
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Pesta yang Akira tujukan untuk mendekatkan diri dengan para ras duyung berlangsung sangat meriah. Semuanya begitu bahagia bisa merasakan kembali pesta seperti ini. Apalagi bisa merasakan lagi sesuatu yang bisa disebut sebagai makanan. Lidah mereka yang selama ratusan ini mati rasa kini hidup kembali setelah menikmati hidangan-hidangan yang begitu lezat yang tak pernah merasa rasakan.
Mereka makan dengan lahapnya sampai seribu lebih makanan yang Akira sajikan pun ternyata masih belum cukup bagi mereka. Melihat hal itu Akira mengeluarkan sedikit koceknya lagi untuk membeli tambahan makanan demi memuaskan hasrat mereka.
Pesta masih terus berlanjut meski Akira sudah tidak lagi berada di tempat. Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Akira mulai menyusun berbagai hal menyangkut misinya di lantai ke empat puluh tujuh ini.
Akira memikirkan informasi yang didapat dari Zaltra dan Faltra tadi untuk mencari cara mengalahkan Binatang Jahanam. Dia juga mengevaluasi kembali pengalaman sebelumnya saat melawan Binatang Jahanam seorang diri.
"Yang menjadi masalah utamanya sekarang yaitu aku tidak bisa bertarung secara leluasa di dalam air..."
Akira mengingat jelas betapa tidak berdayanya dirinya saat melawan Binatang Jahanam pada waktu itu, contohnya seperti dia tidak bisa bergerak dengan bebas dan tidak bisa bernafas dalam jangka waktu yang lama. Kedua hal ini merupakan suatu kendala yang cukup merepotkan bagi Akira.
Akira kemudian membuka menu store-nya untuk mencari sesuatu yang bisa memecahkan masalahnya tersebut. Sayangnya disana Akira tidak berhasil menemukan sesuatu yang dia cari. Selain alat bantu bernafas dalam air yang bobotnya cukup berat, Akira tidak menemukan ada item atau sesuatu yang dapat memudahkannya bernafas dalam air tanpa harus mempengaruhi geraknya.
Akira menyerah memikirkan masalah itu. Setidaknya untuk sekarang dia cukup bersyukur karena masih ada item yang bisa digunakan untuk bernafas dalam air.
Akira lanjut beralih memikirkan soal titik lemah Binatang Jahanam yang dikatakan Faltra tadi. Dia mulai meracik strategi serta taktik-taktik untuk bisa mencapai titik lemah yang sangat sulit dicapai itu.
Selesai memikirkan hal itu, Akira teringat akan hadiah yang dia dapat di lantai sebelumnya yang belum sempat dia buka.
"Semoga saja ada sesuatu yang bagus..."
Dengan membawa harapan tersebut, Akira segera menyuruh Sistem untuk membuka hadiah misi berupa Super Magical Chest yang bisa dibilang merupakan hadiah terbesar dan terbaru yang pertama kali dia terima.
Keberuntungan yang tidak terduga terlihat ketika Akira melihat isi dari Chest tersebut.
{Super Magical Chest—Selamat Anda mendapatkan:
-250000 BP
-75 SP
-15000 EXP
-Shoes Hit the Current
-Earth-Destroying Spear
-Stealth
-Fire Resistant Clothing}
Akira sangat puas dengan hadiah-hadiah yang dia dapat dalam satu peti berukuran super itu. Pandangan Akira segera terpaku pada ketiga hadiah yang tidak pernah dia sangka. Seakan ketiga hadiah ini memang diberikan khusus pada Akira untuk menyelesaikan misinya kali ini.
"Dengan senjata, skill dan sepatu ini aku yakin bisa mengalahkannya..." Akira tersenyum kemenangan mengamati deskripsi ketiga hadiahnya itu seolah-olah dia sudah sepenuhnya yakin akan menang.
"Benar, aku harus mempelajari senjata ini terlebih dahulu." Akira memutuskan mempelajari senjata barunya ini dengan menggunakan jasa Sistem.
__ADS_1
Selesai menemukan buku teknik dari penggunaan senjata tombak, Akira lalu memposisikan duduknya bersila dengan buku di depannya kemudian bertitah pada Sistem.
"Lakukan."
[Baik]
Tidak butuh waktu lama bagi Akira menyerap semua teknik itu melalui jasa sistemnya.
Sesudah semua teknik penggunaan senjata itu diserap, Akira membangkitkan dirinya dan berjalan keluar ruangan untuk melihat situasi para ras duyung yang terdengar masih asik berpesta.
*~*
"Tuan! " Melihat Akira keluar dari kuil itu, Zaltra bersama sekawanannya yang tengah meminum arak melambaikan tangan menyuruh Akira untuk duduk bersama.
Akira mendecak-decakkan lidahnya sambil menggeleng pelan melihat para ras duyung yang masih sibuk berpesta sebelum menghampiri Zaltra bersama sekawanannya.
Sepanjang perjalanan menuju tempat Zaltra, Akira banyak menerima ucapan terima kasih serta rasa hormat dari para ras duyung. Akira hanya menanggapi ucapan mereka dengan anggukan pelan.
"Yare-yare ~ Kalian masih belum puas ternyata." Akira menaiki bangku dan duduk di samping Zaltra.
"Hahaha, mohon dimaklumi Tuan, soalnya kami semua baru pertama kali ini merasakan hidangan, apalagi hidangan selezat ini." Mereka yang satu meja dengan Akira tertawa hambar mendengar keluhannya.
"Ya, ya, lakukan sesuka kalian." Akira mengibas-ngibaskan satu tangannya dengan helaan nafas pelan, tidak masalah.
"Terima kasih, Tuan." Mereka yang berada satu meja dengan Akira mengucapkan terima kasih sebelum lanjut melanjutkan acara minum-minumnya. Wajah Zaltra bersama yang lainnya terlihat sudah memerah karena sejak tadi kecanduan meminum arak. Jujur baru pertama kali ini mereka merasakan minuman dengan rasa memabukkan seperti ini.
Akira bertopang pipi diantara sisi meja selagi mengamati betapa bahagianya para ras duyung dengan pesta yang dia sajikan. Baik laki-laki maupun perempuan, yang muda dan yang tua, semuanya menikmati pesta ini dengan caranya tersendiri sambil tertawa.
"Tuan, apa Tuan tidak meminum minuman aneh ini?" tanya Zaltra sambil memperlihatkan segelas minumannya.
"Tidak. Itu tidak cocok untuk seusiaku."
"Omong-omong mana adikmu?" tanya Akira menyadari Faltra tidak ada diantara para ras duyung yang sedang berpesta.
"Oh, dia sedang mengambil sesuatu," jawab Zaltra lalu meneguk minuman untuk kesekian kalinya.
"Apa itu?"
"Hadiah untukmu, Tuan."
"Kau sudah menentukannya ternyata."
"Hahaha, aku hanya melakukan hal yang seharusnya, Tuan."
"Baguslah."
Akira merasa penasaran dengan hadiah yang akan dia terima, tapi untuk sekarang dia tidak ingin bertanya lebih jauh dulu.
Akira menegakkan posisinya lalu berkata, "Setelah ini aku ingin mengajak beberapa dari kalian untuk melakukan ekspedisi."
Semua yang ada disitu menghentikan aktivitasnya, menatap Akira sejenak lalu mengangguk.
"Baik Tuan. Kami bersedia melakukannya." ucap mereka serempak.
"Sebelum itu aku ingin memberikan hadiah ini dulu, Tuan. " Zaltra mengingatkan.
__ADS_1
"Baiklah, kuharap hadiah yang kau berikan bisa memuaskanku."
*~*
Selesai berpesta, Zaltra mengomandoi semua orang untuk mendekat dan berjajar seperti biasa. Akira berdiri di depan mereka semua dengan didampingi Zaltra di sampingnya.
Zaltra memberitahukan ke semua orang bahwa dia sudah menentukan hadiah yang akan Akira terima. Mereka semua tidak ada yang berdiskusi karena hadiah itu sudah disepakati oleh mereka semua.
Setelah itu, Faltra maju ke depan dengan membawa sebuah kotak misterius di genggamannya dan memberikannya pada Zaltra kemudian kembali lagi ke belakang.
"Tuan, aku tidak tahu apakah hadiah ini bisa memuaskanmu atau tidak, tapi hanya ini hadiah terbaik yang kami punya…" Zaltra menyerahkan kotak coklat misterius dengan ukuran dua genggaman tangan itu pada Akira.
Akira mengambil kotak misterius itu dan lantas membukanya. Sesuatu yang berkilauan dengan bentuk bulat seukuran ibu jari terlihat ketika Akira membuka isi dari kotak misterius itu, bukan hanya satu saja, disana terdapat sepuluh butir benda yang serupa.
"Mutiara emas?" Akira merajut alisnya.
"Benar. "
"Dimana kalian mendapatkan ini?"
"Sebenarnya kami juga tidak tahu bagaimana caranya mutiara itu bisa ada disini, tapi sepertinya hadiah itu memang khusus untuk diserahkan padamu, Tuan." Zaltra menjelaskan.
Akira memahami penjelasan Zaltra namun tidak bertanya lebih jauh. Dia lebih tertarik dengan mutiara emas di tangannya yang sepertinya mempunyai daya nilai yang tinggi.
"Seberapa bagus mutiara emas ini?" Akira bertanya memastikan.
"Alasan mengapa para manusia menyerang kami pada waktu itu salah satunya karena menginginkan mutiara itu, mungkin itu sudah cukup untuk menjelaskan seberapa bernilai mutiara emas ini," jelas Zaltra yang membuat wajah para ras duyung sedikit muram karena mengingatkannya pada trauma masa lalu.
"Hm..." Akira mengamati sekali lagi kemudian menutup kotak itu, "Baiklah, kurasa ini cukup." Akira mengangguk merasa puas dan berbalik berniat meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terhenti ketika Zaltra memintannya menunggu.
"Tunggu. Ada satu hadiah lagi yang perlu kami berikan padamu, Tuan."
Akira berbalik dan menatap Zaltra dengan sedikit kerutan di dahinya. "Benarkah? Apa itu?"
"Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut sebagai hadiah atau bukan…" Zaltra membalikan tangannya dan seketika sesuatu berupa cawan muncul disana. Para ras duyung kali ini bereaksi karena tidak tahu menahu soal hadiah kedua yang Zaltra perlihatkan tetapi mereka tahu sesuatu yang ada di tangannya itu, termasuk Faltra sendiri, dia tidak tahu kalau kakaknya mempunyai air tersebut.
"Sepertinya hanya aku seorang yang diberitahukan soal ini. Maaf karena selama ini aku menyembunyikannya dari kalian. Aku akan menjelaskannya nanti."
Zaltra tidak menunggu balasan maaf mereka. Dia menyerahkan cawan yang berisi cairan berwarna merah gelap itu pada Akira.
"Apa ini..." Akira mengernyitkan wajahnya melihat isi dari cawan itu yang terlihat menjijikan.
"Ini adalah air suci ras duyung yang dibuat oleh leluhur kami. Air ini akan membuat Tuan bisa bernafas dalam air seperti kami. Bukan hanya itu, air ini juga mampu menetralkan segala jenis racun dan mampu mengobati segala jenis penyakit. Intinya ini adalah harta terbaik milik ras kami."
Akira mencoba tetap tenang meski di dalam hatinya dia sangat terkejut saat mengetahui khasiat dari air tersebut. Air ini tentu akan sangat berguna dengan kondisinya sekarang karena dengan begini dia tidak perlu khawatir lagi jika berada di dalam air.
"Apa kau yakin memberikan ini padaku?" Akira menguji.
"Tentu. Ini juga demi kebaikan kita. Tuan pasti mengerti maksudku."
"Baik, kalau begitu aku terima hadiahmu ini. Aku berjanji akan mencoba membebaskan kalian dari tempat ini."
"Mohon bantuannya," kata mereka semua serempak.
Akira memandangi mereka semua, beralih ke cawan dan kotak di tangannya sebelum berbalik kemudian melangkah tuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Zaltra, Faltra, kalian berdua ikut ke kamarku. Aku ingin membahas soal ekspedisi yang tadi," titah Akira.
"Baik." Mereka berdua mengikuti Akira dari belakang.