Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Membeli Budak


__ADS_3

Keesokan harinya, Zero kembali lanjut menyelesaikan dua tujuannya yang tersisa. Kali ini Zero berniat pergi ke tempat penjual budak untuk mencari budak yang bisa dia pekerjakan di kerajaannya. 


Berbeda dari yang kemarin, Zero hari ini tidak bisa menggunakan wujud dewasanya lantaran kemarin dia terus-terusan menggunakan wujud itu sampai kelewat batas. 


Zero pergi ke tempat penjual budak yang diusulkan oleh Gladius. Tadinya dia ingin pergi melakukannya sendiri, tetapi lantaran wujud Zero saat ini sangat berisiko untuk dilihat, Zero akhirnya mengajak Gladius untuk pergi ke tempat itu bersamanya. 


Lagi pula tidak mungkin orang yang menjual budak di sana mau menerima seorang bocah sepertinya, kecuali jika dia didampingi oleh orang dewasa seperti Gladius. 


Zero menuju tempat yang menjual budak dengan penampilan tertutup bersama Gladius yang menjaganya agar tidak terlihat oleh siapapun yang mengetahui identitasnya. 


Tempat penjual budak yang Gladius maksud berada di pojokan kota. Tempatnya terlihat agak sepi, kotor, dan tidak terawat serta hanya ada beberapa orang yang tinggal di sana. 


Orang-orang yang tinggal di tempat itu juga tidak seperti orang-orang yang Zero temui di pusat kota. Mereka memiliki wajah yang tidak bersahabat dan ekspresi yang seolah suka memancing keributan. 


Untungnya kehadiran Gladius di samping Zero membuat orang-orang itu tidak ingin mencari keributan dengannya. Mereka yang melihat Gladius memilih untuk menjauh seolah instingnya mengatakan sosoknya berbahaya jika didekati. 


Tak lama kemudian Zero dan Gladius pun sampai di tempat penjual budak. Mereka menemukan sebuah rumah besar yang sudah tua dengan gerbang yang tampak masih kokoh. 


Tanpa menunggu lama, Zero dan Gladius membuka gerbang itu dan masuk ke dalam. Di sana mereka disapa oleh seseorang yang bertugas menerima pelanggan yang ingin membeli budak. 


"Karena kalian mengetahui tempat ini, itu berarti kalian tahu apa yang kami sediakan di sini," kata orang itu melihat Gladius lalu bocah yang mengenakan kain tudung untuk menutupi kepalanya. 


Zero kemudian membuka tudung di kepalanya itu untuk memperlihatkan wajahnya pada orang itu. "Ya, Aku ingin membeli budak di tempat ini. Apa kau bisa memperlihatkannya padaku," kata Zero menyunggingkan senyuman tipis. 


"Hah? Kau bilang apa barusan bocah? Kau bilang ingin membeli budak di tempat ini? Apa aku tidak salah dengar?" Orang itu tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia pikir sosok pemuda di sampingnya yang ingin membeli budak di tempat itu. 


"Benar, dia di sini yang ingin membeli budak, bukan saya. Saya di sini hanya sebagai pengawalnya." Gladius mencoba meyakinkan orang itu namun dia malah mengerutkan keningnya. 


Selama dia bertugas di tempat itu belum ada seorang bocah yang ingin membeli budak dan ini merupakan pertama kali baginya. Dia ragu harus menerima pelanggan sepertinya atau tidak. 


"Hei, jika kau tidak segera membawa kita masuk, kita akan pergi dari tempat ini. Kau yakin ingin melepaskan pelanggan begitu saja," kata Zero terdengar tidak ingin  menunggu lama. 


Orang itu mengamati Zero dan Gladius sekali kemudian mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah tua yang besar itu. 


Di dalam rumah tua itu, Zero dan Gladius dibawa oleh orang itu ke salah satu tempat. Di sana mereka bertemu dengan sosok pria maskulin yang menjadi penjual budak di tempat itu. 


"Oh ya, oh ya, ada apa gerangan anda datang ke tempat ini?" Penjual budak menghampiri Gladius dengan senyuman menjilat, mengabaikan bocah yang berdiri di sampingnya yang terlihat menghela nafas. 


'Inilah alasan mengapa aku malas berada dalam wujud ini...' kata Zero yang selalu merasa tidak dianggap ketika dirinya dalam wujud tersebut. 


"Kau pasti ingin mencari budak, kan? Benar, kan? Budak seperti apa yang kau mau? Coba katakan. Yang kuat untuk dijadikan pekerja kasar, atau yang seksi untuk dijadikan pemuas hasratmu. Atau kau sedang mencari budak yang bisa dijadikan peliharaan untuk melampiaskan kekesalanmu. Ayo katakan saja, aku akan mencarikanmu budak yang sesuai dengan kriteria yang kau inginkan." Penjual budak itu tampak berapi-api memberitahukan semua kriteria budak yang dia punya pada Gladius. 


Gladius tersenyum kaku dengan caranya diperlakukan oleh penjual budak. Sementara bawahannya mencoba membenarkan kesalahpahaman tuannya. 


"Maaf, Tuan, bukan dia yang ingin membeli budak di tempat ini, melainkan bocah di sampingnya…" kata bawahannya sambil menunjuk Zero. 


"Eh?" Penjual budak menaikkan satu alisnya menatap bocah di samping Gladius. Dia belum bisa memahami maksud perkataan bawahannya barusan. 


"Yang dikatakan olehnya benar, bukan saya yang ingin membeli budak di tempat ini, tetapi Tuan saya." Gladius ikut membenarkan. 


"Eh?" Penjual budak menatap Gladius penuh tanya sebelum menatap Zero kembali. 


"Aku ingin membeli budak di tempat ini. Cepat bawa kita ke tempat budak-budakmu segera," kata Zero terdengar malas. 


"Eh?" Penjual budak malah memiringkan wajahnya melihat Zero setelah mendengar permintaannya tersebut. 


"Jangan eh saja, cepat bawa kita ke sana..." Zero menatap tajam penjual budak itu. 


"Ehh!!" Penjual budak berteriak setelah berhasil mencerna perkataan bawahannya tadi.


"Tunggu, tunggu, tunggu, jadi kau yang ingin membeli budak di tempat ini? Apa aku tidak salah dengar?" Wajah penjual budak tampak keheranan mengetahui seorang bocah ingin membeli seorang budak. 


Zero berdecak malas sebelum mengeluarkan sekantong koin emas dan melemparkannya ke penjual budak. 

__ADS_1


"Sekarang apa kau percaya?" tanya Zero sambil menyipitkan sedikit matanya menatap penjual budak. 


Penjual budak dan bawahannya yang melihat cara Zero mengeluarkan sekantong koin emas dari ruang hampa tertegun. Namun ketika mereka melihat isi yang ada di dalam kantong koin emas itu, mereka serempak berteriak karena terkejut. 


"Ehh!"


*~*


Setelah mengetahui kalau sosok bocah yang ingin membeli budaknya itu bukanlah bocah sembarangan, penjual budak segera membawa Zero dan Gladius ke tempat di mana budak-budaknya dikurung yang tempatnya berada di bawah tanah. 


Para budak yang terkurung di sana mendekati jeruji besi saat mendengar suara langkah kaki di dekat mereka untuk melihat siapa yang kali ini datang ke tempat ini. Dan mereka dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah di tempat itu bersama dua orang pria dewasa yang tampak tengah mengawalnya. 


Zero melihat sepanjang jalan di tempat itu terdapat penjara besi yang mengurung berbagai jenis budak dari mulai anak-anak sampai orang yang sudah renta dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Wajah mereka memperlihatkan kalau mereka tidak betah tinggal di situ dan berharap ada orang baik yang mau melepaskan mereka. 


"Maaf, Tuan, budak seperti apa yang Tuan inginkan di tempat ini. Bisa beritahukan kepada saya, siapa tahu saya bisa mencarikannya." Penjual budak kali ini berusaha bersikap sebaik mungkin di depan Zero. 


"Aku menginginkan budak yang bisa diandalkan dan yang pasti mau bekerja keras," jawab Zero. 


"Kebetulan sekali kita di sini mempunyai banyak budak yang seperti itu. Mau saya perlihatkan."


"Ya, perlihatkan mereka padaku. Jika aku tertarik dengan mereka maka aku akan membelinya."


Penjual budak dengan antusias segera membawa Zero dan Gladius ke tempat budak-budak terbaiknya yang ada di tempat itu. Hingga tak lama mereka berjalan akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud. 


Di sana Zero menemukan sebuah kurungan besar berisikan puluhan budak yang dikurung di satu tempat yang luas. Tangan dan kaki mereka dipasung oleh sebuah rantai yang masing-masing terhubung satu sama lain sehingga mereka yang ada di dalam tidak bisa bergerak dengan leluasa. 


"Bagaimana dengan mereka, Tuan? Apa Tuan tertarik untuk membeli mereka?"


Zero bisa melihat jika budak-budak di sana memang berbeda dari yang sebelumnya dia temui dan kelihatannya mereka sesuai dengan kriteria yang diharapkan. 


"Buka kurungan dan rantai yang mengikat mereka, aku ingin menguji mereka terlebih dahulu…" titah Zero berniat menantang mereka semua yang ada di sana


Keesokan harinya, Zero kembali lanjut menyelesaikan dua tujuannya yang tersisa. Kali ini Zero berniat pergi ke tempat penjual budak untuk mencari budak yang bisa dia pekerjakan di kerajaannya. 


Berbeda dari yang kemarin, Zero hari ini tidak bisa menggunakan wujud dewasanya lantaran kemarin dia terus-terusan menggunakan wujud itu sampai kelewat batas. 


Zero pergi ke tempat penjual budak yang diusulkan oleh Gladius. Tadinya dia ingin pergi melakukannya sendiri, tetapi lantaran wujud Zero saat ini sangat berisiko untuk dilihat, Zero akhirnya mengajak Gladius untuk pergi ke tempat itu bersamanya. 


Lagi pula tidak mungkin orang yang menjual budak di sana mau menerima seorang bocah sepertinya, kecuali jika dia didampingi oleh orang dewasa seperti Gladius. 


Zero menuju tempat yang menjual budak dengan penampilan tertutup bersama Gladius yang menjaganya agar tidak terlihat oleh siapapun yang mengetahui identitasnya. 


Tempat penjual budak yang Gladius maksud berada di pojokan kota. Tempatnya terlihat agak sepi, kotor, dan tidak terawat serta hanya ada beberapa orang yang tinggal di sana. 


Orang-orang yang tinggal di tempat itu juga tidak seperti orang-orang yang Zero temui di pusat kota. Mereka memiliki wajah yang tidak bersahabat dan ekspresi yang seolah suka memancing keributan. 


Untungnya kehadiran Gladius di samping Zero membuat orang-orang itu tidak ingin mencari keributan dengannya. Mereka yang melihat Gladius memilih untuk menjauh seolah instingnya mengatakan sosoknya berbahaya jika didekati. 


Tak lama kemudian Zero dan Gladius pun sampai di tempat penjual budak. Mereka menemukan sebuah rumah besar yang sudah tua dengan gerbang yang tampak masih kokoh. 


Tanpa menunggu lama, Zero dan Gladius membuka gerbang itu dan masuk ke dalam. Di sana mereka disapa oleh seseorang yang bertugas menerima pelanggan yang ingin membeli budak. 


"Karena kalian mengetahui tempat ini, itu berarti kalian tahu apa yang kami sediakan di sini," kata orang itu melihat Gladius lalu bocah yang mengenakan kain tudung untuk menutupi kepalanya. 


Zero kemudian membuka tudung di kepalanya itu untuk memperlihatkan wajahnya pada orang itu. "Ya, Aku ingin membeli budak di tempat ini. Apa kau bisa memperlihatkannya padaku," kata Zero menyunggingkan senyuman tipis. 


"Hah? Kau bilang apa barusan bocah? Kau bilang ingin membeli budak di tempat ini? Apa aku tidak salah dengar?" Orang itu tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia pikir sosok pemuda di sampingnya yang ingin membeli budak di tempat itu. 


"Benar, dia di sini yang ingin membeli budak, bukan saya. Saya di sini hanya sebagai pengawalnya." Gladius mencoba meyakinkan orang itu namun dia malah mengerutkan keningnya. 


Selama dia bertugas di tempat itu belum ada seorang bocah yang ingin membeli budak dan ini merupakan pertama kali baginya. Dia ragu harus menerima pelanggan sepertinya atau tidak. 


"Hei, jika kau tidak segera membawa kita masuk, kita akan pergi dari tempat ini. Kau yakin ingin melepaskan pelanggan begitu saja," kata Zero terdengar tidak ingin  menunggu lama. 

__ADS_1


Orang itu mengamati Zero dan Gladius sekali kemudian mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah tua yang besar itu. 


Di dalam rumah tua itu, Zero dan Gladius dibawa oleh orang itu ke salah satu tempat. Di sana mereka bertemu dengan sosok pria maskulin yang menjadi penjual budak di tempat itu. 


"Oh ya, oh ya, ada apa gerangan anda datang ke tempat ini?" Penjual budak menghampiri Gladius dengan senyuman menjilat, mengabaikan bocah yang berdiri di sampingnya yang terlihat menghela nafas. 


'Inilah alasan mengapa aku malas berada dalam wujud ini...' kata Zero yang selalu merasa tidak dianggap ketika dirinya dalam wujud tersebut. 


"Kau pasti ingin mencari budak, kan? Benar, kan? Budak seperti apa yang kau mau? Coba katakan. Yang kuat untuk dijadikan pekerja kasar, atau yang seksi untuk dijadikan pemuas hasratmu. Atau kau sedang mencari budak yang bisa dijadikan peliharaan untuk melampiaskan kekesalanmu. Ayo katakan saja, aku akan mencarikanmu budak yang sesuai dengan kriteria yang kau inginkan." Penjual budak itu tampak berapi-api memberitahukan semua kriteria budak yang dia punya pada Gladius. 


Gladius tersenyum kaku dengan caranya diperlakukan oleh penjual budak. Sementara bawahannya mencoba membenarkan kesalahpahaman tuannya. 


"Maaf, Tuan, bukan dia yang ingin membeli budak di tempat ini, melainkan bocah di sampingnya…" kata bawahannya sambil menunjuk Zero. 


"Eh?" Penjual budak menaikkan satu alisnya menatap bocah di samping Gladius. Dia belum bisa memahami maksud perkataan bawahannya barusan. 


"Yang dikatakan olehnya benar, bukan saya yang ingin membeli budak di tempat ini, tetapi Tuan saya." Gladius ikut membenarkan. 


"Eh?" Penjual budak menatap Gladius penuh tanya sebelum menatap Zero kembali. 


"Aku ingin membeli budak di tempat ini. Cepat bawa kita ke tempat budak-budakmu segera," kata Zero terdengar malas. 


"Eh?" Penjual budak malah memiringkan wajahnya melihat Zero setelah mendengar permintaannya tersebut. 


"Jangan eh saja, cepat bawa kita ke sana..." Zero menatap tajam penjual budak itu. 


"Ehh!!" Penjual budak berteriak setelah berhasil mencerna perkataan bawahannya tadi.


"Tunggu, tunggu, tunggu, jadi kau yang ingin membeli budak di tempat ini? Apa aku tidak salah dengar?" Wajah penjual budak tampak keheranan mengetahui seorang bocah ingin membeli seorang budak. 


Zero berdecak malas sebelum mengeluarkan sekantong koin emas dan melemparkannya ke penjual budak. 


"Sekarang apa kau percaya?" tanya Zero sambil menyipitkan sedikit matanya menatap penjual budak. 


Penjual budak dan bawahannya yang melihat cara Zero mengeluarkan sekantong koin emas dari ruang hampa tertegun. Namun ketika mereka melihat isi yang ada di dalam kantong koin emas itu, mereka serempak berteriak karena terkejut. 


"Ehh!"


*~*


Setelah mengetahui kalau sosok bocah yang ingin membeli budaknya itu bukanlah bocah sembarangan, penjual budak segera membawa Zero dan Gladius ke tempat di mana budak-budaknya dikurung yang tempatnya berada di bawah tanah. 


Para budak yang terkurung di sana mendekati jeruji besi saat mendengar suara langkah kaki di dekat mereka untuk melihat siapa yang kali ini datang ke tempat ini. Dan mereka dikejutkan oleh kehadiran seorang bocah di tempat itu bersama dua orang pria dewasa yang tampak tengah mengawalnya. 


Zero melihat sepanjang jalan di tempat itu terdapat penjara besi yang mengurung berbagai jenis budak dari mulai anak-anak sampai orang yang sudah renta dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Wajah mereka memperlihatkan kalau mereka tidak betah tinggal di situ dan berharap ada orang baik yang mau melepaskan mereka. 


"Maaf, Tuan, budak seperti apa yang Tuan inginkan di tempat ini. Bisa beritahukan kepada saya, siapa tahu saya bisa mencarikannya." Penjual budak kali ini berusaha bersikap sebaik mungkin di depan Zero. 


"Aku menginginkan budak yang bisa diandalkan dan yang pasti mau bekerja keras," jawab Zero. 


"Kebetulan sekali kita di sini mempunyai banyak budak yang seperti itu. Mau saya perlihatkan."


"Ya, perlihatkan mereka padaku. Jika aku tertarik dengan mereka maka aku akan membelinya."


Penjual budak dengan antusias segera membawa Zero dan Gladius ke tempat budak-budak terbaiknya yang ada di tempat itu. Hingga tak lama mereka berjalan akhirnya mereka sampai di tempat yang dimaksud. 


Di sana Zero menemukan sebuah kurungan besar berisikan puluhan budak yang dikurung di satu tempat yang luas. Tangan dan kaki mereka dipasung oleh sebuah rantai yang masing-masing terhubung satu sama lain sehingga mereka yang ada di dalam tidak bisa bergerak dengan leluasa. 


"Bagaimana dengan mereka, Tuan? Apa Tuan tertarik untuk membeli mereka?"


Zero bisa melihat jika budak-budak di sana memang berbeda dari yang sebelumnya dia temui dan kelihatannya mereka sesuai dengan kriteria yang diharapkan. 


"Buka kurungan dan rantai yang mengikatnya, aku ingin menguji mereka terlebih dahulu…" titah Zero berniat menantang mereka semua yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2