Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Menara Surga


__ADS_3

Tempat yang Gladius maksud itu ternyata bangunan tertinggi dan termegah di kota tersebut. Zero tidak mengira kalau bangunan itu di dalamnya ternyata terdapat fasilitas untuk berlatih.


Saat memasuki ke dalam bangunan yang megah itu, Zero dan yang lainnya menemukan tempat untuk berlatih itu luas sekali. Di dalamnya mereka melihat banyak petualang maupun lainnya sedang melatih tubuh dan keterampilan mereka. 


"Tempat ini sangat bagus. Kau tidak salah merekomendasikan tempat ini padaku." Zero merasa cocok dengan tempat itu. 


Menara Surga, itu nama tempat tersebut. Menara Surga merupakan tempat terbaik bagi mereka-mereka yang ingin berlatih. Banyak petualang dari luar kota yang singgah di kota ini hanya demi berlatih di Menara Surga. Menara Surga bisa menjadi tempat favorit banyak kalangan lantaran di dalamnya terdapat fasilitas-fasilitas yang bisa membantu meningkatkan kemampuan seseorang. 


Berdasarkan penjelasan Gladius, Menara Surga terdapat dua belas lantai di dalamnya. Semakin tinggi lantainya semakin tinggi pula kualitas tempat dan fasilitas berlatih yang disajikan. 


Gladius menyarankan pada Zero untuk memesan tempat berlatih VIP yang berada di lantai teratas jika ingin mendapatkan fasilitas yang terbaik dan berkelas.


Zero segera saja mengikuti sarannya itu. Dia pergi ke tempat petugas yang mengelola sarana dan prasarana tempat itu lalu memesan tempat VIP yang Gladius sarankan. 


"Aku ingin menyewa tempat VIP untuk beberapa minggu kedepan," kata Zero yang sontak mengejutkan petugas yang bertugas menerima orang-orang yang ingin berlatih di tempat itu. 


Tidak ingin banyak cakap, Zero segera mengeluarkan uang dan lisensi petualangnya untuk membuktikan kalau dirinya mampu membayar dan layak mendapatkan tempat VIP tersebut. 


Semua orang yang menyaksikan lisensi itu terkejut pada pemiliknya yang terlihat biasa-biasa saja, namun mereka yakin lisensi yang Zero berikan itu asli, sehingga mereka berpikir dia pasti menyembunyikan kekuatan aslinya. Mereka tidak ingin mengganggu orang sepertinya.


Petugas disana menerima pemesanan Zero setelah menghitung jumlah uang yang diberikan sesuai dan memastikan lisensi yang diperlihatkan benar adanya.


Selesai transaksi, Zero diberi kartu khusus oleh petugas itu sebagai bukti kalau tempat VIP di lantai teratas sudah disewa olehnya hingga beberapa minggu ke depan.


Salah satu petugas di sana segera memandu Zero dan lainnya ke lantai teratas melalui sebuah alat yang mirip seperti lift—jika disamakan dengan kehidupan Zero sebelumnya. Namun bedanya pintu untuk memasuki alat itu tidak terbuka secara otomatis dan juga di dalamnya yang membentuk seperti kapsul besar tidak terdapat nomor untuk menentukan lantai yang ingin dituju. 


"Ini…" Zero tercengang karena baru mengetahui ada alat seperti ini di dunia ini. 


Alat yang menyerupai lift itu mulai membawa mereka ke atas setelah petugas memasukkan batu sedang ke dalam lubang di samping pintu masuk alat tersebut.


"Hebat…" Selain Gladius, Charla dan yang lainnya juga tercengang karena baru pertama kali ini merasakan menaiki alat seperti ini. 


"Apakah kalian baru pertama ini menaiki Kapsul Pelontar Waktu?" tanya petugas yang memandu mereka. 


"Kapsul Pelontar Waktu? Itukah namanya?"


"Benar. Itu namanya."


Selagi menunggu sampai di lantai teratas, petugas di sana menjelaskan banyak hal tentang alat yang disebut Kapsul Pelontar Waktu ini, dari penciptanya, proses pembuatannya sampai cara penggunaannya. 


Zero terkesan dengan seorang alkemis yang mempunyai ide untuk menciptakan alat seperti ini. Kemungkinan suatu saat alat-alat modern yang ada di dunianya akan ada juga di dunia ini, namun dengan konsep berbeda, begitu pikir Zero.


Setelah beberapa menit menunggu mereka akhirnya sampai di lantai teratas. Pintu kapsul terbuka bersamaan dengan pintu masuk tempat itu. Mereka melangkah memasuki tempat berlatih VIP yang telah Zero booking.


Hanya dalam sekali lihat, Zero dan yang lainnya bisa mengetahui dengan jelas seberapa bagusnya tempat tersebut. 


Petugas yang memandu Zero menjelaskan kalau beberapa bulan ini belum ada satupun orang yang menyewa tempat VIP ini dikarenakan untuk memasuki tempat ini seseorang membutuhkan uang yang sangat besar, setidaknya belasan ribu keping emas dalam setiap kali menyewanya.


Petugas itu takjub ketika mendengar Zero akan menyewa tempat ini untuk beberapa minggu ke depan. Seberapa kaya dia sebenarnya? itu yang dipikirkan oleh petugas yang mengelola tempat ini tadi.

__ADS_1


Memang tidak salah jika tempat ini disebut sebagai tempat terbaik untuk berlatih, mengingat banyak perlengkapan, ruangan dan fasilitas untuk berlatih maupun relaksasi di dalam tempat tersebut, dan semuanya dalam kondisi tertata dengan sangat rapi dan bersih.


Selain itu, Zero juga katanya bisa memanggil pelatih khusus profesional yang selalu siap melatih mereka kapanpun jika dipanggil.


Sesudah puas mengamati setiap fasilitas yang disediakan di tempat ini, Zero mengumpulkan mereka kembali di satu tempat.


"Mulai sekarang kalian akan berlatih disini setiap hari." Zero berniat melatih Charla dan yang lainnya sampai mencapai tingkatan selanjutnya di dalam Menara Surga ini.


"Baik, Zero-sama. Kita akan berlatih lebih keras agar tidak mengecewakan, Zero-sama," jawab Charla mewakili yang lainnya. Mereka tampak bersemangat sekali ingin segera menjajal kekuatan barunya yang sudah Zero tingkatkan.


"Bagus, jika kalian ingin terus bersamaku kalian harus bisa bertambah kuat." Zero memberikan sepatah kata untuk memotivasi mereka.


Zero lalu mengeluarkan sesuatu dari menu inventory-nya yakni berupa sebuah busur panah berwarna perak (Matchless Bow) . Mereka terpana menyaksikannya dan menebak busur panah itu pasti merupakan senjata dengan class tinggi.


"Charla, mulai sekarang aku ingin kau mempelajari busur panah ini." Zero menyerahkan busur panah dengan class S itu pada Charla. Dia ingin meningkatkan pemahaman Charla sebagai seorang Archer.


"Ini...Zero-sama, bukankah ini milikmu?" Charla tidak yakin menerimanya.


"Terima saja. Mulai sekarang busur panah ini milikmu. Jangan memikirkanku, aku mempunyai banyak senjata yang jauh lebih bagus dari itu. Dan lagi aku jarang sekali memakai busur panah seperti ini jadi kupikir akan lebih baik kau saja yang menggunakannya," ujar Zero menyuruh Charla agar menerimanya.


"Kalau begitu terima kasih, Zero-sama. Aku berjanji akan berjuang keras mempelajarinya sampai bisa menguasainya." Charla menerima busur panah tersebut.


"Aku percaya kau pasti bisa menguasainya." Zero tersenyum menyemangati Charla.


Dari Charla, Zero kemudian beralih ke Sherria.


"Aku ingin mulai sekarang kau mempelajari pedang ini..." Zero memperlihatkan sebuah pedang panjang dengan gagang berwarna biru laut dan terdapat corak angin yang bergelombang.


Dalam sekali lihat mereka langsung bisa menebak pedang itu pasti memiliki kualitas yang tinggi.


Memang benar, pedang Heaven Wind Sword dengan class S yang Zero berikan pada Sherria mempunyai kemampuan untuk mengkombinasikan kekuatan elemen angin yang ada dalam diri Sherria, sehingga pedang itu sangat cocok untuknya.


"Aku ingin mulai sekarang kau berlatih menggunakan pedang ini." Zero menyerahkan pedang itu pada Sherria.


"Baik, Zero-sama. Aku akan mempelajarinya.Terima kasih." Sherria menerima pedang tersebut dengan hati senang.


"Flo, sesama pengguna elemen angin, aku ingin kau berlatih dengan, Sherria." pinta Zero


"Siap Tuan! Serahkan padaku! " Fluffy terlihat bersemangat.


"Sementara Rimuru..." Zero mengamati Rimuru yang berdiri di samping Fluffy, "Aku mempunyai senjata yang bagus untukmu," kata Zero setelah memutuskan senjata yang cocok untuknya.


Zero mengambil dua buah belati dan menunjukkannya pada mereka semua. Salah satu dari belati itu merupakan senjata pertama yang dulu dia dapatkan dengan nama, Scarlet Phantom Dagger. Belati ini dulu pernah membantunya dalam menyelesaikan rintangan di dalam Menara Agung.


Sedangkan salah satu belati itu, Zero beli di dalam menu inventory-nya dan memiliki kualitas yang sama dengan belati yang satunya.


"Rimuru, aku percaya kau pasti bisa menguasai kedua belati ini." Zero menyerahkan kedua belati itu pada Rimuru.


"Terima kasih, Tuan. Aku juga akan berjuang keras untuk menguasainya agar kelak kekuatanku ini bisa membantu, Tuan." Rimuru bersikap hormat pada tuannya. Zero tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Tuan, kenapa mereka semua diberi sedangkan aku tidak. Aku juga ingin belajar senjata, Tuan. Berikan senjata yang bagus untukku." Fluffy merengek meminta senjata pada Zero.


"Kau ingin belajar juga. Bukankah kau sudah kuat, Flo?" Zero terkekeh.


"Tidak apa-apa. Aku ingin bertambah lebih kuat lagi. Jadi berikan aku senjata yang bagus." Fluffy mengulurkan tangannya meminta.


"Baik-baik, aku akan mencarinya." Zero membuka menu store-nya dan mencarikan senjata yang cocok untuk Fluffy.


Gladius yang sejak tadi mengamati mereka memikirkan bagaimana cara Zero mendapatkan senjata-senjata berkualitas tinggi itu. Dirinya penasaran dengan aksi Zero yang menyentuh-nyentuh ruang kosong dan tiba-tiba mengeluarkan sesuatu yang menakjubkan di sana.


'Apa yang sebenarnya dia lihat disana. Kenapa aku tidak bisa melihatnya. ' Gladius berkerut dahi, penasaran mengamati Zero seperti sedang mencari sesuatu di depannya yang jelas tidak ada apa-apa.


Sesaat berikutnya Gladius kembali terkejut melihat Zero mengeluarkan sesuatu dari ruang kosong di depannya.


'Oh, begitu, ya...' Gladius tersenyum, akhirnya dia menyadari satu hal dari aksi Zero tersebut.


"Aku sudah menemukan senjata yang cocok untukmu, Flo." Zero memberikan pedang pendek dengan class A pada Fluffy.


"Huuah..." Fluffy menerimanya dan mengamati pedang pendek itu dengan senyuman berseri.


"Apa kau menyukainya?"


"Emm!" Fluffy mengangguk mantap, "Terima kasih, Tuan."


"Baguslah kalau kau menyukainya." Zero tersenyum ringan.


"Apa Oni-chan tidak ingin memintanya juga pada, Tuan?" tanya Fluffy pada Gladius.


"Ah, tidak perlu. Aku sudah mempunyai senjataku sendiri." kata Gladius mengangkat kedua tangannya. Fluffy hanya ber-oh pelan mendengarnya.


Setelah mereka semua mendapatkan masing-masing senjata darinya, Zero memanggil petugas yang sejak tadi masih stay di tempat itu lalu memintanya untuk memanggil beberapa pelatih untuk membantu melatih Charla dan yang lainnya.


Beberapa menit kemudian petugas itu kembali dengan membawa tiga orang pelatih profesional yang bekerja di tempat itu.


Zero melihat mereka bukan pelatih biasa. Dia cukup puas dengan tingkat sihir mereka, apalagi saat mengetahui ketiga orang itu ternyata adalah seorang expert. Zero yakin mereka bisa membantu melatih Charla dan yang lainnya.


"Baik, untuk sekarang kalian akan berlatih dengan mereka dulu. Kalian tidak perlu terburu-buru menguasai senjata kalian. Lebih baik kalian memulainya dari yang termuda dulu yaitu dengan mempelajari teknik dasar penggunaan senjata yang kalian pelajari." Zero memberi saran dan arahan. Mereka semua mengangguk paham.


"Aku titipkan mereka pada kalian." Zero melirik ke ketiga orang pelatih di sampingnya.


"Ingat, jika kalian sekali saja berani membuat mereka celaka..." Zero membuka cincin yang tersemat di jarinya yang seketika membuat mereka menelan ludah, "Siap-siap saja menanggung resikonya," ancam Zero.


Ketiga pelatih itu sudah menyadari Zero pasti menyembunyikan kekuatannya tetapi dia tidak pernah menyangka jika kekuatan Zero yang sebenarnya akan sangat luar biasa. Energi sihirnya bahkan sampai terasa ke mereka yang berlatih di lantai bawah.


"Kami tidak akan melakukannya. Kami berjanji akan melatih mereka dengan baik." Mereka menjawab hampir bersamaan.


"Bagus... " Zero tersenyum pada mereka kemudian mengalihkan pandangannya pada Gladius.


"Sementara kau Gladius, persiapkan dirimu. Aku ingin menguji kekuatanmu..." Zero menunjuk Gladius dengan senyuman menantang.

__ADS_1


__ADS_2