Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sepasang Kekasih & Akhir Perjalanan yang Panjang (Arc 3 End)


__ADS_3

Zero kemudian mengajak Viona pergi dari tempat itu menuju ke tempat lain yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk bersenang-senang. Khusus hari ini, Zero ingin memanjakan Viona mengingat besok dia akan berpisah dengannya. 


Zero membawa Viona ke berbagai tempat yang menurutnya bagus dan tempat-tempat yang Viona inginkan. Sudah lama dia tidak melakukan kencan seperti ini dengan Viona dan jujur dia sangat senang bisa merasakannya kembali. 


Begitupun dengan Viona, dia terlihat sangat menikmati detik demi detik yang dijalaninya bersama Zero meski terkadang dia suka merasa gugup saat mengetahui banyak orang memperhatikannya disebabkan dirinya berjalan dengan sosok yang baru-baru ini terkenal di kota tersebut. 


Menyadari hal itu, Zero menyarankan pada Viona untuk tidak perlu memperdulikan mereka dan fokus saja terhadap apa yang dilakukannya saat ini. 


Viona mencoba mengikuti saran Zero. Dia tidak ingin membuat Zero kecewa hanya karena hal sepele seperti itu. Dia ingin hari ini bisa menjadi hari yang berkesan bagi Zero dan juga dirinya. 


Saat berada di tempat aksesoris, Zero menemukan sebuah kalung yang berhasil membuatnya tertarik. Kalung itu berbentuk daun semanggi dengan warna perak dan di tengahnya terdapat berlian kecil yang tampak memiliki harga nilai yang tinggi. 


Tanpa banyak berpikir, Zero langsung membelinya tidak peduli mau seberapa mahal pun harganya. Zero lalu memberikan kalung itu untuk Viona dan memintanya untuk memakainya. 


"Kalung ini mahal sekali, Zero. Ini sungguh untukku?" Viona merasa segan menerimanya karena mengetahui Zero membeli kalung itu dengan harga yang sangat mahal. 


"Kau tidak perlu merasa segan begitu, Viona. Uangku masih banyak. Aku bahkan bisa membeli seribu kalung seperti ini jika kau menginginkannya." Viona tersenyum lebar memperlihatkan kalau harga kalung itu tidak seberapa baginya. 


"Sudah ayo pakai, jangan banyak protes."


Viona mengamati kalung mahal pemberian Zero selama beberapa detik sebelum memakainya. Ketika melihat pantulannya di cermin, Viona bisa melihat kalung itu sangat bagus saat berada di lehernya dan jelas dia sangat suka. 


"Bagaimana, apa kalung ini cocok untukku?" Viona meminta pendapat Zero. 


"Ya, kalung itu sangat cocok untukmu. Kau jadi semakin cantik, Viona." Zero tersenyum memuji dan membuat pipi Viona menjadi merah merona. 


Viona berterima kasih pada Zero dan mengatakan kalau dirinya sangat suka dengan kalung pemberiannya itu.


Zero dan Viona kembali melanjutkan kencannya meski hari sudah hampir gelap. Setelah mengunjungi beberapa tempat dan menikmati berbagai hiburan yang ada di setiap tempat itu, Zero membawa Viona ke tempat terakhir, yaitu salah satu penginapan yang ada di kota tersebut. 


Selesai melakukan transaksi, Zero segera menggendong Viona menuju ke salah satu kamar yang sudah dia pesan di penginapan tersebut tanpa menghiraukan resepsionis yang tersenyum penuh makna memandangi mereka berdua karena mengetahui apa yang akan mereka lakukan. 

__ADS_1


Zero hanya terkekeh ketika melihat reaksi Viona yang terkejut dengan aksinya. 


Viona yang awalnya kaget dengan Zero yang tiba-tiba menggendongnya perlahan bisa sedikit mengendalikan dirinya biarpun jantungnya saat ini sedang berdebar begitu kencang dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. 


"Zero, kamu sungguh ingin melakukannya?" Viona bertanya dengan ekspresi gugup dan malu tepat setelah mereka memasuki kamar. 


"Kenapa? Tidak boleh, ya?" Zero memandangi Viona yang berada di pangkuannya dengan sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia akan melakukan hal yang bersifat intim dengannya. 


"Bukan begitu…" Viona menggeleng pelan dengan wajah yang tampak merah seperti tomat. Dia kemudian memberi kode pada Zero kalau dia boleh melakukannya. 


Zero tersenyum sekali lalu membawa Viona ke ranjang yang sudah tersedia di kamar itu dan menjatuhkannya secara perlahan di atasnya. 


Menghela nafas sejenak, Zero mengelus rambut Viona beberapa usapan sebelum mulai melucuti pakaian yang membungkus tubuh indahnya. 


Viona hanya diam dengan jantung berdebar kencang di saat Zero membuka satu demi satu kancing yang menutupi pakaiannya sampai akhirnya hanya menyisakan bra yang menutupi buah dada miliknya yang ukurannya cukup besar. 


Zero menelan ludahnya kasar saat melihat tubuh atas Viona yang kini terbuka tampak begitu indah. Perutnya yang ramping disertai buah dadanya yang berisi membuat Zero sulit untuk tidak terangsang. Apalagi dengan kulit mulus nan putihnya juga disempurnakan dengan wajah cantiknya yang tiada tara, Zero jadi semakin tidak tahan ingin segera menarik pedangnya. 


"Zero, apa kamu pernah melakukannya dengan mereka?" tanya Viona ketika Zero mulai melepaskan bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang berisi dengan enam kotak terpahat begitu jelas di perutnya. 


Viona merasakan sensasi yang hangat namun mendebarkan ketika Zero melakukan itu. Dia juga sama-sama tidak bisa menahan dirinya ketika melihat tubuh Zero yang tampak kokoh dan sempurna serta wajah tampannya yang begitu menggoda. 


"Semenjak kita berpacaran dulu ini baru pertama kalinya kita melakukannya, kan?" tanya Zero setelah berhasil melepas rok yang menutupi bagian bawah tubuh Viona dan hanya menyisakan satu kain yang menutupi aset berharganya. 


"Maaf Zero karena dulu aku tidak pernah memberikan tubuhku untukmu. Kamu pasti mengerti kan alasannya." Viona memasang wajah bersalah disertai rasa malu karena tubuhnya kini tinggal tertutupi oleh dua kain yang menutupi bagian penting seorang wanita yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang. 


"Ya, aku mengerti…" kata Zero sambil menepis helai rambut yang menghalangi kening Viona. 


"Viona, kau tidak keberatan kan melakukan ini denganku." Zero memastikan sebelum memulainya. 


Viona hanya mengangguk mempersilakan Zero untuk melakukan apapun dengan tubuhnya. 

__ADS_1


Zero kemudian mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir milik Viona. Setiap sentuhan yang mereka berikan melalui ciuman penuh kasih dan cinta membuat seluruh tubuh mereka mulai memanas. 


Salah satu tangan Zero mulai bermain, menyentuh setiap bagian tubuh Viona yang terbuka, sedangkan tangannya yang lain membuka kain yang masih menutupi aset berharga milik Viona hingga membuat tubuhnya kini tidak tertutupi sehelai kain pun. 


"Uhh…"


Viona menggeliat setiap kali Zero menyentuh bagian tubuhnya, terutama di bagian-bagian yang sensitif. Jantungnya terus berpacu dengan kencang sampai terasa seperti ingin meledak. Baru kali ini dia merasakan sensasi seperti ini saat berhubungan badan dengan seseorang. Tidak bisa dipungkiri jika dia memang menikmatinya. 


Zero yang baru pertama kali melakukan hal seperti ini juga terlihat menikmatinya. Dulu dia selalu menahan hasratnya karena merasa belum pantas melakukan hal intim seperti ini lantaran dia menganggap wujudnya masih seorang bocah. Namun beberapa waktu yang lalu dia tidak lagi memikirkan itu setelah menyadari dirinya bisa menggunakan tubuh dewasanya ini untuk melakukan hal seperti ini. 


Zero ikut membuka semua pakaiannya dan bersiap memainkan pedangnya yang sejak tadi ingin dimainkan. 


Zero mulai memainkan pedangnya dengan berbagai gaya sementara Viona hanya bisa mengikuti alur permainan yang Zero tampilkan sampai akhirnya permainan itu mencapai klimaksnya. 


"Viona, terima kasih karena sudah mau mengabulkan permintaanku…" Zero terjatuh lemas di samping Viona setelah mengeluarkan semua cairan yang dia punya ke dalam tubuhnya. 


"Terima kasih juga Zero karena hari ini kamu sudah memberikan kenangan yang indah untukku. Aku mencintaimu, Zero…" kata Viona sambil mendekap erat tubuh Zero. 


"Aku juga mencintaimu, Viona. Kuharap kita bisa terus seperti ini selamanya…" Zero membalas pelukan Viona. 


Hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan dan tidak akan pernah Zero lupakan seumur hidupnya. Meskipun untuk sekarang Viona tidak bisa ikut bersamanya, tetapi dia sangat senang masih mempunyai kesempatan untuk bisa bersama kembali dengannya suatu hari. 


Keesokan harinya, Zero sudah tidak ada lagi di kota itu. Dia bersama Gladius pergi dari kota itu dengan menaiki wyvern menuju ke tempat kerajaannya berada. 


Sambutan hangat menyertai kedatangan Zero dan Gladius saat mereka tiba di sana. Semua orang yang tinggal di tempat itu tampak berkumpul di depan pintu masuk untuk menyambut sosok yang sudah lama mereka tunggu-tunggu kedatangannya. 


"Selamat datang kembali..." kata mereka serempak. 


"Aku pulang…" jawab Zero lalu melangkah memasuki kerajaannya dengan sikap selayaknya seorang pemimpin dengan dibuntuti Gladius di belakangnya. 


Zero akhirnya bisa kembali ke tempat ini setelah melalui perjalanan yang panjang.

__ADS_1


———


Arc 3 End


__ADS_2