
Charla dan Viona kini saling memperkenalkan diri. Charla senang bisa berkenalan dengan Viona karena bisa dibilang ini merupakan kali pertamanya dia berkenalan seperti ini dengan orang luar.
Viona pun awalnya ikut senang karena bisa mengenal sosok yang selama ini selalu bersama mantan kekasihnya. Namun rasa senang itu seketika berubah menjadi rasa bingung ketika dia menyadari satu hal.
'Tunggu, apa yang aku lakukan. Bukannya barusan aku mencoba menjauhinya, tapi kenapa sekarang aku malah mengajaknya berkenalan...' Viona tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya saat ini. Yang Viona lakukan tak sejalan dengan pikiran dan perasaannya tadi.
"Viona-san sedang buru-buru bukan?" tanya Charla sambil melepas genggamannya.
"Ah, iya…" Viona mengangguk.
'Apa tidak apa-apa berkenalan dengannya seperti ini. Bukankah itu berarti aku akan bertemu dengannya lagi...' batin Viona menatap gadis kelinci di depannya yang menurutnya jauh lebih pantas bersama Zero dibanding dirinya yang hanyalah masa lalunya.
"Kalau boleh tahu, kenapa Viona-san buru-buru seperti itu?" tanya Charla namun Viona tidak menjawab karena masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
'Aku… apa aku melakukan ini karena ingin bersama dengannya lagi. Tapi apakah aku masih pantas mendapatkan itu setelah apa yang sudah kuperbuat padanya...Tidak, aku tidak pantas... Lagi pula dia sudah mempunyai seseorang yang jauh lebih baik dariku,' batin Viona menatap Charla dalam, lalu teringat dengan gadis rubah yang saat itu bercumbu dengan mantan kekasihnya. Menurutnya, Zero sekarang jauh lebih bahagia ketimbang dulu saat bersamanya.
"Viona-san, ada apa?" Charla menyatukan alisnya saat melihat Viona terdiam menatapnya tanpa berkedip.
'Aku hanya ingin berkenalan dengannya saja. Aku tidak bermaksud apa-apa apalagi berniat merebut Akira dari mereka. Mungkin ini yang terbaik…aku harus belajar melepaskannya. tapi...kenapa ini...kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang memberatkan perasaanku... ' batin Viona dilema dengan perasaannya sendiri.
"Viona-san..." Charla memanggil tapi Viona masih tidak merespon, "Viona-san?" Viona tetap tidak merespon, "Viona-san!" Suara Charla sedikit meninggi dan berhasil memecah lamunan Viona.
"I-Iya!" Viona mengedipkan matanya cepat, mengambil kesadarannya kembali.
"Kenapa melamun? Apa ada masalah?" tanya Charla.
Viona menggeleng keras, "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya kepikiran sesuatu. "
"Oh, begitu. Aku kira Viona-san terdiam karena pertanyaanku barusan," kata Charla tersenyum sambil mengelus pipi dengan telunjuknya.
"Bukan, kok." Viona menggeleng lagi.
Charla masih menampilkan senyumannya, memandangi gadis berpakaian kelas bangsawan di depannya yang terdiam seperti sedang melamunkan sesuatu.
"Charla," panggil Viona.
__ADS_1
"Iya?"
"Anu, apa kamu ada waktu?"
"Ada. Tapi bukannya Viona-san sedang buru-buru?" Viona mengernyitkan sedikit dahinya.
"Itu...Maaf… sebenarnya aku tidak sedang buru-buru." Viona menggaruk pipinya dengan telunjuk, merasa sungkan karena telah berbohong,"Barusan itu aku sedang kesal sama temanku jadi aku berlari meninggalkannya," ujar Viona yang tidak berani berkata jujur.
"Oh, begitu..." Charla mengerti, "Jadi, apa yang ingin Viona-san lakukan denganku?" tanya nya.
"Aku ingin membalas bantuanmu tadi, jadi bisakah kamu menerima tawaranku, aku ingin mentraktirmu makan bersama," ujar Viona.
"Boleh. Kebetulan aku lagi senggang. Kalau Viona-san memang menginginkannya, aku akan menerima tawaran itu," jawab Charla setuju dengan tawaran Viona.
Kemudian mereka berdua pun pergi ke salah satu restoran yang Viona sarankan. Kebetulan restoran itu adalah milik ayahnya Lucy, atau bisa dibilang pamannya. Meski restoran tersebut bukanlah yang terbaik di kota itu tetapi banyak orang-orang yang memilih makan atau sekedar nongkrong disitu.
Mereka berdua duduk di kursi yang masih kosong. Pelayan yang mengenali Viona segera menyapa dan menanyakan ingin memesan apa.
Viona menjawab ingin memesan makanan dan minuman seperti biasa sedangkan Charla disuruh bebas memilih apapun yang dia inginkan.
"Apa boleh?"
Charla yang senang mendengarnya segera memesan makanan dan minuman terbaik yang ada di restoran tersebut.
Beberapa menit kemudian, hidangan yang mereka pesan pun akhirnya sampai di meja mereka.
"Enak…" kata Charla setelah mencicipi hidangan yang dia pesan.
"Hidangan yang disajikan di restoran ini memang yang terbaik," ujar Viona.
"Oh, pantas saja. Lain kali aku harus ajak Zero-sama dan lainnya makan disini," kata Charla lalu melahap sepotong daging pesanannya.
Viona terdiam mendengar nama kekasihnya terdahulu yang baru itu. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti jika sungguh bertemu dengannya.
"Terima kasih Viona-san, karena sudah mau mentraktirku."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih. Ini balasanku karena Charla sudah menolongku."
Selagi menikmati hidangan yang mereka pesan, Charla dan Viona berbincang santai membahas banyak hal. Setiap percakapan yang mereka lontarkan membuat ikatan pertemanan diantara mereka mulai terjalin.
"Jadi seperti apa pria bernama Zero itu?" tanya Viona saat Charla membahas Zero.
"Mm...Zero-sama orangnya baik, kuat, sombong, pintar dan perhatian…" ungkap Charla tersenyum penuh kasih.
Melalui senyuman Charla, Viona bisa melihat seberapa dalamnya perasaan Charla pada Zero.
"Meskipun awal pertama kali aku bertemu dengannya dia itu dingin sekali, tapi sekarang dia sudah sering tersenyum." Charla mengungkapkan perasaannya tentang Zero.
"Apa kamu mencintainya?" Pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulut Viona. Hatinya sedikit berat ketika menanyakan hal itu.
"Ya. Dia segalanya bagiku," jawab Charla masih dengan senyuman yang sama.
"Begitu, ya…" Viona diam-diam menghela nafas, mengeluarkan perasaan yang memberatkan hatinya.
"Tapi aku tidak pernah tahu apakah Zero-sama merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Dia bahkan belum pernah membalas perasaanku secara langsung. " Senyuman Charla memudar.
"Memangnya kenapa?" Viona berkerut dahi.
"Entahlah. Mungkin dari apa yang aku lihat sepertinya Zero-sama masih belum bisa lepas dengan mantan kekasihnya yang dulu," jelas Charla yang membuat Viona terkejut.
"Aku tidak tahu kenapa Zero-sama tidak bisa melupakannya, padahal dia waktu itu jelas sekali sudah mengkhianatinya." Charla menghela nafas di ujung kalimatnya. Dirinya selalu dibuat tidak mengerti ketika memikirian tentang itu.
'Akira… apa benar begitu…tapi kenapa...bukankah saat itu kau sangat marah padaku...' batin Viona yang tidak menyangka akan pernyataan Charla.
"Charla, jika semisalnya mantan kekasihnya yang dulu tidak mempunyai niatan untuk berkhianat atau keadaan yang saat itu memaksanya untuk melakukan itu bagaimana pendapatmu?" Viona meminta pendapat pada Charla tentang dirinya yang dulu.
"Tetap sama saja. Itu tidak akan merubah fakta kalau dirinya adalah seorang penghianat."
Jleb
Perkataan Charla yang dingin itu sangat menusuk di hati Viona. Bak ibarat ribuan pedang serempak menyerang dasar hatinya sekaligus.
__ADS_1
"Begitu, ya…" Viona mencoba tersenyum meski perasaannya begitu tersakiti dengan jawaban tersebut.
"Memang benar...pengkhianat tetaplah pengkhianat, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu..."