi mereka semua.
"Yo, semuanya, apa aku boleh ikut berpesta juga?"