
"Keabadian… Apa kau yakin dengan pilihan itu?" Makhluk Agung menilik keyakinan Akira.
"Ya. Aku sangat yakin." Akira sudah benar-benar mantap pada pilihannya.
"Mmm…" Makhluk Agung menyipitkan sedikit matanya menatap raut wajah Akira yang tampak serius sebelum menghela nafas, "Baiklah, aku akan mengabulkannya…."
Makhluk Agung lalu mengeluarkan cawan yang berisikan cairan di dalamnya dan menunjukkannya pada Akira.
"Ini adalah air mata keabadian. Dengan meminum air ini kau bisa mendapatkan apa yang kau mau…" Makhluk Agung mengangkat cawan itu ke atas.
Melihat cawan di tangan Makhluk Agung, Akira teringat akan air suci ras duyung yang sebelumnya dia minum, begitupun dengan efek setelah meminumnya. Dia menelan ludah, tidak yakin apakah dia akan baik-baik saja atau tidak setelah meminum cairan tersebut. Dia hanya berharap semoga rasanya tidak terlalu sakit seperti yang sebelumnya.
Makhluk Agung menurunkan cawan itu seiring berkata, "Tapi sebelum itu...kau harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga yang ada dalam dirimu terlebih dulu padaku." Tersenyum menatap Akira.
"Tunggu-tunggu, apa maksudnya ini? Kenapa harus ada persyaratan seperti itu?" Akira merajut alisnya, tidak terima dengan persyaratan yang diajukan oleh Makhluk Agung.
"Ya... Mau bagaimana lagi. Memang ini persyaratan yang harus kau terima untuk mendapatkan yang namanya keabadian." Makhluk Agung mengangkat sedikit bahunya tidak peduli dengan ekspresi Akira yang mulai tampak kusut.
'Sesuatu paling berharga yang ada dalam diriku… ini persyaratan yang sangat sulit.' Akira menggigit bibirnya mulai bimbang pada pilihannya.
"Kalau boleh tahu, seperti apa sesuatu paling berharga yang harus aku serahkan padamu itu?" Akira memutuskan bertanya.
"Tidak perlu khawatir. Itu tidak terlalu sulit. Aku hanya memintamu untuk menyerahkan namamu saja." Makhluk Agung menjawab santai sambil berjalan ke dekat lemari.
"Namaku?" Akira berkerut dahi.
"Ya. Aku menginginkan namamu. Namamu adalah sesuatu yang paling berharga. Kau harus menyerahkannya jika kau ingin mendapatkan ini." Makhluk Agung memperlihatkan cawan di tangannya kembali.
Akira tidak langsung menjawab. Dia berdecak, menggaruk kepalanya dan terdiam memikirkan maksud perkataan Makhluk Agung.
Memang benar, nama Tora yang berarti baru dan Akira yang berarti cerdas adalah sesuatu yang sangat berharga baginya, karena nama ini tidak lain merupakan doa pemberian dari kakeknya.
'Bagaimana ini… Apa aku harus menyerahkannya...
Dan apa yang akan terjadi jika aku menyerahkannya... 'Akira merasa bimbang memilih keputusan yang tepat.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. " Makhluk Agung mendengar kata hati Akira.
"Bagaimana...?" Makhluk Agung memainkan cawan di tangannya dengan wajah yang seakan memprovokasi Akira.
Akira memejamkan matanya seiring menghela nafas, 'Maaf kek. Aku tidak punya pilihan lain…'
Akira membuka matanya lalu menjawab persyaratan yang Makhluk Agung ajukan, "Baiklah kau boleh mengambilnya." Dia sudah bulat pada pilihannya.
Makhluk Agung tersenyum, "Bagus, kalau begitu…" Dia kemudian menggerakkan satu tangannya ke arah Akira dan secara tiba-tiba segumpal cahaya hijau keluar dari dalam diri Akira menghampiri Makhluk Agung.
__ADS_1
Makhluk Agung menangkap cahaya hijau itu lalu memakannya bulat-bulat. Sementara Akira yang menyaksikan hal itu dibuat heran dengan apa yang sedang Makhluk Agung lakukan, karena jika dilihat dari visinya sendiri, dia tidak melihat ada cahaya hijau yang keluar dari tubuhnya.
"Tidak buruk…" Makhluk Agung bersendawa.
"Apa yang baru saja kau lakukan?" Akira mengerutkan dahinya.
"Memakan namamu…" Makhkuk Agung tersenyum lebar.
"Hah…?" Wajah Akira sukar diartikan.
Makhluk Agung mengibaskan satu tangannya, "Sudah jangan dipikirkan. Sekarang kau buat namamu yang baru…" titahnya.
"Nama baru…" Akira bertopang dagu memikirkan nama baru yang akan menjadi tanda pengenalnya mulai sekarang
Setelah lama berpikir, Akira akhirnya menemukan nama yang cocok untuknya
"Yosh, sudah kuputuskan. Karena aku akan memulai semuanya dari awal jadi namaku sekarang adalah Zero." Akira memutuskan namanya.
"Zero, yang berarti nol….nama yang bagus." Makhluk Agung mengelus dagunya sambil tersenyum, merasa tertarik dengan nama pilihan Akira.
"Apa hanya itu saja? Tidak ingin menambahkan nama belakang atau apa?"
"Ya. Sudah itu saja."
"Baik, dengan ini namamu sekarang adalah Zero…" Makhluk Agung menjentikkan jarinya dan segumpal cahaya hijau muncul kemudian masuk ke dalam diri Akira. Hal itu menandakan mulai saat ini nama Akira akan diganti menjadi Zero.
"Sekarang kau boleh meminumnya." Makhluk Agung menyerahkan cawan itu. Zero mendekat lalu mengambilnya.
Memandangi cairan merah pekat yang ada di dalam cawan itu, Zero menelan ludah kelihatan ragu untuk meminumnya.
"Tenang saja. Cairan itu tidak akan memberikan efek apapun. Kau bisa langsung meminumnya." Makhluk Agung meninggalkan Zero mendekati rak buku.
"Kalau kau takut rasanya tidak enak kau boleh menambahkan sedikit gula atau semacamnya." Makhluk Agung terkekeh sambil merapikan buku di sana.
Zero memandangi cairan di cawan itu lamat-lamat sebelum mengikuti saran Makhluk Agung. Dia mengambil gula dan sendok lalu memasukkannya ke dalam cawan itu, menguceknya sebentar kemudian meneguknya sampai habis.
"Kau melakukannya…" Makhluk Agung menjatuhkan rahang bawahnya melihat Zero mengikuti sarannya, padahal dia hanya bercanda.
"Ah~" Zero mendesah selepas menghabiskan cairan itu sambil menyeka bibirnya yang berair.
"Kenapa? Bukannya kau barusan yang memberikan saran ini padaku?" Zero memandangi Makhluk Agung heran.
"Hahaha, tidak apa-apa…" Makhluk Agung tertawa hambar.
"Lalu, apa sekarang aku sudah mendapatkannya?" Zero memandangi tubuhnya sendiri. Dia tidak merasakan efek apapun pada tubuhnya setelah meminum cairan itu.
__ADS_1
"Kau perlu bukti?" Makhluk Agung tersenyum kemudian menghilang dari pandangan Zero dan muncul di depannya.
Sebelum Zero bisa menarik nafasnya, tiba-tiba saja nafasnya terhenti saat dadanya ditembus oleh tangan Makhluk Agung. Darah muncrat keluar dari mulutnya serta cawan yang dia pegang terlepas dari genggamannya.
"Agh…apa yang kau lakukan..." Zero menatap Makhluk Agung dengan penuh rasa terkejut.
"Aku hanya membantu membuktikannya." Makhluk Agung melepaskan tangannya, menjatuhkan Zero ke lantai.
"Uhuk- uhuk…" Zero tersedak darahnya sendiri.
Seiring detik lubang di dadanya kembali tertutup dan hal itu membuatnya terkejut meliputi rasa senang yang sulit diartikan. Meski begitu bukan berarti dia tidak merasakan yang namanya rasa sakit. Bahkan harus dia akui saat dadanya dilubangi rasa sakitnya tidak jauh berbeda dengan yang namanya kematian.
"Aku masih hidup… Lubangnya tertutup kembali …" Wajah Zero berbinar oleh ketakjuban saat memandangi lubang di dadanya.
"Kau bisa melihatnya sendiri, kan." Makhluk Agung terkekeh pelan sambil meninggalkan Zero.
Zero bangkit dari posisinya selagi masih memandangi lubang di dadanya yang tertutup kembali dengan begitu cepat sampai akhirnya pulih seperti semula.
"Ya. Terimakasih. Dengan begini aku tidak perlu takut lagi akan yang namanya kematian." Zero tersenyum arogan mengetahui dirinya kini abadi. Yang namanya kematian tidak akan pernah datang lagi menghantuinya. Bahkan jika ingin dia kini bisa mengejek malaikat pencabut nyawa yang sering mencabut nyawanya.
'Keabadian, ya… suatu saat kau akan mengerti arti sebenarnya dari keabadian itu… kuharap kau tidak menyesalinya nanti...' Makhluk Agung menghela nafas pelan.
"Apa kau ingin keluar dari tempat ini sekarang?" Makhluk Agung berbalik melihat Zero yang masih belum berhenti memandangi tubuhnya.
"Tidak. Aku ingin berkemas terlebih dahulu…" Zero melihat tubuhnya yang penuh dengan ceceran darah.
"Dan lagi…"
Kruk~ Perutnya tanpa aba mengeluarkan bunyi.
"Ah...Aku lapar sekali…" Zero tersenyum canggung mendengar perutnya terus berbunyi.
"Kalau begitu kebetulan aku juga lapar. Kau bisa makan bersamaku," ajak Makhluk Agung sambil berjalan ke luar ruangan.
"Baik!" Zero mengangguk semangat mengikuti Makhluk Agung dari belakang.
Mahluk Agung berhenti di pintu luar ruangan,
"Kau mandi dulu sana dan ganti pakaianmu. Setelah itu kau boleh makan bersamaku," titahnya.
"Baik-baik…" Zero menjawab malas.
"Omong-omong dimana ruangannya?" tanya Zero melihat ke kanan dan kiri sisi ruangan.
"Kau bisa menanyakannya pada pelayanku." Makhluk Agung menunjuk salah satu pelayannya sebelum lanjut melangkah menuju ke tempat meja makan lebih dulu.
__ADS_1
Aki— ah, maksudnya Zero mengikuti saran Makhluk Agung dan segera meminta bantuan salah satu pelayannya.