Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Kemampuan Binatang Jahanam


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Apa katamu?" tanya Faltra terdengar tidak suka dengan persyaratan yang Akira katakan.


Sementara Zaltra begitu terkejut dan sama-sama tidak suka. Tetapi untuk sekarang dia tidak berani membantah keinginan Akira, pasalnya sebelum Zaltra kesini dia sudah mendengar apa yang telah dilakukan adiknya tadi sampai membuat dirinya tewas mengenaskan seperti itu di tangan Akira, jadi Zaltra sedikit memaklumi alasan mengapa Akira bersikap seperti ini padanya.


"Apa kau tuli? Jilat sepatuku, baru aku mau memaafkanmu." Berbalik dengan Faltra, Akira justru terlihat senang memancing emosi Faltra.


"Tidak sudi." Faltra membuang muka, dalam hatinya dia ingin sekali mencabik-cabik wajah Akira.


"Oh, begitu rupanya…" Menarik kakinya kembali, Akira menyunggingkan sudut bibirnya sebelum mengeluarkan aura sihirnya dan mengarahkannya pada Faltra seorang.


Biarpun Faltra memiliki energi sihir yang cukup besar, aura sihir yang Akira keluarkan mampu menekan Faltra hingga pada posisi berlutut. Bahkan Zaltra sendiri yang tidak terpengaruh oleh aura sihir milik Akira bisa merasakan seberapa kuat tekanan yang dikeluarkan oleh aura sihir tersebut.


"A-aku tidak bisa bergerak..." Faltra berusaha membangkitkan tubuhnya tapi tetap tidak bisa.


"Faltra turuti saja permintaannya." Perintah Zaltra merasa cemas. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk seperti tadi terjadi lagi pada adiknya.


"Tidak mau..."


"Jangan keras kepala."


Setiap Faltra menolak, aura sihir yang Akira keluarkan semakin kuat membuat Faltra kewalahan menahan aura sihir itu. Dengan decihan kesal akhirnya terpaksa Faltra menurut.


"Baiklah aku akan menuruti permintaanmu..."


Melihat Faltra mau menurut, Akira menarik kembali aura sihirnya. Faltra akhirnya bisa bernafas lega, begitupun dengan kakaknya.


Akira mengulurkan satu kakinya seperti tadi pada Faltra, "Lakukan…"

__ADS_1


Faltra dalam hatinya mengutuk keras perbuatan Akira. Jika bukan karena dirinya sudah tahu seberapa menakutkan sosok Akira, dia tidak sudi menuruti permintaan bocah tengik ini, harga dirinya sekarang benar-benar hancur!


Faltra memandangi kaki Akira, masih merasa ragu menuruti permintaanya sebelum Zaltra menyenggolnya pelan menyuruhnya untuk segera melakukan apa yang Akira katakan, Faltra pun mulai membungkukkan tubuhnya, meraih kaki Akira lalu menekukkan kepalanya dengan ragu dan secara perlahan mulai menempelkan bibirnya itu untuk menjilat sepatu Akira.


Namun sebelum mulut Faltra sampai, Akira menarik kakinya itu dengan cepat.


"Sudah cukup, aku memaafkanmu."


Faltra terkejut sekaligus kebingungan memandangi Akira. Di satu sisi dia merasa lega karena akhirnya dia tidak jadi melakukan hal yang sangat memalukan. Zaltra sendiri ikut merasakan hal yang sama.


"Terima kasih, Tuan." Zaltra membungkuk singkat. Sejak tadi Zaltra berusaha bersikap sesopan mungkin di depan Akira, mencoba untuk tidak menyinggungnya.


Faltra dengan berat hati ikut membungkuk, "Terima kasih sudah mau memaafkanku."


"Tidak perlu dipermasalahkan. Sekarang aku ingin membicarakan berbagai hal dengan kalian. Duduklah…" Akira mengangkat satu tangannya mempersilahkan mereka duduk. Dia ikut memposisikan dirinya bersila.


Zaltra duduk di tepian ranjang sementara Faltra lebih memilih bersandar di tembok dengan tangan menyilang di dada dan membuang muka. Akira tidak terlalu peduli dengan sikap Faltra yang tidak mengindahkan perkataannya barusan.


"Apa yang ingin Tuan bicarakan? Apa Tuan ingin membicarakan soal hadiah yang bisa Tuan dapatkan dari menolong kita?" tanya Zaltra hati-hati. Dia sudah mendengar sebelumnya soal Akira menginginkan bayaran yang setimpal untuk membebaskan seluruh rasnya dari tempat ini.


Kemudian Akira memandangi Faltra di belakangnya sekali sambil tersenyum tipis sebelum pandangannya kembali lagi pada Zaltra, "Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang masalah Binatang Jahanam ini denganmu seorang, Zaltra. Tapi karena kau membawa adikmu kesini kurasa tidak apa-apa. Kelihatannya dia cukup berguna."


Faltra yang mendengarkan hanya bisa berdecak kesal dalam diamnya. Sedangkan Zaltra tersenyum canggung.


"Coba beritahu aku informasi yang kau ketahui soal Binatang Jahanam ini? Apa kau memiliki pendapat atau cara untuk mengalahkannya?"


Zaltra terdiam sejenak sebelum mulai menjawab pertanyaan Akira. Dia mengutarakan pengetahuannya soal Binatang Jahanam dari mulai menceritakan tentang seberapa kuat pertahanan tubuhnya sampai-sampai semua senjata yang mereka punya pun tidak ada yang berhasil menembus atau bahkan menggores kulitnya sedikitpun.


Zaltra juga memberitahukan tentang kemampuan Binatang Jahanam yang mampu menghilangkan hawa keberadaannya sampai tidak bisa terdeteksi dan membuat Binatang Jahanam ini menjadi sangat sulit untuk dikalahkan.


Kedua hal itu merupakan alasan mengapa selama ratusan tahun ini mereka tidak pernah bisa mengalahkan Binatang Jahanam.


"Apa kalian tahu titik lemah dari binatang jahanam ini?" Akira bertanya selepas Zaltra selesai menjelaskan.

__ADS_1


"Selama ratusan tahun kami selalu berusaha untuk menemukan titik lemah yang dapat mengalahkan Binatang Jahanam ini tapi sayangnya belum ada satupun yang membuahkan hasil. Baik kulit maupun bagian yang lunak lainnya seperti mata ternyata sama-sama keras. "Zaltra menghela nafas di ujung kalimatnya. Di sisi lain Faltra hanya mengamati dalam diam, mencari tahu apa yang akan Akira lakukan sekarang setelah mendengar kenyataan itu.


Zaltra lalu mengumpulkan energi sihir di telapak tangannya untuk memanggil senjata yang dia punya, "Tidak ada satupun dari senjata kami yang efektif untuk mengalahkannya. Termasuk senjataku sendiri yang merupakan salah satu senjata paling kuat disini."


Akira mengamati senjata milik Zaltra berupa trisula berwarna perak yang ukurannya tiga kali dari trisula sekelompok ras duyung yang tadi dia lihat. Akira bisa melihat senjata milik Zaltra tidak terlalu buruk, jika harus ditingkatkan berdasarkan kelas kemungkinan senjatanya itu setingkat dengan senjata kelas B.


Akira membuka menu inventory-nya, ikut mengambil pedang kembar miliknya yang pada saat itu sempat terlepas ketika melawan Binatang Jahanam, "Senjataku juga sama..."


Zaltra yang melihat Akira mengeluarkan senjata dari ruang kosong terlebih senjata itu dia kenali terkejut. Faltra yang sejak tadi membuang muka ikut bereaksi melihat senjata Akira.


"Padahal senjata terbaikku ini kekuatannya mampu menembus pertahanan sekeras apapun itu. Tidak pernah kusangka kalau akan ada hari dimana senjataku menjadi tidak berguna." Akira terkekeh di ujung kalimatnya, memperlihatkan senjata miliknya pada mereka berdua.


"Tunggu...bukannya senjata ini sebelumnya sudah terlepas dari tangan Tuan? Bagaimana Tuan bisa mendapatkannya lagi?" Zaltra masih mengingat dimana pada saat dia menolong Akira pedang itu tidak sempat terbawa olehnya, membuatnya terheran-heran melihat senjata itu kembali lagi pada Akira.


Pada dasarnya semua senjata milik Akira ini mempunyai sistem kepemilikan. Meskipun senjata milik Akira ini terlepas, hilang, tertinggal maupun dicuri, senjatanya akan kembali lagi kepada pemiliknya dan akan masuk ke dalam menu inventory. Kecuali jika Akira sudah melepas kepemilikan dari senjata ini.


"Jangan dipertanyakan. Kau tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskannya, " ujar Akira.


"Baik." Zaltra mengangguk.


Akira memasukan senjatanya itu kembali ke ruang kosong—atau ke menu inventory-nya. Kedua orang yang menyaksikan itu hanya bisa terpana melihatnya, karena konsep pemanggilan senjata yang Akira lakukan tidak seperti mereka yang gunakan.


"Kurasa cukup sampai disini dulu." Akira menunda pembahasannya kali ini setelah merasa perutnya mulai minta diisi.


"Sekarang suruh seluruh rasmu untuk berkumpul kembali. Ada yang ingin aku lakukan. Nanti aku menyusul," titah Akira.


Zaltra tidak bertanya apa-apa. Dia langsung menurut dan bangkit dari posisinya, membungkuk singkat pada Akira lalu keluar dari ruangan.


"Faltra ayo." Zaltra menggerakkan lehernya menyuruh Faltra untuk ikut.


"Tidak. Aku masih mau disini, " tolak Faltra melirik kakaknya.


Zaltra ingin berkata tapi lebih dulu dipotong oleh Akira.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa. Biarkan saja dia disini. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan."


Zaltra menatap Akira sekali lagi kemudian mengangguk dan lanjut melangkah meninggalkan mereka berdua disana. Dalam hatinya Zaltra hanya bisa berharap semoga Faltra tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat Akira tersinggung.


__ADS_2