Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Heroes From Hell


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Zero dibawa ke ruang makan oleh salah satu pelayan. Setibanya di sana dia terkesan menyaksikan tempat meja makan itu begitu mewah dan istimewa. Semua makanan berkelas sudah tertata rapi disediakan secara gratis di sana.


Zero duduk di salah satu kursi dekat Makhluk Agung yang sudah duduk di tengah-tengahnya. Setelah itu mereka pun berdua mulai mengisi perut dan makan dengan lahap.


"Apa kau selama ini selalu berada di tempat ini?"


"Begitulah. Aku tidak terlalu tertarik dengan dunia luar. Lagipula aku bisa mendapatkan semua yang aku mau disini. Aku lebih senang bermain dengan barang-barang yang ada di duniamu..."


Selagi makan Zero berbincang-bincang membahas banyak hal dan mencari tahu tentang dunia luar yang akan dia pijaki dari Makhluk Agung, tapi sayang di bagian itu Makhluk Agung selalu tutup mulut dan menyuruhnya untuk mencarinya sendiri.


Usai mengisi perut, Zero berkemas menyiapkan beberapa hal sebelum setelah ini dia akan keluar menapaki dunia luar.


Zero berdiri di depan kaca melihat pantulan dirinya di sana sambil merapikan diri.


"Sudah lama aku tidak melihat kondisi tubuhku, tidak kusangka akan seperti ini." Zero tersenyum melihat kondisi fisiknya yang kecil begitu tampak berisi.


Ukuran tubuhnya kini naik beberapa senti selama beberapa hari ini serta otot-otot lainnya ikut tumbuh dan berkembang memperlihat kondisi fisiknya yang bugar.


Jika dihitung berdasarkan waktu yang berputar di dalam Menara Agung serta efek potion peningkat tubuhnya, umur Zero selama dua bulan dua puluh tiga hari di dalam Menara Agung ini berkisar antara enam tahun lebih. Meski begitu, kondisi fisiknya saat ini memperlihatkan dirinya sudah seperti remaja berusia sepuluh tahunan.


Zero melihat mata kirinya yang tadi tergores saat bertarung melawan Demios, "Apakah ini bisa disembuhkan…" Dia melihat mata kirinya lebih jelas.


"Hm...kurasa tidak perlu. Kelihatannya begini aku jadi terlihat lebih keren." Zero berpose dengan senyuman angkuh.


"Yosh, semuanya sudah siap!" Zero keluar dari posisinya dan berjalan mendekati Makhluk Agung yang tengah sibuk membaca komik di sofa.


"Kau sudah siap keluar dari tempat ini?" tanya Makhluk Agung sambil berdiri.


"Ya. Kuucapkan terimakasih atas segala hal yang kau berikan." Zero menunjukkan sikap terima kasih.


"Ya. Sama-sama. Terimakasih juga karena kau telah memberikan hiburan yang menarik untukku. Kuharap di dunia sana kau masih bisa memberikan hiburan yang menarik lagi. Aku akan selalu memantaumu disini." Makhluk Agung menggaruk belakang kepalanya yang gatal.


"Kalau begitu segera bawa aku keluar dari tempat ini."


"Baik-baik…"Makhluk Agung menghela nafas pelan kemudian dalam satu jentikan jari, Zero akhirnya dibawa keluar dari dalam Menara Agung.


Setelah Zero tidak ada lagi di hadapannya, Makhluk Agung berjalan ke dekat lemari berwarna emas. Dia membuka bagian lacinya lalu mengambil buku usang yang saat itu hampir dilihat oleh Zero.


"Selamat datang di dunia barumu pahlawan…" Makhluk Agung tersenyum melihat sampul buku yang sudah usang itu hanya bertuliskan satu kata 'Hero' yang berarti pahlawan. Sebagian katanya lagi telah memudar dan tidak terlihat.


"Baiklah, sekarang tunjukkanlah padaku apa yang akan kau lakukan…"


*~*


Di suatu tempat di siang hari yang begitu cerah, di taman yang dipenuhi oleh berbagai bunga, seorang paruh baya tengah menceritakan satu kisah pada seorang anak laki-laki yang tampak begitu antusias mendengarnya. Mereka berdua duduk bangku taman yang sama.

__ADS_1


"Sampai akhirnya dia pun dikenal oleh khalayak orang sebagai sosok pahlawan yang tidak biasa. Pahlawan yang membawa berkah sekaligus bencana di setiap aksinya...


Dibenci atau dihormati. Dicaci atau dipuji. Ditakuti atau dikasihi. Semua orang menilai sosok pahlawan tersebut dengan caranya sendiri.


Namun, semua orang lebih mengenal sosok pahlawan tersebut dengan julukannya sebagai pahlawan yang terlahir dari neraka..."


Seorang paruh baya menutup bagian akhir bukunya mengakhiri cerita.


"Kakek, apa pahlawan itu orang baik?" Anak laki-laki itu bertanya dengan wajah polosnya.


"Entahlah. Bagaimana menurutmu?" Kakek itu tersenyum sambil mengusap rambut anak laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Mmm...aku juga tidak tahu…" Anak laki-laki itu memanyunkan bibirnya terlihat kebingungan.


"Tapi aku tidak mau menjadi pahlawan seperti itu." Anak laki-laki itu turun dari bangku taman lalu menengadahkan kepalanya menghadap langit.


"Suatu saat aku akan menjadi pahlawan yang akan membawa kebahagiaan bagi semua orang dan membawa kedamaian bagi dunia." Anak laki-laki itu berkata dengan satu tangan terkepal ke atas.


Sang kakek tersenyum melihatnya. Dia ikut berdiri dan membawa anak laki-laki itu ke gendongannya.


"Ya. Kakek akan melihatnya nanti disana."


"Disana? Dimana?" Anak laki-laki itu tidak memahami perkataan kakeknya.


"Di suatu tempat yang paling indah…" Kakek itu tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan buku yang tadi dibaca di bangku taman dan kini tergeletak sendirian.


Di bagian sampulnya tertera judul buku tersebut, bertuliskan tiga kata "Heroes From Hell"


*~*


Di sebuah tempat yang kelam, di dalam suatu ruangan yang sedikit gelap terdapat salah seorang iblis tengah duduk di sebuah kursi singgasana sendirian, bertopang pipi diantara sisi singgasana sambil memejamkan mata. Iblis itu membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki seseorang tengah berjalan mendekat.


Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok iblis lain yang tampak berjalan menghampirinya. Ketika jaraknya cukup dekat, iblis yang duduk di kursi singgasana bereaksi. Dia langsung menegakkan tubuhnya dan melihat iblis di depannya dengan jelas.


"Ho~ Ada urusan apa iblis dunia bawah kemari?"


Iblis yang datang menghampirinya itu bertekuk lutut memberikan hormatnya.


"Yang Mulia Lucifer. Hamba Thamuz, mulai saat ini hamba akan tinggal di dunia ini, " kata iblis yang tidak lain adalah Thamuz, seorang iblis yang meninggalkan tugasnya di dunia bawah dan akhirnya telah selesai menerima hukuman seratus ribu cambukan untuk sampai ke dunia atas.


"Mohon kerjasamanya…"


"Mohon kerjasamanya juga…"


*~*

__ADS_1


[Selamat datang di dunia baru Player]


Suara Sistem menyadarkan Zero. Dia langsung membuka matanya dan menemukan dirinya kini sudah berada di luar Menara Agung.


"Ah… akhirnya…" Zero akhirnya bisa menghirup udara luar yang sesungguhnya.


"Sistem Call: Aku sungguh sudah berada di dunia luar, kan?" Zero memastikan.


[Benar]


"Ada dimana aku sekarang…" Melihat keadaan sekelilingnya, Zero mendapati dirinya kini tengah berada di dalam hutan yang rimbun dan dipenuhi pepohonan.


{Message} Sejurus kemudian sebuah panel pesan melayang di depan Zero. Merasa penasaran dia pun langsung membukanya.


{Reward misi:


-Legendary Chest


- 3 Jt BP


-50000 EXP


-125 SP


-Sword of Rupture (Weapon)


-System access


-Message (Skill)


-Heroes From Hell (Title)}


"Ah, ternyata ini hadiah sebelumnya yang belum aku terima…" Zero melihat-lihat hadiah misi terakhir yang dia dapatkan.


"Sungguh luar biasa…" Zero terkesan melihat satu persatu hadiah yang dia dapatkan begitu menakjubkan.


"Banyak yang ingin aku tanyakan, tapi untuk sekarang aku ingin melihat keadaan sekitar dulu…" Zero menutup semua panel di depannya. Menggunakan skill-nya dia pun terbang ke ketinggian untuk mencari tahu keberadaannya sekarang dengan jelas.


Zero melihat dirinya kini tengah berada di tengah hutan yang rimbun. Tidak ada satupun bangunan yang dia temui selain hamparan pepohonan hijau yang bertebaran.


Zero pun memutuskan bergerak untuk mencari tahu keberadaannya lebih jauh. Lamanya dia bergerak melayang di ketinggian tiba-tiba dia mendengar sebuah dentingan pedang yang beradu dan terus terdengar tanpa henti. Merasa penasaran dia pun menuju ke sumber suara.


Setibanya disana Zero tersenyum sambil menggeleng pelan saat menemukan ternyata asal suara dentingan pedang itu berasal dari sekelompok manusia-manusia bodoh yang sedang berperang.


"Baik di dunia asalku maupun di dunia ini ternyata tidak jauh berbeda. Masih saja ada orang-orang bodoh yang melakukan hal seperti ini…"

__ADS_1


Merasa tertarik Zero pun menuju ke tempat tersebut.


__ADS_2