Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Dunia Yang Menarik


__ADS_3

Suasana perang yang semula memanas kini menjadi senyap, tidak ada lagi suara dentingan pedang maupun teriakan seseorang seperti tadi dan hanya terdengar semilir angin memilukan serta bau amis menyengat yang berasal dari mayat-mayat yang bertebaran di segala tempat.


Cukup dengan dua kata untuk menggambarkan situasi saat ini, sangat menyedihkan. Mereka yang awalnya datang ke tempat perang dengan membawa harapan untuk menang atau mati terhormat sebagai pejuang kini malah berakhir mengenaskan.


Sementara itu kini dihadapan Zero, dua orang berbeda kelamin yang masih hidup itu tengah terkurung tanpa bisa berbuat apa. Jantung mereka berpacu kencang, keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Terlihat jelas mereka berdua sedang ketakutan, terlebih saat ditekan oleh energi sihir yang terpancar dalam diri Zero yang membuat fluktuasi sihir dari dalam diri mereka berguncang.


"Jadi pertanyaan mana dulu yang harus aku jawab?" Zero bertanya dengan intonasi baik-baik seolah ingin memperlihatkan kalau dirinya adalah anak kecil yang baik.


"Si-siapa kau sebenarnya…" Wanita yang masih terkurung di sana memberanikan diri mengulangi pertanyaannya tadi.


"Siapa aku?" Zero terkekeh mendengar pertanyaan itu, "Sudah berapa kali aku mendengar pertanyaan seperti ini…" Dia mendenguskan nafasnya sedikit.


"Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah janji untuk menjawabnya…" Zero menegakkan tubuhnya kemudian menjawab, "Aku manusia. Sama seperti kalian." Bersikap ramah di depan mereka.


"Bo-bohong, aku tidak percaya. Tidak ada manusia seperti dirimu..." Wanita itu menolak percaya akan kenyataan tersebut. Pria di sampingnya pun setuju.


"Lantas, menurut kalian siapa aku?" Zero balik bertanya. Intonasinya berubah menjadi sedikit dingin.


"Mo-monster…. Ya, kau pasti monster berbentuk manusia, kan." Wanita itu tersenyum getir menunjuk Zero dengan tubuh sedikit bergetar.


"Begitukah? Apa kau pernah melihat monster sepertiku?"


"Tidak pernah. Tapi aku yakin kau pasti bukan manusia…"


Zero terdiam tidak menjawab selama beberapa saat membuat kedua orang itu menelan ludah secara bersamaan merasa takut jika kata-kata barusan menyinggung perasaannya. Tapi sesaat berikutnya Zero tertawa lantang merubah wajah mereka menjadi tampak keheranan.


"Hahaha! Benar, seperti yang kau katakan, aku bukan manusia." Zero tersenyum lebar dari balik topengnya.


"Lalu, jika memang aku bukan manusia sekarang kalian mau apa?" tanya nya. Dia kemudian menjentikan jarinya dan seketika semua proyeksi yang mengurung mereka hilang, "Coba tunjukkan padaku… " Mencoba menguji mereka.


Mereka berdua terdiam, saling berpandangan tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada yang berani meninggalkan tempat itu meski kini mereka mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Insting mereka mengatakan lebih baik diam saja jika masih sayang dengan nyawa.


"Kalau boleh tahu, apa tujuanmu melakukan semua ini?" Kali ini pria itu yang memutuskan bertanya. Suaranya terdengar tidak suka.


"Mm… apa, ya... cuma sekedar main-main mungkin…" Zero memegang dagunya memperlihatkan sikap yang menyebalkan.


"Ma-Main-main katamu..." Pria itu mengepal pedangnya erat terlihat muak dengan gelagat bocah di depannya sejak tadi.


"Hahaha, benar. Kebetulan saja tadi aku sedang bosan…" Zero tertawa riang memancing emosi mereka.


"Kau membantai mereka semua hanya untuk menghilangkan kebosananmu?" Pria itu tiba-tiba emosi setelah mendengar alasan bocah tengik itu.


"Ya… begitulah…" Zero mengangkat kedua tangan dengan bahu sedikit ke atas.


"Kau...Apa kau sebelumnya pernah berpikir jika orang yang kau bunuh itu masih mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup. Anaknya, istrinya dan semua keluarganya yang ada di sana pasti saat ini sedang menunggu kepulangannya. Dan sekarang kau merenggut kehidupan mereka begitu saja dengan alasan yang tidak pasti seperti ini." Pria itu tampak semakin emosi.

__ADS_1


Wanita di sampingnya pun sama namun dia masih berpikir untuk menahannya, tidak ingin bertindak bodoh seperti yang akan dilakukan pria itu sekarang.


"Tidak tahu. Lagi pula aku tidak kenal mereka, jadi untuk apa aku peduli?" Zero terus memancing emosi pria itu.


"Kau... kau memang iblis!" Terpancing emosi akhirnya pria itu bergerak menyerang Zero.


Zero segera bangkit dari duduknya saat melihat pedang terayun ke arahnya. Pedang yang terayun itu tidak berhasil mengenainya melainkan berakhir menghancurkan singgasana sana yang tadi dia duduki.


"Kenapa bisa ada iblis sepertimu di dunia ini!" Pria yang terbawa emosi itu terus menyerang Zero tanpa peduli biarpun seranganya tidak ada satupun yang berhasil.


Sedangkan wanita di belakangnya membuka sedikit mulutnya tidak percaya melihat pria itu ternyata akan berani bertindak nekat. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Meski dia melihat ada celah untuk melarikan diri tapi entah kenapa kakinya susah sekali untuk digerakkan, membantu pria itu pun menurutnya bukan pilihan yang bagus.


Zero sendiri terus memancing emosi pria itu selagi menghindari setiap serangannya.


"Sekarang giliranku yang bertanya. Apa kau pernah berpikir seperti itu?" Zero balik bertanya.


"Ya. Aku pernah memikirkannya."


"Lalu, tadi kau tetap membunuhnya bukan?" Zero terkekeh pelan.


"Memang benar aku membunuhnya, tapi aku melakukan semua itu dengan alasan demi kemenangan di pihakku. Aku sebisa mungkin berusaha agar orang di pihakku tidak banyak yang mengalami nasib yang seperti aku ucapkan tadi." Pria itu berkata dengan jiwa seorang pemimpin.


"Omong kosong." Dalam sekali gerakan yang tidak bisa diikuti mata, Zero memukul perut pria itu hingga membuat tubuhnya melengkung ke atas dan seketika membuatnya terjatuh. Pria bertekuk lutut di bawah sambil terbatuk-batuk serta darah keluar dari mulutnya.


"Demi kemenangan di pihakmu katamu?" Zero terkekeh menanggapi perkataan pria itu tadi, "Bukankah itu sama saja. Hal itu tidak menghilangkan fakta kalau kau merenggut kehidupannya juga." lanjutnya.


Pria itu kesulitan menjawab dan hanya bisa mengumpat kesal. Sementara wanita yang berada tak jauh di belakangnya menelan ludah tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Yang menjadi pertanyaannya sekarang yaitu, untuk apa kalian melakukan hal konyol seperti ini?" Zero melepaskan kakinya, menatap rendah pria yang ada di bawah kakinya itu.


"Kami...melakukan semua ini...demi kebaikan bersama…" lirih pria yang masih dalam posisi telungkup di bawah itu.


"Kebaikan bersama, ya…" Zero memandangi pria itu sesaat dengan dingin sebelum menghentakkan kakinya tepat di kepala pria itu hingga hancur, membuat wanita yang ada di belakangnya menelan ludahnya kembali, kakinya pun tiba-tiba menjadi lemas.


"Konyol sekali…" Zero mendengus pelan sambil tersenyum tipis memandangi mayat pria itu, "Tidak ada yang namanya kebaikan bersama jika beberapa rekanmu yang telah gugur tidak bisa merasakannya…" Dia berkata seolah pria itu masih bisa mendengarnya.


"Sekarang temuilah rekanmu dan raih kebaikan bersama yang kau sebutkan tadi bersama mereka di neraka sana…" Zero tertawa sinis di ujung kalimatnya. Pandangannya lalu berputar ke arah wanita itu yang tampak semakin ketakutan. Berjalan dia ke arahnya.


"A-a-apa yang ingin kau lakukan padaku…kumohon jangan bunuh aku..." Wanita itu memegang kedua pedangnya dengan tubuh bergetar hebat karena ketakutan menyaksikan malaikat kematian sedang mendekat.


"Tidak ada. Selama kau bisa bersikap baik di hadapanku, aku juga akan melakukan hal yang sama…" Zero hanya menyisakan beberapa jarak, berdiri di depan wanita itu. Dia mengambil kapsul seperti tadi dalam kantong ajaibnya.


"Ah, tinggal tersisa satu lagi rupanya." Melihat kapsul di tangannya, Zero melemparnya ke tanah dan seketika sebuah kursi singgasana seperti tadi muncul di sana. Dia pun duduk di atasnya.


Wanita itu sesaat terpana melihat Zero mempunyai dua kapsul yang menurutnya cukup langka didapatkan itu namun dia tidak berani bertanya darimana Zero mendapatkannya, dan lagi dia sekarang sedang ketakutan.

__ADS_1


"Jawab semua pertanyaanku jika kau masih sayang nyawamu…dan lepaskan pedang di tanganmu..." Zero berkata dingin mengintimidasi wanita itu.


"Ba-baik, Tuan…" Wanita dengan pakaian zirah lengkap itu dengan patuh menurut. Dia mencoba bersikap baik di depan Zero.


"Pertama, coba jelaskan apa maksud dan tujuan dari peperangan ini terjadi." Zero memulai pembahasan.


Wanita itu mengangguk kemudian menjelaskan. Dia menjelaskan bahwa peperangan ini bukanlah peperangan yang biasa orang-orang kenal.


Peperangan ini bisa dikatakan hanyalah sebuah perjudian, yang mana kedua belah pihak saling mempertaruhkan sesuatu untuk dipertaruhkan, yang tentunya bernilai dan setimpal. Dan sesuatu yang dipertaruhkan dalam perang kali ini yaitu berupa sebuah tempat dan wilayah.


"Begitu, ya... Pantas saja dari awal aku merasa ada yang salah dengan perang ini…" Zero manggut-manggut memahami.


"Artinya kalian disini hanyalah sebuah alat dalam perjudian?" Zero terkekeh seperti ingin tertawa mengetahuinya.


"Benar, Tuan…" Wanita itu mengangguk.


"Kenapa kalian mau dijadikan alat seperti itu?" Zero masih terkekeh.


"Alasan kami semua sama, karena kami ingin hadiah yang bisa didapatkan jika pihak kami menang," jelas wanita itu.


"Ya. Pastinya begitu." Zero sudah menebak itu pasti alasannya.


"Pertanyaan selanjutnya yang menarik yaitu, kenapa diantara semua yang berperang hanya kau saja yang berbeda?" Sejauh yang Zero lihat sejak tadi dia tidak menemukan seorang wanita yang berperang selain wanita di depannya sekarang.


"Peperangan ini sudah diatur sedemikian rupa, baik kekuatan dan jumlahnya harus setara dan adil. Tanpa mempedulikan statusku sebagai seorang wanita, saat itu aku dipilih untuk mengikuti peperangan ini dan menjadi pemimpin karena hanya aku yang cocok diantara semua pasukan yang ada," jelas wanita itu.


"Oh, jadi itu alasannya…" Zero terkekeh untuk yang kesekian kalinya seolah menganggap semua penjelasan wanita itu adalah suatu hal yang lucu.


"Pfft…" Berikutnya Zero memegangi topengnya seperti ingin tertawa, "Hahaha!" Hingga akhirnya dia pun tertawa membuat wanita itu berkerut dahi.


"Hahaha! Menarik sekali! Dunia ini benar-benar menarik!" Zero tertawa lepas, lepas sekali menertawa betapa menariknya dunia yang kini dia pijaki.


Beberapa detik kemudian dia mengerai tawannya. Fokusnya kembali pada wanita di depannya yang tampak semakin gelisah memikirkan keadaannya sekarang.


"Kau yakin masih ingin hidup setelah semua yang terjadi? Apa kau tidak ingin menyusul mereka yang ada di sana?" Zero melihat kegelisahan wanita itu.


"Aku masih ingin tetap hidup, Tuan…" Wanita itu bersujud, mencoba melakukan segala cara demi bisa hidup, "Aku mohon jangan bunuh aku. Aku masih mempunyai seseorang yang menunggu kepulanganku disana…" Dia berkata penuh mohon.


"Baik, aku akan membiarkanmu hidup. Berdirilah..."


Kalimat itu membuat wanita itu langsung menengadahkan kepalanya dan berdiri. Ekspresinya tampak senang karena nyawanya masih bisa dia selamatkan.


"Tapi dengan satu syarat…" Zero mengangkat jari telunjuknya membuat ekspresi senang wanita itu memudar.


"A-Apa itu…" Wanita itu dengan ragu bertanya.

__ADS_1


Zero melipat kakinya, menopang pipinya di sisi singgasana, tersenyum dari balik topengnya kemudian menjawab,


"Hibur dulu aku…"


__ADS_2