
"Kita sudah sampai, Tuan." Pemilik kereta kuda itu menghentikan laju kudanya tak jauh di depan pintu masuk kota.
"Yey! Sampai!" Fluffy yang senang karena telah sampai langsung berdiri dari tempat duduknya. Sherria mengikuti.
Zero memejamkan matanya seiring dirinya berubah wujud menjadi seorang laki-laki dewasa kemudian mendekati Charla.
"Oi, Charla, bangun. Kita sudah sampai." Zero menepuk-nepuk pipi Charla agar membuatnya terbangun.
"Benarkah?" Charla langsung membuka matanya dan bangkit. Dia tampak kembali segar seperti semula seolah mabuk kendaraan tadi tidak pernah terjadi. Zero hanya menggeleng pelan melihat keanehan itu sebelum tidak ingin memikirkannya lagi.
"Sudah ayo kita turun," ajak Zero. Mereka semua pun turun dari kereta itu melalui pintu belakang.
Pemilik kereta kuda itu segera menghampiri mereka dan tercengang saat melihat penampilan Zero.
"Ini aku." Zero menyadarkan pria di depannya.
"Tuan?" Pria itu mengamati penampilan Zero dari atas sampai bawah memastikan.
"Ya." Zero dan yang lainnya mengangguk pelan.
"Sekarang kau boleh kembali bersama yang lainnya…" Zero mengeluarkan peta dari invetory-nya dan menyerahkannya pada pria itu.
"Kau langsung saja menuju titik ini." Zero memberi arahan.
"Baik, Tuan." Pria itu mengambil peta yang Zero berikan lalu berpamitan, kembali menaiki kudanya dan pergi dari hadapan mereka semua.
"Dah…"
"Hati-hati di jalan!"
"Terima kasih atas tumpangannya..."
Charla dan lainnya melambaikan tangan pada pemilik kereta kuda itu yang seiring waktu menjauh.
Zero menengadahkan sedikit kepalanya melihat langit sudah hampir malam sebelum pandangannya beralih ke ketiga gadis di sampingnya dan tertuju pada slime yang selalu berada di pelukan Fluffy.
"Flo, temanmu sepertinya akan membawa masalah jika dibawa masuk." Zero menyadari hal itu.
"Eh~ Benarkah? Kenapa memangnya?" Fluffy terdengar tidak suka.
"Cuit, cuit." Seakan mengerti apa yang Zero maksud, Rimuru segera berubah menjadi slime kecil dan bersembunyi di balik kerah baju Fluffy.
"Kau mengerti perkataanku ternyata. Bagus, bagus, kalau seperti ini kau boleh masuk..." Zero dan lainnya tersenyum melihat Rimuru yang juga tersenyum dari balik kerah baju Fluffy.
"Yosh, kalau begitu sekarang ayo kita masuk." Zero berbalik lalu melangkahkan kakinya berjalan memasuki kota Belius. Charla dan yang lainnya mengikutinya dari samping.
Dari luar gerbang masuknya saja sudah terlihat kemegahan dari kota itu. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Rob dan rekan-rekannya, kota Belius merupakan kota termegah kedua setelah ibukota Belserion di kerajaan Blue Diamond.
Terdapat banyak sekali pusat bisnis dan perdagangan di sana serta menjadi tempat salah satu asosiasi guild berdiri bagi mereka yang ingin bekerja atau mendaftarkan diri menjadi petualang.
"Wah...hebat…"
__ADS_1
"Indahnya…"
"Ramai sekali…"
Saat baru pertama kali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kota itu, semuanya terkesan saat disapa oleh pemandangan ramai orang-orang yang ada di dalamnya. Suasana sore menjelang malam membuat lampu-lampu di setiap tempat itu menyala dan menampilkan kesan yang indah.
Sepanjang jalan banyak sekali para pekerja yang menjajakan dagangannya di masing-masing tempat. Beraneka jajanan serta hiburan mereka tunjukkan pada orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu.
Semua yang ada di tempat itu bukan hanya manusia biasa saja, ras demi-human dan elf pun terlihat ada di sana, diantaranya ada yang membawa senjata di masing-masing bagian tubuhnya. Dalam sekali lihat saja seseorang sudah bisa menebak kalau mereka pasti seorang petualang. Tak lupa para prajurit dan bangsawan juga terlihat berkeliaran di situ.
"Apa kotanya seramai ini? Atau ada acara yang membuat tempat ini ramai sekali?" Zero melihat-lihat ke semua tempat yang ada di situ, tidak tahu apa yang membuat kota tersebut ramai sekali.
"Zero-sama, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Charla tanpa mengalihkan fokusnya pada setiap tempat yang ada di situ.
"Karena hari sudah hampir malam, kita cari penginapan saja dulu. Besok saja kita mendaftarkan diri menjadi petualangnya," jelas Zero.
"Oh, begitu, ya…" Charla masih tidak bisa mengalihkan pandangannya pada setiap jajanan yang ada di tempat itu.
"Tuan, Tuan, aku mau itu boleh?" Fluffy menunjuk-nunjuk ke salah satu jajanan yang dijual. Charla dan Sherria juga menginginkan jajanan yang Fluffy tunjuk.
Zero yang melihat keinginan mereka hanya menghela nafas, "Baik, baik, kalian semua bebas membeli apapun. Bersenang-senanglah sepuasnya."
"Benarkah?" Mereka tampak senang mendengarnya.
"Ya."
Zero lalu memberikan masing-masing satu koin emas untuk mereka bersenang-senang.
"Yatta! Terima kasih, Zero-sama!"
Zero merasa beruntung karena sebelumnya memutuskan mengambil separuh koin emas pembelian kepala desa itu mengingat sebelum berangkat dia tidak membawa uang sepeserpun.
Satu koin emas sendiri setara dengan seratus keping perak dan satu keping perak setara dengan seratus keping perunggu.
Zero yang tidak ingin langsung mencari tempat penginapan memutuskan menemani mereka sekalian ikut bersenang-senang. Semuanya tampak senang sekali menikmati jajanan dan hiburan yang disajikan di tempat itu.
Di tengah keasyikan mereka menikmati hiburan dan jajanan disana, seorang pria berambut putih yang tertarik dengan kehadiran Zero diam-diam mengamatinya dari kejauhan. Dia tersenyum, menampilkan sebelah gigi taringnya yang sedikit panjang dan membentuk senyuman yang sedikit erotis.
"Paman, apa kau tahu tempat penginapan di kota ini?" Zero bertanya ke salah satu pedagang.
"Oh, kalian pasti seorang pendatang, ya."
"Ya. Kami belum mengenal terlalu banyak tentang kota ini."
"Begitu, ya. Aku tahu dimana itu…" Pedagang itu dengan sukarela memberitahukan tempat penginapan terbaik di kota tersebut pada Zero.
Selesai bersenang-senang, Zero bersama yang lainnya menuju ke tempat penginapan yang pedagang tadi beritahukan.
Sepanjang jalan mereka masih terus disapa oleh hiburan dan jajanan yang menarik. Dari yang Zero dengar tidak ada acara khusus yang membuat kota tersebut ramai seperti itu. Kota tersebut memang selalu ramai seperti ini.
Dalam langkahnya menuju ke penginapan, Sherria mendadak berhenti melangkah saat menemukan beberapa orang budak tampak tengah disuruh-suruh mengangkut barang oleh majikannya. Hal itu mengingatkannya pada kenangan masa lalunya yang pahit.
__ADS_1
"Ada apa, Sherria?" Charla menoleh ke Sherria yang berhenti dan terlihat tengah memandangi sesuatu.
Zero ikut menoleh dan melihat ke arah pandangan Sherria tertuju. Dia kemudian menghampiri Sherria lalu menarik tangannya untuk kembali melangkah.
"Sudah, jangan pedulikan mereka," kata Zero pelan.
"Baik…" Sherria menurut.
Zero bersama yang lainnya kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat penginapan terbaik di kota tersebut.
Para petualang lain memperhatikan mereka yang tengah menuju ke penginapan itu dan bertanya-tanya siapa mereka, secara penginapan itu bukanlah penginapan yang bisa di tempati oleh orang-orang biasa.
Zero dan yang lainnya akhirnya menemukan penginapan terbaik yang pedagang tadi maksud. Dari yang Zero dengar penginapan itu memiliki empat lantai dengan masing-masing kamar yang bagus dan pemandian air panas yang memanjakan.
Saat masuk ke dalamnya mereka langsung disapa oleh senyum hangat dua perempuan cantik yang bekerja sebagai resepsionis di penginapan itu.
Zero menghampiri salah satu resepsionis untuk memesan kamar.
"Aku mau memesan dua kamar," kata Zero.
"Kenapa dua? Satu kamar saja cukup," sergah Charla namun Zero tidak memperdulikannya.
"Aku mau memesan dua kamar untuk semalam, berapa harganya?" tanya Zero kembali yang membuat Charla mendengus pelan.
"Lima puluh keping perak untuk setiap kamar per malamnya." Resepsionis memberitahukan harganya sambil tersenyum.
"Kalau sebulan?" tanya Zero yang sontak membuat resepsionis melebarkan sedikit matanya dan resepsionis lain di sampingnya berhenti mencatat.
Charla dan Sherria pun ikut melebarkan matanya mendengar Zero akan menjadikan penginapan yang mewah ini sebagai tempat tinggal.
Resepsionis yang melayani Zero sejenak mengamati penampilannya sebelum menjawab, "Kalau itu kami bisa memberi turunan harga menjadi empat ratus koin emas sebulan." Resepsionis berusaha menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Mahal sekali…" gumam Zero sambil mengamati ruang depan penginapan itu.
"Bagaimana?" tanya resepsionis memastikan.
"Baik, aku akan membayar untuk satu bulan." Zero menyerahkan empat ratus koin emas yang seketika membuat kedua resepsionis itu tersenyum lebar.
"Ini kuncinya. Aku akan mengantarkan kalian ke atas." Segera saja resepsionis menyerahkan kunci kamarnya dan membawa mereka ke lantai paling atas.
Zero dan lainnya yang berjalan ke lantai atas menarik perhatian mereka yang menginap di tempat itu. Kebanyakan yang menginap di tempat itu diantaranya para bangsawan dan petualang kelas tinggi.
"Siapa mereka?" Salah seorang yang menginap disitu bertanya pada rekannya, penasaran akan kehadiran Zero dan yang lainnya, mengingat mereka yang bisa menginap di penginapan itu seharusnya hanya orang-orang tertentu saja.
"Mereka pasti bukan orang biasa," jawab rekannya.
Zero menyadari tatapan mereka yang penasaran akan kehadirannya namun dia tidak terlalu memperdulikannya. Dia juga mendengar siulan seseorang yang seakan memberi maksud kode tertentu padanya namun dia masih tetap tidak ingin memperdulikannya.
Seorang pria berambut putih yang sejak tadi mengamati Zero ternyata menjadi salah satu orang yang menginap di penginapan itu. Entah kenapa dia menjadi semakin tertarik pada Zero yang tampak dari sudut visinya memancarkan aura yang begitu mengesankan.
Saat melirik ke bawah pandangan Zero sepersekian detik bertemu dengan pria berambut putih itu yang terlihat tengah bersandar di daun pintu dan tersenyum ramah menatapnya.
__ADS_1
"Ah…benar, sorot mata itu…." Senyuman pria berambut putih itu berubah menjadi sedikit erotis saat melihat sorot mata Zero begitu menarik perhatiannya.
"Ayah, akhirnya aku menemukannya..."