Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Menjalin Bisnis


__ADS_3

Hari itu, Zero berhasil membawa seratus lebih ras dwarf untuk bergabung dengan kerajaannya. Dia tentu senang karena tujuan utamanya berhasil terlaksana


Untuk sementara, Zero menempatkan mereka di dalam cincin ruangnya karena dia ingin menyelesaikan tujuannya yang tersisa.


Zero meminta para ras dwarf itu untuk mengajarkan yang lainnya tentang keahlian yang mereka punya agar suatu saat ketika berada di kerajaannya mereka bisa menjadi orang yang dapat diandalkan.


"Baiklah, tinggal tersisa tiga lagi. Aku akan segera menyelesaikannya..."


O~O


Setelah tujuan utamanya berhasil terlaksana, Zero lanjut pada tiga tujuannya yang tersisa sebelum setelah ini dia akan kembali ke kerajaannya. 


Tanpa didampingi oleh Gladius, hari ini Zero mendatangi toko nomor satu di ibukota kerajaan untuk menyelesaikan salah satu tujuannya itu. j


Sewaktu dirinya masih tinggal di kota yang sebelumnya, Zero sempat mendapatkan informasi tentang toko ini dari pemilik Toko Luar Biasa yang pernah dia kunjungi. 


"Tidak salah lagi, pasti ini tempatnya…" Bangunan megah berdiri di depan Zero saat dirinya tiba di lokasi yang dituju. 


Toko tersebut terlihat tiga kali lebih besar dari Toko Luar Biasa yang pemiliknya merupakan adik dari pemilik toko ini. Terlihat cukup banyak orang yang berada di toko ini untuk membeli sesuatu atau sekadar melihat-lihat barang yang ingin dibeli. 


Puas mengamati luar bangunan toko itu, Zero masuk ke dalamnya. Seketika perhatian orang-orang di dalam toko itu tertuju pada Zero karena sosok Zero saat ini sudah dikenal oleh banyak orang di kota itu sebagai pahlawan baru. 


Tanpa menghiraukan orang-orang di situ yang tengah membicarakannya, Zero menyusuri toko itu sambil mengamati setiap barang yang dijual di sana. 


Dari apa yang Zero temukan, di dalam toko itu menjual hampir semua hal yang dibutuhkan oleh orang-orang dari setiap kalangan. Semuanya terlihat lengkap dan tersusun rapi sesuai tempatnya, dari mulai lantai terbawah sampai teratas. Pelayanan orang-orang yang bekerja di toko itu juga perlu diacungi jempol. 


Zero merasa dirinya saat ini seperti sedang berada di dalam supermarket terbaik yang pernah ada. 


"Barang-barang yang dijual di toko ini menarik juga. Bahkan di menu store kelihatannya tidak ada barang seperti ini…"


Zero cukup tertarik untuk membeli setiap barang bagus yang dia temui di toko itu, contohnya seperti senjata dan obat-obatan yang tampaknya memiliki kualitas yang tinggi. 


Di kala Zero terpana oleh setiap barang yang dijual di toko itu, salah satu pelayan perempuan di sana menghampirinya. 


"Ah, Tuan pahlawan, maafkan saya karena tidak menyadari anda," kata pelayan itu terlihat merasa bersalah, "Apa ada yang bisa saya bantu? Atau Tuan ingin saya bantu carikan sesuatu. Katakan saja, saya akan membantunya." Pelayan itu berusaha bersikap sebaik mungkin di depan Zero. 


Zero memusatkan perhatiannya pada pelayan itu dan memberitahukan tujuannya berada di tempat itu. 

__ADS_1


"Katakan pada pemilik toko ini, aku ingin bertemu dengannya…" titah Zero.


Pelayan itu mengangguk dan segera melaksanakan perintahnya. Tidak butuh waktu lama pemilik toko itu pun datang menghampiri Zero. 


"Oh, Tuan pahlawan, akhirnya anda datang juga ke toko ini. Saya sudah menunggu kedatangan anda di toko ini sejak lama," kata pemilik toko itu seiring mendekati Zero sambil menunjukkan senyuman terbaiknya. 


"Kau pasti sudah mendengar tentangku dari adikmu bukan?" tebak Zero. 


"Tepat sekali. Dia sudah memberitahukan banyak hal tentang anda pada saya. Dan seperti yang dia katakan, anda memang sosok yang luar biasa," kata pemilik toko itu terkesan menjilat. 


"Kalau begitu kebetulan, kedatanganku ke toko ini karena ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Zero memberitahukan tujuannya. 


"Lebih baik kita bicarakan ini di tempat yang paling nyaman. Mari ikuti saya."


Pemilik toko itu membawa Zero ke ruangan khusus miliknya. Tempatnya terlihat bersih, rapi, dan pastinya nyaman dijadikan tempat untuk berbisnis. Pemilik toko itu juga menyediakan teh terbaik yang dia punya sebagai teman berbincang mereka. 


Zero dan pemilik toko itu duduk di tempat yang disediakan dan memulai pembahasan. Pemilik toko itu pertama-tama memperkenalkan dirinya sebagai Austin lalu memberitahukan pada Zero tentang karirnya selama ini sampai dirinya bisa mendirikan toko yang begitu besar. 


"Hebat juga ya perjuanganmu selama ini sampai bisa menjadi orang seperti ini..." puji Zero setelah menyeruput tehnya, "Kelihatannya kau jauh lebih bisa diharapkan daripada adikmu," lanjutnya. 


Austin tertawa renyah mendapat pujian dari Zero."Adikku, ya… dia masih belum ada apa-apanya dengan saya. Toko miliknya yang ada di kota itu saja sebenarnya milik saya. Saya yang memintanya untuk mengelola toko itu."


"Beruntung saat itu aku bisa menahan diri untuk tidak membunuhnya," kata Zero terdengar dingin dan membuat senyuman Austin sedikit turun. 


Austin sudah mendengar bagaimana adiknya memperlakukan Zero saat itu. Yang pasti cara dia memperlakukannya sangat buruk. Bahkan dia tidak percaya kenapa adiknya masih bisa hidup setelah memperlakukan Zero seperti itu. 


"Lupakan soal adikmu dan kembali pada tujuanku." Zero membuka menu inventory-nya lalu mengeluarkan beberapa barang yang ingin dia jual. 


Austin tidak terlalu terkejut karena sempat mendengar Zero memiliki kemampuan untuk menyimpan benda dalam ruang seperti itu. 


"Aku ingin menjual semua ini…" Zero memperlihatkan beberapa karung yang berisi emas murni dan permata hijau yang mempunyai kualitas tinggi. 


Austin membelalakan matanya sekali saat melihat isi di dalam karung-karung tersebut sebelum tersenyum menatap Zero. 


"Saya bersedia membeli semuanya dengan harga yang sesuai dengan apa yang Tuan harapkan."


Austin segera beranjak dari kursinya dan menyuruh petugas yang berada di sana untuk mengambil uang untuk membeli semua sumber daya itu. 

__ADS_1


Zero cukup puas dengan harga yang didapat dari semua sumber daya tersebut. Harga yang didapat menurutnya cukup untuk membuatnya bisa bersenang-senang selama seratus tahun. 


"Omong-omong dari mana sumber daya ini didapat?" tanya Austin setelah Zero memasukan semua uang hasil penjualannya itu ke dalam menu inventory-nya. 


"Kebetulan kau menanyakan itu." Zero tersenyum karena ingin membahas itu dengan Austin. 


"Semua sumber daya barusan berasal dari tempatku. Aku ingin mulai sekarang toko ini menjadi tempat di mana aku bisa menjual sumber daya ini." Zero menjelaskan keinginannya. 


"Maksudnya Tuan memiliki tambang sumber daya ini di tempat Tuan?" Austin melebarkan senyumannya saat menemukan peluang bisnis yang menguntungkan. 


"Benar, aku mempunyainya. Setiap bulannya tambang di tempatku bisa menghasilkan sumber daya yang begitu besar," jelas Zero terdengar seperti sedang memuji dirinya sendiri. 


"Kalau memang begitu, Tuan memang tidak salah pilih memilih tempat untuk menjualnya. Saya bersedia membeli berapapun sumber daya ini." Austin sangat senang bisa menemukan keuntungan yang sangat besar dari membeli sumber daya tersebut. 


"Bagus, nanti aku akan meminta orang-orangku untuk membawakannya setiap bulan ke sini," kata Zero. 


"Selain itu, aku ingin membicarakan hal lain denganmu. Ini juga masih ada kaitannya dengan bisnis jual-beli antara kau denganku." Zero kembali pada tujuan utamanya berada di situ. 


"Coba sebutkan apa itu?" 


Zero kemudian mengeluarkan sebuah peta dan melebarkannya di meja. Dia lalu menunjuk salah satu wilayah yang di dalam peta dan menjelaskan pada Austin kalau wilayah itu kini menjadi miliknya. 


Saat Austin bertanya bagaimana bisa Zero memiliki wilayah tersebut, Zero menjawab dengan cara yang sama seperti yang dia jelaskan pada pemimpin ras dwarf sebelumnya. 


Zero juga menambahkan kalau dia ingin membangun kerajaan di wilayah tersebut dan dia menginginkan toko milik Austin sebagai tempat untuk memasok penghasilan yang didapat dari kerajaannya. 


"Ini benar-benar sesuatu yang mengejutkan. Saya sangat beruntung jika Tuan mau menjadikan toko ini sebagai tempat untuk menjual semua yang bisa dihasilkan dari kerajaan Tuan," kata Austin yang tidak menyangka akan seberuntung ini. 


"Jadi kau setuju ingin menjalin bisnis dengan kerajaanku?" tanya Zero meyakinkan. 


"Tentu saja. Saya bersedia melakukannya. Saya bersedia membantu mendukung pembangunan kerajaan Tuan." Austin tampak sangat antusias. 


"Kalau begitu mohon kerja samanya."


"Mohon kerja samanya juga…"


Mereka saling berjabat tangan tanda sepakat bahwa mulai hari ini toko milik Austin dan kerajaan milik Zero akan saling bekerja sama. 

__ADS_1


Akhirnya Zero berhasil menyelesaikan salah satu tujuannya untuk menjalin hubungan dagang dengan pemilik toko terbesar di kerajaan itu. 


__ADS_2