Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Menuju Desa Falmath


__ADS_3

Dengan membawa Zero dan Sherria di punggungya, Fluffy melesat ke ketinggian menembus cakrawala guna menghindari pandangan orang-orang di bawahnya, tidak ingin menarik perhatian mereka.


Sesuai arahan yang tuannya berikan, Fluffy bergerak menuju ke tempat dimana desa Sherria berada.


Zero kini sudah mempunyai sebagian peta dunia ini, dengan begini sekarang dia dapat mencari tahu berbagai tempat dan lokasi dengan mudah.


Berdasarkan yang Zero lihat dalam peta, benua yang menjadi tempatnya kini berpijak terbagi menjadi ke dalam tiga wilayah kekuasaan. Di bagian barat dikuasai oleh kerajaan Balviar sedangkan selatan dikuasai oleh kerajaan Blue Diamond dan terakhir utara yang merupakan kawasan dengan wilayah terbesar dikuasai oleh kerajaan Extavia.


Sementara itu desa yang akan Zero ubah menjadi kerajaan masih termasuk ke dalam wilayah kerajaan Blue Diamond, biarpun nama dan keberadaan desa tersebut sama sekali tidak terlihat dalam peta.


Zero merasa heran saat mengetahui hal itu namun di satu sisi dia menyadari satu hal yang sangat bagus.


'Memang tidak salah lagi, desa itu akan menjadi tempat yang sangat cocok untuk menjadi kerajaanku. Dengan keberadaannya yang tersembunyi untuk sekarang aku bisa membangun desa itu tanpa perlu menarik perhatian orang-orang luar,' pikir Zero sambil melihat lokasi yang menjadi tempat desa itu berada dalam peta hanya bergambarkan hutan belantara saja.


Zero kemudian beralih mengamati desa Falmath yang akan menjadi tujuannya saat ini. Dari peta itu terlihat desa tersebut terbilang sangat kecil dan wilayahnya masih berada di kawasan kerajaan Blue Diamond. Jarak antara desa itu dengan keberadaannya sekarang masih cukup jauh, kurang lebih membutuhkan beberapa jam lagi untuk sampai.


Selagi menunggu tiba di tempat tujuan, Zero mengamati toko sistemnya setelah sebelumnya dia menemukan beberapa hal yang perlu dia beli, baik untuk dirinya, kerajaannya dan juga yang lainnya.


Diantaranya seperti Pil Perombak Sihir, Skill perubah wujud, tambang emas, tambang permata serta yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan sekarang.


"Benar, aku harus membelinya, aku membutuhkan semua ini…" Zero bergumam sambil mengamati panel store-nya.


"Zero-sama, sebentar lagi kita sampai…" Sherria yang duduk di belakangnya mengamati peta yang tadi Zero berikan. Dia melihat jarak antara desanya dengan keberadaannya sekarang sudah lumayan dekat.


Zero menghentikan aktivitasnya lalu melihat ke bawah. Di sana dia menemukan banyak bangunan-bangunan pedesaan yang tampak asri. Air sungai dan ladang gandum terhampar luas di bawah hidungnya.


Zero meminta peta itu kembali lalu membandingkannya dengan keberadaannya sekarang. Melihat keberadaannya sudah semakin dekat, Zero memberi perintah pada Fluffy untuk turun.


"Flo, cari tempat yang cocok untuk mendarat, kita akan turun disini."


Menerima perintah Zero, Fluffy menukik turun ke bawah dan mencari tempat pendaratan yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.


"Flo, kau tunggu saja di dalam…" Setelah mendarat, Zero memasukkan Fluffy ke dalam cincinnya. Dia tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian akan keberadaan Fluffy.


"Mulai dari sini kita akan berjalan kaki," saran Zero pada Sherria.


"Baik, Zero-sama." Sherria mengikuti saran Zero.


Mereka berdua pun melanjutkan langkahnya menuju ke tempat desa Sherria berada.


"A-Anu~ Zero-sama," panggil Sherria.


"Apa?" Zero menanggapi.


Sherria terdiam karena sulit mengatakan kalimat selanjutnya yang ingin dia sampaikan. Sejurus kemudian dia mencoba meyakinkan dirinya dan bertanya,

__ADS_1


"B-Bagaimana kalau tubuh Nee-san tidak ada di sana? Atau sudah tidak ada…"


Pertanyaan itu seketika menghentikan langkah Zero. Sherria pun ikut berhenti. Dia takut telah salah bicara.


"Aku sudah memikirkan hal itu sebelumnya." Zero lanjut melangkah, "Tapi untuk sekarang aku ingin memastikannya terlebih dahulu. Semoga saja firasatku ini memang benar."


Sebenarnya Zero sudah tahu hal ini sedari awal, akan syarat untuk membangkitkan seseorang yang mana membutuhkan bentuk fisiknya. Andai saja jasad Charla saat itu sudah dibakar atau tidak lagi berbentuk tentu saja dia tidak akan bisa membangkitkannya.


Zero sudah memikirkan hal itu sejak pertama kali dia mendapatkan sihir terlarang ini. Meski begitu dia ingin membuktikannya terlebih dahulu karena firasatnya yang begitu kuat mengatakan kalau dirinya akan bertemu lagi dengan Charla.


Sherria kembali mengikuti Zero. Dia juga merasakan firasat yang sama dan ingin membuktikannya juga.


Selama beberapa langkah berjalan, mereka berdua menemukan dua siluet demi-human laki-laki tengah berjalan menghampirinya.


"Zero-sama lihat…" Sherria menunjuk ke kedua orang itu.


"Ya. Kita bisa menanyakan sesuatu pada mereka."


Tak lama kemudian mereka berdua pun akhirnya saling berpapasan dengan Zero dan Sherria.


Sherria yang pertama melihat mereka terkejut. Tidak bisa dipercaya, kedua orang itu ternyata adalah penduduk desa yang Sherria kenal.


Keduanya merupakan ras demi-human jenis rakun dan bisa langsung ditebak dari wajah mereka yang mirip pastinya mereka berdua adalah sepasang kakak beradik. Sementara pedang yang menempel di pinggang mereka memperlihatkan kalau mereka berdua adalah seorang petualang.


"Sherria! Kau selamat!" Dia langsung memegang bahu Sherria. Wajahnya terlihat tidak mempercayai kalau sosok di depannya adalah sosok yang dia kenal.


"Rob, ini kau kan, Rob?" Sherria juga memperlihatkan reaksi yang sama.


"Ya. Ini aku."


Di samping Sherria, Zero tidak menyangka kalau mereka ternyata akan saling mengenal. Disaat yang sama dia merasa senang karena mereka bisa diandalkan untuk mencari tahu informasi tentang desa Sherria.


Sherria menoleh ke samping Rob, melihat adiknya yang tengah tersenyum menatapnya.


"Droy, ini kau, kan?" Sherria menunjuk Droy sambil tersenyum tidak percaya.


"Lama tidak bertemu, Sherria." Droy ikut tersenyum dengan cara yang sama.


"Ehem." Zero berdehem memecah perhatian mereka yang baru sadar akan kehadirannya.


Pada saat pandangan mereka berdua bertemu dengan Zero fluktuasi sihir dalam diri mereka seketika bergejolak, menjelaskan bahwa energi sihir dalam sosok bocah tersebut tidak biasa. Akan hal itu mereka berdua tentu terkejut.


"Kau...bagaimana bisa…"


"Energi sihirnya…"

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu menunjuk bocah di depannya penuh keterkejutan membuat Sherria yang di sampingnya mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"S-Siapa bocah manusia ini, Sherria?" tanya Rob.


"Oh, dia, Zero-sama. Dia yang selama ini sudah menyelamatkanku." Sherria memperkenalkan bocah di sampingnya


"Salam kenal…" Zero tersenyum tipis ke kedua orang itu.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Droy tanpa menutupi keterkejutannya. Dia tidak mempercayai ada bocah yang mempunyai energi sihir sebesar ini dan setahunya baru pertama kali ini dia melihatnya.


"Hah~? Bukankah barusan kalian sudah mendengarnya? Apa kalian tuli?" Zero menaikkan satu alisnya.


"Bukan namamu."


"Lantas?"


Mereka berdua terdiam, kesulitan menjawab pertanyaan Zero dan juga pertanyaan yang ada dalam benaknya saat ini hanya dalam kalimat saja.


Mereka saling berpandangan tidak tahu harus bagaimana menyikapi bocah tersebut. Namun satu hal yang pasti mereka mengetahui bocah tidak biasa tersebut bukanlah sebuah ancaman.


"Sudah hentikan, Zero-sama bukanlah orang jahat. Dia..." Sherria mulai menceritakan tentang Zero yang sudah menyelamatkan nyawanya dari kejaran bawahan majikannya.


"Oh, begitu…" Mereka kembali saling berpandangan memberi kode untuk jangan memikirkannya dulu.


"Maaf kami sudah berpikiran macam-macam. Kami hanya terkejut saja melihat energi sihir dalam dirimu." Rob bersikap ramah sambil mengusap belakang kepalanya.


"Ya. Dengan energi sihir sebesar itu kau pasti bukan penyihir lagi..." Droy menimpali dengan senyuman hambar.


"Sudah lupakan dulu tentang siapa diriku. Kita bahas itu nanti. Sekarang aku ingin bertanya pada kalian. " Zero menatap mereka serius lalu melanjutkan, "Apakah kalian tahu dimana mayat rekan kalian yang sudah mati dikuburkan? Dan yang paling penting apakah mayatnya masih ada?" Zero bertanya dengan intonasi serius.


Pertanyaan itu membuat mereka berdua saling berpandangan lagi, tidak mengerti apa yang ingin bocah itu lakukan, tapi mereka tahu informasi itu pasti didapatkan dari Sherria.


"Ya. Kami tahu. Kalau memang iya masih ada, apa yang ingin kau lakukan pada mereka?" tanya Rob terdengar tidak suka.


Zero merasa senang mendengar jawaban Rob, begitupun dengan Sherria. Akhirnya harapan untuk bisa bertemu kembali dengan Charla bisa terkabulkan.


Zero tersenyum menatap mereka berdua lalu menjawab santai, "Tentu saja menghidupkannya kembali."


Jawaban Zero membuat Rob dan Droy segera mengangkat pedangnya dan menghunuskannya tepat di leher Zero.


"Menghidupkannya kembali? Jangan bercanda dengan orang yang sudah mati, manusia." Sorot mata dan suara Rob terdengar dingin di telinga Zero.


Zero menggerakkan kedua tangannya, mencengkram kedua pedang yang terhunus di lehernya itu hingga hancur berkeping-keping. Dia lalu menatap tajam mereka berdua dan berkata


"Tidak perlu sampai seperti ini pada anak kecil…"

__ADS_1


__ADS_2