Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Terakhir


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Baik-baik sudah cukup…" Akira melepaskan diri dari pelukan Fluffy lalu memberinya perintah.


"Berubahlah ke bentuk aslimu…"


Fluffy mengikuti perintah Akira. Setelah memejamkan mata, tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan sebelum akhirnya dia kembali lagi ke bentuk seekor naga putih.


"Squekk!" Fluffy membentangkan sayapnya lebar-lebar.


Melihat Fluffy sudah kembali menjadi naga, Akira melompat ke atas lalu mendarat di punggungnya. Dia mengelus bulu halus di bagian punggungnya yang menurutnya paling terbaik kemudian lanjut bertitah.


"Flo, bawa aku terbang bersamamu!"


Perintah Akira segera dilaksanakan. Fluffy mengepakkan sayapnya dan melesat ke atas membelah langit, melayang tinggi di udara.


"Squekk!" Fluffy terbang bebas di ketinggian, meliuk-liuk di udara, menukik ke bawah dan kembali lagi ke atas. Sedangkan Akira yang berada di punggungnya berpegangan erat pada bulu-bulu halusnya sambil tertawa lepas.


Akira merasakan sensasi yang berbeda ketika terbang bersama Fluffy, sensasi yang dia rasakan sangat jauh jika dibandingkan ketika dia terbang sendiri. Perpaduan antara bulu-bulu halus di punggungnya dan terpaan angin yang menyejukkan memberikan rasa nyaman yang menyenangkan.


"Lebih cepat lagi!"


Sesuai perintah Akira, Fluffy menambah kecepatannya lagi, membuat Akira sedikit kesulitan menyeimbangkan dirinya tetapi dia masih bisa menstabilkan tubuhnya dengan baik dengan berpegangan pada bulu halus Fluffy.


"Wooo!!!"


Sensasi terbang dengan kecepatan tinggi sungguh luar biasa, sangat-sangat menyenangkan menurut Akira seolah dia saat ini sedang bermain roller coaster di wahana hiburan.


Setelah merasa puas, Akira menyuruh Fluffy untuk terbang seperti biasa. Dia kemudian mencoba berdiri di atas punggung Fluffy, membentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata mencoba menikmati terpaan angin. Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


"Ah...nikmatnya…"


Selanjutnya Akira membuka matanya kembali. Dia melihat ke bawah sejenak sebelum masuk ke dalam mode Spriggan dan terbang bersama Fluffy.


"Squekk..." Fluffy tersenyum melihat Akira terbang di sampingnya. Akira juga ikut tersenyum membalas senyuman Fluffy.


Meskipun Fluffy seekor naga tapi dia tentu mempunyai yang namanya perasaan. Dia merasa sangat senang memiliki tuan seperti Akira. Apalagi tuannya tidak memperlakukannya seperti hewan peliharaan melainkan sebagai teman. Dalam hatinya dia terus menggumamkan istilah teman yang entah kenapa selalu membuat hatinya senang.


Selama beberapa saat terbang mereka berdua pun akhirnya berhenti lalu turun ke bawah dan kembali ke wujud manusia.


Akira memutuskan beristirahat, mengeluarkan meja dan kursi makan berukuran ceper dari kapsulnya lalu menatanya beserta dengan makanan pokoknya. Keduanya kemudian duduk saling berhadap-hadapan.


"Flo, apa kau menyukai sayuran?"


Fluffy mengangguk mantap sambil tersenyum menjawab pertanyaan Akira. Dia mengerti arti sayuran yang Akira ucapkan.


"Sayuran seperti apa yang kau sukai?"


Kali ini Fluffy tampak tidak mengerti dengan apa yang Akira ucapkan. Seperti biasa saat dia tidak mengerti dia memiringkan wajahnya kesamping dan menatap Akira dengan tatapan heran.

__ADS_1


'Sepertinya aku harus melatihnya agar dia segera memahami perkataanku nanti…'


Menghela nafas pelan, Akira menggelengkan kepala lalu mengeluarkan berbagai sayuran dan buah-buahan dari menu store-nya kemudian memperlihatkannya pada Fluffy.


Mulut Fluffy membentuk huruf O saat melihat sayuran dan buah segar yang Akira perlihatkan.


"Nah, sekarang pilih sayuran atau buah yang kau sukai…" titah Akira.


Menerima titah Akira, Fluffy mulai mengambil satu demi satu sayur dan buah yang diperlihatkan sambil menelitinya terlebih dahulu sebelum memisahkan buah dan sayuran yang dia sukai ke sisi meja.


"Apa hanya ini saja?" Akira melihat buah dan sayuran yang Fluffy pilih.


"Emm!" Fluffy mengangguk mantap mengerti pertanyaan Akira.


"Baiklah mulai sekarang kau bisa memakan semua ini sepuasnya."


"Uppa!" Fluffy merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum unjuk gigi.


Setelah itu mereka berdua mulai menyantap makanannya masing-masing sampai kenyang.


Sore hari lambat laun perlahan memudar dan siap berganti malam.


"Ternyata sihir distorsi ruang dan waktu tidak berlaku di tempat ini." Akira memandangi langit yang sudah mulai gelap. Sebelumnya dia berpikir di tempat ini tidak akan mengalami malam.


"Sistem Call: Perlihatkan waktu yang kumiliki."


[Baik]


{0 bulan| 12 hari| 11 jam| 52 menit| 46 detik}


"Kira-kira seperti apa misi terakhir di lantai ini…" gumam Akira menerka-nerka.


"Kemungkinan misi selanjutnya ada kaitannya dengan pertarungan satu lawan satu seperti sebelumnya. Dan yang pasti bos terakhir di lantai terakhir ini pasti sangat sulit dihadapi. Oleh karena itu aku harus mempersiapkan diri lebih matang lagi sebelum melaju ke lantai berikutnya."


Memanfaatkan waktu yang tersisa, Akira memutuskan akan berlatih selama beberapa hari ini. Dia sangat yakin di lantai terakhir ini dia akan dihadapkan dengan pertarungan satu lawan satu melawan musuh yang sangat kuat yang tentunya akan berbahaya jika dia tidak mempersiapkan diri dengan baik.


Selesai berkemas, Akira mengeluarkan tenda untuk beristirahat dan api unggun sebagai penerang. Malam pun akhirnya tiba. Bulan di tempat itu bersinar terang. Akira bersama Fluffy memasuki tenda dan tidur bersama.


Hari-hari Akira jalani di tempat itu dengan berlatih bersama Fluffy, mempersiapkan diri untuk menghadapi rintangan terakhir di tempat ini serta melatih Fluffy supaya dapat memahami setiap perkataannya dengan baik.


Empat hari kemudian, Akira akhirnya sudah siap melaju ke lantai terakhir dengan segala persiapan yang matang.


"Berubahlah…" Akira memberi perintah pada Fluffy.


Selepas berubah menjadi naga, Fluffy menggerakkan lehernya mendekatkan kepalanya ke dekat Akira.


"Ini akan menjadi rintangan terakhir yang harus aku hadapi. Mohon kerjasamanya, ok. Bantu aku keluar dari sini supaya kita bisa menjelajahi dunia luar bersama." Akira mengelus-elus kepala Fluffy dengan sentuhan kasih sayang.


"Squekk..." Fluffy terlihat senang diperlakukan seperti itu.


Akira berhenti mengelus kepala Fluffy. Dia melihat cincin yang terpasang di jari tengahnya kemudian merapalkan perintah pada Fluffy untuk masuk ke dalam cincin itu.


"Masuklah…" Akira menggerakkan tangannya ke arah Fluffy dan seketika Fluffy tersedot masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Akira memejamkan mata lalu membawa kesadarannya ke dalam isi cincin itu. Ketika sudah masuk, Akira bisa melihat dunia buatan yang sangat luas disana. Isi dalam cincin itu ternyata tidak jauh berbeda dengan dunia nyata yang biasa ditemui. Pepohonan yang rindang, perairan yang luas, langit biru yang indah, semuanya ada disana. Hanya saja di tempat seluas ini Akira tidak menemukan makhluk lain selain Fluffy yang kini tampak sedang terbang bebas di langit. Tersenyum Akira melihatnya.


Merasa cukup, Akira membuka matanya kemudian menghela nafas panjang. Sekarang dia sudah siap menuju ke lantai terakhir.


"Yosh! Sistem bawa aku ke lantai terakhir!!" seru Akira penuh semangat.


[Baik]


Cahaya biru yang menyilaukan keluar dari bawah kaki Akira. Cahayanya bertahan sangat lama sampai beberapa menit berselang cahaya itu akhirnya meredup dan saat itu terjadi Akira berpikir dia sudah berada di lantai terakhir.


Namun ketika Akira membuka matanya, dia menemukan lantai terakhir yang kini dia pijaki terasa hampir sama dengan lantai sebelumnya dan bahkan sangat mirip. Tempatnya luas dan hanya dikelilingi oleh bukit-bukit kecil di kejauhan.


"Ada apa ini? Kenapa aku masih berada disini?" Pandangan Akira menyisir tempat itu lebih jauh.


"Sistem Call: Oi, apa benar aku sekarang berada di lantai terakhir?"


Selama beberapa saat tidak ada jawaban apapun dari Sistem membuat Akira menggaruk kepalanya kesal.


"Cahaya tadi seharusnya menjadi tanda bahwa aku sekarang sudah dibawa ke lantai terakhir…" Akira mencoba percaya bahwa dia kini sudah berada di lantai terakhir.


"Tapi jika dilihat-lihat tempat ini benar-benar mirip sekali dengan yang sebelumnya." Akira melihat sekelilingnya sekali lagi.


Tidak ingin ambil pusing, Akira mulai melangkahkan kakinya mencari tahu tempatnya sekarang sebelum pandangannya berhenti pada sesuatu yang berkilauan terlihat di kejauhan.


Akira segera menghampirinya hingga kedua bola matanya menemukan sebuah pedang tertancap kokoh disana. Dia mendekat untuk melihat lebih jelas lagi.


Ketika jaraknya hanya berkisar belasan meter lagi tiba-tiba ada sesuatu yang melesat turun dari langit dan menghantam bumi, menghasilkan kepulan debu dan gelombang yang sangat besar, meski begitu Akira tidak terkena dampak dari gelombang tersebut.


Melihat hal itu, Akira berhenti melangkah dan menjadi lebih waspada. Dia bersiap menarik pedangnya kapanpun andai apa yang ada di depannya saat ini adalah ancaman.


"Siapa kau?" Akira tidak bisa melihat siapa yang ada di depannya. Kepulan debu itu menutupi sosok yang ada di dalamnya.


Sampai ketika debu itu menghilang, seorang pria paruh baya berbadan kekar dengan rambut dan jenggot panjang berwarna putih terlihat. Baik sosok maupun penampilannya terlihat sangat misterius. Pakaiannya senada dengan rambutnya, dengan sebagian tubuhnya yang menyamping tidak tertutupi memperlihatkan bentuk tubuhnya yang berisi.


Selain itu yang membuat sosok di depan Akira saat ini terlihat misterius yaitu sinar matanya yang tampak kosong seolah jiwanya saat ini tidak ada di dalam tubuh pria paruh baya itu.


"Siapa kau pak tua?" Akira bertanya tapi tidak direspon sedikitpun olehnya. Pria paruh baya itu hanya menatap Akira dengan tatapan kosong.


{Quest terakhir— Misi: Kalahkan makhluk buatan (kode name: Demios) di depanmu}


Akira merajut alisnya dalam membaca panel misi terakhir yang harus dia hadapi. Pandangan Akira segera terpaku pada sosok di depannya saat ini.


"Jadi dia bos—" Kata-kata Akira terhenti bersamaan dengan dirinya dipentalkan melalui sebuah pukulan keras dari sosok pria paruh baya di depannya yang melesat secata tiba-tiba.


Tubuh kecil Akira terpental sangat jauh hingga akhirnya mendarat di sebuah bukit.


Bum!!


Suara yang dihasilkan menggelegar bak gemuruh. Hasil dari hantaman itu membuat bukit itu seketika hancur, berubah menjadi kepingan batu kasar.


Akira jelas sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Apalagi dengan kekuatan yang dihasilkan hanya dalam sekali pukulan itu membuat satu bukit hancur berkeping-keping.


"Sial, kekuatannya dahsyat sekali..." Akira membangkitkan dirinya kembali, menyeka ujung bibirnya yang berdarah kemudian menyeringai lebar,

__ADS_1


"Jadi dia boss terakhir yang harus aku hadapi…"


__ADS_2