
Di tempat yang sama, Viona dan Lucy saat itu baru tiba di taman yang tadi hendak mereka kunjungi. Alangkah terkejutnya Viona saat kedua bola matanya tak sengaja melihat Zero dan Sherria tengah bercumbu mesra di pojokan.
Rasa terkejut itu perlahan berubah menjadi rasa sakit hati yang sulit dia artikan. Viona sendiri tidak tahu apa yang dia rasakan saat melihat sosok yang pernah singgah di hatinya kini bercumbu mesra dengan wanita lain.
Viona pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan hatinya yang kini berkecamuk.
"Viona tunggu! Kau mau kemana?" Lucy yang melihat sahabatnya tiba-tiba berlari meninggalkannya terheran-heran. Dia tidak mengerti kenapa Viona menjadi seperti itu.
Lucy mendesis, "Issh...Padahal baru sampai, kenapa malah langsung pergi?Apa dia marah karena aku terlalu lama tadi? Atau dia marah karena sudah tidak kebagian tempat lagi?" Lucy menerka-nerka alasan Viona pergi. Untuk memastikannya, dia pun mencoba mengejar Viona yang kini sudah menjauh, berlari meninggalkannya.
Viona terus berlari tanpa arah menjauhi tempat itu. Pikirannya kalut, begitu pun dengan perasaannya.
'Ada apa ini? Kenapa hati ini terasa sakit sekali? Padahal aku bukan siapa-siapanya lagi...Akira, apa saat itu kau juga merasakan rasa sakit seperti ini?' batin Viona selagi berlari membelah kerumunan yang ada di depannya.
Disaat dirinya terus berlari tanpa arah sambil memikirkan perasaannya saat ini yang tak dapat dimengerti, Viona tak sengaja menabrak seorang gadis demi-human kelinci yang tengah berjalan sendirian. Mereka berdua pun terjatuh dan lembaran kertas yang selalu ada di pelukan Viona berhamburan ke jalan.
"Aduh…" Gadis kelinci berambut biru itu mengaduh kesakitan.
Viona terkejut saat baru sadar dirinya telah menabrak seseorang, ditambah lagi sosok yang ditabraknya dia kenal.
'Ada apa sebenarnya dengan takdir ini?' batin Viona yang tidak menyangka akan bertemu dengan sosok yang ada hubungannya dengan kekasihnya yang dulu.
"Ma-maaf, aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru." Viona segera meminta maaf dan membereskan lembaran kertas yang berhamburan di jalan.
"Ah, iya. Aku juga salah karena tidak melihat ke depan." Charla yang juga merasa bersalah ikut membantu membereskan kertas milik Viona.
Viona dengan segera membereskan semua lembaran kertas itu, mengambil kertas yang Charla bantu kumpulkan lalu pergi meninggalkan Charla.
Charla memandangi gadis berambut pirang itu yang kini berlari menjauhinya. Saat dirinya hendak melanjutkan langkahnya kembali, dia baru menyadari ada satu lembar kertas lagi yang tertinggal.
Charla mengambil kertas itu dan menemukan sebuah gambar pria yang mirip seperti Zero terpampang disana.
"Ini...kenapa gambar ini mirip seperti Zero-sama?" Charla menyatukan kedua alisnya memastikan kalau pria di gambar itu memang mirip sekali dengan Zero.
"Mungkin cuma mirip saja…" pikir Charla tidak percaya kalau itu adalah Zero.
Charla lekas mengalihkan pandangannya ke arah Viona yang kini sudah sangat jauh dan hanya terlihat siluetnya saja, kemudian dia berlari menyusulnya.
Dengan kekuatannya sekarang, Charla mampu berlari dengan cepat hingga berhasil menyusul Viona.
"Hei, tunggu! Ini satu lagi ketinggalan!" teriak Charla memanggil Viona untuk berhenti .
__ADS_1
Viona yang mendengar suara Charla, menoleh ke belakang dan menemukan Charla berlari ke arahnya sambil menunjukkan satu lembar kertas miliknya. Dia pun berhenti saat menyadari satu lembar kertas itu merupakan sesuatu yang sangat penting baginya
"Ini satu lagi ketinggalan tadi…" Charla menyerahkan satu lembar kertas bergambar pria itu pada Viona.
"Terima kasih…" Viona mengambilnya.
"Dari mana nona mendapatkan gambar itu?" tanya Charla. Dia mencoba bersikap sopan saat melihat penampilan Viona seperti seorang bangsawan.
"Oh, i-ini aku buat sendiri." Viona menjawab pertanyaan Charla. Dia tidak enak hati jika meninggalkan Charla begitu saja saat melihat dia sudah menyerahkan satu lembar kertas yang sangat berharga itu padanya.
"Hebat sekali…" Charla terkesan.
"Omong-omong gambar pria yang ada disitu mirip sekali dengan pria yang aku kenal. Apa pria itu kenalannya, nona?" tanya Charla.
"Tidak. Gambar ini hanya didapat dari imajinasiku saja." Viona berbohong, mencoba agar Charla tidak membahas gambar itu lagi.
"Oh, begitu, ya. Tapi sungguh gambar itu mirip sekali seperti Zero-sama, pria yang aku maksud itu." Charla tersenyum sambil mengelus pipi dengan telunjuknya.
"Mungkin cuma kebetulan…" Viona tersenyum hambar, ingin segera pergi dari hadapan Charla.
"Iya, mungkin cuma kebetulan. Karena gambar itu tidak mungkin Zero-sama." Charla setuju dengan perkataan Viona.
"Aku pergi dulu, ya. Soalnya aku lagi buru-buru. Sekali lagi terimakasih." Viona mencoba melepaskan diri dari Charla.
"Hei, coba lihat siapa disini…" Para pria berhidung belang itu mendekati Viona dan Charla, menutupi celah untuk dirinya kabur.
"A-apa mau kalian? Jangan berani macam-macam denganku." Viona mencoba membela diri dari sekumpulan pria itu.
Charla tampak tenang meski di kepung oleh mereka karena sekarang dia bukanlah gadis lemah seperti dulu lagi.
"Ada apa cantik? Apa kau berpikir kami akan takut hanya karena kau seorang gadis bangsawan?" Mereka tampak tidak peduli dengan identitas Viona.
"Jangan takut seperti itu. Kita hanya ingin bermain-main sedikit dengan kalian." Salah satu dari mereka menjilat lidahnya b*nal, memperlihatkan ekspresi yang menjijikan.
"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak." Viona masih berusaha membela diri.
"Teriak saja sesukamu. Kita tidak takut." Mereka tampak percaya diri tidak akan ada orang yang bisa menghentikan aksinya karena di tempat itu sangatlah sepi.
"Nona tidak perlu takut. Biar aku yang mengatasi mereka." Charla berkata pelan, mencoba menenangkan Viona.
"Apa kamu yakin bisa menghadapi mereka?" tanya Viona.
__ADS_1
"Ya. Begini-begini juga aku ini seorang petualang, nona. Aku yakin bisa menghadapi mereka, jadi tenanglah." Charla meyakinkan Viona.
Charla kemudian menyuruh Viona untuk berlindung di belakangnya selama dia mengatasi para pria berhidung belang di sekelilingnya.
"Lebih baik sekarang kalian pergi dari sini sebelum kalian menyesal," Saran Charla bersikap tegas.
"Ho~ Ada apa, Demi-human? Kau pikir mampu menghadapi kita semua," ejek salah satu dari mereka yang dibalas tawaan yang lainnya.
Charla menghela nafas pelan, "Orang seperti kalian memang susah diberi tahu…" kata Charla kemudian memposisikan diri, bersiap menghadapi mereka dengan tangan kosong.
Sewaktu latihan di menara surga, Charla tidak hanya berlatih dengan senjata busur panahnya. Dia juga melatih teknik bertarung tangan kosong untuk berjaga-jaga jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Hanya dengan menggunakan tangan kosong, Charla berhasil melumpuhkan mereka semua tanpa terluka sedikitpun, secara mereka hanyalah orang-orang biasa yang tidak mempunyai esensi sihir dalam dirinya.
Viona sejak tadi hanya bisa terpana menyaksikan Charla mampu melumpuhkan mereka seorang diri. Dia ternyata kuat sekali, begitu pikirnya.
"Ampuni kita! Kita menyerah! Kita berjanji tidak akan mengganggu siapa pun lagi!" Mereka semua bersujud di hadapan gadis Demi-human yang tidak mereka sangka akan kuat sekali.
"Pergi dari sini sekarang juga dan jangan pernah melakukan perbuatan hina seperti ini lagi atau aku akan menghabisi kalian," ancam Charla menakut-nakuti mereka.
"Baik! " Semuanya segera berhamburan pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa nona tidak apa-apa?" tanya Charla memastikan kondisi Viona.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku kembali." Viona menunjukkan sikap terima kasih.
Charla mengangguk pelan, "Sama-sama…"
"Anu, apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Viona penasaran ingin mengetahui nama gadis yang selama ini selalu bersama mantan kekasihnya.
"Oh, iya namaku, Charla. Kalau nona?" Charla mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Namaku, Viona." Viona menyambut ukuran tangannya.
"Viona?"
"Ya."
"Kalau begitu salam kenal, Viona-san. Senang berkenalan denganmu." Charla tersenyum.
"Salam kenal juga, Charla." Viona balas tersenyum.
__ADS_1
Gadis yang dulu pernah singgah di hati Zero dan Gadis yang kini selalu bersamanya kini saling memperkenalkan diri. Takdir memang selalu tidak bisa ditebak dan juga tidak bisa dimengerti .