
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
"Berakhir sudah…" Akira mengibaskan tangannya membuang ceceran darah milik Demios yang menempel pada pedang putihnya ke tanah.
{Makhluk buatan (code name: Demios) sudah dikalahkan}
{Anda mendapatkan 2500000 EXP}
{Anda mendapatkan 1200000 BP}
{Anda mendapatkan 500000 Orb}
{Level up}
{Level up}
{Level up}
{Level up}
"Kematianmu masih belum cukup untuk menghilangkan amarah di dadaku, apalagi untuk membayar kematian temanku... "Akira memandangi tubuh Demios yang sudah terbelah dan perlahan berubah menjadi partikel cahaya.
Lalu pandangannya beralih ke atas, "Aku akan meluapkan semuanya nanti pada sosok yang sudah menciptakanmu, dan juga sosok yang selama ini sudah mempermainkanku..." Akira menatap tajam langit di atas seolah sosok yang dicari ada disana.
Sejurus kemudian tiba-tiba Akira merasakan rasa sakit yang teramat sangat pada dadanya seperti dia sedang dihujam oleh ribuan pedang sekaligus.
"Arghh! Kenapa ini! Sakit sekali!" Akira memegangi dadanya yang terasa sakit.
Pada saat yang sama seiring berjalannya detik, Akira kembali ke mode asalnya disusul pedang hitam di tangannya ikut menghilang.
{Fatigue: 95} Tingkat kelelahannya meningkat drastis meski Akira hanya menggunakan mode ini selama beberapa saat.
"Sial, apa ini efek samping setelah menggunakan tahap terakhir dari mode berserker…" Akira terjatuh dalam posisi berlutut dengan tumpuan kedua tangan diikuti nafasnya memburu. Ini untuk pertama kalinya dia menggunakan mode berserker jadi dia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini.
Setelah rasa sakitnya sedikit mereda, Akira mencoba membangkitkan diri kemudian menghela nafas panjang, "Hah...akhirnya…"
Akira memandangi keadaan sekitarnya yang sudah porak poranda, berikutnya dia mengambil kembali pedang putih yang sempat terjatuh di sampingnya.
"Pedang ini...sudah pasti bukan pedang biasa…" Akira meneliti pedang yang tadi tertancap itu. Meski bentuknya terlihat biasa-biasa saja tapi setelah menyaksikan hanya dengan pedang ini saja dia bisa memenangkan pertarungan tadi sudah dipastikan pedang ini mempunyai nilai yang sangat tinggi. Kemungkinan itu yang Akira pikirkan.
"Aku akan mencari tahunya nanti."
Akira memasukkan pedang itu ke dalam inventory lalu meninggalkan tempat itu menuju ke tempat Fluffy.
"Ah, maaf. Aku terlambat, ya…" Setibanya disana, Akira melihat Fluffy kini sudah berubah menjadi partikel cahaya yang terbawa terbang ke langit.
Akira mendekati partikel cahaya itu.
"Flo...apa kau melihatnya? Aku menang...Aku sudah membalaskan kematianmu…"Akira menyentuh partikel cahaya yang berterbangan itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, Flo. Karena gara-gara diriku, kau jadi seperti ini. Maaf juga karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk membawamu keluar dari sini bersamaku…" Akira meluapkan perasaannya pada partikel cahaya itu seolah Fluffy masih ada disana.
"Terimakasih telah memberikanku kesempatan untuk hidup. Aku akan selalu mengingatmu..." Akira menghadap langit memandangi partikel cahaya milik Fluffy sampai akhirnya menghilang.
"Selamat tinggal temanku…" Akira menghela nafas panjang sambil memejamkan mata mencoba menerima kepergian Fluffy.
Begitu partikel cahaya itu sepenuhnya hilang sebuah panel muncul di sampingnya. Akira baru menyadarinya saat membuka mata.
{Misi terakhir di dalam Menara Agung telah selesai}
"Akhirnya perjuanganku selama ini membuahkan hasil juga." gumam Akira merasa lega.
Selesai membaca panel itu sebuah panel lain yang sangat besar muncul di depan Akira memperlihatkan berbagai dekorasi yang meriah dengan diatasnya tertulis ucapan selamat yang ditujukan pada Akira. Suara terompet dan kembang api kecil pun muncul bersamaan dengan panel itu.
"Ini terlalu berlebihan…" Akira menanggapi panel besar tersebut dengan tampang malas.
"Sistem Call: Sudah cukup. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Akira bertanya pada Sistem.
[Sistem akan membawa Anda ke lantai terakhir]
"Lantai terakhir? Jadi saat ini aku bukan berada di lantai terakhir!" Akira terlihat terkejut dan emosi.
[Benar]
__ADS_1
"Apa maksudnya ini! Jangan bilang di lantai terakhir ini aku akan menerima misi lagi!" Akira semakin emosi jika itu memang benar.
[Tidak. Semua misi sudah selesai]
Mendengar jawaban Sistem, Akira menelan emosinya kembali kemudian bertanya memastikan, "Apa benar begitu?"
[Ya]
Akira menghela nafas singkat, meminum potion untuk memulihkan tubuhnya lalu bertitah, "Baiklah segera bawa aku ke lantai terakhir."
[Baik. Anda akan dibawa ke lantai terakhir]
Seberkas cahaya biru dengan pola sihir di bawah kaki Akira muncul memperlihatkan proses sebelum Akira dibawa ke lantai terakhir.
"Benar, pasti kau ada disana…" Akira mengepal tangannya erat, tidak sabar ingin bertemu dengan sosok yang sudah mempermainkannya.
Setelah cahaya biru itu meredup, Akira akhirnya dibawa ke lantai terakhir
*~*
[Anda kini berada di lantai terakhir]
"Dimana aku? Kenapa disini gelap sekali?" Akira tidak tahu ada dimana dirinya saat ini. Pandangannya gelap tidak bisa melihat apa-apa.
Sebelum dia hendak menggunakan skill Night Vision-nya untuk melihat keadaan sekitar tiba-tiba saja tempat itu menjadi terang benderang, menyilaukan mata Akira untuk sesaat. Sampai ketika Akira membuka matanya, dia menemukan sebuah ruangan megah yang membuat sinar matanya berkilauan.
Semua benda yang Akira lihat di ruangan itu memancarkan kesan mewah dan bernilai. Baik dinding, lampu, lantai, tangga dan lainnya yang ada disitu semuanya mempunyai harga nilai yang sangat tinggi. Sudah jelas ini pasti rumah orang kaya.
"Apa benar ini lantai terakhir..." Akira cukup dibuat terkesan dengan tempatnya kini berdiri.
Saat pandangan Akira masih menelusuri tempat itu dia mendengar suara langkah kaki dan tak lama kemudian seorang pemuda berparas tampan muncul dari atas lalu turun melalui tangga sambil tertawa pelan.
"Hahaha, akhirnya kau datang juga. Aku ucapkan selamat atas perjuanganmu karena berhasil sampai ke tempat ini." Pemuda itu menepukkan tangannya pelan berkali-kali selagi menuruni anak tangga.
"Siapa kau?" Akira mengamati sosok pemuda dengan pakaian serba rapi yang berjalan mendekatinya sekarang.
Pemuda itu berhenti melangkah kemudian menyandarkan tubuhnya di sisi tangga,
"Bagaimana permainannya, sangat menyenangkan bukan?" Dia Tersenyum menatap Akira.
Pemuda itu melompat dari tangga menuju ke tengah-tengah tempat itu.
"Benar, ini aku. Yang Mulia Makhluk Agung. Sosok yang mempunyai kedudukan tertinggi diantara semua makhluk yang ada di dunia ini. Atau kau bisa mengenalnya sebagai pemilik menara ini." Pemuda itu merentangkan tangannya bersikap angkuh.
"Makhluk agung..." Akira merasa pernah mendengar nama itu.
"Oh, jadi kau orangnya..." Akira bereaksi saat mendengar istilah 'pemilik menara ini' yang tidak lain adalah sosok yang dia benci. Dia kemudian mengeluarkan mode berserkernya dan menatap bengis pemuda yang ternyata adalah seorang Makhluk Agung itu sebelum menghentakkan kakinya maju menyerang.
"Jadi kau orangnya!"
Saat jaraknya dekat, Akira melayangkan satu pukulan pada perut Makhluk Agung yang seketika membuat tubuhnya melengkung ke atas.
Tidak sampai disitu saja, dia terus melemparkan beberapa pukulan dan tendangan sampai akhirnya Makhluk Agung itu pun dilempar ke belakang melalui satu pukulan terakhir yang berisikan emosi Akira selama ini hingga menghancurkan tembok.
"Ah…" Makhluk Agung membangkitkan dirinya sambil mendesah. Dari romannya terlihat dia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Bahkan senyuman sejak tadi masih terlukis di belahan bibirnya.
'Dia sengaja tidak menghindarinya.' Akira menyadari Makhluk Agung seolah sudah siap dihajar habis-habisan olehnya.
"Tenanglah, kenapa kau terlihat sebegitu marahnya padaku..." Makhluk Agung berjalan dengan ekspresi santai mendekati Akira. Dia tidak terlihat marah sama sekali meski Akira sudah menghajarnya habis-habisan.
"Keppaarrat...Kau bertanya kenapa aku sebegitu marahnya padamu?!" Akira merasa muak dengan gelagat Makhluk Agung.
"Kenapa kau begitu mudahnya berkata demikian padahal kau tidak pernah merasakan apa yang selama ini aku rasakan!" Akira bergerak maju menyerangnya kembali.
Kali ini Akira menyerang menggunakan senjatanya. Dia menyayat-nyayat tubuh Makhluk Agung habis-habisan, meluapkan semua emosi yang ada dalam dirinya sambil menyerukan kekesalannya pada sosok yang selama ini telah membuatnya menderita.
"Kau sialan yang selama ini telah mempermainkanku!"
Srat
"Bedebah yang telah membunuh temanku!"
Srat
"Keppaarrat yang telah membuatku menderita!"
Srat!
__ADS_1
"Membuatku merasakan rasa sakit akan kematian, keputusasaan dan penyesalan sampai berkali-kali!
Srat
Akira menghentikan aksinya untuk menstabilkan nafasnya yang mulai tidak beraturan. Emosi masih membuncah di dadanya. Dia menatap Makhluk dengan tatapan penuh amarah.
"Aku sekarang sangat marah. Sangat marah. Bahkan tubuhku saat ini tidak bisa menampung seberapa besar amarahku padamu sialan!"
Akira melesat kembali dan menyerang Makhluk Agung membabi buta. Tapi kenyataannya sebanyak apapun luka yang Akira berikan, Makhluk Agung masih bisa tetap tenang. Bahkan masih bisa tersenyum santai.
'Sial, apa dia tidak merasakan sakit sedikitpun.' Akira mengumpat kesal.
"Sudah tenanglah..." Makhluk Agung memperlihatkan senyumannya selagi menerima setiap serangan dari Akira.
"Apanya yang tenang?!" Akira semakin emosi dan muak dengan senyumannya itu.
"Sudah lupakan saja semua yang terjadi. Semuanya sudah berakhir..."
"Kepparrat, kau semudah itu menyuruhku untuk melupakannya?! Jangan membuatku marah!" Akira yang dibuat emosi akhirnya menusukkan kedua pedangnya ke perut Makhluk Agung.
Darah keluar dari mulut Makhluk Agung mengenai wajahnya. Dia lalu melepas tusukannya dan menendang Makhluk Agung.
"Kau benar-benar membakar emosiku..."
Akira tidak lagi menyerang. Dia menatap Makhluk Agung yang bersandar di tembok dengan amarah yang masih membuncah.
Makhluk Agung membangkitkan dirinya lalu tersenyum, "Begitu, ya... Jadi, apa sekarang kau sudah puas?" Semua luka yang Akira berikan pada Makhluk Agung seiring detik tertutup kembali membuat Akira menghela nafas gusar.
"Kau boleh melampiaskan kekesalanmu padaku jika kau masih belum puas." Makhluk Agung mendekati Akira dengan kedua tangan direntangkan.
"Aku tidak akan pernah puas jika belum membunuhmu!" Akira kembali menyerang Makhluk Agung.
"Matilah...!" Dalam sekali serangan kepala Makhluk Agung hancur dari tempatnya dan tidak lagi berbentuk. Makhluk Agung pun tersungkur ke depan dan jatuh dalam posisi telungkup.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian kepala Makhluk Agung yang sudah hancur itu tiba-tiba utuh kembali, membuat mata Akira seketika melebar tidak percaya.
"Bodoh, jika aku mati siapa yang akan mengeluarkanmu dari tempat ini..." Makhluk Agung terkekeh selagi membangkitkan dirinya. Dia melemaskan otot lehernya memastikan kepalanya sudah kembali seperti semula.
"Mustahil..." Akira kehabisan kata-kata menyaksikan hal itu.
"Ah iya, lagi pula kau bisa melihatnya, kan. Aku tidak bisa mati..." Makhluk Agung terkekeh sambil mengangkat kedua tangan beserta bahunya ke atas.
"Tidak bisa mati..." gumam Akira sulit percaya ada makhluk seperti itu.
"Karena terlalu terbawa emosi kau sekarang jadi terlihat bodoh. Sudah tenangkan dirimu..." Makhluk Agung berjalan ke salah satu arah meninggalkan Akira, "Kau marah seperti ini karena temanmu sebelumnya mati bukan?" tanyanya tanpa menoleh.
"Ya. Itu salah satunya," jawab Akira terdengar masih ada kebencian di dalamnya.
Makhluk Agung berhenti melangkah, menggerakkan kepalanya ke samping, memperlihatkan sedikit senyumannya pada Akira, "Tenang saja, aku bisa menghidupkannya lagi..."
"Bohong. Bagaimana caranya." Akira tidak bisa percaya semudah itu. Karena itu terdengar mustahil.
"Hahaha! Kau pikir selama ini kau bisa hidup berkali-kali karena siapa?" Makhluk Agung tertawa lantang.
"Tentu saja karena Sistem."
"Pfft, sistem? Kau pikir siapa yang sudah menciptakannya?" Makhluk mencoba menahan tawa sambil memegang perut.
"Itu..." Akira kesulitan untuk menjawab. Dia pun menggaruk kepalanya kesal, " Ahk...Jika apa yang kau katakan itu benar, lantas bagaimana caranya?" Akira akhirnya memutuskan tuk mencoba percaya.
"Baik, aku akan memberitahukannya." Makhluk Agung berbalik menghadap Akira.
"Sebagai hadiah karena kau sudah menyelesaikan semua lantai yang ada di menara ini, kau boleh meminta tiga permintaan. Apapun itu." Makhluk Agung memperlihatkan tiga jarinya.
"Tiga permintaan. Apa kau sungguh bisa mengabulkan semua itu?" Akira terlihat ragu mempercayai perkataan Makhluk Agung.
Makhluk Agung berdecak berulang kali sambil menggeleng pelan, "Apa sebegitunya kau tidak percaya padaku?"
Dia lalu merentangkan tangannya bersikap angkuh, "Dengarkan sekali lagi siapa diriku. Aku adalah Makhluk Agung. Makhluk yang mempunyai kedudukan paling tinggi di dunia ini. Apapun yang aku inginkan bisa aku dapatkan. Baik harta, tahta, nyawa semuanya. Bahkan membalikkan surga menjadi neraka pun aku bisa, " ujar Makhluk Agung menyombongkan diri.
"Aku perlu bukti..." Akira menengadahkan sedikit kepalanya.
"Bukti, ya. Baik, coba sebutkan apa permintaanmu." Makhluk Agung menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Hidupkan kembali Naga Langit yang tadi kau bunuh."
Makhluk Agung menghela nafas, "Baiklah aku akan mengabulkannya," Lalu dia tersenyum lebar menatap Akira, "Tapi dengan satu syarat."
__ADS_1