Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Rapat


__ADS_3

Pertempuran gelombang monster yang terjadi di setiap penjuru dunia akhirnya selesai. Para petarung mulai meninggalkan lokasi pertempuran dan pulang ke tempatnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah setelah seharian bertempur melawan monster. 


Tempat-tempat yang didatangi oleh binatang jahanam saat ini sudah aman setelah makhluk itu berhasil dikalahkan oleh tokoh-tokoh hebat yang ada di setiap tempat tersebut. 


Di antara tempat-tempat yang saat itu dikunjungi oleh binatang jahanam, kota Buldovia merupakan tempat yang terparah jika dilihat dari korban dan kerusakannya. 


Dari mulai kubangan yang besar, gunung yang hancur, dan tanah yang terbelah memperlihatkan seberapa mengerikannya pertempuran yang sebelumnya terjadi di tempat itu. Tak luput dengan korban yang berjatuhan di sana membuat peristiwa besar yang terjadi di tempat itu kini menjadi topik pembicaraan banyak orang. 


Salah satu topik pembicaraannya yaitu tentang tokoh utama di balik kemenangan yang terjadi di tempat itu. Banyak orang kini mulai mengagung-agungkan dirinya sebagai sosok yang sangat hebat mengingat aksinya yang begitu menakjubkan. 


Di saat yang sama banyak juga yang iri terhadap prestasinya tersebut, contohnya para petualang yang saat itu bertempur dengannya namun tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. 


*~*


Belasan ksatria suci dengan pangkat tertinggi saat ini tengah mengadakan rapat di dalam suatu ruangan untuk membahas banyak hal tentang gelombang monster yang telah selesai. 


Meskipun ada beberapa ksatria suci yang tidak hadir di ruangan itu, rapat masih tetap dilaksanakan. 


"Seperti yang kita ketahui, gelombang monster kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal yang terjadi di gelombang monster kali ini," kata seorang ksatria suci yang memimpin jalannya rapat. 


Para ksatria suci yang berada di situ memasang telinga, mendengarkan informasi yang ingin disampaikan. 


"Makhluk yang sudah lama tidak muncul di dunia ini sekarang muncul di beberapa tempat. Kerajaan kita merupakan tempat yang paling banyak didatangi oleh makhluk itu. Khususnya di kota Buldovia," jelas pemimpin rapat. 


Para ksatria suci yang berada di situ mulai mengeluarkan komentarnya terkait informasi yang disampaikan pemimpin rapat. 


"Kota Buldovia, ya."


"Kondisi kota itu setelah gelombang monster katanya sangat buruk."


"Bukan katanya lagi, memang itu kenyataannya."


"Sudah pasti kondisi kota itu sangat buruk secara ada tiga binatang jahanam yang muncul di sana."


"Andai saja saat itu aku ada di sana. Aku ingin  sekali bertarung melawan makhluk itu. Sialnya aku malah ditempatkan di kota yang lawannya tidak menarik sama sekali." 


Setelah beberapa ksatria suci mengeluarkan komentar dan keluh kesahnya suasana di tempat rapat hening sejenak sebelum perhatian semua ksatria suci tertuju pada sosok yang sebelumnya ditugaskan untuk menjaga kota Buldovia. 


"Kau beruntung Michael bisa ada di sana jadi bisa merasakan sensasi bertarung dengan makhluk itu. Apalagi kau mendapatkan sumber daya yang berharga setelah menghabisi makhluk itu," gerutu ksatria suci yang duduk di samping Michael terdengar iri. 


Beberapa ksatria suci lainnya juga merasa demikian. Mereka berharap bisa ada di kota itu agar bisa berhadapan dengan binatang jahanam dan mendapatkan sumber daya bernilai yang ada di dalamnya. 


"Kehadiranmu di tempat itu membuat kota itu jadi terselamatkan, Michael," kata pemimpin rapat sambil tersenyum. 


"Benar, kau pasti yang mengalahkan semua binatang jahanam itu, kan?" 


"Jika memang begitu kau pasti untung banyak di sana."


Michael yang sejak tadi diam mendengar ocehan mereka melirik mereka satu persatu dengan tatapan malas. Sebenarnya jika tidak karena terpaksa, dia tidak ingin mengikuti rapat ini, seperti beberapa ksatria suci lainnya yang saat ini tidak ada di ruangan itu. 


"Yang kalian katakan semuanya salah," jawab Michael dengan nada malas saat mendengar mereka tidak tahu kejadian sebenarnya. 


Setelah menguap sekali dia melanjutkan, "Aku sama sekali tidak memiliki peran besar di kota itu. Semua peran itu diambil oleh salah satu petualang yang ditugaskan di sana. Tanpa kehadiranku sekalipun kurasa kota itu akan aman-aman saja," jelasnya memberitahukan kebenarannya. 


"Petualang siapa yang kau maksud?" tanya ksatria suci yang belum tahu tentang petualang itu. 

__ADS_1


"Aku malas menjelaskannya. Kau cari tahu saja sendiri," jawab Michael lalu menyenderkan pipinya di tangan yang bertopang di meja. 


"Oh, petualang yang saat ini sedang dibicarakan banyak orang itu, ya," kata ksatria suci yang mengetahuinya, "Aku mendengar kalau dia mengambil hampir semua monster yang muncul di sana untuk dirinya sendiri. Apa itu benar?" tanya ksatria suci itu yang merupakan seorang perempuan. 


"Tunggu, maksudmu dia yang sudah mengalahkan hampir semua monster yang ada di sana seorang diri?" Ksatria suci yang belum tahu tentangnya bertanya balik. 


"Setidaknya itu informasi yang aku dapatkan dari orang-orang," jawabnya. 


Semua ksatria suci di ruangan itu menatap Michael seolah ingin mencari tahu kebenarannya langsung darinya. Tatapan mereka benar-benar mengganggu menurutnya. 


Michael menghela nafas sekali dan menjawab, "Ya, dia yang melakukan semua itu sendiri. Aku sangat berterima kasih padanya karena berkatnya aku jadi tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk membantu yang lain mengatasi monster-monster itu," jelas Michael dengan gaya malasnya. 


"Michael, coba jelaskan pada kita, semua informasi yang kau ketahui tentangnya. Kau pasti ketika di sana tidak hanya diam saja bukan?" Pemimpin rapat tersenyum ramah, meminta penjelasan lebih rinci pada Michael. 


"Boleh saja, tapi aku ingin sepuluh ribu koin emas per tiap informasi yang akan kuberikan tentang orang itu. Kalian tak keberatan dengan itu?" Michael memberikan syarat pada mereka. 


Para ksatria suci saling berpandangan mendengar persyaratan itu dan jelas terkejut mendengarnya. Menurut mereka, Michael bersikap tidak profesional sebagai ksatria suci dan sebagai orang yang seharusnya bertanggung jawab memberikan informasi apapun yang menyangkut tugasnya. 


"Jika kalian keberatan lebih baik cari tahu saja sendiri," jawab Michael dan kembali menguap. 


Sebelum salah satu dari mereka ingin protes dengan persyaratannya itu, pemimpin rapat segera menyergahnya. 


"Baik, biar aku yang menanggungnya. Sekarang jelaskan semua informasi yang kau ketahui tentang petualang itu." Pemimpin rapat mengambil keputusan karena tidak ingin ada keributan di antara mereka. 


Michael menunjukkan senyum tipis kemudian menjelaskan semua informasi yang dia ketahui tentang petualang yang sebelumnya bertempur di panggung yang sama dengannya. 


Ekspresi para ksatria suci yang hadir di situ beberapa kali berubah seiring Michael memberitahukan semua tentang petualang itu. 


"Jadi petualang itu jauh lebih hebat dari rumor yang beredar," kata pemimpin rapat setelah mendengar hal itu langsung dari Michael. 


Michael tidak langsung menjawab. Dia melamun beberapa detik sambil menghadap ke atas dan kembali memusatkan perhatiannya pada mereka. 


"Bagaimana jika aku mengatakan kalau di antara kalian semua yang ada di tempat ini dia sepuluh kali lebih kuat," jelas Michael berdasarkan pengamatannya. 


Pernyataan Michael seketika mengguncangkan para ksatria suci di situ yang mendengarnya. Sulit mereka menerima kenyataan kalau ternyata petualang itu jauh lebih hebat dibanding mereka


"Termasuk dirimu?"


"Ya, termasuk diriku dan semua orang yang tidak hadir di sini." Michael terlihat tidak sedang bercanda dengan mereka. Soroti matanya mengatakan kalau dirinya benar-benar serius. Hal itu membuat mereka menjadi bimbang harus mempercayainya atau tidak. 


"Orang yang mengalahkan hampir semua monster sendiri dan mengalahkan binatang jahanam hanya dalam sekali serangan jelas bukanlah orang sembarangan. Apalagi dengan harta suci yang dia miliki serta kemampuan dia yang lainnya yang belum diketahui. Kemungkinan dia jauh lebih kuat dari kita semua pasti ada," kata pemimpin rapat setelah menyimpulkan semua informasi tentang petualang itu. 


Kali ini para ksatria suci itu mencoba menerima kemungkinan tersebut. Mereka berpikir tidak ada untungnya bagi Michael berbohong pada mereka. Apalagi mereka tahu Michael bukanlah orang yang suka bercanda. 


"Meski begitu, kita seharusnya beruntung karena dia merupakan petualang di kerajaan ini. Kehadirannya di kerajaan ini pasti akan sangat membantu." Pemimpin rapat mencoba membuat yang lain untuk berpikir positif. 


"Bagaimana jika suatu saat dia malah menjadi ancaman bagi kita?" Salah satu ksatria suci perempuan (Rin) yang sejak tadi diam kali ini bertanya. 


Rin sebelumnya sudah pernah bertemu dengan petualang itu dan menurutnya dia akan menjadi bahaya yang besar jika berperan sebagai musuh. 


"Jika itu terjadi, kita semua harus siap menghadapinya," kata pemimpin rapat kali ini terdengar serius. "Tapi untuk sekarang kita tahu dia tidak sedang melakukan sesuatu yang bisa merugikan kerajaan. Kita juga tahu kalau dia yang sudah berperan besar dalam gelombang monster di kota itu. 


Kita perlu meminta kerajaan untuk memberikan apresiasi yang setimpal atas jasanya itu agar  hubungan baik terjalin dengannya." Pemimpin rapat menjelaskan dan memberikan usulan yang menurutnya perlu dilakukan. 


Semua ksatria suci yang hadir di tempat itu setuju dengan penjelasan dan usulannya itu. 

__ADS_1


"Baik, untuk pembahasan ini kurasa cukup sampai di sini dulu. Aku ingin beralih pada pembahasan yang lain." Pemimpin rapat beralih ke pembahasan yang baru. 


"Aku mendapatkan informasi yang mengejutkan dari staf kerajaan yang bertugas memantau situasi gelombang monster." 


"Informasi apa itu?" tanya ksatria suci mewakili rasa penasaran yang lainnya. 


Pemimpin rapat kemudian berdiri dan berjalan ke depan papan tulis. Dia mengeluarkan sesuatu berupa gulungan peta dan membentangkannya di sana. Semua yang ada di situ kini bisa melihat di papan tulis itu terpampang sebuah peta wilayah kerajaan mereka. 


Selanjutnya pemimpin rapat menunjuk salah satu wilayah yang ada di peta tersebut dan menjelaskan. "Saat gelombang monster terjadi, di wilayah ini terdapat titik merah berukuran besar. Sama besarnya dengan yang ada di kota-kota besar maupun di tempat-tempat kemunculan binatang jahanam," jelasnya namun para ksatria suci terlihat masih belum mengerti dengan penjelasannya itu. 


"Lelucon apa ini. Bukannya di situ hanya ada hutan belantara? Bagaimana bisa terdapat titik merah di tempat seperti itu. Apalagi ukurannya sama dengan yang ada di kota-kota besar. Itu jelas tidak mungkin," kata ksatria suci yang tidak menanggapi hal itu dengan serius. 


"Kau pikir aku mempunyai waktu untuk bercanda membahas hal ini?" Pemimpin rapat itu terlihat tidak suka. "Aku juga awalnya mengira seperti itu. Tidak mungkin ada titik merah yang muncul di tempat seperti ini. Tapi aku mendapatkan informasi ini berdasarkan bukti yang ada dan dari sumbernya langsung."


Yang dikatakan oleh pemimpin rapat itu memang terkesan meyakinkan, tetapi mereka masih belum terlalu percaya dengan pernyataannya tersebut sebelum mereka bisa melihatnya langsung. 


"Aku tidak akan memaksa kalian untuk percaya atau tidak. Tapi kita perlu membahas hal ini lebih lanjut dengan pihak kerajaan untuk mencari tahu kebenarannya." 


*~*


Satu minggu Zero habiskan untuk beristirahat di penginapan sembari menyerap inti monster yang sebelumnya dia dapatkan. 


Setelah menyaksikan aksi Michael sebelumnya, Zero jadi merasa perlu bertambah lebih kuat lagi agar kelak dia bisa mengatasi rintangan apapun yang menyulitkannya. 


Aksi Michael waktu itu berhasil menyadarkan Zero kalau di atas langit masih ada langit. Jika dia hanya puas dengan kekuatannya saat ini dia akan tertinggal oleh yang lain. Oleh karena itu dia harus terus bertambah kuat sampai bisa menjadi yang terkuat. 


Dalam satu minggu itu Zero akhirnya berhasil mencapai Magic Emperor tahap akhir, satu langkah lagi untuk mencapai The Magic of God. 


"Tuan, saya mendapatkan ini dari pihak kerajaan..." Gladius menyerahkan gulungan kertas yang masih terikat pada Zero. 


"Apa ini?" Zero mengambilnya dan langsung membukanya. 


"Itu surat undangan dari kerajaan. Tuan diminta untuk datang ke pusat kerajaan untuk mengambil hadiah dari raja sebagai apresiasi atas kontribusi yang sudah Tuan lakukan dalam menyelamatkan kota ini," jelas Gladius. 


"Hadiah, ya…" Zero tersenyum mendapatkan undangan tersebut. "Hmm...Kalau begitu ini merupakan kesempatan yang bagus untuk melakukannya..." Senyuman Zero melebar setelah dirinya terpikirkan sesuatu. 


Gladius yang melihat senyuman Zero yang seperti itu menemukan sesuatu yang menarik sebentar lagi akan terjadi. 


"Gladius, kau akan membantuku untuk mendapatkan sesuatu yang kuinginkan sekaligus sesuatu yang menjadi tujuanku," kata Zero terdengar bersemangat. 


Gladius yang tidak tahu apa yang ingin Zero lakukan untuk sekarang hanya bisa menurut. 


"Dengan senang hati, Tuan," kata Gladius sambil menunjukkan sikap hormat. 


"Tapi sebelum melakukannya, aku perlu menyiapkan sesuatu…" kata Zero memikirkan hal-hal apa saja yang perlu disiapkan. 


"Apa yang perlu dipersiapkan Tuan? Tuan bisa menyuruhku untuk mempersiapkannya. Saya akan segera melaksanakannya," kata Gladius yang antusias dengan sesuatu yang ingin Zero lakukan. 


Tanpa menunggu lagi, saat itu juga Zero segera mengajak Gladius untuk pergi ke suatu tempat. Gladius hanya menurut dan mencari tahu kemana Zero akan membawanya pergi. 


Zero bersama Gladius pergi ke suatu tempat menggunakan wyvern miliknya mengingat lokasi yang menjadi tujuannya ternyata lumayan jauh. 


Saat tiba di tempat tujuan, Gladius tersenyum melihat tempat yang menjadi tujuan Zero ternyata gunung kematian yang sebelumnya pernah mereka kunjungi.


"Tuan, untuk apa kita datang ke sini? Apa Tuan ingin mencari sesuatu yang sama seperti yang waktu itu?" Gladius yang penasaran bertanya.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya membutuhkan pasukan yang kuat sebagai persiapan nanti, dan kurasa tempat ini merupakan tempat yang cocok untuk mencarinya," kata Zero tersenyum sinis.


__ADS_2