
"Zero-sama, apanya yang tepat sasaran?" Charla bersama yang lainnya mendekati Zero, penasaran dilempar kemana tombak itu sebenarnya.
"Tentu saja lemparanku barusan." Zero bersikap menyombongkan diri, "Mantap. Nice Shot..." Dia membentuk dua jarinya menjadi huruf V dan di tempelkan ke dagunya.
"Tuan memang hebat." Fluffy memuji.
"Benarkah?"
"Emm!"
Zero memegangi kepala Fluffy, "Yosh, berapa poin untuk lemparanku barusan?"
"100 poin untuk, Tuan."
"Hahaha, sempurna dong kalau begitu."
"Emm! Tuan, yang terbaik."
Charla dan Sherria hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Meski Charla dan Sherria tahu kemana tombak itu dilempar tetapi mereka tidak ingin terlalu memikirkannya lagi. Setidaknya mereka senang Zero mau menyelamatkan desa itu.
'Tidak kusangka hadiah yang aku dapatkan setelah membunuhnya cukup besar juga rupanya. Sepertinya dia bukan orang biasa.' Zero terkesan melihat hadiah Exp, BP dan Orb yang didapat dari menghabisi ksatria suci itu.
Di saat mereka bertiga sedang membicarakan aksi Zero barusan, semua penduduk desa di situ saling berpandangan membicarakan mereka sebelum mengangguk setelah memutuskan sesuatu. Mereka semua segera berkumpul membentuk barisan lalu bersujud di depan Zero.
"Tuan Pahlawan, terima kasih karena telah menyelamatkan desa kami," kata kepala desa mewakili yang lainnya. Mereka semua tidak bisa menganggap sosok seperti Zero sebagai bocah biasa setelah menyaksikan apa yang sudah terjadi barusan.
Charla dan lainnya melebarkan sedikit matanya saat melihat mereka bersujud. Zero ikut memutar visinya ke arah mereka kemudian menyunggingkan sudut bibirnya.
"Berdirilah. Aku tidak butuh terima kasih kalian. Aku butuh imbalan, cepat sini berikan." Zero memainkan satu tangannya ke depan.
Charla dan lainnya hanya bisa mengamati dalam diam, tidak ingin menyela perkataan Zero apalagi memprotesinya karena mereka sudah terbiasa dengan sifat Zero yang seperti ini. Mereka percaya, Zero tidak akan melakukan hal yang buruk pada mereka.
Kepala desa dan penduduknya berdiri lalu saling berpandangan mendiskusikan apa yang harus diberikan pada bocah di depannya.
"Apa yang Tuan Pahlawan inginkan dari kami?" tanya kepala desa.
Zero menyilangkan kedua tangan di dadanya dengan seulas senyuman angkuh, "Yang pasti harus sebanding dengan apa yang telah aku lakukan," jawabnya.
"Maaf, Tuan Pahlawan, sebenarnya kami juga sedang krisis uang dan makanan. Sumber air yang menjadi sumber paling penting bagi kami telah menghentikan sumber mata pencaharian kami sebagai petani. Kami telah menghabiskan uang kami untuk bertahan hidup sampai saat ini," jelasnya terdengar muram. Yang lain pun tampak demikian.
"Lantas, apa kalian berpikir aku akan peduli?" Zero terkekeh pelan menatap remeh mereka semua.
Semua orang di desa itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi sosok Zero yang tampaknya jauh lebih menakutkan dari ksatria suci yang sebelumnya sempat singgah di tempat ini. Hanya tiga gadis demi-human di sampingnya saja yang di mata mereka tampak seperti orang baik-baik.
"Kalau kalian tidak bisa memberikan imbalan yang setimpal untukku, bagaimana kalian semua menjadi budakku saja?"
Permintaan Zero membuat mereka semua yang mendengarnya terkejut, termasuk Charla dan Sherria. Permintaan ini jelas terlalu sulit bagi mereka.
"Hahaha, bercanda, bercanda..." Tawaan Zero sedikit melemaskan rasa terkejut mereka semua.
"Sepertinya menyuruh kalian menjadi budak terlalu berlebihan, ya. Bagaimana kalau begini saja, mulai sekarang kalian akan bekerja dan tinggal di kerajaanku?" ajak Zero.
Semua penduduk desa belum bisa mencerna apa yang Zero katakan.
"Apa Tuan Pahlawan salah satu anggota kerajaan Blue Diamond?" tanya salah satu dari mereka saat mendengar kata 'kerajaan'.
"Bukan, aku mempunyai kerajaanku sendiri dan saat ini masih dalam proses pembangunan," jelas Zero.
"Bisa tolong jelaskan lebih detail lagi, Tuan Pahlawan?" tanya kepala desa yang belum mengerti.
"Singkatnya mulai sekarang kalian harus tinggal dan bekerja di kerajaanku. Tenang saja, kalian akan mendapatkan tempat tinggal yang layak di sana dan tentunya pekerjaan kalian akan aku beri upah," jelas Zero memastikan mereka agar mau menerima tawarannya.
"Pekerjaan apa itu, Tuan Pahlawan?"
Zero bertopang dagu mengamati mereka semua, "Hm...Rata-rata dari kalian disini hidup sebagai petani bukan? " Zero memastikan.
"Benar." Semuanya membenarkan.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian bisa bekerja sesuai dengan keahlian kalian saja."
Semua penduduk desa saling mendiskusikan ajakan Zero yang membimbangkan sebelum mengambil satu keputusan bersama.
"Mohon maaf, Tuan Pahlawan. Kami bukannya ingin menolak, tetapi kami tidak bisa meninggalkan tempat kelahiran kami." Kepala desa mewakili keputusan mereka.
"Benar. Kami sudah dari lahir tinggal disini."
"Tempat ini memiliki kenangan yang sangat berharga bagi kami."
Semuanya sepakat memutuskan akan tetap tinggal di desanya.
"Ho~ Begitukah..." Ekspresi Zero berubah menjadi dingin mendengar penolakan mereka seiring dengan aura sihir keluar dari dalam dirinya menekan mereka semua hingga ke posisi berlutut.
"Kalau begitu kalian semua akan mati disini..." Zero mengangkat satu tangannya ke atas lalu mengepalnya.
DUAR!
Seketika salah satu rumah di belakang mereka meledak hingga merubahnya menjadi puing-puing bangunan.
Semuanya terkejut menyaksikan hal itu sekaligus menjadi panik pada sosok bocah di depannya yang tidak lain adalah pelaku dari hancurnya rumah itu. Terlebih lagi saat ini mereka dalam kondisi tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun.
Zero menarik aura sihirnya kembali membuat mereka bisa bernafas dengan baik. Meski begitu mereka tidak ada yang berani bernafas keras-keras saking takutnya pada bocah menakutkan yang dikawal tiga gadis polos di depannya ini.
"Lagi pula apa kalian pikir kalian bisa hidup tenang setelah aku membunuh pemilik dari tombak itu?" Zero terkekeh pelan, "Tidak, kalian selamanya tidak akan pernah bisa hidup tenang..."
Pernyataan Zero yang mengejutkan itu membuat mereka semua mempertanyakan hal yang sama, apakah ksatria suci pemilik tombak itu sungguh tewas dalam sekali lemparan tadi?
Jika benar, seberapa menakutkan sosok bocah di depannya ini sebenarnya sampai mampu menghabisi seorang ksatria suci dengan begitu mudahnya.
"Kemungkinan mereka sekarang sedang bergerak ke tempat ini untuk mencari kalian dan menghabisi kalian semua." Zero tersenyum menakut-nakuti mereka.
Jika memang benar ksatria suci itu tewas, apa yang dikatakan oleh Zero ada benarnya, mereka sama-sama memikirkan hal itu.
"Bagaimana, kalian hanya mempunyai dua pilihan sekarang. Mati di sini atau hidup di kerajaanku. Kalian hanya mempunyai waktu hitungan jam sebelum mereka semua sampai di sini..." Zero melebarkan senyumannya seolah memaksa mereka untuk menerimanya jika masih ingin hidup.
"Benar, Zero-sama bukan orang seperti itu..." Sherria tersenyum, mencoba meyakinkan mereka.
"Tuan baik sekali, lho. Kalian bisa makan enak setiap hari." Fluffy tersenyum berseri.
"Semua keluarga, teman, dan orang-orang yang kami kasihi sedang saling membantu disana. Kami yakin kalian bisa hidup bahagia bersama mereka." Charla ikut meyakinkan mereka semua.
Semuanya melihat ketiga gadis demi-human itu tidak sedang berbohong. Dan lagi semua yang dikatakan Zero tadi memang sepenuhnya benar. Jika mereka masih berada di tempat ini kemungkinan ada masalah besar yang akan terjadi menimpa mereka.
Semuanya saling berpandangan kemudian mengangguk mantap mengambil keputusan bersama.
"Baik, kami akan terima ajakan, Tuan." Semuanya sepakat menerima tawaran Zero.
"Bagusm…" Zero tersenyum puas mendengarnya. Charla dan lainnya ikut senang mendengar mereka mau menerimanya.
"Kalau boleh tahu, di mana kerajaan Tuan berada?" tanya kepala desa.
Zero membuka menu inventory-nya lalu mengambil satu gulungan peta dan melemparkannya pada mereka.
"Ambilah…"
Kepala desa menangkap peta itu kemudian membuka gulungannya.
"Kalian pergilah ke titik merah itu. Disana kalian akan bertemu dengan salah satu bawahanku, dan bilang ke mereka kalau kalian diminta untuk bergabung olehku," jelas Zero.
Mereka menemukan tempat yang Zero maksud ternyata cukup jauh dan butuh waktu setengah hari untuk sampai.
"Ah, benar, kalian pasti membutuhkan makan dan minuman untuk bekal perjalanan sampai ke sana..." Zero segera saja mengeluarkan perbekalan untuk perjalanan mereka.
Semua penduduk desa hanya bisa tercengang melihat aksi Zero yang mampu mengeluarkan sesuatu dari ruang kosong.
Terakhir Zero mengeluarkan beberapa kapsul berisi gerobak besar untuk memuat semua perbekalan itu.
__ADS_1
"Kurasa semua ini cukup bukan?" Zero menyadarkan lamunan mereka.
"Ini sudah lebih dari cukup, Tuan." Kepala desa dan lainnya serempak mengangguk.
"Baik, sekarang segera berkemas, bawa semua barang berharga kalian dan kembali berkumpul disini, "titah Zero
Semuanya bergegas berpencar ke rumahnya masing-masing dan mengemasi barang serta benda-benda berharganya kemudian kembali lagi ke tempat Zero.
Mereka segera memasukkan semua barang dan perbekalan ke dalam gerobak besar itu.
"Lebih baik kalian segera cepat-cepat menjauh dari tempat ini sebelum mereka sampai," saran Zero.
"Baik, Tuan!" seru mereka serempak.
"Kalau begitu kami pergi." Semuanya memberi hormat, berpamitan pada Zero dan pergi dari desa itu. Zero dan lainnya memandangi mereka semua hingga keluar desa.
"Baiklah, sekarang aku hanya tinggal menghancurkan desa ini…" Zero mengamati keadaan desa yang kini tampak lenggang.
"Charla, Sherria, Flo bantu aku hancurkan semua bangunan yang ada di desa ini," titah Zero
"Eh, untuk apa?" Charla dan Sherria tidak mengerti.
"Untuk menghilangkan jejak mereka dan mengelabui pasukan kerajaan yang akan mengecek tempat ini," jelas Zero.
"Oh, begitu…" Charla dan lainnya memahami maksud Zero.
"Sudah cepat lakukan. Kita tidak mempunyai banyak waktu."
"Baik!"
Zero bersama yang lainnya segera berpencar menghancurkan bangunan demi bangunan yang ada di desa itu.
Di sisi lain, para penduduk desa itu berhenti melangkah dan berbalik saat mendengar ledakan dan suara keras yang berasal dari desanya.
"Desa kita…." Semuanya bisa melihat kobaran api dan kepulan asap mulai terbentuk dari bangunan desa mereka. Desa yang dulu menjadi tempat tinggal mereka kini akan hangus menjadi puing-puing bangunan.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan lagi. Dia melakukan itu semua untuk melindungi kita. Kita harus berterima kasih pada mereka karena mereka mau memberikan kita kehidupan yang layak. Mulai sekarang kita harus melupakan desa itu dan memulai kehidupan baru," kata kepala desa memberi nasihat pada warganya.
"Apa kepala desa percaya apa yang mereka katakan itu benar?" tanya salah satu warganya.
"Entahlah. Kalau dia memang ingin melukai kita, dia akan melakukannya sejak tadi. Dan kalau dia hanya ingin memanfaatkan kita, dia tidak akan memberi kita semua perbekalan ini," jelas kepala desa.
"Benar apa kata kepala desa. Ketiga gadis yang mengawalnya juga sepertinya bukan orang jahat," timpal yang lainnya
"Untuk sekarang kita percaya saja dulu pada mereka."
Setelah itu semua orang di desa itu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat dimana kehidupan baru mereka berada.
"Yosh, semuanya sudah selesai…" Zero dan yang lainnya akhirnya selesai menghanguskan semua bangunan yang ada di desa itu.
Zero meletakkan kedua jari di sisi dahinya kemudian menggunakan skill Message-nya untuk berbicara pada regu pengintai yang bertugas menjaga pintu masuk kerajaannya.
'Apa kau mendengarku?' Zero mengecek apakah sudah terhubung atau belum.
'Ah, Tuan rupanya.' Salah satu regu pengintai terdengar terkejut saat mendengar suara Zero.
'Iya Tuan aku mendengarnya. Ada apa? Apa ada masalah?' tanya nya.
'Aku ingin memberitahukan ke kalian, nanti akan ada sekelompok orang yang menuju ke tempat itu. Kalian jemput mereka semua yang ingin ikut bergabung di perbatasan,' jelas Zero memberi perintah melalui skill Message-nya.
'Laksanakan, Tuan.'
Zero memutuskan telepatinya dan mengalihkan fokusnya kembali pada Charla dan lainnya.
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Zero melangkah duluan.
"Baik!" Ketiga gadis yang mengawalnya mengikutinya dari belakang.
__ADS_1