Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Ingin Terlihat Berguna


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" Zero bertanya dengan intonasi tak suka sambil menegakkan tubuhnya saat menyaksikan dengan jelas barusan Sherria sedang mencoba mencumbuinya.


"M-Maaf...aku hanya mencoba menuruti permintaanmu saja, Zero-sama," lirih Sherria membela diri.


"Permintaanku…" Zero saat itu juga langsung teringat kalau dia sebelumnya sempat menyuruh Sherria untuk menghiburnya.


"Kau salah mengartikan arti dari permintaanku." Zero menggaruk belakang kepalanya merasa bersalah karena telah memberi perintah seperti itu pada orang seperti Sherria. Apalagi dia sampai reflek menamparnya barusan.


"Dan juga kenapa kau berpikir aku menginginkan hal yang seperti itu? Jangan pernah menganggapku sama dengan orang-orang yang sebelumnya pernah melukaimu." Zero tidak menyangka Sherria akan berpikiran kalau dirinya mempunyai keinginan yang sama dengan mereka.


"M-Maaf Zero-sama. Aku tidak tahu." Sherria bersujud meminta maaf. Dia merasa bodoh karena telah salah mengambil tindakan.


Zero menghela nafas kemudian bangkit mendekati Sherria. Saat berada di depannya, Zero memegangi bahu Sherria lalu mengangkatnya untuk membuat tubuhnya tegap.


"Zero-sama…" Sherria melihat Zero dari jarak dekat. Zero terlihat tengah menatapnya sayu sambil memegangi kedua pipinya dan mengelus pipi bekas tamparannya tadi.


Sejurus kemudian Sherria terkejut saat menyaksikan Zero tiba-tiba menempelkan bibirnya tepat di bibir miliknya, membuat pipinya memerah dan matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya.


Namun yang terjadi berikutnya rasa terkejut itu perlahan hilang digantikan oleh rasa nyaman seiring dengan perasaan bersalah yang menyelimuti tubuhnya sirna saat merasakan ciuman penuh arti dari Zero yang baru pertama kali ini dia rasakan.


Baru pertama kali ini Sherria merasakan rasa senyaman ini saat berciuman mengingat biasanya majikannya selalu melakukannya secara kasar. Bibir Zero yang kecil memberikan sentuhan yang menggelitik pada bibirnya yang lembut. Lidah Zero yang bermain di dalamnya seakan membawanya untuk ikut berdansa dalam irama permainannya.


Ciuman sebagai tanda bersalah yang Zero berikan padanya terjadi selama beberapa detik namun hal itu sangat berkesan baginya. Rasanya sangat berbeda ketika tadi dia mencoba melakukannya sendiri.


Zero melepas ciumannya lalu menatap Sherria dengan tatapan bersalah.


"Maaf Sherria, aku yang salah. Seharusnya aku tidak memberimu perintah seperti itu." katanya terdengar lembut.


"Tidak Zero-sama, aku yang salah. Aku tidak berpikir terlebih dahulu sebelum melakukannya tadi." Sherria menundukkan wajahnya bersalah.


Zero mengangkat wajah Sherria lalu memegangi bekas tamparannya tadi, "Apa terasa sakit? Apa perlu aku obati?" tanya nya.


"Ti-tidak apa-apa. Tidak perlu, Zero-sama." Sherria menolak sambil mengangkat kedua tangannya.


"Kau boleh menamparku jika kau marah," kata Zero sambil menyentuh pipinya.


"Ti-tidak, aku tidak marah." Sherria menggeleng keras.


Zero tersenyum tipis melihat sifat Sherria yang seperti ini. Dia bisa melihat dari balik wajah polos Sherria terdapat sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Kau melakukan itu karena ingin terlihat berguna bukan?"Zero langsung menebaknya.


"I-iya..." Sherria mengangguk pelan membenarkan.


"Kau mirip seperti kakakmu." Zero tersenyum sambil mengusap rambut Sherria sejenak kemudian berjalan ke belakang.


"Baiklah kalau kau menginginkannya..." Zero melambaikan tangan yang tersemat cincin sebelum perlahan seberkas cahaya berkumpul dan sesosok naga putih tiba-tiba keluar dari cincin itu.


"Squekk…"


Menyaksikan hal itu, Sherria terkejut. Dia langsung membangkitkan dirinya. Menyadari kalau apa yang dia saksikan di depannya sekarang ternyata memang benar adalah naga, Sherria terpana tanpa bisa berkata apa-apa.


"Flo, berubahlah…" Zero memberi perintah pada naga putih itu. Fluffy dengan patuh menurut dan berubah bentuk ke wujud manusia.


"Uppa!" Fluffy langsung memeluk Zero saat itu juga. Disisi lain Sherria tercengang menyaksikan naga sebesar itu ternyata hanyalah seorang gadis kecil yang hampir sepantaran dengan Zero.


"Bagaimana keadaanmu disana, Flo? Apa kau sudah makan dengan teratur?" tanya Zero. Fluffy kemudian menjawab dengan bahasa yang sulit dimengerti.

__ADS_1


Berbicara tentang makanan Fluffy, sebelumnya Zero sudah memasukkan beberapa kilo sayuran ke dalam cincin itu.


"Kau bisa melihatnya kan, Sherria. Dia masih belum mahir berbicara. Jadi bisa tolong kau mengajarkannya." Zero menyadarkan lamunan Sherria yang masih tertegun menatap gadis kecil itu.


"Ah iya, baik, Zero-sama." Sherria dengan segera menurut. Dia merasa senang karena akhirnya bisa melakukan sesuatu untuk Zero.


"Flo, kau belajarlah dulu bersamanya." Zero melepas pelukan Fluffy lalu menunjuk Sherria.


Fluffy berbalik, menatap Sherria dengan tatapan kebingungan sambil memiringkan sedikit wajahnya ke samping.


"Hallo…" Sherria melambaikan satu tangannya sambil tersenyum canggung menatap Fluffy.


"Namanya Fluffy, kau bisa memanggilnya Flo." Zero memberitahukan nama gadis kecil itu.


"Hallo, Flo..." Sherria mencoba tersenyum ramah.


Fluffy menoleh ke Zero lalu bertanya dengan logatnya, "Tuan, dia siapa?"


Meski pelafalannya tidak terlalu jelas tapi Zero mengerti apa yang ingin disampaikan Fluffy.


"Dia temanku, namanya Sherria." Zero memperkenal Sherria.


"Teman?" Fluffy bereaksi pada istilah itu


"Ya, teman." Zero tersenyum melihat wajah polos Fluffy.


Fluffy memandangi Sherria kembali sebelum berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.


"Uppa! Teman!"


"Kau ajari dia dari yang termudah dulu." Zero memberi arahan selagi kembali bersandar di pohon.


"Baik, Zero-sama." Tanpa ingin banyak tanya, Sherria menerima arahan Zero.


"Jadi namamu Fluffy." Sherria melihat Fluffy yang masih dalam pelukannya.


"Iya." Fluffy terlihat senang mendapatkan teman baru.


Sherria melepas pelukannya kemudian memegang bahu Fluffy sambil berjongkok, "Apa aku boleh memanggilmu Flo?" tanya nya.


"Boleh." Fluffy mengangguk.


"Kalau begitu kau boleh memanggilku Sherria."


"Sherria?" Fluffy tidak bisa melafalkan kata itu.


"Ya, Sher-ri-a." Sherria membenarkan.


"Sher...ria."


"Ya, itu. Salam kenal, ya."


"Emm!" Fluffy mengangguk mantap.


Sherria merasa cocok dengan tugas yang Zero berikan padanya ini. Zero pun berpikiran sama. Dia bisa melihat betapa senangnya Sherria mengajarkan kata demi kata pada Fluffy meskipun butuh usaha bagi Fluffy melafalkannya dengan benar. Dari kejauhan diam-diam Zero tersenyum melihat mereka berdua.


Sore hari akhirnya padam. Malam pun tiba. Zero mengeluarkan api unggun sebagai penerang. Dan membelikan mereka cemilan untuk menemani waktu belajar mengajar mereka.

__ADS_1


Sherria terlihat masih asik mengajari Fluffy berbagai kata biarpun membutuhkan beberapa kali usaha. Hubungan keakraban diantara mereka mulai terjalin. Seiring waktu Fluffy merasa nyaman saat di samping Sherria, begitupun sebaliknya.


Di samping lain, Zero terus mengamati mereka sepanjang waktu selagi melihat-lihat kembali semua yang ada di sistemnya untuk mencari tahu berbagai hal tentang dunia yang baru sehari ini dia pijaki.


Malam pun semakin larut. Zero akhirnya menyuruh mereka berhenti untuk beristirahat. Dia mengembalikan Fluffy ke tempat asalnya dan menyuruhnya untuk beristirahat di sana.


Zero mengeluarkan sebuah tenda dengan ukuran cukup besar beserta seperangkat alat tidurnya.


"Aku tidur di luar saja." Sherria melangkah pergi berniat mencari tempat tidur untuk dirinya sendiri. Dia tidak enak hati jika harus tidur bersama Zero.


Tapi sebelum Sherria pergi, Zero sudah lebih dulu memegang tangan Sherria dan menghentikan langkahnya, "Tidak boleh. Kau akan tidur denganku." titahnya.


"Tapi…" Sherria merasa ragu.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun pada tubuhmu." Zero menjawab keraguannya.


"Kalau Zero-sama menginginkannya... tidak apa-apa..." lirih Sherria malu-malu.


"Tidak. Suatu saat tubuhmu akan menjadi milik orang yang kau cintai. Aku tidak akan menyentuhnya." Zero tersenyum ringan, "Lagian seharusnya kau sadar, aku masih seorang anak kecil," lanjutnya sambil terkekeh pelan.


"Tidak mungkin, sejak pertama kali melihat Zero-sama, Zero-sama terlihat jauh lebih dewasa dari yang terlihat," ujar Sherria tidak percaya. Di sisi lain hatinya merasa tersentuh mendengar perkataan Zero sebelumnya.


"Ya... Meski begitu tetap saja tubuhku masih terlihat seperti anak-anak." Zero menggaruk belakang kepalanya.


"Sudah jangan tolak permintaanku." Zero menarik tangan Sherria dan membawanya masuk ke dalam tenda itu. Sherria yang tidak bisa menolak lagi akhirnya menurut.


Di dalam tenda mereka tidur berselimutkan kasur bersama dengan posisi saling menghadap langit . Tidak ada percakapan selama beberapa waktu sebelum Zero lebih dulu memecah keheningan.


"Dulu aku pernah tidur seperti ini bersama kakakmu..."


Menunggu rasa kantuk datang, Zero menceritakan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan saat dirinya bersama Charla pada Sherria. Sherria yang mendengarkan bisa melihat seberapa berharganya sosok kakaknya di mata Zero. Dia menaruh sedikit harap, berharap Zero juga bisa memberikan perasaan yang sama dengannya.


"Aku harap kau bisa segera mengingatnya…" Zero menutup akhir cerita sebelum sesudah itu mereka berdua mulai memejamkan mata dan masuk ke dalam dunia mimpinya masing-masing.


Saat sedang larut dalam tidurnya, Zero seketika terbangun saat mendengarkan Sherria yang tertidur di sampingnya sedang menggumamkan sesuatu tentang kakaknya.


"Nee-san...Nee-san...Nee-san..." Sherria terus menggumamkan istilah Nee-san yang berarti kakak saat masih dalam kondisi tertidur.


Di dalam mimpinya dia melihat suatu kejadian masa lalunya saat dimana desanya dijarah oleh sekelompok orang yang menyebabkan dirinya berakhir seperti sekarang.


Dari mimpi itu ada satu kejadian yang membuatnya terus menggumamkan istilah Nee-san, yaitu ketika dimana saat itu kakaknya mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkannya dari kejaran orang-orang yang tengah mengejarnya, dan saat itu Sherria menyaksikan dengan jelas kakaknya tewas tertusuk setelah dirinya mencoba menahan orang-orang yang mengejar Sherria, tepat setelah itu dirinya pun tertangkap oleh mereka .


"Nee-san! Nee-san! Jangan tinggalkan aku!" Suara Sherria semakin kencang, membuat Zero langsung bangkit dari posisinya dan mencoba menyadarkan Sherria


"Sherria, sadarlah. Apa yang kau lihat?" Zero terus menggoyang-goyangkan tubuh Sherria untuk membuatnya sadar namun Sherria tidak sadar juga.


"Nee-san! Nee-san! Nee-san! " Sherria meronta dari posisi tidurnya selagi terus menyebutkan istilah itu sebelum sesaat kemudian dia pun tersadar dan langsung bangkit dari posisinya


"NEE-SAN!" teriaknya saat bangkit. Nafas Sherria memburu, keringat bercucuran di seluruh tubuhnya yang bergetar.


"Sherria kau tidak apa-apa? Apa yang kau lihat?" Zero memastikan kondisi Sherria.


Sherria menoleh, menatap Zero lalu menangis, "Aku mengingatnya. Aku mengingatnya..." lirihnya mulai terisak.


"Apa yang kau ingat, coba katakan..." Zero membawa kepala Sherria dalam pelukannya.


"Nee-san...Nee-san sudah tiada..."

__ADS_1


__ADS_2