Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Gelombang Monster XXII


__ADS_3

Perdebatan mereka segera dihentikan oleh salah satu anggota party Sean yang lain. Mereka yang ada di situ mendengarkan apa yang selanjutnya ingin dia sampaikan untuk memberitahukan pelaku dari serangan barusan. 


"Yang dikatakan oleh orang itu benar. Aku melihatnya dengan jelas kalau anggota party-ku lah pelakunya." Dia menunjuk rekannya sebagai pelaku dari serangan barusan. 


Rekannya tampak menunjukkan ekspresi terkejut begitu mendengar itu, sedangkan orang-orang yang mengetahui dia pelakunya memandangnya dengan tatapan tidak suka. 


"Hei, kenapa kau melakukan itu? Perbuatanmu barusan sama saja dengan mencoreng nama party kita." Anggota party-nya memandangi rekannya itu dengan tatapan prihatin seolah kecewa dengan aksinya tersebut. 


Ketika kedua petualang diamond di situ ingin mencari tahu reaksi Sean sebagai ketua dari anggota party itu, mereka menemukan Sean juga saat ini sedang menatap anggotanya itu dengan tatapan prihatin untuk menunjukkan kalau dirinya kecewa terhadapnya sekaligus menunjukkan kalau bukan dia yang memerintahkannya. 


Namun di sisi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun kini Sean sedang tersenyum sinis. 


Rekannya kini terdiam tak menjawab apapun selama beberapa detik sebelum kemudian dia terkekeh seolah baru saja mendapatkan lelucon yang lucu. 


"Benar, aku yang melakukannya. Aku juga yang telah membuat mereka yang dimangsa oleh monster itu tadi sebagai umpan. Semua itu kulakukan atas kemauanku sendiri." Petualang itu berpura-pura kalau dia yang melakukan semua itu. 


"Kalian ingin tahu kenapa aku melakukannya?"


"Tentu saja itu karena aku sudah bosan terus menunggu seperti ini, jadi kurasa yang kulakukan ini sudah benar," katanya terdengar seperti tak ada sedikitpun rasa malu setelah mengakui semua itu. 


Sebagian dari mereka yang mendengar pernyataannya itu mulai terpancing emosinya. Terlebih ekspresi yang ditunjukkan oleh petualang itu seperti sedang merendahkan mereka dan orang-orang yang telah dijebaknya. 


'Ada yang aneh…' 


Berbeda dengan yang lain yang tampak tidak suka dengannya, Iris malah menemukan ada suatu kejanggalan dari pengakuan petualang itu. 


Berdasarkan dari yang Iris lihat, petualang itu barusan menggunakan koin untuk melancarkan aksinya, sedangkan tadi dia tidak menemukan kalau orang-orang yang dimangsa oleh monster itu diserang oleh koin, melainkan benda kecil berbentuk bulat. 


'Apa benar dia pelakunya…' Iris meragukan orang itu. Pandangannya sejenak melihat ke arah Sean dan menatapnya dengan tatapan curiga. 


"Badjingan! Jadi kau yang sudah melakukannya! 


"Berani-beraninya kau mengorbankan rekan party-ku!"


"Kenapa tidak kau saja yang menjadi umpannya!"


Teriak beberapa petualang yang rekannya tadi tewas dimangsa oleh cacing raksasa itu. Emosi mereka mulai terpancing, namun mereka masih dalam kondisi siaga. 


"Jangan marah begitu. Padahal aku sudah baik loh memberikan mereka peran yang berarti di pertempuran ini. Aku yakin mereka sekarang pasti merasa senang karena telah membantu kita…walau hanya sebagai umpan..." Petualang itu mencoba memprovokasi orang-orang yang kini terpancing oleh omongannya. 


Akan tetapi sebagian dari mereka yang menyadari tujuannya tersebut memutuskan untuk tidak menanggapinya terlalu serius. Sementara sebagian orang yang berhasil terprovokasi oleh omongannya mencoba tetap mengendalikan dirinya. 


Terkecuali satu orang di antara mereka yang kini sudah tidak bisa menahannya lagi. 


"Badjingan! Aku akan membunuhmu!" 


Salah satu petualang yang tidak tahan lagi segera bergerak dari tempatnya dan berniat menghabisi petualang yang berhasil memprovokasinya itu. 


"Hentikan! Dia sedang memancingmu! Jangan termakan oleh jebakannya!" Petualang di dekatnya mencoba menghentikannya namun sayang dia terlambat. 


Sesaat kemudian cacing raksasa yang sejak tadi bersembunyi kini muncul kembali ke permukaan untuk memangsa orang yang termakan emosi itu. 


Sebagian dari mereka yang menganggap ini merupakan kesempatan yang pas untuk mengalahkan cacing raksasa itu segera melancarkan serangan untuk menyerangnya. 


Cacing itu menjerit saat terkena serangan mereka dan seperti biasa buru-buru kabur ke dalam tanah. 


Orang-orang yang menyerangnya barusan bisa melihat kalau tubuh cacing raksasa itu kini sudah banyak yang terluka dan kecepatan bergeraknya pun terlihat semakin berkurang. 


Dari situ mereka menemukan sebuah peluang untuk menang mengalahkan binatang jahanam itu jika mereka bisa melancarkan serangan seperti barusan. 


'Serangan barusan memberikan dampak yang jauh lebih kuat dari yang biasanya. Sepertinya tidak butuh tiga kali lagi, satu kali serangan seperti tadi semuanya akan selesai,' batin Sean menyimpulkan hasil pengamatannya. 


"Sialan...!" Petualang yang tidak bisa menghentikan rekannya tadi tampak murka dengan orang yang telah memprovokasinya. 

__ADS_1


Sayangnya untuk sekarang dia tidak bisa meluapkan kekesalannya itu karena dia tidak ingin ikut terjebak ke dalam jebakannya. 


"Setelah ini selesai aku akan membunuhmu!" ancamnya sambil menunjuk sosok yang telah membuatnya marah, tetapi orang itu sama sekali tidak takut dengan ancamannya. 


Kali ini tidak ada lagi yang terprovokasi oleh omongan petualang itu karena mereka tahu tujuannya melakukan itu yaitu untuk membuat mereka lengah dan berakhir seperti orang-orang tadi. 


Di satu sisi sebagian orang di situ merasa perlu berterima kasih padanya karena berkatnya binatang jahanam itu jadi bisa dikalahkan. 


Sean yang mengetahui rencananya berhasil diam-diam melengkungkan senyuman kemenangan. Dia merasa sebentar lagi kemenangan yang dia tunggu-tunggu akan berada di genggamannya. 


Sean kembali memberi kode pada anggotanya untuk melancarkan rencana selanjutnya sekaligus rencana yang terakhir. 


Beberapa anggotanya yang berada tak jauh di sekitar Bobby dan Iris berniat melakukan sesuatu pada masing-masing anggotanya yang kini tengah bersiaga. 


Diam-diam beberapa anggota Sean mengambil jarum seukuran jari telunjuk dari sakunya dan memposisikannya untuk menyerang anggota Iris dan Bobby. 


Kedua anggota party itu menjadi sulit berkonsentrasi saat tiba-tiba serangan beruntun datang dari berbagai arah dan mengarah ke arahnya. 


Walau demikian, dengan kesiagaannya saat ini mereka masih bisa menghindari serangan itu dan menjaga dirinya untuk tetap berkonsentrasi. 


"Siapa yang berani melakukan ini?"


"Jangan pikir kalian bisa hidup setelah menyerang anggota party-ku!"


Bobby dan Iris terlihat kesal mengetahui targetnya kali ini adalah anggota party-nya. 


Kali ini mereka tidak melihat kalau petualang yang mengaku tadi adalah pelakunya. Meski begitu mereka yakin orang itu mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengannya. 


Sayangnya mereka tidak bisa mengetahui siapa pelakunya karena pelakunya saat ini bersembunyi di antara seratus dua puluh orang yang masih bertahan di tempat itu. 


"Kali ini jarum, ya…" Iris melihat jarum bergeletakkan di sekitar tempat anggota party-nya tadi berdiri. Dari situ dia menyimpulkan pasti ada sosok yang menjadi tokoh utama dibalik serangan tersebut. 


Sean kembali memberi kode pada beberapa anggota party-nya untuk melancarkan serangan seperti tadi pada kedua anggota party Bobby dan Iris. Mereka dengan segera melaksanakan perintah itu. 


Untuk kedua kalinya kedua anggota party Bobby dan Iris berhasil menghindari jarum yang bergerak menyerangnya. Mereka juga berhasil menghindari setiap serangan itu sembari menjaga kesiagaannya. 


Namun di beberapa serangan berikutnya, ada satu di kelompok party Iris yang tiba-tiba terjatuh saat kakinya terkena sesuatu yang ternyata bukan jarum, tetapi benda kecil berbentuk bulat seperti tadi.


"Ketua!" teriaknya meminta pertolongan. 


Iris yang melihat anggotanya sedang dalam bahaya segera mengeluarkan tali akar dari tangannya untuk menyelamatkannya dari terkaman cacing raksasa yang bersiap memangsanya. 


Naasnya ketika Iris berhasil mengikat anggotanya itu dengan tali akarnya, dia malah ikut terseret oleh cacing raksasa yang beberapa detik kemudian muncul menerkamnya. 


"Ketua!" Para anggotanya berteriak melihat ketua dan rekannya terbawa ke udara oleh cacing raksasa yang berusaha memasukan mereka ke dalam mulutnya.


"Tunggu apa lagi! Ini kesempatan yang bagus untuk mengalahkannya!" Bobby berteriak pada semua anggotanya, menyuruh mereka untuk segera menyerangnya. 


Di saat mereka bersiap melancarkan serangan pada cacing raksasa itu, Bobby segera mengambil ancang-ancang dan melompat setinggi mungkin sambil membawa palunya untuk menyelamatkan Iris dan anggotanya yang saat ini sedang berjuang melepaskan diri dari mulut cacing raksasa itu. 


"Mati kau cacing jelek!" teriak Bobby sambil mulai mengayunkan palunya. 


Ketika Bobby sedikit lagi berhasil mengayunkan palunya itu tepat di bagian benjolan kepala cacing raksasa itu, sekelebat pisau tiba-tiba melukai tangannya dan berakhir membuat palu yang dia genggam terlepas. 


"Sial… siapa yang menyerangku…" Bobby yang melayang di udara melihat ke bawah untuk mencari tahu pelaku yang menyerangnya barusan. Di arah datangnya pisau itu, Bobby melihat Sean sedang tersenyum jahat melihatnya. 


"Sean… jadi kau dalang dibalik semua ini…" 


Bobby tidak menyangka jika sosok yang menyerangnya ternyata sosok yang selama ini sudah dia anggap sebagai sahabatnya


Bobby yang melayang di udara tidak bisa memposisikan tubuhnya dengan baik. Sialnya lagi dia malah terjatuh tepat di bagian mulut cacing raksasa itu yang saat ini tengah terbuka. 


Selain itu, palu yang dia gunakan untuk menolong Iris dan anggotanya tadi kini malah membuatnya celaka. Palunya yang terlepas itu menimpa Iris yang sedang berusaha menyelamatkan anggotanya dan membuatnya terdorong masuk ke dalam mulut cacing raksasa itu. 

__ADS_1


Pada akhirnya, Bobby, Iris dan anggotanya berakhir masuk ke dalam mulut cacing raksasa itu. 


"Semuanya serang!" Sean berteriak mengambil komando semua orang di tempat itu. 


Sewaktu cacing raksasa itu sedang bergelut dengan Iris, orang-orang yang berada jauh dengan target kini mempunyai kesempatan untuk mendekat dan bisa menyerangnya secara bersamaan. 


"Ha!!" Serangan dilepaskan bersamaan dengan teriakan mereka. Cacing itu menjerit kesakitan menerima serangan dari semua orang di tempat itu. 


Semua petualang yang masih bertahan, berusaha untuk tidak memberi cacing raksasa itu kesempatan untuk masuk ke dalam tanah. Mereka terus menyerangnya hingga cacing raksasa itu akhirnya tumbang. 


Para petualang langsung terjatuh lemas setelah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan cacing raksasa itu.


*~*


Pertempuran panjang nan melelahkan akhirnya selesai. Banyak korban yang berjatuhan di pertempuran ini. Di antaranya kedua tokoh penting yang telah berkontribusi besar dalam kemenangan yang berhasil mereka raih. 


"Ketua maafkan kita. Kita tidak bisa menyelamatkanmu..." 


"Aku masih tidak percaya kalau ketua bisa gugur seperti ini."


"Sial, pasti ada seseorang yang berbuat jahat pada ketua."


"Tidak mungkin ketua kalah, tidak mungkin…"


Kedua anggota party Bobby dan Iris tidak terima saat mengetahui kenyataan bahwa ketuanya gugur di detik-detik serangan terakhir tadi. Mereka tidak mengetahui bagaimana ketua mereka bisa tewas karena saat itu mereka sedang fokus menyerang cacing raksasa itu. 


Di tempat yang sama saat ini Sean bersama anggota party-nya tengah berkumpul di depan cacing raksasa yang sudah tidak berdaya. 


Para petualang yang tengah beristirahat di salah satu tempat menyerahkan tugas untuk mengakhiri cacing raksasa itu pada mereka serta meminta mereka untuk mengambil sumber daya berharga yang ada di dalamnya yang akan dibagi secara merata. 


"Semuanya berjalan mulus sesuai rencanaku…" kata Sean sambil berjalan mendekati bagian kepala cacing raksasa itu. 


"Kemenangan ini adalah milikku, bukan milik siapapun…" katanya sambil mengelus-elus bagian kepala cacing raksasa itu sebelum naik ke atasnya. 


"Dari pertempuran ini kita mendapatkan pelajaran yang berarti...Bahwa memanfaatkan orang lain untuk mencapai kemenangan merupakan jalan yang terbaik..." Sean tertawa di ujung kalimatnya. Para anggotanya hanya tersenyum menanggapinya. 


Sean selanjutnya mulai meraih tombak miliknya dan bersiap menancapkannya ke bagian kepala cacing raksasa itu yang terdapat benjolan seukuran tangan manusia yang dia ketahui merupakan titik lemahnya. 


"Dengan ini kemenangan akan menjadi milikku."  Sean lalu menggerakkan tangannya untuk menancapkan tombaknya untuk mengakhiri cacing raksasa itu. 


Setelah tombak itu tertancap, cacing raksasa itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sean menunjukkan senyuman kemenangan setelah berhasil menghabisinya. 


Selama beberapa detik senyuman kemenangan masih terlukis di bibir Sean. Namun senyuman itu perlahan memudar saat melihat apa yang terjadi pada cacing raksasa yang sudah tak bernyawa itu. 


Sesaat kemudian seberkas cahaya tiba-tiba keluar dari sekujur tubuh cacing raksasa itu yang kemudian diikuti dengan ukurannya yang entah kenapa semakin membesar. Sean yang masih berdiri di atas kepalanya terpaksa harus turun ke bawah saat itu terjadi. 


"Ada apa ini?"


Sean dan anggotanya yang ada di situ tidak tahu apa yang terjadi dengan cacing raksasa itu, tetapi firasat mereka mengatakan apa yang terjadi di depannya saat ini sangat buruk. 


Para petualang yang saat itu sedang beristirahat di suatu tempat segera memusatkan perhatiannya pada cacing raksasa itu untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana. 


"Cepat lari dari sini!" Sean segera lari saat menyadari bahaya besar akan terjadi di tempat itu. Anggotanya buru-buru menyusul dan berusaha menjauh dari tempat itu secepat mungkin. 


Namun naas, apa yang terjadi selanjutnya membuat usaha mereka sia-sia. 


"Tidak!!"


Cacing raksasa yang semakin membesar itu tiba-tiba meledak dengan begitu dahsyatnya. 


Duar!! 


Sean dan semua anggotanya yang terkena ledakan tersebut tewas seketika. Sepertinya ini merupakan balasan yang setimpal atas semua rencana licik yang telah dilakukannya tadi. 

__ADS_1


__ADS_2