Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sarang Perampok Bulan Merah II


__ADS_3

Zero bersama Gladius melangkah menuruni anak tangga setelah berhasil membuka pintu masuk menuju sarang persembunyian perampok Bulan Merah.


Di tengah langkahnya, Zero berhenti dan memberitahukan sesuatu pada Gladius, "Dengar, tujuan kita sekarang yang pertama yaitu mencari tahu keberadaan pemimpin perampok ini terlebih dahulu. Jika tidak dalam keadaan terdesak jangan dulu membunuh siapapun. Dan jika kau terpaksa membunuh usahakan jangan sampai mengeluarkan darah sedikitpun, mengerti?" Zero menjelaskan saran dan tujuannya pada Gladius.


"Baik, aku mengerti, Tuan." Gladius hanya bisa menurut meski ingin menanyakan banyak hal tentang penjelasannya itu.


Zero dan Gladius kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga yang cukup panjang dan menjorok ke bawah.


Awalan memasuki tempat itu, Zero dan Gladius melihat tempat itu memiliki nuansa yang gelap dan sempit. Sepanjang perjalanan tempat itu hanya diterangi oleh cahaya lilin yang ditaruh di setiap dinding.


Namun saat tiba di bawah, tepatnya setelah membuka pintu selanjutnya, mereka menemukan cahaya lampu yang menyilaukan yang membuat setiap tempat disitu terlihat dengan jelas. Tempat selanjutnya yang mereka pijaki pun ternyata sangat luas dan bersih. Terlihat ada banyak persimpangan lorong serta ruangan-ruangan di tempat itu dan juga banyak orang yang berlalu lalang di sana.


Tempat yang menjadi sarang perampok itu ternyata jauh dari apa yang Zero dan Gladius perkirakan. Zero pun sampai dibuat tercengang melihatnya.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan? Kemana kita akan melangkah sekarang?" tanya Gladius menyadarkan Zero.


"Kita bersikap saja seperti biasa. Jangan memperlihatkan sesuatu yang bisa membuat mereka curiga dan ikuti saja aku." Zero memberi arahan. Gladius mengangguk paham.


Zero dan Gladius kembali melanjutkan langkahnya menyusuri salah satu lorong tempat itu dan berbaur dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Mereka sama sekali tidak menyadari kalau kedua orang yang masih memakai pakaian tertutup itu ternyata adalah orang asing, lantaran ada beberapa diantara mereka yang masih memakai pakaian yang tertutup juga sehingga mereka berpikir Zero dan Gladius pasti merupakan salah satu bagian dari mereka.


Sepanjang jalan Zero dan Gladius menemukan banyak ruangan di tempat itu dari yang digunakan untuk beristirahat sampai untuk berlatih.


'Hebat juga mereka bisa membangun banyak fasilitas di ruang bawah tanah seperti ini…' Zero terkesan melihat tempat persembunyian mereka.


'Dan lagi... apa benar mereka perampok yang terkenal kejam itu. Kenapa mereka terlihat berbeda dengan yang disebutkan oleh orang-orang …' Zero merasa ada yang aneh dengan semua anggota perampok di tempat itu.


Pasalnya Zero tidak melihat kalau mereka seperti orang jahat. Dilihat dari cara mereka bergurau, tertawa dan bertegur sapa dengan yang lain, Zero lebih melihat mereka seperti orang baik-baik.


Gladius yang berjalan di sampingnya pun berpikiran sama. Ada yang aneh… begitu pikirnya.


'Sepertinya ada yang salah dengan informasi yang diberitahukan tentang mereka,' pikir Zero teringat dengan informasi yang didapat dari Clarise dan Lawrence.


Disaat pandangan Zero masih sibuk mengamati orang-orang di tempat itu, dia tak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa alat makan tepat ketika melangkah diantara dua persimpangan lorong, membuat alat makan yang dibawa olehnya terjatuh.


Prang!


Suara piring dan sendok yang terbuat dari aluminium itu memecah perhatian orang-orang di tempat itu dan segera mereka menjadi pusat perhatian.


'Sial, aku terlalu fokus mengamati tempat ini sampai tidak menyadari ada orang di depanku.' Zero mengumpat kesal dengan kecerobohannya.


Gladius di sampingnya juga terkejut dan merasa situasinya saat ini tidak baik. Dia bersiap mengangkat senjatanya kapanpun jika disuruh untuk menghabisi orang tersebut.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja." Zero menggaruk belakang kepalanya pura-pura bersalah.

__ADS_1


"Haduh… lain kali hati-hati, ya..." Orang itu mendecakkan lidahnya berulang kali sambil mengambil kembali alat makan yang terjatuh.


Syukurnya orang itu tidak terlalu ambil masalah dengan kejadian barusan. Zero dan Gladius merasa lega karenanya.


Zero dan Gladius membantunya dan setelah selesai mereka kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari tempat pemimpin perampok itu berada, meninggalkan mereka yang masih memperhatikannya.


Zero dan Gladius masih terus menyusuri lorong yang menurutnya adalah jalur menuju ke tempat pemimpin perampok itu. Zero tidak ingin menanyakan keberadaannya pada perampok disitu karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan.


Tempat persembunyian perampok itu mempunyai banyak persimpangan dan ruangan. Oleh karena itu butuh orang yang berpengalaman untuk menghafal semua tempat itu.


Berpikir jika jalan yang disusuri adalah jalan menuju tempat pemimpin perampok itu, ternyata Zero dan Gladius malah menyasar ke gudang yang tidak terkunci, dan saat melihat ke dalam, mereka menemukan di dalamnya berisi gunungan harta yang tak lain merupakan harta hasil curian.


"Hebat...banyak sekali..." Zero berdecak kagum.


"Aku salut mereka bisa mengumpulkan harta curian sebanyak ini." Gladius menggelengkan kepalanya terkesan.


"Hei, sedang apa kalian di sana?" Suara seseorang mengejutkan Zero dan Gladius.


Segera menutup pintu gudang itu, mereka berdua berbalik dan menemukan seorang pria bertubuh jangkung tengah menatap mereka dengan tatapan curiga.


'Sial...bagaimana ini... apa aku bunuh saja dia...' Zero berdecak kesal dalam hatinya dengan keadaan siap menghabisi orang itu jika tidak ada pilihan.


Pria jangkung itu menghampiri mereka, masih dengan raut curiga. Gladius di samping Zero selalu siap menghabisi siapapun jika Zero menyuruhnya.


"Sedang apa kalian disitu?" tanya nya.


"Kita ingin mencari tempat ketua tapi malah nyasar kesini..." Gladius bersikap santai di depan pria jangkung.


'Bodoh, kenapa dia menanyakan itu!' Zero melotot ke arah Gladius.


"Oh, kalian pasti orang baru ya disini." Pria jangkung itu sama sekali tidak berpikir kalau akan ada orang asing yang masuk ke tempatnya.


"Begitulah." Gladius mengangguk.


'Dia tidak curiga pada kita. Sepertinya dia terlalu percaya tidak akan ada orang yang menyusup di tempat ini. Baguslah kalau begitu,' batin Zero merasa beruntung.


"Omong-omong ada urusan apa kalian dengan ketua?" Namun kali ini pria jangkung itu menunjukkan kembali ekspresi curinganya.


"Kami ingin melaporkan sesuatu padanya." Gladius masih mencoba tetap santai.


"Kau bisa memberitahukannya padaku, biar aku saja yang menyampaikannya," balas pria jangkung itu.


"Tidak, ini informasi penting. Kita disuruh memberitahukannya langsung pada ketua." Zero ikut ambil tindakan.


"Hmm...Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian." Pria jangkung itu mempercayai kedua orang itu.

__ADS_1


Zero bersama Gladius dibawa oleh pria jangkung ke tempat pemimpin mereka berada.


"Kalian orang baru kan disini? Apa tujuan kalian bergabung dengan kelompok ini?" tanya Pria jangkung selagi menuntun Zero dan Gladius ke tempat pemimpinnya berada.


Zero dan Gladius diam karena tidak mempunyai jawaban yang bagus untuk menjawab pertanyaan pria jangkung itu.


"Kalau kalian tidak bisa memberitahukannya tidak apa-apa. Yang pasti semua orang yang ada disini mempunyai alasannya masing-masing mengapa ingin bergabung dengan kelompok ini," kata Pria jangkung itu memaklumi.


Dia pun menjelaskan alasan dirinya bergabung dengan kelompok tersebut, "Aku mempunyai seorang anak dan istri di desa terpencil yang terletak di pelosok kerajaan Balviar. Desa tempat tinggalku sangatlah miskin, oleh karena itu untuk membantu memenuhi kebutuhan semua orang di desa, aku bersama rekan-rekanku memutuskan untuk bergabung dengan kelompok ini," jelas pria jangkung itu.


Zero dan Gladius cukup tertarik mendengar cerita pria jangkung itu. Menurutnya kelompok ini ternyata tidak seperti yang orang-orang katakan.


"Aku mendengar dari rumor yang beredar katanya kelompok ini terkenal sangat kejam dan tidak kenal belas kasihan ketika melancarkan aksinya." Zero berkomentar.


"Hahaha, kau orang baru sepertinya hanya mengenal informasi tentang itu saja ya dari kelompok ini. Rumor itu seharusnya sudah tidak asing lagi bagi kita." Pria jangkung itu menganggap pertanyaan Zero seperti orang yang baru masuk kelompok ini kemarin sore.


"Ya. Memang benar, untuk mendapatkan semua hasil curian mereka, kita sering melakukan aksi pembunuhan, tetapi kita hanya merenggut nyawa seseorang yang masuk dalam kategori saja. Kita diajarkan oleh ketua untuk tidak membunuh orang yang tidak bersalah jika tidak dalam keadaan terpaksa.


Kadang kelompok ini juga sering mendapatkan permintaan untuk menghabisi orang-orang seperti bangsawan atau konglomerat yang culas maupun orang-orang meresahkan yang lainnya. Uang yang diperoleh dari hasil pencurian dan sebagainya itu kadang kita bagikan ke orang-orang yang membutuhkan. Kita tidak menganggap diri kita ini sebagai orang jahat seperti yang sering dirumorkan oleh orang-orang, melainkan seorang ksatria. Ya...Meskipun cara yang kita lakukan ini berbeda." Pria jangkung menceritakan semua yang dia ketahui tentang kelompok ini.


"Oh, begitu…"


Zero menyimpulkan mereka berbuat seperti itu karena didasarkan untuk mengurangi kejahatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang bermartabat dan membantu orang-orang yang membutuhkan.


'Menarik…' Zero tertarik dengan orang seperti mereka.


"Kita bergabung dengan kelompok ini untuk membantu orang-orang di desa kita yang sedang sakit, oleh karena itu kita memerlukan uang untuk menyembuhkannya," kata Zero berbohong dengan tujuan agar pria jangkung ini tidak curiga padanya.


"Begitu, ya. Ku doakan semoga kalian bisa segera mendapatkan uang itu agar mereka cepat sembuh." Pria jangkung tersenyum ringan.


Beberapa waktu mereka menyusuri lorong dan persimpangan akhirnya mereka sampai di ruangan pemimpin kelompok Perampok Bulan Merah.


"Ketua ada yang mencarimu."


"Masuk."


Setelah dipersilahkan, Zero dan Gladius dibawa masuk oleh pria jangkung itu ke dalam ruangan pemimpinnya. Ruangannya yang luas tidak terlalu terang dan sebagian hanya diterangi oleh cahaya lilin.


"Mereka berdua anggota baru kita, ketua. Katanya mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu," jelas pria jangkung.


Zero dan Gladius melihat pemimpin kelompok itu sedang duduk di kursinya dengan posisi berbalik badan sembari melihat berkas-berkas di tangan kanannya, sementara tangan yang satunya sesekali menghisap rokok yang tersemat di jarinya.


Pemimpin kelompok itu memutar kursinya menunjukkan wajahnya pada Zero dan Gladius.


"Baik, kau boleh pergi."

__ADS_1


__ADS_2