Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Peraturan Yang Harus Ditaati


__ADS_3

"Ternyata ada juga bangsawan yang baik sepertinya. Aku kira yang namanya bangsawan itu hanya orang-orang busuk bermodalkan gelar saja."


Zero membicarakan Edward selagi berjalan kembali ke penginapan setelah selesai memberikan bayaran untuk membeli semua sumber daya pada pemilik toko luar biasa itu.


Gladius di sampingnya mengernyitkan sedikit dahinya mendengar penuturan Zero yang seolah baru pertama kali ini bertemu dengan bangsawan yang baik seperti itu.


Zero merentangkan kedua tangannya ke atas, menggeliat, "Ah...senangnya...Malam ini aku mendapatkan hasil yang sangat besar. Hahaha, aku tidak menyangka harga daun itu ternyata mahal sekali." Zero puas dengan hasil yang didapatkan malam ini.


"Menurutku saat itu Tuan sepertinya terlalu baik memberikan harga yang sangat murah untuk daun itu pada, Clarise-chan. Seharusnya Tuan meminta imbalan yang lebih banyak lagi saat itu." Gladius berpendapat, menanggapi perkataan Zero.


"Kau salah… menurutku dia pantas mendapatkannya dan seharusnya aku berterima kasih padanya, karena jika bukan karena dirinya, aku tidak akan pernah mendapatkan daun itu." Zero mengoreksi pendapat Gladius.


"Ah, begitu, ya. Maaf kalau aku salah."


Zero tidak terlalu memperdulikannya, tapi pendapat Gladius menyadarkannya akan satu hal.


'Hm...benar, sepertinya aku perlu memberikan sedikit hasil dari daun ini padanya,' pikir Zero.


"Omong-omong, Tuan. Apa yang ingin Tuan lakukan pada semua budak itu?" tanya Gladius penasaran.


"Untuk sekarang aku ingin mereka terus berlatih agar nanti bisa aku pekerjakan di kerajaanku. Aku yakin mereka suatu saat bisa menjadi salah satu tokoh yang berperan besar dalam membangun kerajaanku," ujar Zero


"Tuan memang hebat. Aku tidak sabar ingin melihat kerajaan, Tuan."


*~*


Tak lama mereka berjalan akhirnya mereka sampai di penginapan. Zero kembali ke ruangannya begitupun dengan Gladius yang juga menginap di tempat itu.


Malam sudah sangat larut. Zero melihat di dalam kamarnya, Fluffy dan Rimuru sudah tertidur pulas.


Tak ingin mengganggu mereka, Zero kembali ke mode asalnya lalu menjatuhkan dirinya di kursi dan melihat keadaan semua budaknya yang ada di dalam cincinnya.


"Apa kalian mendengarku?" Zero bertanya pada para budaknya.


Mereka tampak sedang asik bermain sambil menjelajahi tempat itu dengan riang. Mereka menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara Zero.


"Iya, Tuan. Kami mendengarnya," jawab mereka sambil menengadahkan pandangannya ke langit karena tidak menemukan Zero di sekitarnya.


"Berkumpulah." Zero bertitah.


Semuanya segera melaksanakan perintah tuannya dengan berkumpul.


"Aku ingin memberitahukan peraturan yang harus kalian taati mulai sekarang."


Semua budaknya memasang kupingnya dengan baik, bersiap menangkap apa yang akan Zero katakan.


"Pertama: Jangan pernah bertanya sesuatu yang tidak perlu padaku. Kedua: Jangan pernah membuatku mengulangi perkataanku. Ketiga: Jangan pernah ada pertengkaran diantara kalian. Keempat: Jangan pernah melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri kalian maupun orang lain. Dan yang terakhir: Hiduplah dengan damai. Mengerti?" Zero menuturkan peraturan yang harus mereka taati.


"Mengerti, Tuan!" jawab semuanya serempak.


"Bagus." Zero tersenyum, puas dengan respon mereka.


"Seperti yang kalian dengar sebelumnya, tempat ini hanya untuk sementara bagi kalian. Setelah semua urusanku disini selesai, aku akan membawa kalian ke kerajaanku," jelas Zero.


"Kerajaan?" Semuanya serempak mengatakan istilah itu dengan raut terkejut.

__ADS_1


"Ya. Kalian tidak perlu bertanya tentang kerajaanku, tapi yang pasti Aku mempunyai sebuah kerajaan," tutur Zero


Semuanya memilih diam menuruti kemauan Zero seperti peraturan yang harus ditaati oleh mereka.


"Aku ingin kalian bekerja di kerajaanku. Oleh karena itu mulai sekarang kalian harus belajar lebih giat lagi untuk mengembangkan bakat kalian. Aku akan mengirim semua kebutuhan sehari-hari kalian ke tempat itu. Sebutkan saja apa yang kalian butuhkan aku akan memberikannya. Jangan pernah sungkan-sungkan, karena mulai sekarang kalian harus bisa menjadi orang yang berguna, bagi baik bagiku maupun kerajaanku," ujar Zero panjang lebar.


"Baik, Tuan!"


"Kami berjanji akan belajar lebih giat lagi."


"Kami tidak akan mengecewakan, Tuan."


Kata semua budaknya penuh tekad. Zero tersenyum mendengarnya.


"Satu hal yang perlu kalian ketahui, jika kalian bisa memuaskanku dengan pekerjaan kalian, aku akan mencabut status budak kalian dan kalian bisa hidup normal seperti biasa." Zero mencoba menyemangati mereka.


"Sungguh?!" Semuanya tersentak senang mendengarnya.


"Tentu. Aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku." Zero meyakinkan mereka.


"Terima kasih banyak, Tuan!"


Semuanya seketika menjadi bersemangat dan termotivasi karenanya. Mulai detik ini juga mereka akan rajin belajar lagi untuk bisa memuaskan Zero demi mendapatkan sesuatu yang sejak dulu mereka impikan, yaitu kebebasan!


Selesai memberitahukan hal itu, Zero membuka menu store-nya untuk membeli lembaran kosong serta pena dengan jumlah yang banyak kemudian dimasukkan ke dalam ruang cincinnya untuk dibagikan pada semua budaknya.


Cincin tersebut sudah didesain langsung oleh Sistem agar bisa terhubung dengan semua yang ada di menu sistemnya, jadi Zero bisa memasukkan apapun ke dalamnya tanpa melalui perantara.


Buku dan pena yang Zero masukkan ke dalam ruang cincin itu jatuh di hadapan semua budaknya.


"Sekarang tuliskan semua yang kalian butuhkan di lembar kertas itu. Aku akan segera memberikannya," titah Zero yang langsung dilaksanakan oleh mereka.


Zero lalu membaca semua lembar kertas itu satu persatu, "Hm… banyak juga, ya… seperti biasanya, perempuan memang tidak main-main jika meminta sesuatu..." Zero tersenyum tipis sambil menggeleng pelan membaca semua keperluan mereka.


Zero membeli semua yang mereka butuhkan seperti tempat tinggal (berupa tenda), toilet (dalam bentuk kapsul), makanan serta barang-barang yang mereka minta tadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tak lupa Zero juga membeli semua kebutuhan untuk mereka belajar, contohnya seperti buku.


Malam itu Zero menghabiskan waktunya untuk memenuhi semua kebutuhan bagi keseratus orang lebih budaknya.


*~*


Besoknya setelah menyelesaikan quest, Zero mengajak Charla dan yang lainnya ke suatu tempat untuk memperkenalkan mereka.


"Apa yang ingin Zero-sama tunjukkan pada kita?" Charla dan yang lainnya penasaran.


Zero tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya lalu memberi perintah pada semua budaknya untuk keluar dari ruang cincinnya.


"Ehh~!" Charla, Sherria dan Fluffy berteriak, terkejut melihat ratusan perempuan muncul di samping Zero.


Gladius hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan karena sudah mengira mereka akan bereaksi seperti itu. Sementara Rimuru mengernyitkan wajahnya, tak nyaman mendengar teriakan mereka.


"Zero-sama... kenapa Zero-sama jadi seperti ini….Apa kita berdua saja masih belum cukup bagi Zero-sama?" Charla terjatuh sambil pura-pura terisak seolah sedang dihadapkan oleh sesuatu yang menyedihkan.


"Bodoh, kenapa kau berpikiran seperti itu? Mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanya budakku." Zero meluruskan kesalapahaman Charla.


"Tapi mereka semua perempuan…" Charla memanyunkan bibirnya sambil membuang muka pura-pura kesal.

__ADS_1


"Ah, maaf, Nona. Kami tidak mempunyai perasaan apapun pada, Tuan. Kami disini hanyalah budaknya. Tolong jangan salah paham dulu." Salah satu budak berinisiatif menengahi kesalahpahaman itu.


"Sungguh?"


"Benar…"


Sementara mereka memperdebatkan hal itu, Sherria kini tercengang saat mendapati wajah beberapa dari budak itu dikenalinya.


Beberapa budak yang mempunyai ras Demi-human di sana pun tercengang melihat Charla dan Sherria.


"Nee-san, itu Rifana, kan?" Sherria menunjuk ke arah budak yang dia kenal.


"Rifana?" Charla segera memusatkan pandangannya pada sesuatu yang Sherria tunjuk.


"Charla...Sherria..." Beberapa budak yang mengenal mereka menunjuknya juga.


Zero merajut alisnya mengikuti arah telunjuk Sherria tertuju karena penasaran. Gladius dan yang lainnya pun turut mengikuti.


"Apa benar itu kalian?" Charla dan Sherria berjalan mendekati beberapa sosok yang dikenalinya untuk memastikan.


"Iya, ini kita." Mereka menjawab penuh kebahagiaan karena tidak menyangka akan bertemu kembali dengan sosok yang dikenalinya.


"Rifana! Melty! Kiki! Bisky! Juvia!" Charla dan Sherria menunjuk masing-masing dari mereka sambil tersenyum.


"Sherria! Charla!" Mereka melakukan hal yang sama.


"Oh, kalian saling mengenal rupanya." Zero dan yang lainnya tidak menduganya.


"Mereka semua teman di desaku, Zero-sama." jelas Sherria.


"Begitu, ya…" Zero sudah menebaknya.


"Charla? Bukankah kau sebelumnya…" Rifana dan rekannya yang lain menunjuk Charla dengan keterkejutan karena dia mendengar dari Sherria sebelumnya Charla sudah tewas.


"Ah… itu... Panjang jika dijelaskan..." Charla menggaruk belakang kepalanya, kesulitan menjelaskan.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian kembali…" Sherria menangis karena terharu.


"Aku juga. Apalagi kalian ternyata memiliki hubungan khusus dengan Tuan…" Yang lainnya ikut-ikutan menangis.


Zero serta semua orang yang ada di tempat itu tersenyum, turut senang melihat mereka bisa berkumpul kembali.


Zero langsung menyadari satu hal saat melihat mereka. Pasti ada beberapa rekan dari desa itu yang menjadi budak seperti Sherria dan yang lainnya, begitu pikir Zero.


"Hei, apa kalian mengetahui sosok dibalik hancurnya desa kalian sekaligus sosok yang telah menjadikan kalian seorang budak?" tanya Zero memecah perhatian mereka.


Mereka saling berpandangan sebelum Juvia mengangkat satu tangannya.


"A-Aku mengetahuinya, Tuan…" Juvia menjelaskan kalau dia mengetahui sosok tersebut karena dia dulu pernah menjadi mainannya.


"Coba katakan siapa?" tanya Zero dengan wajah serius.


Juvia seorang yang mengenal siapa sosok tersebut memberitahukan pada Zero, nama, pekerjaan, tempat tinggal, ciri-ciri dan semua yang dia ketahui.


"Oh, jadi dia, ya… sayang sekali dia tidak ada di kota ini…" Zero menyayangkan hal itu.

__ADS_1


"Apa yang ingin Zero-sama lakukan?" tanya Charla.


"Kenapa kau malah bertanya? Sudah jelas bukan? Aku akan menghancurkan orang-orang seperti mereka." Suara Zero terdengar dingin.


__ADS_2