
Zero memeluk Viona dengan sangat erat, meluapkan semua perasaan yang tidak bisa dia ungkapan soal mengapa Viona saat itu tidak mau menceritakan tentang kehidupannya yang sungguh memprihatinkan.
"Coba jelaskan, kenapa waktu itu kau tidak mau menceritakannya padaku. Bukankah aku ini kekasihmu…" Zero tidak ingin berpura-pura lagi tidak mengenali siapa Viona sebenarnya.
Sementara Viona kini tidak tahu bagaimana menanggapi situasinya sekarang. Dia ingin menangis sekencang-kencangnya di pundak Zero, tetapi dia ragu karena itu sama saja akan menjelaskan kalau sosok yang Zero ceritakan tadi memang dirinya.
"Aku tidak mengerti maksudmu…" Meski berkata begitu, air mata mulai mengalir di pipi Viona.
Zero melepaskan pelukan Viona dan menatapnya dengan sangat dalam dan penuh rasa kasihan. "Jangan mencoba menutupinya lagi. Aku tahu ini pasti kau, Yui. Sudah hentikan sandiwara ini. Jangan berpura-pura tidak mengenaliku," kata Zero yang sudah muak dengan sikap pura-pura Viona.
Air mata Viona mulai mengalir deras membanjiri wajahnya yang menunjukkan kalau dia sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Jelaskan padaku, kenapa kau tidak menceritakan semua itu." Zero meminta penjelasan.
"Aku… aku… aku…" Viona menangis terseguk-seguk saking tidak bisa menjelaskan semua hal yang menyedihkan itu pada Zero.
Zero kembali memeluk Viona dengan erat, memahami pasti sangat berat bagi Viona untuk menjelaskan semua penderitaannya.
"Maafkan aku…" Kalimat itu keluar dari mulut Viona saat Zero memeluknya, "Maafkan aku..." Viona mengulangi kalimat itu sampai tiga kali seolah ingin memberitahukan kalau dirinya sangat bersalah pada Zero.
"Aku tidak bisa menceritakannya karena aku tidak ingin kamu semakin terbebani..." Viona akhirnya menjelaskan alasannya.
"Aku sudah menebak itu pasti alasannya. Tidak perlu minta maaf karena aku yang salah. Aku yang bodoh karena tidak menyadarinya waktu itu. Jadi seharusnya aku yang minta maaf," kata Zero mencoba memahami perasaan Viona yang tengah menangis di pundaknya.
"Tidak, itu semua salahku. Aku yang salah karena tidak memberitahukannya padamu. Gara-gara itu, kamu jadi harus menanggung beban yang sangat berat. Gara-gara itu kamu harus menjalani rasa sakit yang teramat sangat. Gara-gara itu juga kamu jadi merasa bersalah seperti ini. Selamanya aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku karena sudah membuatmu menderita." Viona meluapkan semua rasa bersalahnya pada Zero atas apa yang sudah dilakukannya.
Zero tidak menjawab, melainkan membiarkan Viona untuk menangis dan meluapkan semua yang dirasakannya saat ini di pundaknya sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut agar membuatnya tenang.
__ADS_1
"Maafkan aku, Akira… maafkan aku…"
Ketika Viona menyebut nama itu, Zero mau tidak mau harus melepaskan pelukannya karena rasa sakit yang diterima setelah nama itu terucap.
Viona menjadi panik melihat Zero tiba-tiba kesakitan. Dia malah terus mengulang menyebut nama itu karena tidak tahu jika nama itu yang telah membuatnya kesakitan.
Zero yang tidak tahan lagi segera mengambil tindakan dengan membungkam mulut Viona untuk berhenti lalu menjatuhkannya ke bawah.
Mereka kini berada dalam posisi saling bertumpukkan dengan Viona di bawah dan Zero di atasnya tengah menutupi mulutnya dengan tangan.
"Hentikan, jangan sebut nama itu lagi. Itu yang membuatku kesakitan seperti tadi." Zero melepaskan tangannya setelah memberitahukan itu kemudian membantu Viona untuk menegakkan tubuhnya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu." Viona tampak merasa sangat bersalah atas apa yang dialami Zero barusan.
"Tidak perlu minta maaf. Itu salahku karena tidak memberitahukannya padamu," kata Zero sambil mengatur pernapasanya agar kembali stabil.
"Memangnya kenapa bisa jadi seperti itu?" Viona bertanya karena tidak mengerti.
Viona mengangguk paham dan akan mengikuti saran dari Zero.
"Aku bukan Akira yang dulu lagi. Kau pun bukan Yui yang seperti dulu. Mulai sekarang kita mempunyai kehidupan baru yang jauh lebih baik, jadi lupakan nama kita yang dulu." Zero sudah tidak ingin lagi memikirian masa lalu dan berfokus pada masa sekarang untuk membuat masa depan yang lebih baik.
Viona tersenyum membalas perkataan Zero karena yang dia katakan benar sekali.
Setelah mereka saling mengungkapkan identitasnya masing-masing, mereka kembali menceritakan bagaimana kehidupannya di dunianya yang baru ini.
Jika tadi Zero yang menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi seperti sekarang, kali ini Viona menceritakan hal yang sama.
__ADS_1
Viona menceritakan kalau dirinya saat itu tewas setelah bunuh diri karena tidak tahan dengan nasibnya yang menyedihkan. Tanpa pernah dia harapkan dia tiba-tiba tersadar di dunia yang tidak dia kenal sebagai seorang putri dari bangsawan di kota itu
Viona tidak tahu bagaimana bisa hal seperti dalam dongeng ini terjadi, tetapi dia mensyukurinya karena di kehidupannya yang sekarang dia mempunyai orang tua dan sahabat yang sangat memperhatikannya. Apalagi sekarang dia bisa bertemu lagi dengan Zero.
"Aku tahu siapa yang membuatmu bisa ada di dunia ini. " Zero memandangi langit seakan sosok yang dimaksud ada di sana.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Viona sambil menengadahkan kepalanya ikut menatap langit.
"Dia menyebutnya sebagai Makhluk Agung. Sosok luar biasa yang ada di dunia ini. Juga sosok yang telah menghidupkanku dan membuatku seperti sekarang. Aku sangat berterima kasih padanya..." jelas Zero memberitahukan siapa sosok tersebut.
"Aku juga sangat berterima kasih padanya," sahut Viona.
"Kau tidak banyak berubah ya, Viona. Kau masih sama seperti dulu." Zero tersenyum menatap Viona di sampingnya.
"Kau pasti masih sering menulis cerita dan menggambar sesuatu, kan?" tebak Zero yang mengetahui hobi Viona.
"Ya. Hanya itu yang bisa aku lakukan di sini. Meski begitu, orang tuaku yang sekarang sangat mendukungku. Mereka berharap suatu saat aku bisa menjadi seniman yang terkenal di kerajaan ini." Viona tersenyum penuh harapan semoga impiannya itu terkabulkan.
"Aku percaya kau pasti bisa melakukannya. Buktinya saja kau bisa menggambar rupaku dengan sangat bagus. Semua ceritamu yang pernah kubaca juga tidak kalah bagus. Sejak dulu kau memang sangat berbakat di bidang seni." Zero memuji bakat Viona.
"Terima kasih Zero karena sudah percaya padaku." Viona membalas pujian Zero.
"Apa yang kau buat kali ini? Aku penasaran ingin melihatnya karena sudah lama aku tidak melihat karya-karyamu yang luar biasa." tanya Zero.
"Sekarang aku sedang mencari inspirasi untuk membuat cerita yang menarik dan digemari banyak orang," jawab Viona.
Zero mengelus dagunya terlihat berpikir. Lalu dia membalas. "Aku mempunyai referensi cerita yang menarik untukmu siapa tahu banyak orang yang suka dengan cerita ini." Zero terlihat yakin dengan ceritanya ini.
__ADS_1
"Cerita seperti apa?" Viona menaikan sedikit alisnya penasaran.
"Cerita seorang pahlawan yang tidak biasa."