
Aura pembunuh yang Gladius perlihatkan merupakan bukti kalau dirinya adalah seorang assassins yang handal yang telah membunuh banyak orang.
Tidak hanya seorang assassins sebenarnya yang bisa mengeluarkan aura pembunuh, pengguna kemampuan lain pun bisa mengeluarkannya asalkan dirinya berhasil membunuh seratus orang.
Sebenarnya Zero juga memiliki aura pembunuh dalam dirinya, namun dia selama ini tidak pernah mengeluarkannya karena dia tidak ingin menunjukkan kalau dirinya adalah seorang yang haus darah apalagi ditunjukkan ketika berada di samping Charla dan yang lainnya.
Berbeda dengan aura sihir yang mampu menekan seseorang, aura pembunuh hanya mampu mengganggu konsentrasi dan mental lawan serta untuk menunjukkan seberapa kuat dan menakutkan pemiliknya. Dengan itu, aura pembunuh cukup menguntungkan ketika dipakai bertarung.
Ternyata bukan hanya Zero saja yang merasakannya, aura pembunuh yang Gladius keluarkan juga sampai terasa ke mereka yang sedang berlatih di tempat itu, termasuk Charla dan yang lainnya yang dibuat bergidik ngeri saat merasakan aura tersebut.
Mereka mengetahui sumber aura pembunuh itu namun tidak tahu siapa pemiliknya. Mereka hanya bisa berharap semoga Zero dan Gladius tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
Sementara mereka yang ada di lantai bawah semakin penasaran sekaligus takut dengan sosok yang ada diatasnya. Pertama energi sihir yang begitu besar sudah mengguncangkan mereka, dan sekarang aura pembunuh yang begitu pekat semakin membuat mereka terguncang. Seketika mereka menjadi takut berlama-lama di tempat itu dan bahkan sebagian dari mereka memutuskan keluar dari tempat itu segera.
"Kau mempunyai aura pembunuh sepekat ini. Berapa banyak nyawa yang telah kau ambil?" tanya Zero. Alih-alih takut dia malah terkesan merasakannya.
"Aku tidak bisa menghitungnya, Tuan. Sejak aku berusia tujuh tahun, aku sudah membunuh seratus orang lebih." Gladius berkata biasa-biasa saja tanpa ada perasaan apapun.
Dulu saat pertama kali dia membunuh pun dia sama sekali tidak merasakan penyesalan ataupun rasa takut seolah membunuh sudah mendarah daging sejak dirinya lahir. Begitu pun dengan ketiga orang kakaknya. Dulu mereka merupakan mesin pembunuh yang paling disegani di kelompok pembunuh bayaran.
Zero mendecakkan lidahnya berulang kali sambil menggeleng pelan, "Kau mampu membunuh seratus orang lebih saat usiamu masih tujuh tahun? Mengesankan...Pantas saja kau bisa mendapatkan aura pembunuh sepekat ini. Kau memang patut untuk diwaspadai, Gladius…" Zero membuang nafas di ujung kalimatnya. Kewaspadaannya pada Gladius tidak boleh dilemahkan menurutnya.
"Tapi jangan pikir aura pembunuhmu ini bisa mempengaruhiku." Zero tersenyum tipis dengan satu sudut bibir meninggi, "Apa kau ingin mengetahui seberapa besar aura pembunuhku?" Senyuman Zero sedikit melebar.
"Aku ingin mengetahuinya, Tuan." Gladius tersenyum penuh antusias, berpikir Zero pasti mempunyai aura pembunuh yang sama pekat seperti darinya.
Zero mengeluarkan aura pembunuhnya selama sepersekian detik karena tidak ingin membuat orang-orang di tempat ini semakin terganggu.
__ADS_1
Gladius sesaat bisa merasakan aura pembunuh milik Zero lumayan besar namun itu masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan miliknya. Senyuman antusiasnya pun memudar saat mengetahuinya.
"Kenapa? Kau pasti kecewa karena aku tidak memiliki aura pembunuh sebesar dirimu, kan?" tanya Zero menyadari ekspresi Gladius.
"Tidak, Tuan. Aura pembunuh Tuan cukup untuk membuat orang-orang ketakutan," puji Gladius.
"Begitu menurutmu…" Zero mendengus pelan sambil tersenyum lalu menarik kembali aura sihir miliknya, "Aku sudah menarik aura sihirku kembali. Sekarang giliranmu, tarik kembali aura pembunuhmu itu. Aku tidak ingin mereka terganggu oleh aura pembunuhmu dan berakhir kita tidak diizinkan lagi berlatih di tempat ini," titah Zero.
"Baik, kalau itu mau, Tuan. Maaf jika aura pembunuhku telah membuat sesuatu yang bisa merugikan, Tuan. " Gladius bersikap hormat lalu menarik aura pembunuhnya kembali.
"Lebih baik kita bertarung tanpa menggunakan aura." Zero mengangkat senjatanya, bersiap memulai kembali pertarungan yang sempat tertunda kemudian melesat dengan pedang terhunus ke arah Gladius.
Gladius menangkis ayunan pedang milik Zero dengan rantai yang melilit pergelangan tangannya yang terbukti cukup kuat untuk menahan serangan yang Zero arahkan.
Selain bertahan, Gladius juga mulai menyerang balik menggunakan rantainya yang diayunkan di sekelilingnya dengan cepat, membuat Zero bergerak mundur dan tidak berani menyerang terlalu dekat.
"Aku ingin menanyakan satu hal. Bagaimana cara kau mengumpulkan aura pembunuh sebesar itu? Apa kau membunuh orang setiap hari?" tanya Zero penasaran selagi menyerang Gladius dengan cara mengayunkan pedang yang terlilit rantainya.
"Asal kau tahu saja, aku mendapatkan semua aura pembunuh ini hanya dalam satu waktu, " jelas Zero sambil mempercepat ayunan pedangnya.
Gladius memuji Zero dan terkesan mendengar pernyataannya. Dia pun bertanya siapa yang Zero bantai untuk mendapatkan semua aura pembunuh itu.
Zero menjawab dirinya berhasil mendapatkan semua aura pembunuh itu hanya dari membunuh beberapa ribu orang yang saat itu sedang berperang.
Gladius terkejut mendengarnya namun dia segera menyadari sesuatu.
"Oh, ternyata Tuan yang sudah mengacaukan perang antara dua kubu kerajaan waktu itu." Gladius menyadarinya karena rumor itu sudah tidak asing lagi. Dia juga dulu sempat penasaran dengan sosok tersebut.
__ADS_1
Sejak kali pertama melihat Zero dalam wujud seorang bocah, Gladius sudah menduga kalau Zero adalah bocah yang dimaksud itu.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" Zero cukup terkejut. Dia berhenti melontarkan serangan pada Gladius.
"Rumor tentangmu sudah menyebar luas, Tuan. Venom, itu nama yang disebutkan tentang bocah bertopeng yang telah mengacaukan perang dan membantai mereka semua sendirian. Dulu nama itu ramai sekali diperbincangkan oleh orang-orang. Namun beberapa bulan belakangan ini nama itu sudah tidak lagi terdengar. Mereka menganggap semua itu mungkin hanya lelucon belaka. Tapi aksi Tuan beberapa minggu kemarin saat menolong seorang wanita di tempat yang sepi itu membuat rumor itu kembali meruak. Sebagian ksatria suci yang bertugas di ibukota kerajaan bahkan sampai dikirim ke kota ini untuk mencarimu, Tuan," jelas Gladius.
"Begitu, ya. Pantas saja aku merasa seperti banyak sekali ksatria suci di kota ini..." gumam Zero menyadarinya.
Zero terkekeh, "Jadi nama itu sudah menyebar luas, ya. Kalau begitu aku perlu membuat nama itu semakin dikenal oleh semua orang terutama bagi orang-orang busuk di dunia ini. Aku akan menanamkan rasa takut pada mereka melalui nama itu." Zero menyeringai kemudian mengangkat pedangnya kembali menyerang Gladius.
"Aku tidak sabar ingin menyaksikan aksi Tuan selanjutnya. Kalau perlu aku akan membantu Tuan menyebarluaskan nama itu biar semua orang tahu tentang kehebatan, Tuan." Gladius menjadi bersemangat saat mendengar tujuan Zero.
"Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?" tanya Gladius tanpa mengurangi tempo bertahannya, menahan setiap serangan yang Zero arahkan.
"Setelah melatih mereka, aku akan pergi ke ibukota kerajaan," jawab Zero.
"Kalau boleh tahu untuk apa Tuan pergi kesana?"
"Aku ingin bertemu dengan ras Dwarf. Aku ingin mengajak mereka untuk bergabung di kerajaanku," jelas Zero yang dimengerti oleh Gladius.
"Tuan, aku akan memperingatkan satu hal padamu, Ibukota kerajaan merupakan tempat yang mengerikan," Suara Gladius terdengar serius, "Keputusan Tuan melatih mereka terlebih dahulu sudah benar. Tuan kelak akan bertemu dengan orang-orang yang berbahaya disana."
"Aku sudah memperhitungkan hal itu. Selanjutnya aku akan membutuhkan lebih banyak bantuanmu."
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai bawahanmu."
Selagi bercakap mereka saling bertukar serangan sebelum keduanya serempak bergerak mundur.
__ADS_1
"Sudah cukup basa-basinya. Sekarang berfokuslah pada pertarungan ini." Zero mulai meningkatkan keseriusan bertarungnya.
Gladius menuruti kemauan Zero dengan mulai masuk ke dalam mode seriusnya juga.