
Zero meminta pada petugas yang memandu mereka untuk mencarikan tempat terbaik untuk berlatih tanding, dimana hanya ada dia dan Gladius saja di dalamnya, karena dia tidak ingin ada siapapun yang mengganggu pertarungannya.
Zero menambahkan usahakan tempat itu luas dan tidak mudah hancur karena dirinya akan bertanding dengan Gladius secara serius.
Permintaan Zero membuat petugas dan pelatih yang ada disitu menelan ludah, karena menurut mereka jika seorang Magic Emperor seperti Zero bertarung dengan serius kemungkinan tempat yang akan menjadi tempat pertarungannya akan hancur.
Sayangnya mereka tidak bisa menolak apalagi energi sihir luar biasa milik Zero kini masih sengaja diperlihatkan pada mereka seolah ingin menekan mereka untuk menuruti permintaannya tanpa perlu membantah.
Gladius yang mendengar Zero ingin bertanding dengannya secara serius hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia juga sudah menantikan momen ini sejak lama karena dia ingin merasakan atmosfer ketika bertarung dengan Zero sekaligus ingin melihat hal menakjubkan berikutnya yang Zero perlihatkan.
Di tempat yang sama, Charla dan yang lainnya hanya bisa berharap mereka bertarung hanya sebatas untuk menguji kekuatan saja tidak ingin sampai membuat mereka celaka.
Setelah berdiskusi sejenak, pelatih dan petugas itu menyetujui permintaan Zero.
"Kalian berlatih dengan benar, ya."
"Siap, Zero-sama."
"Siap, Tuan."
Jawab mereka serempak.
"Zero-sama dan Gladius-san juga bertanding lah sewajarnya, jangan sampai mencelakakan diri kalian." Charla memperingati.
Zero hanya menjawab dengan senyuman dan menyuruh petugas itu untuk membawanya segera bersama Gladius ke sebuah ruangan khusus yang Zero inginkan.
Selagi berjalan, petugas itu menjelaskan jika tempat yang Zero inginkan ini sesuai dengan keinginannya. Selain tempatnya yang luas, tembok, atap dan lantai di tempat tersebut tidak akan mudah dihancurkan karena diselimuti oleh rune yang cukup kuat untuk menahan benturan apapun.
Tepat setelah selesai menjelaskan itu, mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. Sesuai dengan penjelasan petugas itu, tempat yang akan menjadi pertarungannya dengan Gladius sesuai dengan yang dia inginkan. Tidak ada benda atau alat apapun di dalamnya. Semuanya hanya berisikan lahan keramik kosong yang dikelilingi oleh tembok baja dan dilapisi oleh rune, dengan pencahayaan lampu yang cukup terang dan di dominasi oleh warna biru keputihan.
"Baik, kau boleh pergi sekarang."
Petugas itu mengangguk lalu meninggalkan Zero dan Gladius yang melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Zero kemudian menutup pintu tempat itu rapat-rapat dengan alat penutup khusus yang tersedia disana agar tidak ada orang yang masuk ke dalamnya.
Zero dan Gladius berjalan membagi posisi di tengah-tengah tempat tersebut. Mereka kini berdua saling berhadap-hadapan dalam jarak lima meter.
Gladius seperti biasa memasang senyuman khasnya. Sementara Zero masih mengamati tempat itu sebelum pandangannya terpusat pada Gladius.
"Apa kita bisa memulainya sekarang?" Zero tersenyum menantang.
"Aku sudah siap kapanpun, Tuan," jawab Gladius masih dengan senyuman yang sama.
Zero mulai melakukan pemanasan kecil dengan melemaskan otot leher dan membunyikan jari-jemarinya. Sementara Gladius terdiam di posisinya tanpa melakukan apa-apa.
"Yosh, aku akan memulainya… " Zero tersenyum lalu melesat menyerang Gladius menggunakan tangan kosong.
Melihat Zero bergerak menyerang, Gladius spontan menahan pukulan yang diayunkan padanya kemudian bergerak mundur dan memposisikan diri bertahan.
Zero masih belum menggunakan lima persen kemampuannya. Dia kini menyerang hanya sekedar untuk pemanasan. Begitupun dengan Gladius yang tampak masih bermain-main dengan Zero.
Zero sebelumnya tidak sempat mendengarkan sejarah tentang kehidupan masa lalu Gladius karena sibuk mengurusi berbagai hal.
"Apa Tuan yakin ingin mengetahuinya?" Gladius tersenyum sambil membuka sedikit matanya yang sipit seolah ingin mengisyaratkan sesuatu.
"Ya. Ceritakan semuanya padaku." Tepat setelah berkata demikian, Zero mementalkan Gladius yang berhasil menangkis pukulannya ke belakang.
Mereka berdua terdiam selama lima detik sebelum kembali melesat secara bersamaan.
Kali ini Gladius menceritakan tentang asal usulnya pada Zero selagi bertarung melawannya menggunakan tangan kosong.
Gladius mulai bercerita kalau dulu saat dirinya masih bayi, dia dan ketiga orang kakaknya dipungut oleh seseorang setelah orang tuanya membuang mereka di tengah hutan.
Seseorang yang memungut mereka ternyata seorang pemimpin dari kelompok pembunuh bayaran yang waktu itu paling ditakuti oleh orang-orang.
Mereka berempat saat itu diasuh dan dibesarkan oleh kelompok pembunuh bayaran hingga seiring beranjaknya usia mereka pun mulai dilatih tentang cara membunuh oleh mereka dan menjalankan tugas bersama.
__ADS_1
Sampai ketika mereka beranjak dewasa sesuatu terjadi pada kelompok itu. Salah satu kakak tertua Gladius tanpa tahu kenapa alasannya dengan teganya membantai semua kelompok itu dan hanya menyisakan adik-adiknya.
Kakak tertuanya itu berkata kalau mulai saat itu dirinya tersadar oleh suatu hal yang sangat penting. Gladius tidak tahu apa itu namun kakaknya menjelaskan kalau dirinya mendapatkan sebuah tugas yang harus dia selesaikan.
Selain kakak tertuanya kakak kedua dan ketiganya pun tersadar oleh suatu hal yang sangat penting. Mereka berdua juga sama, tidak bisa memberitahukan apa itu dan semuanya sepakat tidak akan membocorkan tugas mereka pada siapapun termasuk keluarganya sendiri.
Terakhir giliran Gladius sebagai adik terkecilnya yang tersadarkan oleh hal yang sama dan sama-sama mendapatkan sebuah tugas dari sosok yang bisa disebut sebagai ayah yang telah menciptakan mereka.
Bersamaan dengan mereka tersadar oleh hal itu, mereka juga menyadari siapa dirinya sebenarnya meskipun tidak tahu siapa orang tua yang telah menciptakannya.
Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk hidup sendiri-sendiri, berkelana ke berbagai tempat untuk menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Selesai Gladius bercerita, Zero bergerak mundur dan ingin menanyakan berbagai hal padanya.
"Coba beritahu aku tugas seperti apa yang ayahmu berikan padamu?" Zero bertanya dengan mata menyelidik.
Zero menduga sosok yang Gladius sebut sebagai ayah ini mempunyai latar belakang yang perlu diwaspadai. Terlebih salah satu anaknya kini menjadi bawahannya.
"Mm...aku hanya mendapatkan dua tugas, yang pertama carilah sosok yang menarik menurutmu dan kedua carilah kunci untuk membebaskanku," ujar Gladius sambil mengelus dagu dengan pandangan sedikit ke atas.
Zero melihat Gladius berkata apa adanya namun masih belum mengerti apa tujuan ayahnya memintanya untuk melakukan dua hal itu.
Akan tetapi kata, 'kunci' dan 'membebaskanku' membawa Zero pada satu pemikiran. Pasti ayah Gladius selama ini terjebak di suatu tempat, kemudian dia menyuruh anak-anaknya untuk mencari cara untuk melepaskannya, begitu pikir Zero.
"Jadi, apa kau susah menemukan sosok yang kau cari?" tanah Zero menyunggingkan sudut bibirnya.
"Selama ini aku sudah bertemu dengan banyak orang yang kupikir sebagai sosok yang selama ini aku cari, tetapi nyatanya aku selalu salah menduganya. Namun sekarang aku yakin, sosok yang ada di depanku sekarang adalah sosok yang selama ini aku cari." Gladius tersenyum pada Zero.
"Oh jadi aku ya sosok yang kau cari itu." Zero tersenyum tapi matanya menatap Gladius dengan penuh curiga.
Zero memejamkan matanya sesaat sebelum ketika membukanya kembali matanya terlihat begitu dingin menatap Gladius.
"Lalu, apa yang kau cari dariku?"
__ADS_1