Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Gelombang Monster XXI


__ADS_3

Di tempat yang sama, kelompok pasukan militer kerajaan juga mendapatkan bagian untuk menghadapi binatang jahanam. 


Binatang jahanam yang mereka hadapi saat ini berbeda dengan dua binatang jahanam lainnya. Jika kedua binatang jahanam yang lain terus bergerak dengan liar saat melawan musuhnya, binatang jahanam yang satu ini sejak tadi hanya diam di tempat. 


Meski begitu, hal itu tidak membuat beruang es yang memiliki bentuk tubuh tiga kali beruang biasa ini dapat dengan mudah untuk dikalahkan. 


Buktinya sampai saat ini belum ada satupun dari mereka yang berhasil menorehkan luka pada tubuhnya. Alih-alih menorehkan luka, mereka malah tewas terkena serangannya. Setiap serangan yang dilepaskan ke arahnya semuanya berhasil diantisipasi olehnya dengan mudah. 


Selain itu, suhu dingin di sekitar tubuhnya membuat mereka tidak berani menyerangnya dari jarak dekat. Mereka tidak ingin seperti rekan-rekannya yang sebelumnya tidak bisa berbuat apa-apaa saat berada di sekitar beruang es itu karena suhu dinginnya membuat kaki mereka membeku sehingga mereka pun jadi mudah untuk dihabisi. 


Saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerangnya dari jarak jauh biarpun serangan tersebut tidak berpengaruh sedikitpun. 


Apalagi sejak tadi komandan mereka (Michael) tidak ikut berpartisipasi membantu mereka melawan binatang jahanam itu. Michael malah asik sendiri mengamati aksi Zero di atasnya yang saat ini tengah bertarung melawan binatang jahanam lain seorang diri. 


Pasukannya yang tidak tahu harus bagaimana lagi mencoba membujuk Michael agar dirinya mau membantu mereka


"Komandan bagaimana ini? Kita tidak bisa mendekati monster itu dengan leluasa. Serangan jarak jauh pun tidak berpengaruh padanya." Salah satu ksatria suci bintang dua mengeluhkan kekuatan lawannya pada Michael. 


"Kita sudah mengerahkan semua yang kita bisa, tapi monster itu berada di tingkatan yang berbeda." Yang lain ikut menimpali. 


"Jadi kalian ingin menyerah hanya karena itu?" tanya Michael tanpa memalingkan perhatiannya pada Zero yang tampak sangat menikmati pertarungannya. 


"Tentu saja tidak, komandan. Kita hanya ingin meminta pendapat komandan bagaimana cara kita menghadapinya," jelas ksatria suci bintang dua bersikap hormat pada Michael yang statusnya satu tingkat lebih tinggi darinya. 


Meskipun hanya berbeda satu tingkat, tetapi perbedaan kekuatan dan status mereka sangat jauh sehingga mereka perlu berhati-hati ketika berhadapan dengannya. 


"Kalian hanya tinggal menyerangnya dan mengevaluasi apa yang kurang dari setiap serangan yang telah kalian kerahkan. Dari situ kalian pasti akan menemukan celah untuk mengalahkannya." Michael memberikan arahan pada mereka namun tujuan mereka bukan untuk itu. 


"Kenapa komandan tidak mencobanya dulu? Siapa tahu komandan tertarik untuk mengalahkannya."


"Ya, kita ingin melihat bagaimana aksi komandan menghadapi monster sepertinya. Apalagi sudah lama kita tidak melihat komandan beraksi."

__ADS_1


Ksatria suci bintang dua lainnya mencoba membujuk Michael agar dirinya mau membantu yang lainnya karena mereka sangat membutuhkan kekuatannya sebagai seorang ksatria suci bintang tiga. 


Mereka yang sudah lama berada di divisi yang sama dengannya tentunya tahu, dibalik ekspresi Michael yang terlihat seperti pemalas tersembunyi sosok yang menakutkan. 


Michael mengehela nafas dan menoleh melihat mereka. "Baik-baik, kalian tidak perlu membujukku seperti ini. Lagi pula aku sudah berjanji akan mengalahkannya," jawabnya terdengar malas, tetapi mereka senang mendengarnya. 


"Tapi tunggu setelah aku puas melihat bagaimana cara dia mengalahkan kelabang raksasa itu." Michael menunjuk sosok yang tengah bertarung sendiri di atas. "Untuk sekarang kalian main-main saja dulu dengan beruang itu. Syukur-syukur kalau kalian bisa sampai mengalahkannya tanpa bantuanku." 


Pernyataan Michael membuat mereka yang semula senang menjadi down. Sebagai komandan pasukan, Michael sejak tadi tidak menanggapi situasinya saat ini dengan serius. Hal itu membuat mereka tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk mengatasi orang sepertinya. 


"Eh, tapi Komandan..."


Kata-kata ksatria suci yang ingin protes berhenti tepat setelah dia melihat sorot mata Michael yang tajam dan terkesan mengintimidasi. 


"Jangan membuatku mengulanginya atau kubunuh kalian..." Perkataan Michael yang dingin membuat mereka yang mendengarnya bergidik ngeri. Terlebih ekspresi Michael kali ini tampak seperti orang yang benar-benar ingin membunuh mereka. 


"B-baik komandan. Untuk sekarang biar kita saja yang mengatasi monster itu. Silakan komandan lanjutkan menontonnya. Kita tidak akan mengganggu," kata salah satu dari mereka mencoba menenangkan Michael. 


Mereka yang ketakutan segera meninggalkan Michael dan mengikuti arahannya tadi. 


"Dibandingkan dengan kedua binatang jahanam itu, binatang jahanam yang menjadi bagianku ini terbilang mudah untuk dikalahkan," kata Michael setelah membandingkan kekuatan ketiga binatang jahanam yang muncul di tempat itu. 


"Meski begitu, binatang jahanam ini tetap saja lawan yang merepotkan..." Michael menghela nafas panjang di ujung kalimatnya sambil memandangi beruang es yang masih diam di tempatnya. 


*~*


Kembali pada situasi para petualang yang saat ini tengah menghadapi cacing raksasa yang sedang bersembunyi. 


Situasi para petualang saat ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Semakin banyak yang tertangkap oleh cacing raksasa itu membuat kesiagaan mereka semakin kuat. Bukan pada cacing raksasa itu saja, tetapi juga pada sosok yang telah berbuat licik pada rekan mereka yang sebelumnya tertangkap. 


Masih dalam siaga penuhnya, mereka mengamati keadaan sekitarnya yang dipenuhi lubang besar hasil galian cacing raksasa itu. Mereka mencari tahu kemana selanjutnya makhluk itu akan muncul. Yang pasti mereka sudah mengetahui kalau makhluk itu akan muncul di tempat orang yang sedang lengah. 

__ADS_1


Sembari menjaga kesiagaannya, Sean mencari cara agar dirinya bisa melancarkan aksinya kembali. 


'Kali ini mereka benar-benar berbeda dari yang sebelumnya…' Sean mengetahui situasinya saat ini tidak seperti tadi. Dia tidak bisa melancarkan aksinya lagi karena mereka yang masih bertahan di tempat itu kini sedang dalam siaga penuh. 


'Jika aku melakukannya sekarang kemungkinan mereka bisa menghindari seranganku dan mengakibatkan mereka menjadi tahu siapa dibalik tertangkapnya petualang-petualang tadi.' Sean memikirkan konsekuensi yang akan diterima jika dia gagal. 


'Lebih baik aku menggunakan mereka...' Sean melirik beberapa anggota party-nya yang berada tak jauh di dekatnya, berniat memanfaatkan mereka untuk rencana liciknya. 


Sean memberi kode pada beberapa anggotanya untuk mendekat kemudian diam-diam dia membicarakan sesuatu yang rahasia dengan mereka. Percakapan itu hanya bisa terdengar oleh mereka tanpa ada yang curiga sama sekali. 


Beberapa anggota party-nya mengangguk setelah mendapatkan perintah dari ketuanya lalu bergerak ke tempat-tempat yang diperintahkan tanpa menurunkan sedikitpun kewaspadaannya. 


Setelah mereka berada di tempatnya masing-masing, Sean memberi kode melalui matanya pada salah satu anggota party-nya untuk segera melaksanakan perintahnya tadi. 


Anggota party-nya yang mengerti mulai melancarkan aksinya. Dia mengambil koin tembaga dalam sakunya dan diam-diam melesatkannya ke salah satu petualang di tempat itu. 


Dengan cepat petualang yang menyadari serangan itu menghindar sambil menjaga dirinya tetap siaga. 


"Siapa yang menyerangku barusan?!" teriaknya terdengar marah. 


"Dia pelakunya!" Anggota party Sean menuduh orang di dekatnya sebagai pelaku dari serangan barusan. 


"Hah? Apa maksudmu menuduhku seperti itu! Bukanlah kau sendiri yang melakukannya!" Orang yang dituduh tampak kesal mendengar anggota party Sean menuduhnya yang melakukan itu padahal dia melihat kalau orang yang menuduhnya lah yang melakukannya. 


"Tidak, jangan percaya. Dia pasti yang telah melakukannya!" 


"Kau jangan menuduhku! Jelas-jelas koin itu datang dari arahmu!"


Kedua petualang itu saling berdebat tanpa sedikitpun mengurangi kewaspadaannya. Yang lain ikut mencari tahu di antara mereka siapa pelaku dibalik serangan itu. Sementara Sean yang melihat mereka dari jauh tersenyum licik karena mengetahui rencananya sudah dimulai. 


"Berhenti, aku mengetahui siapa pelakunya." Perdebatan mereka segera dihentikan oleh salah satu anggota party Sean yang lain. 

__ADS_1


Mereka yang ada di situ mendengarkan apa yang selanjutnya ingin dia sampaikan untuk memberitahukan pelaku dari serangan barusan. 


"Yang dikatakan oleh orang itu benar. Aku melihatnya dengan jelas kalau anggota party-ku lah pelakunya." Dia menunjuk rekannya sebagai pelaku dari serangan barusan. 


__ADS_2