
Gildart yang terkekang oleh ancaman itu hanya bisa menuruti kemauan Zero. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dan merasa sial karena telah berurusan dengan orang sepertinya.
Namun meski begitu di satu sisi dia merasa senang karena Zero mengatakan dirinya ingin membeli semua sumber daya di tokonya serta ingin menjual beberapa item bernilai yang bisa dia jadikan sebagai modal untuk meraup keuntungan yang besar di kemudian hari.
Setelah tidak ada lagi yang dibahas, Zero menyuruh Gildart untuk mengambil semua sumber daya bagi penyihir yang ingin dia beli dan melepas kelima assassins yang terikat oleh rantai Gladius.
Gildart segera bergegas ke tempat dimana sumber daya itu berada. Para petugas yang sedang melayani orang-orang yang hendak membeli sumber daya itu segera dihentikan oleh Gildart dan langsung menyuruh mereka untuk membeli di tempat lain.
Mereka tentu saja menolaknya namun setelah diberikan beberapa ancaman oleh Gildart mereka dengan terpaksa menurutinya.
Segera saja Gildart menyuruh para petugasnya untuk mengumpulkan semua sumber daya di tokonya dan membawanya ke tempat dimana Zero berada.
Sementara Gildart dan petugasnya sibuk mengumpulkan semua sumber daya itu, Zero yang ada di lantai tiga ikut sibuk melihat menu store-nya untuk mencari item apa saja yang ingin dijual.
"Tuan, apa boleh saya tahu apa yang sedang Tuan lakukan?" Gladius di dekatnya sejak tadi penasaran melihat Zero menyentuh-nyentuh ruang kosong kemudian mengeluarkan sesuatu yang menakjubkan.
Gladius berpikir Zero pasti melakukan suatu trik untuk memperoleh sesuatu yang menakjubkan itu namun dia tidak tahu apa itu.
"Tidak boleh, kau diam saja. Aku kasih tahu pun kau tidak akan mengerti." Zero menjawab datar tanpa memalingkan pandangannya ke menu store-nya.
"Baik, Tuan." Gladius tidak ada pilihan selain menurutinya meski sangat penasaran ingin mengetahuinya.
Sepanjang waktu, Gladius hanya diam mengamati Zero yang terus mengeluarkan sesuatu dari ruang kosong. Sesuatu itu diantaranya berupa Item seperti senjata, obat-obatan, perlengkapan dan yang lainnya yang hendak dia jual ke pemilik toko tersebut.
Tak lama kemudian, Gildart bersama petugasnya memasuki ruangan dengan membawa sumber daya yang hendak Zero beli.
Zero pun sudah mengeluarkan apa-apa saja yang hendak dia jual. Keduanya mulai melakukan transaksi.
"Ketiga karung ini di dalamnya terdapat inti monster yang Tuan inginkan, dari ukuran yang terkecil sampai yang terbesar..." Gildart memperkenalkan tiga karung di sampingnya.
Setelah Zero dan Gladius mengeceknya semua yang ada di dalam karung itu terbukti benar adanya.
Zero tidak menduga Gildart akan mempunyai inti monster sebanyak ini. Ketika dia bertanya dimana Gildart mendapatkannya, Gildart menjawab semua itu tentunya didapatkan dari para petualang yang sedang membutuhkan uang.
Zero berniat membeli semuanya meskipun harga dari satu inti monster berukuran kecil itu lumayan mahal, apalagi yang terbesar.
Selain itu, Gildart juga memperlihatkan beberapa peti yang di dalamnya berisikan sumber daya lain dan menjelaskan apa nama serta kegunaan sumber daya di dalam peti itu.
Zero semakin tertarik untuk membelinya meskipun harganya sangat fantastis. Namun itu sebanding dengan hasil yang bisa dia dapatkan.
__ADS_1
"Ini sepuluh senjata class B dan C yang memiliki kualitas terbaik, potion-potion kelas tinggi, kapsul sihir…" Selanjutnya giliran Zero yang memperkenalkan item-item yang hendak dia jual.
Gildart dan petugasnya merasa beruntung bisa membeli semua item itu apalagi dalam jumlah yang banyak. Mereka yakin beberapa hari ini toko mereka akan laris manis dipenuhi pembeli.
Selepas kedua belah pihak saling memperkenalkan masing-masing item yang akan dijual, keduanya pun mulai menghitung harga dan membandingkan jumlah keseluruhan.
Setelah melalui beberapa proses pembandingan harga, harga keseluruhan item yang Zero jual ternyata kalah banyak, oleh karena itu Zero harus mengeluarkan beberapa koin emas yang sudah ditentukan untuk membayarnya.
Ketika Zero mengatakan ingin membayarnya dengan item lain lantaran tidak membawa banyak uang, Gildart menjawab semua item yang Zero jual sudah cukup dan dia ingin Zero membayarnya dengan uang.
Dengan helaan nafas, Zero menjawab, "Baiklah, aku akan membayarnya nanti setelah obat ini terjual. Aku akan menjemput semua item yang aku beli. Sementara itu kuharap kau tidak melakukan hal yang bisa merugikanmu. Aku titipkan semua item yang ingin kujual disini sebagai jaminan," ujar Zero.
"Tidak akan, Tuan. Aku tidak akan berbuat apapun dengan barang, Tuan. Aku berjanji akan menjaga semua ini dengan baik."
Zero melihat Gildart tidak akan berani melakukan sesuatu yang culas disaat nyawanya dipertaruhkan.
*~*
Zero dan Gladius melenggang pergi dari toko itu menuju ke tempat bangsawan kaya raya itu tinggal untuk menjual obat yang dibuat dari Daun Para Dewa yang dibutuhkan oleh bangsawan itu untuk menyembuhkan anaknya.
"Aku sudah mengira jika harga dari obat ini akan sangat fantastis. Tua bangka itu sungguh bodoh dan licik sekali menawarkan harga yang sangat murah padaku, dan bahkan sampai berani mengancamku seperti itu. Padahal jika saat itu dia menawarkanku satu juta koin emas mungkin bisa saja aku menerimanya. Hahaha, sayangnya dia bodoh. Aku sekarang bahkan bisa mendapatkan uang yang jauh lebih besar lagi." Zero membicarakan kebodohan Gildart selagi berjalan menuju tempat yang dituju.
"Benar, dia bodoh sekali karena berani macam-macam dengan, Tuan." Gladius berpikiran sama tentang tua bangka itu.
"Begitulah..." Gladius membenarkan pertanyaan Zero sambil menggulung lengan bajunya ke atas.
"Ini, Tuan…" Gladius memperlihatkan gelang besi yang melekat di bagian lengan atasnya.
Gelang besi berwarna keemasan itu memiliki corak kaligrafi kuno dengan di atasnya terdapat tiga lingkaran kecil menyerupai cincin.
"Rantai yang biasa aku keluarkan itu berasal dari harta suci yang aku pasangkan dalam lenganku ini, Tuan," jelas Gladius sambil memegang gelang di lengannya yang tampak tidak mudah dilepaskan
"Harta Suci?" Zero bereaksi sambil mengamati gelang tersebut lebih dekat.
Setahunya Harta Suci merupakan senjata luar biasa yang jarang dimiliki orang-orang dan mempunyai kekuatan menakjubkan.
"Benar. Namanya Rantai Penghakiman. Aku dapat mengeluarkan rantai karena dibantu oleh harta suci ini," lanjutnya.
"Dari mana kau mendapatkannya?" Zero penasaran.
__ADS_1
"Oh, ini aku dapatkan dari orang yang dulu pernah kubunuh," jawabnya sambil tersenyum.
"Oh...Begitu, ya…" Zero mengangguk-anggukan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya lagi ke depan.
Zero menebak pasti seseorang yang dulu pernah memiliki rantai ini bukanlah orang biasa. Sedangkan orang yang telah membunuhnya jelas bukan biasa lagi.
Semuanya terbukti setelah Zero sebelumnya mengetahui jika tingkatan sihir milik Gladius sebenarnya berada di tingkat Magic General namun dia mempunyai trik untuk menutupinya.
"Coba jelaskan lagi tentang kemampuan yang bisa dikeluarkan oleh gelang itu." Zero tambah penasaran.
"Aku bisa mengeluarkan rantai yang berpusat dari gelang ini sebagai senjata untuk menyerang maupun untuk mengunci pergerakkan lawan. Rantai ini sangat kuat, membuat orang yang terkunci oleh rantai ini tidak bisa melakukan apa-apa karena rantai ini juga mampu menyegel sihir seseorang."
Gladius kemudian menunjuk ke tiga lingkaran kecil yang berdiri di atas gelang itu,"Sementara tiga lingkaran kecil ini mempunyai fungsinya masing-masing."
Gladius lanjut menjelaskan ketiga fungsi lingkaran kecil itu.
"Pertama lingkaran kecil di bagian kanan. Ketika aku memusatkan energi sihirku ke lingkaran ini aku dapat mengeluarkan rantai di mana pun yang aku mau terkecuali pada makhluk hidup." Gladius mencontohkan pada Zero dengan mengeluarkan rantai pada sebuah tembok.
Zero mengangguk-anggukan kepalanya paham dan terkesan dengan kemampuan gelang yang tak lain Harta Suci tersebut.
"Selanjutnya lingkaran di bagian kiri. Jika aku memusatkan energi sihirku di bagian ini, aku dapat mengeluarkan rantai di kedua tanganku untuk dijadikan senjata menyerang maupun mengunci pergerakan lawan," jelasnya sambil mencontohkannya kembali.
"Dan yang terakhir di bagian tengah. Aku bisa mengeluarkan rantai kutukan untuk mengikat janji seseorang, atau juga bisa disebut sumpah mungkin.
Untuk menggunakan rantai ini aku perlu melakukan dua cara. Pertama, aku harus menusukkan rantai ini ke jantung seseorang kemudian mengucapkan janji apa yang harus orang tersebut lakukan. Jika janji itu diingkari maka rantai yang melilit jantung orang tersebut akan menghakiminya." Gladius menutup penjelasannya.
"Menarik sekali. Kau mempunyai senjata yang menakjubkan." Zero memuji dengan nada biasa. Dia melirik Gladius sekali dengan ekspresi curiga dan sedikit waspada setelah mendengar kemampuan rantai miliknya.
"Terima kasih, Tuan. Aku tersanjung mendengarnya, " kata Gladius sambil menutup kembali pergelangan bajunya.
Zero dan Gladius masih berjalan menuju ke tempat bangsawan itu berada. Di tengah jalan, Zero menyarankan pada Gladius untuk berjalan ke celah-celah tempat yang sepi dengan alasan agar bisa sampai di tempat yang dituju dengan cepat.
Suasana lorong kota yang Zero dan Gladius terasa sangat sepi, tidak ada orang satupun selain mereka.
"Hei, kau bilang cara kedua untuk menggunakan rantai itu yaitu dengan menyebutkan janji. Dalam artian kau yang menyebutkan janji itu sendiri, kan?" kata Zero datar selagi menyusuri lorong yang sepi.
"Benar, Tuan." Gladius membenarkan.
Zero melirik Gladius dingin lalu dengan cepat mencengkram lehernya menggunakan satu tangan kemudian membantingnya ke tembok.
__ADS_1
"Pertanyaannya, janji apa yang kau tanam dalam rantai yang melilit jantungmu itu?" tanya Zero dingin sambil mengeluarkan api merah kelam di satu tangannya yang lain.
"Katakan yang sejujurnya, jika kau berani berbohong, api neraka ini yang akan menghakimimu."