Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Pergi Keluar Desa (Arc 2 End)


__ADS_3

Pesta terakhir kali ini berlangsung jauh lebih meriah dari biasanya. Berbagai hidangan serta minuman tertata rapi di masing-masing meja dan hampir memenuhi setiap tempat yang ada di situ.


Zero menghampiri August yang tengah berdiri sendirian di bangunan bertingkat terlihat sedang mengamati semua orang yang sibuk berpesta.


August berbalik saat menyadari kehadiran seseorang. Dia memberi hormat saat melihat orang itu adalah Zero.


"Tuan."


Zero hanya membalas sapaannya dengan anggukan kepala kemudian menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas bangunan itu. Dia bersama August mengamati dalam diam mereka semua di bawah yang sedang berpesta.


Selama beberapa saat hening, Zero membuka pembicaraan.


"August, apa kau kenal dengan kakek Ryu— ah, maksudku, Ryuki?" tanya Zero tanpa menoleh dan masih fokus memandangi mereka yang ada di bawah.


Pertanyaan Zero membuat mata August melebar dan segera menolehkan wajahnya menatap Zero.


"Bagaimana Tuan bisa mengenal nama kakek ku?" tanya August tanpa menutupi raut terkejutnya. Biarpun nama kakeknya dulu dikenal banyak orang namun sekarang sudah lagi tidak.


"Hahaha, dia kakekmu rupanya." Zero menanggapi dengan tawaan kecil membuat August mengerutkan dahinya.


"Apa kau percaya kalau aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat yang jauh dan tidak akan pernah diketahui oleh semua orang di dunia ini?" Zero menoleh ke August sambil tersenyum tipis.


August terdiam tidak tahu harus mempercayainya atau tidak, tapi mendengar Zero mengenali nama itu, dia tidak ada pilihan lain selain percaya. Dia pun bertanya atas hal itu


"Baiklah kalau kau ingin mengetahuinya, aku akan menceritakannya padamu…" Zero mulai menceritakan pada August semua pengamalan sewaktu dirinya berada di dalam Menara Agung saat bersama dengan Kakek Ryu.


"Jadi selama ini dia terjebak di tempat itu." August merasa kasihan mendengarnya.


"Ya."


"Dan Tuan bukan berasal dari dunia ini?" August tidak menyangka ternyata Zero berasal dari dunia yang tidak dia ketahui.


"Benar." Zero mengangguk pelan.


August menghela nafas mendengar semua pernyataan Zero yang benar-benar mengejutkannya.


August ikut menceritakan tentang kakeknya pada Zero, "Dulu kakekku adalah orang yang telah membangun desa ini. Saat itu dia mengajak orang-orang yang ingin hidup bebas tanpa kekangan dunia luar kesini," jelas August.


"Aku sudah menebaknya. Soalnya dia memiliki wajah yang sama denganmu." Zero terkekeh pelan.


"Dan wajah kalian berdua sama dengan kakek ku," jelas Zero dengan senyuman kasih seolah menganggap sosok di sampingnya ini adalah kakeknya sendiri.


"Pantas saja cara Tuan melihat mereka denganku berbeda." August menyadari hal itu.


"Dia pasti sosok yang sangat berharga bagi, Tuan." August membalas senyuman Zero.


"Begitulah…" Zero menengadahkan kepalanya menghadap langit, menatap ribuan bintang yang bertebaran disana. Dia bergumam dalam hatinya mungkin kakeknya ada diantara salah satu bintang itu


"Oleh karena itu apakah aku boleh menganggapmu sebagai dirinya." Zero tersenyum kembali menatap August.


"Tentu, Tuan." August membalas senyuman Zero. Dia tidak keberatan jika Zero menganggap dirinya sebagai kakeknya, justru dia senang mendengarnya.


"Kalau begitu mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan sebutan Tuan lagi," pinta Zero.


August terdiam memikirkan permintaan Zero selama beberapa saat lalu mengangguk, "Baik, Zero-sama."


"Aku akan pergi besok. Aku titipkan kerajaanku ini padamu," pesan Zero


"Baik. Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu dari sini..."


*~*


Di samping lain, Charla bersama Sherria saat ini sedang berkumpul dengan orang tuanya. Mereka ingin memuaskan waktu-waktu terakhirnya bersama kedua orang tuanya sebelum besok mereka akan pergi keluar desa.


"Charla, Sherria, ibu dan ayah senang sekali melihat kalian bisa bertemu dengan orang baik seperti Zero-sama." Ibu Charla dan Sherria mengelus-elus rambut kedua anaknya yang tengah berbaring di pangkuannya.


"Benar, Nak. Dia telah membawa kebahagiaan bagi kita semua," kata Ayah mereka yang duduk di sampingnya.


"Aku juga bersyukur bisa bertemu dengannya, Bu, Yah. Berkat Zero-sama aku bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan kalian," kata Charla


"Zero-sama yang saat itu sudah menyelamatkanku, Bu. Andai Zero-sama tidak datang saat itu, aku pasti sekarang masih terkurung di sana sebagai seorang budak. Aku sangat bersyukur waktu itu Zero-sama datang menyelamatkanku. Aku sangat bersyukur sekali..." Sherria meneteskan air matanya, merasa bersyukur atas kehadiran Zero yang telah membawa kebahagiaan bagi kehidupannya.

__ADS_1


Kedua orang tuanya dan kakaknya merasa senang melihat Sherria baik-baik saja. Mereka sudah mendengar tentang cerita Sherria saat dirinya menjadi seorang budak. Yang pasti itu bukanlah cerita yang bagus untuk didengar. Bahkan mereka sampai dibuat marah karenanya.


"Kalian sangat mencintai Zero-sama, kan?" tanya ibunya tersenyum penuh kasih.


"Emm…" Keduanya mengangguk.


"Untuk itu kalian harus selalu berdiri di sampingnya. Dia pasti membutuhkan orang yang bisa terus mendukungnya seperti kalian," kata ibunya


"Benar kata ibumu. Dilihat dari caranya memperlakukan kalian berbeda dengan yang lain, dia juga pasti sangat mencintai kalian," timpal ayahnya.


"Baik, Ibu, ayah. Kita akan menuruti perkataan kalian."


*~*


Di sisi lain, Fluffy yang selalu berada di samping Levy kini tengah berpesta di satu tempat. Dia sedang menyantap aneka hidangan kue yang disediakan di depannya.


"Flo, apa benar kau besok akan pergi bersama, Tuan?" tanya Levy.


"Iya. Tuan membutuhkan bantuanku," kata Fluffy sambil mengelap adonan kue di bibirnya.


"Hmph…" Levy menjadi murung mendengarnya.


"Tenang saja. Nanti aku akan kembali lagi kesini." Fluffy tersenyum berseri.


"Aku juga ingin ikut denganmu. Boleh, ya." Levy memanyunkan bibirnya merengek minta diajak.


Ayah Levy yang duduk di sampingnya memegangi kepala anaknya, "Levy, Fluffy berbeda denganmu. Kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Tuan. Sudah jangan minta yang macam-macam." Ayah Levy menasehati.


"Baik, ayah." Levy hanya bisa menurut.


*~*


Keesokan harinya, Zero bersama yang lainnya sudah siap berangkat keluar desa. Bukan hanya Zero, Fluffy, Charla dan Sherria saja yang ikut keluar, beberapa orang lainnya yang sudah Zero tugaskan untuk menjual hasil panen juga ikut bersamanya.


Mereka tampak sudah selesai mengemasi semua barang yang dibawa melalui gerobak untuk dipasarkan ke suatu tempat. Tentu saja mereka juga ditemani oleh beberapa pengawal yang akan menjaga sumber penghasil uang itu agar selamat sampai ke tempat tujuan.


"Kalau begitu kami pergi…" Zero dan yang lain berpamitan pada semuanya.


"Hati-hati dijalan...!"


"Semoga kalian semua selamat sampai tujuan."


Semuanya melambaikan tangannya mengiringi kepergian mereka sambil mendoakan keselamatan bagi mereka semua.


Setibanya di pintu keluar masuk hutan itu, Zero dan yang lainnya disapa oleh para regu pengintai yang bertugas di tempat itu. Zero memberikan saran dan arahan serta kalimat motivasi pada mereka sebelum lanjut berjalan keluar hutan.


Saat berada di luar perbatasan hutan itu, Zero melayang tinggi ke udara, membuat mereka yang menyaksikan hal itu terpana biarpun mereka sudah sering melihatnya.


"Sepertinya aku memang harus membuatnya." Zero mengamati wilayah sekitar kemudian menyatukan kedua telapak tangannya. Seketika lahan kosong yang ada di situ mulai dipenuhi hamparan pepohonan.


Zero menggunakan salah satu sihirnya untuk membuat kamuflase agar orang-orang luar tidak bisa menemukan keberadaan desa itu. Dia masih perlu membuat desa itu aman dari gangguan orang-orang luar apalagi kini dia akan pergi keluar.


"Kita akan berpisah di sini..." Zero sampai di jalur jalan yang menghubungkan arah ke tempat masing-masing tujuan mereka.


"Baik, Tuan. Hati-hati dijalan."


"Kalian juga."


Mereka melangkah ke jalur kanan sedangkan Zero dan lainnya melangkah ke jalur kiri. Mereka kini berpisah menuju ke tempat tujuannya masing-masing.


*~*


"Huuahhh~" Zero menguap selagi berjalan santai bersama yang lainnya.


"Apa semalam Zero-sama tidur dengan nyenyak?" tanya Charla melihat Zero seperti orang mengantuk.


"Tidak terlalu. Tapi tidak perlu khawatir, aku masih kuat untuk berjalan." Zero mencoba membuat mereka agar tidak memikirkannya lagi.


"Tuan, apa kita hanya jalan kaki? Kenapa Tuan tidak menyuruhku berubah saja supaya aku bisa membawa kalian sampai dengan cepat," kata Fluffy yang berjalan di samping Zero.


"Berjalan seperti ini jauh lebih sehat, Flo." Zero mengusap-usap rambut Fluffy.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya."


Zero memilih berjalan kaki seperti ini tentunya karena dia tidak ingin menarik perhatian. Dia kini mencoba lebih hati-hati lagi mengingat sebelumnya juga biarpun Fluffy sudah terbang di ketinggian tetap masih ada seseorang yang bisa melihatnya hingga membuat desa itu pun jadi ketahuan. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi.


"Zero-sama sekarang kita akan pergi kemana dulu?" tanya Sherria yang berjalan di samping kakaknya.


"Kita akan pergi ke kota Belius. Kita akan mendaftar menjadi petualang disana," jelas Zero.


"Petualang?" Mereka bereaksi mendengar istilah itu. Zero hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Yatta! Kita akan menjadi petualang, Sherria." Charla terlihat senang mendengarnya. Begitupun dengan Sherria, mengingat mereka dulu sangat ingin menjadi seorang petualang.


"Petualang itu apa, Tuan?" Fluffy tidak mengerti istilah itu.


"Kau tanya saja pada mereka." Zero menunjuk Charla dan Sherria.


"Charla, petualang itu apa?" Fluffy bertanya pada Charla.


"Petualang itu seperti…" Charla menjelaskan tentang apa itu petualang pada Fluffy.


Di tengah percakapan itu sebuah kereta kuda melintasi mereka berempat dari belakang membuat mereka segera menepi ke sisi.


Zero seketika membeku ketika pandangannya menoleh ke arah jendela pintu kereta itu dan tidak sengaja menemukan wajah yang terasa tidak asing baginya. Disaat itu juga dia berhenti melangkah dan memikirkan apakah barusan dia salah lihat atau tidak.


"Ada apa, Zero-sama?" Charla menoleh ke arah Zero yang berhenti melangkah.


"Ah, tidak ada apa-apa." Zero kembali melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


'Sepertinya hanya perasaanku saja.' Zero tidak ingin lagi memikirkannya.


Sedangkan di sisi lain, di dalam kereta yang barusan melewati beberapa orang di jalan itu terdapat dua orang gadis yang tengah duduk saling berhadap-hadapan.


"Viona, apa yang sedang kau lihat?" tanya gadis berambut merah saat melihat teman di depannya terus melihat keluar jendela.


"Ah, bukan apa-apa." Gadis berambut pirang mengalihkan pandangannya lagi ke depan.


'Mungkin hanya perasaanku saja,' batin gadis berambut pirang saat tadi sempat melihat salah seorang yang tidak asing baginya melintas di kaca jendela.


"Apa yang sedang kau buat sekarang?" Gadis berambut merah melihat setumpuk buku dan kertas di pelukan temannya.


"Aku hanya membuat cerita seperti biasa," jelas gadis berambut pirang sambil tersenyum ringan.


"Hebat, coba aku ingin lihat." Gadis berambut merah mengambil beberapa lembar kertas dari temannya.


"Wah cerita romantis lagi. Aku sangat menyukai cerita seperti ini, Viona. Apa ini kelanjutan yang sebelumnya." Gadis berambut merah terkesan saat membaca cerita yang temannya buat. Gadis berambut pirang hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Aku tidak menyangka kau bisa membuat cerita sebagus ini, Viona. Padahal dulu kau tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi membuat cerita seperti ini." Gadis berambut merah terkekeh mengejek temannya.


Di tengah percakapan itu, roda kereta yang memuat mereka berdua tak sengaja mengenai cekungan dan membuat kereta kuda itu sesaat menjadi tidak stabil. Saat itu terjadi, kertas dan buku yang dibawa oleh gadis berambut pirang berhamburan ke bawah.


"Maaf, Nona," kata kusir yang membawa kereta itu


"Iya. Tidak apa-apa, paman, " kata gadis berambut pirang sambil mengumpulkan kembali kertas-kertas yang berhamburan dan dibantu dengan temannya.


"Eh, gambar siapa ini?" Gadis berambut merah menemukan satu lembar kertas berlukiskan wajah seorang pria yang tengah tersenyum lembut


"Bukan siapa-siapa." Gadis berambut pirang mengambil kertas itu darinya kemudian duduk kembali.


"Heh~ Apa jangan-jangan itu pria yang kau cintai, " tebak gadis berambut merah seperti mengejeknya


Gadis berambut pirang menggeleng pelan sambil melihat lukisan itu, "Tidak...Aku tidak tahu apakah aku masih pantas mencintainya atau tidak..." Dia tersenyum penuh arti menatap wajah pria yang terlukis di sana.


"Memangnya kenapa?" Gadis berambut merah berkerut dahi dengan senyuman melengkung ke bawah.


"Bercanda. Aku hanya mencoba meniru dialog salah satu karakter di ceritaku." Gadis berambut pirang terkekeh riang mencoba membuat temannya agar tidak terlalu mencemaskannya.


"Lalu, siapa itu?" tanya nya lagi.


"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya gambar yang muncul dalam imajinasiku saja."

__ADS_1


—Arc 2 End—


__ADS_2