
Setelah selesai menjabarkan semua itu, Zero keluar dari ruangan, meninggalkan para ksatria suci di sana yang kini tengah merenungkan penjelasannya tadi. Meskipun kurang puas dengan penjelasan tersebut, para ksatria suci itu sepakat bahwa untuk sekarang Zero bukanlah ancaman bagi mereka.
Namun para ksatria suci masih belum ingin menyerah begitu saja untuk mencari tahu kebenaran dari kejadian waktu itu. Terutama Rin dan Daniel yang merasa jika Zero memang ada kaitannya dengan kejadian tersebut biarpun saat ini mereka belum mempunyai bukti yang pasti untuk membuktikannya.
Zero keluar dari ruangan ruangan itu karena tidak ingin ditanya-tanya lagi tentang kejadian waktu itu. Dia memutuskan untuk kembali pada tujuannya hari ini yang ingin segera diselesaikan.
Di pagi hari yang tampak cerah, dua orang gadis bangsawan tengah berjalan bersama menikmati suasana kota yang sudah kembali seperti semula setelah beberapa hari belakangan ini sempat dilanda kekacauan.
Dua gadis itu akhirnya berpisah sesudah menyelesaikan aktivitas jalan paginya tepat setelah matahari mulai naik ke tempat yang lebih tinggi.
Diam-diam seorang pria misterius membuntuti salah satu gadis bangsawan berambut pirang dan berpenampilan serba ungu yang saat itu hendak pulang ke rumahnya.
Di saat gadis bangsawan itu berjalan di tempat yang agak sepi, pria misterius itu muncul di belakangnya dan dengan cepat memukul punggung lehernya hingga membuatnya pingsan. Saat itu juga dia menggendong gadis itu dan membawanya pergi ke suatu tempat.
Pria misterius itu membawa gadis bangsawan yang dia culik ke tempat yang tidak ada orang selain mereka. Tepatnya saat ini dia berada di bukit kecil yang lokasinya tak jauh dengan di ibukota kerajaan, pemandangan bangunan-bangunan yang ada di kota terpampang jelas di depannya.
Pria misterius itu duduk di hamparan rumput hijau dan bersandar di pohon rindang yang ada di belakangnya, sedangkan gadis yang diculiknya tadi dia tidurkan di pangkuannya.
Tak lama kemudian gadis berambut pirang itu mulai tersadar dari pingsannya. Dia merasakan dirinya seperti sedang tidur di pangkuan seseorang yang saat ini sedang mengelus-elus rambutnya dengan lembut.
Ketika matanya terbuka, dia menemukan seorang pria tengah tersenyum ringan menatapnya. Wajahnya terasa tidak asing di mata gadis itu, begitupun dengan senyuman yang diperlihatkan olehnya yang seolah tidak pernah dia lupakan selama hidupnya.
"Sudah nyenyak tidurnya…" kata pria misterius itu yang tidak lain adalah Zero.
"Aki…" Gadis bangsawan yang ternyata Viona hendak mengucapkan nama pria itu namun terhenti setelah pria itu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Tolong jangan sebut nama itu lagi…" katanya disertai senyuman yang masih terlukis di bibirnya.
Viona yang sudah sepenuhnya membuka mata mencoba mencerna situasinya sekarang, sebelum ketika tersadar, dia tersentak kaget dan segera membangkitkan diri menjauhi Zero yang tertawa melihat ekspresi terkejutnya.
"A-Apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa aku bisa bersamamu?" Viona bertanya dengan raut terkejut, tak disangka jika barusan dia tertidur di pangkuan Zero. Dia tidak tahu bagaimana bisa itu terjadi.
"Maaf karena aku sudah menculikmu tanpa izin dan membawamu ke tempat ini." Zero berkata tanpa raut wajah bersalah, menikmati bagaimana Viona terkejut melihatnya.
"Menculikku?"
"Ya."
Viona akhirnya sadar jika tadi dia tiba-tiba tidak sadarkan diri saat hendak pulang ke rumah. Dia tidak menduga jika yang tadi membuatnya pingsan adalah Zero yang kini menculiknya ke tempat ini
"Di mana ini?" Viona mencoba mengenali tempatnya berada.
"Jangan khawatir, aku tidak menculikmu ke tempat yang jauh. Ini masih berada di dalam wilayah ibukota kerajaan." Zero menunjuk deretan bangunan yang terpampang di depannya.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" Viona bertanya meski dia sudah tahu jawabannya. Yang pasti Zero menculiknya ke tempat itu karena ingin membuktikan kalau dia adalah mantan kekasihnya yang dulu.
"Aku membawamu ke tempat ini karena ingin bercerita padamu."
__ADS_1
"Kenapa harus aku? Kenapa bukan yang lain saja."
"Aku dengar dari Charla, kau pandai mengarang cerita, jadi aku ingin kau yang menilai seberapa bagus ceritaku. Kau tidak keberatan kan melakukan itu?" Zero tersenyum penuh arti seolah ingin mengartikan sesuatu pada Viona.
Viona tidak langsung menjawab. Dia terdiam mendengar keinginan Zero yang seperti tidak ingin ditolak olehnya.
Di satu sisi Viona ingin mendengar apa yang ingin Zero ceritakan, tetapi di sisi lain dia tidak ingin terus berurusan dengannya dengan alasan yang sama seperti waktu itu.
Setelah memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan pada Zero, pada akhirnya Viona menuruti kemauan Zero untuk mendengarkan ceritanya.
"Terima kasih." Senyuman Zero sedikit melebar mendengar jawaban Viona.
"Duduklah di sampingku. Kau tidak akan bisa mendengar ceritaku dengan jelas jika hanya berdiri di sana." Zero menepuk ruang di sisinya, meminta Viona untuk duduk di sana.
Viona yang sejenak ragu akhirnya mengikuti kemauan Zero dengan duduk si sampingnya. Dia merasa gugup meski sedikit senang bisa duduk seperti ini lagi dengan Zero.
"Cerita seperti apa yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya Viona penasaran.
"Aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang perjuanganku selama ini sampai bisa jadi seperti sekarang. Apa kau tertarik untuk mendengarnya?"
Viona hanya mengangguk sebagai jawaban. Bukan hanya tertarik, dia ingin sekali mendengar cerita tersebut dari Zero.
"Dulu aku hanyalah seorang pria lemah yang naif dan sering dimanfaatkan orang lain, bahkan oleh orang-orang terdekatku. Kehidupanku begitu menyedihkan sampai-sampai aku beranggapan kalau takdir tidak pernah berlaku adil padaku, padahal aku sudah berusaha membuat kehidupanku menjadi lebih baik, tetapi semuanya ternyata sia-sia." Zero menghela nafas sambil memejamkan mata di ujung kalimatnya.
Viona yang mendengarkan cerita Zero sangat mengerti apa yang dirasakannya waktu itu. Yang pasti itu sangat menyakitkan baginya.
"Sampai suatu ketika aku bertemu dengan seorang wanita yang membuat hidupku sedikit berarti. Di saat itu aku percaya pasti dia datang dalam hidupku untuk mengubah takdirku yang menyedihkan." Zero tersenyum saat menceritakan bagian itu sebelum senyumannya hilang saat menceritakan bagian selanjutnya.
"Awalnya memang kehidupanku sedikit lebih berarti saat bersamanya. Namun aku tidak pernah mengerti mengapa dia saat itu malah mengkhianatiku. Kenapa dia menangis setelah berhasil mengecewakanku. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia melakukan itu."
Mendengar bagian itu membuat perasaan Viona terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum, rasanya sangat menyakitkan. Viona memahami betapa kecewanya Zero saat itu. Ini juga menjadi alasan mengapa dia malu untuk bertemu lagi dengannya dan berpikir tidak pantas lagi bersamanya sekalipun takdir mempertemukan mereka kembali.
Zero melihat Viona yang duduk di sampingnya sekali untuk mencari tahu bagaimana reaksinya saat menceritakan bagian itu. Terlihat Viona seperti sedang menahan dirinya untuk tidak menangis dan Zero mengerti jika Viona juga saat itu pasti begitu terpukul dengan situasinya tersebut.
"Setelah dicampakkan olehnya aku tewas tertabrak mobil dan saat tersadar aku sudah berada di dunia ini."
Zero terkekeh sejenak seolah ada yang lucu di bagian cerita berikutnya. "Yang menggelikan, setelah aku tersadar di dunia ini, aku tidak dibangkitkan seperti karakter utama yang biasa ditemui dalam cerita, malahan aku dibangkitkan dalam bentuk seorang balita lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa." Zero menganggap itu adalah suatu yang lucu.
Viona yang mendengar bagian itu menyatukan alisnya karena tidak percaya dengan alur cerita yang Zero sampaikan yang terdengar tidak masuk akal menurutnya.
"Kau pasti tidak percaya kan mendengar itu, tapi begitulah kenyataannya." Zero kembali terkekeh melihat bagaimana reaksi Viona kali ini.
"Tunggu, bagaimana bisa… kamu pasti bercanda, kan?" Viona belum bisa percaya dengan fakta tersebut.
Zero tidak menjawabnya, melainkan membuktikannya secara langsung. Dia berdiri dari duduknya dan mengembalikan wujudnya seperti semula.
"Inilah wujudku yang sebenarnya…" Zero merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan kalau itu memang dirinya.
__ADS_1
Viona langsung berdiri dengan mata dan mulut terbuka saking tidak percayanya dengan fakta yang ada di depannya sekarang. Sosok yang pernah menjadi kekasihnya dulu di dunia ini tenyata seorang bocah, itu jelas sesuatu yang mengejutkan.
Zero kali ini tertawa melihat reaksi Viona yang begitu terkejut setelah melihat wujudnya yang sebenarnya.
"Ini bohong, kan? Ini pasti salah satu trikmu untuk mengejutkanku." Viona benar-benar tidak bisa percaya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Namun setidaknya aku sudah memberitahukan hal yang sebenarnya," kata Zero selagi mengembalikan wujudnya kembali menjadi orang dewasa dan duduk di tempatnya semula.
Viona kembali duduk di sampingnya, mendengarkan lanjutan ceritanya untuk mencari tahu kebenarannya. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan fakta tersebut, tetapi dia tahu Zero tidak akan mungkin berbohong dengan ini.
Zero kemudian melanjutkan cerita di bagian di mana awal mula dirinya bisa menjadi seperti sekarang. Cerita yang Zero sampaikan sulit dicerna oleh Viona namun dia masih setia mendengarkannya.
*~*
"Aku menjalani hari-hari yang melelahkan di dalam menara itu. Menyelesaikan misi, bertemu dengan berbagai macam orang. Bertarung dengan monster. Mati, hidup lagi, mati hidup lagi. Gagal coba lagi dan gagal coba lagi sampai puluhan kali. Terus saja seperti itu sampai aku bisa melangkah sedikit demi sedikit untuk bisa keluar dari menara itu."
Viona tidak mampu berkomentar apa-apa mendengar cerita Zero yang sulit dimengerti olehnya. Namun ketika mendengar Zero mati dan gagal beberapa kali membuatnya merasa kasihan meskipun dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak.
"Hidupku di dalam menara itu tidak jauh berbeda seperti di dalam game. Untuk bisa meningkatkan kekuatanku, aku harus bisa menyelesaikan setiap misi yang diberikan di sana. Sedikit demi sedikit, aku terus bertambah kuat seiring aku menaiki setiap lantai yang ada di sana.
Aku sudah berjuang mati-matian untuk bisa keluar dari tempat itu, hingga akhirnya setelah mengeluarkan jutaan liter keringat dan menerima ribuan rasa sakit, aku pun berhasil berada di puncak menara itu." Zero menghela nafas panjang setelah sampai di bagian itu.
Viona menatap Zero dalam seolah ingin bertanya apakah yang dikatakannya itu benar. Meski dia tidak mengalaminya langsung, dia bisa merasakan kalau perjuangan Zero untuk mencapai semua itu pastinya sangat berat.
"Ya, aku tahu perjuanganku untuk mencapai itu sangat berat. Namun semua perjuanganku akhirnya terbayarkan setelah aku berada di puncak." Zero tersenyum puas mengingat bagaimana dirinya bisa berhasil mencapai sesuatu yang awalnya dia anggap mustahil.
"Seperti yang dijanjikan oleh pemilik menara itu, jika aku bisa berhasil menyelesaikan semua lantai yang ada di sana, aku boleh meminta tiga permintaan padanya." Zero lalu menolehkan wajahnya sekali menatap Viona yang sejak tadi diam saat mendengarkan ceritanya.
"Dan kau tahu, salah satu permintaanku padanya, yaitu aku ingin kembali ke duniaku yang dulu untuk mencari tahu kebenaran tentang sosok yang saat itu pernah mengecewakanku.
Sampai akhirnya aku dihadapkan oleh kenyataan kalau sebenarnya wanita yang mengkhianatiku ternyata tidak seperti yang aku pikirkan."
Pernyataan Zero sekali lagi membuat Viona terkejut. Dia tidak tahu jika Zero ternyata akan datang ke dunianya yang dulu untuk mencari tahu kebenaran itu.
"Sayangnya saat itu aku sudah terlambat untuk menyesalinya. Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak menyadarinya waktu itu. Aku tidak tahu kalau ternyata dia juga mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan dariku." Ekspresi Zero kali ini tampak dipenuhi kesedihan yang begitu dalam sampai membuat Viona yang melihatnya tidak tega.
Viona sudah tidak tahan ingin meluapkan air mata yang kini dia tahan saat mendengar Zero ternyata mengetahui semua penderitaannya waktu itu.
"Hidup sebagai seorang budak setelah orang tuanya dengan tega menjualnya demi kepentingannya sendiri. Menjalani kehidupan yang sangat menyakitkan tanpa orang-orang terkasih di dekatnya. Memendam semua rasa sakit itu sendiri tanpa pernah memberitahukannya pada siapapun."
Setiap pernyataan Zero tentang masa lalunya yang menyedihkan membuat perasaan Viona merasa teriris. Dia tidak tahan ingin meluapkan air mata di matanya yang sebentar lagi akan tumpah setelah mendengar Zero mengetahui semuanya.
"Aku tidak tahu kenapa dia tidak memberitahukan penderitaannya itu padaku. Kenapa dia tidak pernah menceritakan kalau ternyata kehidupannya ternyata jauh lebih menyedihkan dibanding diriku."
Zero menoleh, memandangi Viona dengan rasa kasihan sebelum memeluknya dengan sangat erat.
"Coba jelaskan padaku, kenapa waktu itu kau tidak memberitahukannya padaku, Yui…"
__ADS_1