
Zero selalu waspada dengan orang seperti Gladius mengingat di kehidupan pertamanya dia sering bertemu dengan orang-orang sepertinya baik yang berniat mencelakainya maupun ingin memanfaatkannya.
Untuk itu di kehidupan keduanya ini dia tidak ingin hal itu terulang kembali, karena sekarang dia bukan lagi Akira yang naif seperti dulu, tetapi Zero, sosok yang akan menghancurkan siapapun yang berani mengganggu dirinya dan orang-orang terdekatnya.
'Aku tidak tahu apakah dia ingin memanfaatkanku atau tidak. Tapi jikapun iya, sebelum dia bisa memanfaatkanku, aku akan memanfaatkannya terlebih dahulu,' pikir Zero tertarik akan potensi Gladius yang sangat berguna baginya.
Beberapa langkah jalan menyusuri lorong kota, Zero dan Gladius akhirnya sampai di tempat yang dituju lebih cepat.
"Besar sekali… inikah rumahnya?" Zero dan Gladius terkesan melihat rumah bangsawan kaya raya itu besar sekali dan juga halamannya sangat luas.
Di depan gerbang terdapat dua orang penjaga yang menjaga rumah itu. Sambil membawa tombak di tangannya, mereka menghampiri Zero dan Gladius saat melihat kedatangan mereka berdua.
"Ada apa kalian datang ke sini?" tanya salah satu penjaga terlihat waspada karena tidak mengenali kedua pria di hadapannya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini? Apa dia ada di dalam?" Zero mencoba bersikap ramah.
"Alasannya?"
"Aku mendengar dari pemilik toko Luar Biasa di kota ini, katanya dia sedang mencari obat untuk menyembuhkan putrinya. Untuk itu aku datang kesini," jelas Zero.
"Apa kalian sungguh mempunyainya?" Raut kedua penjaga itu sedikit berubah mendengar penjelasan Zero.
"Tentu…" Zero merogoh kantong ajaibnya dan menunjukkan obat yang dimaksud pada mereka,"Ini dia…"
Kedua penjaga itu saling berpandangan dengan senyuman kemudian mengangguk.
"Baik, kalian tunggu dulu di sini. Aku akan memberitahukan kedatangan kalian."
Salah satu penjaga membuka gerbang dan segera masuk untuk memberitahukan kabar baik pada pemilik rumah tersebut.
Setelah diizinkan, Zero dan Gladius dibawa masuk oleh mereka ke dalam rumah besar milik Edward—bangsawan kaya raya itu.
"Apa kalian sungguh mempunyai obat seperti itu?" tanya Edward segera tanpa perkenalan terlebih dahulu saat Zero dan Gladius baru melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Sebelum itu apa anda mampu membayarnya?" Zero dan Gladius menunjukkan senyum ramah.
"Aku akan membayarnya berapapun itu," tegas Edward berkata sungguh-sungguh. Dia tidak peduli dengan harga asalkan putrinya bisa kembali seperti semula dia akan membayarnya.
'Dia ayah yang baik rupanya... Aku bisa meminta berapapun, ya…' Zero tersenyum licik di sisi yang tidak bisa orang lain lihat.
"Ini dia…" Zero menunjukkan sebotol cairan emas pada Edward kemudian menjelaskan, "Cairan ini terbuat dari saripati Daun Suci Para Dewa yang mempunyai khasiat menyembuhkan segala jenis kutukan dan penyakit dan juga mampu membuat orang yang buta, tuli maupun lumpuh kembali seperti semula," jelasnya.
Pria berusia empat puluh tahunan itu melebarkan kedua matanya saat mendengar Daun Suci Para Dewa karena sebelumnya dia sudah menyuruh orang lain untuk mendapatkannya di puncak gunung kematian, tetapi tidak ada satupun yang berani melakukannya dengan alasan bahayanya terlalu besar.
"Aku mengenal daun itu. Apa sungguh itu terbuat dari Daun Suci Para Dewa?" tanya Edward penuh harap semoga itu benar.
"Tentu…" Zero mengambil daun emas itu untuk membuktikannya pada Edward,"Ini dia buktinya…"
__ADS_1
Edward merasa senang sekali melihatnya karena akhirnya harapannya selama ini untuk menyembuhkan putrinya terkabulkan.
Segera saja Edward membawa Zero dan Gladius ke kamar putrinya.
Setibanya disana, Zero dan Gladius terpana melihat kondisi kamar putrinya Edward begitu berantakan, diantaranya banyak benda-benda yang pecah serta bantal dan selimut kasur yang berserakan.
Selain itu kondisi putri Edward juga tampak sedang tidak baik. Terlepas dari balik penampilannya yang cantik namun dengan kondisinya sekarang dia hampir seperti orang yang tidak pernah diurus. Rambut birunya acak-acakan, matanya kuyu dan tubuhnya kurus kering.
Putrinya kini tengah bersandar lesu di ujung ranjang kasur dengan mata kosong.
Edward menjelaskan pada Zero dan Gladius apa yang terjadi di depannya sekarang disebabkan karena putrinya sangat frustasi dengan kondisinya saat ini.
Kondisinya menjadi seperti ini karena satu bulan yang lalu dia mengalami kecelakaan dimana kereta kuda yang membawanya saat itu terjatuh ke jurang. Hanya dia saja yang selamat saat itu. Namun meskipun nyawanya selamat, karena kecelakaan itu dirinya kini menjadi lumpuh dan tidak bisa melihat.
"Papa…" Putri Edward menegakkan tubuhnya saat tersadar oleh papanya.
"Iya. Ini papa, Eleine." Edward mendekati anaknya kemudian duduk di sampingnya.
"Oh…ada apa kesini?" Suara Eleine terdengar lesu.
Edward tersenyum memeluk anaknya lalu berkata,"Papa sudah menemukannya. Papa sudah menemukan cara untuk membuatmu kembali seperti semula."
"Papa bohong lagi, kan?" Eleine sudah bosan mendengar kalimat itu.
Edward melepas pelukannya dan menjawab, "Tidak, kali ini papa sungguh. Ada seseorang yang menemui papa dan membawa obat yang bisa memulihkanmu seperti semula. Dengan meminum obat itu kau bisa melihat dan berjalan lagi sekarang," ujarnya.
Edward menyuruh Zero dan Gladius yang masih berdiri di depan pintu untuk mendekat.
"Perkenalkan namaku Zero dan di sampingku Gladius. Aku membawakan obat Daun Suci Para Dewa yang bisa menyembuhkanmu," kata Zero memperkenalkan diri dan tujuannya.
Brak!
Tepat setelah Zero selesai memperkenalkan diri, seorang pria yang Zero kenali membanting pintu memasuki kamar dan mengejutkan mereka semua.
'Mengejutkan saja… ada apa dia kesini?' Zero menolehkan sedikit wajahnya melihat pria itu yang seperti buru-buru datang ke tempat ini.
"Lawrence…" Edward tentu mengenali siapa pria itu karena dia adalah kekasih putrinya.
"Lawrence?" Eleine bereaksi mendengar nama kekasihnya.
"Ayah, apa benar ada obat yang bisa menyembuhkan, Eleine?" Lawrence bertanya menggebu-gebu pada Edward sambil menghampirinya.
Setelah mendapatkan kabar dari salah satu penjaga yang mengatakan bahwa ada seseorang yang membawa obat untuk menyembuhkan kekasihnya, Lawrence buru-buru datang menghampirinya untuk membuktikan.
"Benar, dia mempunyainya." Edward menunjuk Zero dengan senyuman merekah.
Saat menoleh ke samping, Lawrence baru menyadari siapa sosok pria yang membawa obat itu.
__ADS_1
"Kau… kalau tidak salah yang waktu itu, kan?" Lawrence menunjuk sosok yang dia kenali. Dia juga mengenali siapa pria yang tersenyum ramah di sampingnya.
"Ya." Zero tersenyum tipis.
"Obat seperti apa yang dimaksud bisa menyembuhkan kekasihku?" tanya Lawrence dengan sinar mata penuh harap.
"Ini…" Zero menunjukkan botol berisi cairan emas di tangannya lalu menjelaskan cairan apa itu.
"Kau mendapatkannya dari mana?" Lawrence menunjuk obat itu penuh keterkejutan, pasalnya bahan dari obat itu sangat sulit didapatkan.
"Menurutmu?" Zero menaikkan sedikit alisnya sambil tersenyum tipis.
"Di puncak gunung kematian?" Lawrence sulit percaya jika benar itu di didapatkan di gunung itu.
"Ya. Aku mendapatkannya di sana." Zero menjawab datar.
"Bagaimana caranya?" Lawrence tidak percaya jika Zero mampu mencapai puncak gunung itu, secara dia sendiri dan rekan-rekannya saja sudah beberapa kali gagal melakukannya.
"Sudah lupakan dan jangan banyak tanya lagi jika kau ingin dia sembuh." Zero berdecak sambil menggaruk kepalanya risi, tidak ingin membahas itu lebih jauh.
"Baik. Kalau begitu tolong sembuhkan kekasihku." Lawrence menurut. Yang terpenting sekarang baginya yaitu kekasihnya bisa kembali lagi seperti semula.
"Tolong sembuhkan putriku.." Edward berdiri dan memberi ruang untuk Zero meminumkan obat itu pada putrinya.
Zero mendekati Eleine lebih dekat lagi lalu mencondongkan tubuhnya untuk meminumkan obat itu pada mulut Eleine.
Eleine membuka mulutnya dan bersiap meminum obat itu. Edward dan Lawrence tersenyum, senang karena akhirnya Eleine bisa kembali lagi seperti semula dan tidak lagi melihatnya menderita.
Namun sebelum Zero menuangkan obat itu ke mulut Eleine, dia menegakkan tubuhnya kembali.
"Eit, sebelum itu aku ingin menanyakan bayaran yang aku dapatkan dari obat ini terlebih dahulu." Zero tersenyum menatap mereka berdua.
Sedangkan senyuman Edward dan Lawrence seketika menghilang.
"Berapa yang kau inginkan?" tanya Edward langsung pada intinya.
"Hmm…" Zero mengelus dagunya dengan pandangan ke atas berpikir.
'Tua bangka itu bilang aku bisa mendapatkan lima sampai sepuluh juta koin emas, ya…' Zero teringat perkataan Gildart sebelumnya.
'Bodoh, itu terlalu sedikit.'
Zero lalu mengalihkan pandangannya kembali pada mereka berdua dan memutuskan harga terbaik untuk obat itu.
"Baik, aku ingin anda membayar seratus juta koin emas untuk obat ini." Zero tersenyum lebar.
"Bagaimana?"
__ADS_1