
"Cih, kenapa harus pakai syarat segala?" Akira merajut alisnya merasa tidak suka dengan istilah syarat yang keluar dari mulut Makhluk Agung.
"Aku yang menentukannya jadi terserah diriku, "Makhluk Agung bersikap menantang menatap Akira, "Kenapa? Apa kau tidak suka? Kau sungguh ingin temanmu hidup kembali bukan? Semuanya tergantung padamu."
Akira terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia jelas ingin sekali temannya hidup namun istilah syarat itu benar-benar membuatnya ragu karena menurutnya pasti syarat yang diajukan tidaklah mudah.
"Satu hal yang harus kau ketahui. Aku bisa membaca pikiranmu..." Makhluk Agung menunjuk kepala Akira, "Sudah kau tidak perlu ragu. Lagi pula Syarat yang aku minta ini sangat sederhana. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya."
"Apa aku bisa mempercayai perkataanmu?" Akira menyipitkan matanya menatap Makhluk Agung.
"Tentu saja. Kalau aku berbohong kau boleh meminta lebih dari tiga permintaan." Makhluk Agung meyakinkan Akira. Sedangkan Akira terdiam, menimbang-nimbang lagi perkataan Makhluk Agung sebelum memutuskan.
Tidak ingin lama menunggu jawaban Akira, Makhluk Agung berbalik, melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.
"Ikuti aku." Melangkah ke salah satu lorong ruangan.
Akira menghela nafas mencoba menekan emosinya tadi. Dia memilih untuk percaya dan mulai melangkahkan kakinya berjalan mengikuti Makhluk Agung dari belakang. Kembali ke mode asalnya.
"Kau mau membawaku kemana?"
"Sudah ikuti saja..."
Makhluk Agung berjalan memasuki lorong, menuntun Akira ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, Akira menemukan banyak sekali ruangan berkelas, benda-benda mahal dan lukisan bernilai di dalam tempat tersebut.
"Apa benar semua yang ada disini bisa kau dapatkan semudah membalikkan telapak tangan seperti yang tadi kau katakan?" Akira bertanya pada Makhluk Agung. Dia jelas masih sulit mempercayai kalau makhluk di depannya ini bisa mendapatkan segala yang dia inginkan. Jika benar, bukankah makhluk ini terlalu mengerikan? Bahkan keberadaannya bisa melebihi seorang dewa.
"Ya. Semua yang ada di dalam menara Ini hanya sebagiannya saja. Masih banyak lagi yang belum kau lihat. " Makhluk Agung menyombongkan diri. Akira yang mendengarkan tidak bisa percaya begitu saja.
Sepanjang perjalan ternyata bukan hanya barang-barang mewah saja yang Akira temui, di sana juga dia menemukan banyak manusia yang menjadi pelayan dan tampak tengah berdiri rapi tanpa ekspresi di masing-masing sisi pintu ruangan. Mereka memberikan hormat saat Makhluk Agung dan Akira melewatinya.
"Apa mereka semua makhluk buatanmu juga?" Akira melirik ke salah satu pelayan, tidak yakin kalau mereka manusia.
"Begitulah," jawab Makhluk Agung santai.
Sekian lama berjalan, Makhluk Agung akhirnya berhenti melangkah tepat di ujung lorong yang mana terdapat sebuah ruangan dengan pintu besar tertutup.
Dari luar pintu ruangannya saja Akira bisa menebak kalau ruangan tersebut pasti bukan ruangan biasa. Apalagi saat melihat di kedua sisi pintu ruangan terdapat dua orang pelayan perempuan cantik menyambut kedatangan mereka.
"Untuk apa kau membawaku kesini?" Akira bertanya penasaran.
"Kau bisa mengetahuinya nanti." Makhluk Agung melangkah lebih dulu memasuki ruangan. Kedua pelayan itu segera membukakan pintu mempersilahkan Makhluk Agung masuk.
Akira menyusul dari belakang tapi langkahnya terhenti karena penasaran dengan kedua pelayan itu.
"Hm...Benarkah ini makhluk buatan…bukankah mereka mirip sekali dengan manusia..." Akira menyentuh-nyentuh pinggang salah satu pelayan yang membukakan pintu.
"Ah...tuan, tolong jangan menyentuhku seperti itu." Pelayan itu mendesah geli.
Akira seketika terperanjat melihat pelayan itu bereaksi, "Ah, maaf-maaf."
"Iya, tidak apa-apa." Pelayan itu tersenyum menampilkan ekspresinya.
'Dia bisa berekspresi seperti ini juga ternyata,' batin Akira melihat pelayan itu jauh lebih cantik saat tersenyum.
"Hei! Apa yang kau lakukan dengan pelayanku! Cepat masuk kesini!" Makhluk Agung berseru dari dalam ruangan.
Akira mengangguk singkat pada pelayan itu lalu melanjutkan langkahnya memasuki ruangan tersebut.
Saat pertama kali memasuki ruangan tersebut, Akira disapa oleh pemandangan yang tidak biasa yang membuat rahang bawahnya terjatuh dan matanya melotot tidak percaya.
"Apa-apaan ini…"
Di ruangan yang sangat terang itu, Akira mendapati berbagai poster anime, komik serta gambar-gambar seksi lainnya yang berasal dari dunianya terpampang di setiap dinding serta langit-langit ruangan.
Disana juga terdapat beberapa rak buku, meja serta lemari yang berisikan berbagai macam buku, action figure, kaset serta yang lainnya. Sedangkan di sudut ruangan terdapat sebuah layar televisi dengan ukuran yang sangat besar dan baru pertama kali ini Akira melihatnya.
Tidak salah lagi, pemilik ruangan ini pasti seorang otaku garis keras!
"Oi,oi,oi, yang benar saja. Darimana kau mendapatkan semua ini?" Akira sungguh dibuat tercengang oleh semua benda yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Sudah kubilang bukan, aku bisa mendapatkan segala hal yang aku inginkan." Makhluk Agung berjalan ke salah satu meja kemudian mengambil salah satu pedang mainan yang ada disana.
"Semua ini karena aku tertarik sama duniamu…" Dia mengamati pedang itu sejenak sebelum meletakkannya kembali dan berjalan ke dekat layar televisi yang besar.
__ADS_1
"Oh… ternyata benar semua yang ada disini berasal dari duniaku. Kupikir di dunia baruku selanjutnya tersedia barang-barang seperti ini juga..." Akira berjalan mengamati setiap sudut ruangan. Dia tidak menyangka jika sosok Makhluk Agung yang konon katanya adalah makhluk yang mempunyai derajat tertinggi diantara semua makhluk ternyata menyukai hal-hal yang seperti ini.
Konyol sekali...
Akira berhenti melangkah di salah satu lemari lalu membukanya. Dia memijat keningnya sambil menggelengkan kepala saat menemukan baju-baju cosplay dengan berbagai karakter menggantung disana.
Memang tidak salah lagi, pemilik ruangan ini pasti seorang otaku garis keras tingkat dewa!
"Bagaimana menurutmu dengan semua pakaian itu? Keren bukan? " Makhluk Agung tertawa pelan mendekati Akira.
Akira tersenyum hambar, "Ya, tidak buruk. Apa kau pernah mencoba memakainya, atau semua ini hanya sekedar koleksi?"
Makhluk Agung mengusap belakang kepalanya, berdiri di samping Akira sambil terkekeh pelan, "Ya…kadang-kadang. Aku juga sering menyuruh pelayanku untuk memakainya."
Akira menggeleng pelan untuk yang kesekian kalinya sebelum meninggalkan Makhluk Agung dan meneliti tempat yang lain.
Pandangan Akira kemudian terpaku pada sebuah lemari kecil berwarna emas. Dia membuka lemari tersebut dan melihat ternyata di dalamnya berisikan pakaian serta barang-barang mewah. Dia juga melihat sebuah laci di bawah lemari itu. Merasa penasaran dia pun membukanya.
Makhluk Agung bereaksi saat Akira hendak membuka laci itu, "Ah!! Stop! Yang itu Jangan dibuka!" Dia dengan cepat menghentikan tangan Akira.
"Ada apa memang di dalamnya?" Akira menatap Makhluk Agung penuh tanya.
"Ah itu…" Makhluk Agung melepas genggamannya kemudian menggaruk pipinya dengan pandangan ke atas.
Mengerti maksud dari sikap Makhluk Agung, Akira mendecakkan lidahnya berulang kali sambil menggeleng pelan, "Sulit dipercaya, orang sepertimu ternyata mengoleksi yang begituan juga."
"Hahaha, ya...begitulah…" Makhluk Agung tersenyum canggung sambil mengusap belakang kepalanya.
Tanpa diketahui oleh Akira sebenarnya di dalam laci itu terdapat sebuah buku usang yang tidak ingin Makhluk Agung perlihatkan padanya.
"Ah iya, aku sampai lupa. Syarat yang kau ucapkan tadi seperti apa? Dan apa maksudmu membawaku kesini?" Akira kembali pada tujuannya.
"Oh, benar. Alasan aku membawamu kesini karena ada kaitannya dengan syarat yang harus kau lakukan. " Makhluk Agung berjalan ke tempat layar televisi berada. Akira mengikutinya dari belakang.
"Seperti yang kukatakan tadi, syaratnya sangat sederhana…. " Makhluk Agung menunjukkan sebuah stik playstation pada Akira, "Syaratnya yaitu kau harus memainkan ini bersamaku." Terseyum penuh arti menatap Akira.
"Hah...? Jangan bercanda..." Akira memiringkan sedikit kepalanya ke samping dengan mulut terbuka lebar. Dia tidak menyangka syarat yang harus dia penuhi ternyata akan seperti ini.
"Aku serius. Ini tidak sulit bukan." Makhluk Agung tersenyum menantang.
"Aku bisa mendengarnya…" Makhluk Agung mengingatkan akan kemampuannya. Akira berdecak kesal menyadarinya.
"Bagaimana? Lagipula ini tidak sulit."
"Memang benar tidak sulit, tapi…" Akira menggaruk belakang kepalanya, sulit mengartikan perasaannya saat ini.
"Bukannya kau ingin aku mengabulkan tiga hadiah itu? Atau kau ingin aku menggantikan syarat yang lebih sulit lagi dari yang ini?" Makhluk Agung mengancam, berniat memprovokasi Akira.
"Ahk, baiklah-baiklah." Akira menggaruk kepalanya, menerima syarat tersebut dengan berat hati.
"Aku hanya perlu menemanimu bermain saja, kan? Tidak disuruh untuk menang mengalahkanmu?" Akira memastikan.
Makhluk Agung mengelus dagunya, "Hm...benar juga. Biar semakin menarik bagaimana kalau aku tambahkan satu syarat yang lain. Kalau kau bisa menang melawanku, aku akan memberikan satu permintaan lagi untukmu."
"Yosh, kalau begitu aku semakin semangat." Akira langsung menyambar stik yang dipegang Makhluk Agung.
"Baik, kita mulai permainannya."
Dalam sekali jentikan jari, Makhluk Agung memunculkan semua yang dibutuhkan untuk memulai permainan.
Setelah itu mereka berdua menduduki kursi yang sudah disediakan lalu mulai memainkan sebuah permainan one by one. Layar televisi menyala menampilkan masing-masing karakter mereka.
"Coba jelaskan lebih detail makhluk apa kau sebenarnya?" tanya Akira selagi memulai permainan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Makhluk Agung terdengar tidak peduli dan berfokus pada permainannya yang baru dimulai.
Akira berdecak, tidak puas dengan jawaban itu. Dia kemudian membahas hal yang lain.
"Kau bilang kau yang telah menghidupkanku, benar begitu?"
"Ya..."
"Lalu, atas dasar apa kau melakukan itu?" tanya Akira tanpa mengurangi fokusnya pada permainan di depannya.
__ADS_1
"Hm...Kebetulan saja saat itu aku sedang mengamati duniamu untuk mencari sesuatu yang menarik dan tidak sengaja aku menemukanmu... " Makhluk Agung bercerita tanpa mengurangi fokusnya juga.
"Saat itu aku sedikit tertarik pada penderitaanmu sehingga aku memutuskan untuk mengamatimu, dan ketika kau mati, aku menemukan sesuatu yang sangat menarik dan akhirnya melalui sistem aku menawarkanmu sebuah kehidupan yang baru..." jelasnya masih fokus pada permainan.
Akira mendengus geli seolah penjelasan Makhluk Agung barusan terdengar lucu baginya, "Kau menghidupkanku bukan karena merasa kasihan, melainkan tertarik untuk menjadikanku sebagai bahan permainanmu. Kau memang bedebah..."
Makhluk Agung tertawa pelan, "Hahaha, memang benar. Mungkin itu salah satunya."
Akira menghela nafas pelan. Setelah itu keduanya fokus pada permainan sebelum Akira kembali memecah keheningan.
"Sistem...dari mana kau mendapatkan ide menciptakannya?" tanya Akira.
"Oh, itu ya...Aku terinspirasi oleh berbagai game, novel dan komik yang ada di duniamu…" jelasnya.
Akira tersenyum tipis sambil menggeleng pelan menanggapi penjelasannya. Entah sudah berapa kali Akira menggelengkan kepalanya melihat sifat Makhluk Agung ini.
"Bagaimana menurutmu dengan semua fasilitas yang aku berikan?" Makhluk Agung balik bertanya.
"Lumayan... Biarpun kau hanya menganggapku sebagai permainan atau alat untuk menghiburmu, tapi harus aku akui, aku berterima kasih karena kau telah menghidupkanku dan memberikan fasilitas yang istimewa padaku. Ya...meskipun semua itu tidak percuma…" Akira mengakui dia tidak akan pernah menjadi seperti ini jika bukan karena Makhluk Agung.
"Hahaha, anggap saja itu bayaran dari semua yang telah aku berikan padamu. Ingat akan pepatah yang mengatakan kesuksesan akan tercipta dari literan keringat dan raungan kesakitan. Dan sekarang kau sudah mewujudkan kesuksesanmu," ujar Makhluk Agung.
"Ya...kau benar…" Akira setuju dengan perkataan Makhluk Agung. Dia juga sadar, tidak ada yang percuma di dunia ini, semuanya butuh usaha.
Tak lama kemudian, pertandingan pun akhirnya selesai dengan Makhluk Agung sebagai pemenangnya.
"Ahh! Aku kalah!" Akira membanting stiknya kesal karena tidak bisa mendapatkan satu permintaan tambahan yang menjadi hadiah jika dia memenangkan permainan ini.
"Hahaha! Kau lemah sekali!" Makhluk Agung tertawa puas meledek Akira.
"Itu karena kau curang!" kesal Akira.
"Curang pantatmu!" tawaan Makhluk Agung semakin lantang.
Akira bangkit dari tempatnya, "Sudah cukup main-mainnya. Aku sudah memenuhi syaratmu. Sekarang kau harus mengabulkan permintaanku tadi." Akira terlihat serius.
"Baik-baik…" Makhluk Agung menghela nafas ke samping.
Dalam sekali jentikan jari, teman Akira dihidupkan kembali oleh makhluk Agung.
"Aku sudah mengabulkan satu permintaanmu."
"Bohong. Mana buktinya?" Akira tidak melihat tanda kalau temannya sudah dihidupkan kembali.
"Buktinya ada cincin itu. Coba lihat saja kalau kau tidak percaya…" Makhluk Agung menunjuk cincin berwarna hijau milik Akira.
Segera Akira mengikuti arahan Makhluk Agung dan mulai memasukan kesadarannya ke dalam cincin yang terpasang di sela-sela jarinya itu
"Ini...ini benar sungguhan…" Akira merasa takjub, senang dan terharu saat menemukan Fluffy kini tengah terbang bebas di dalam dunia buatan cincin itu. Dia sungguh hidup kembali!
"Kau sudah membuktikannya sendiri." Makhluk Agung ikut bangkit dari tempatnya.
"Ya. Terimakasih." Mata Akira berkaca-kaca menatap Makhluk Agung. Dia mencoba menahan diri untuk tidak menangis.
"Sekarang sebutkan permintaan keduamu."
Akira terdiam tidak langsung menjawab. Dia menimbang-nimbang permintaan keduanya ini sebelum beberapa saat kemudian dia memutuskan.
"Sebelum keluar dari tempat ini, bisa kau membawaku ke dunia asalku sebentar…" Akira tersenyum dengan cara yang sulit diartikan.
"Hahaha, aku sudah menebaknya. Kau pasti akan meminta hal seperti ini." Makhluk Agung ikut tersenyum dengan cara yang sama.
"Karena kau sudah menebaknya berarti kau bisa mengabulkannya."
"Tentu saja. Kau ingin kembali ke dunia karena ada sesuatu yang ingin kau lakukan, benar begitu?" Makhluk Agung mengangkat satu alisnya.
"Ya. Aku masih mempunyai urusan yang belum aku selesaikan disana." Senyuman Akira berubah menjadi sinis.
"Baiklah, aku akan membawamu kesana."
Makhluk Agung mengabulkan permintaan Akira. Dalam sekali jentikan jari dia membawa Akira ke dunia asalnya.
——
__ADS_1
Satu episode menuju arc kedua