Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Membangun Desa IV


__ADS_3

Setelah dihitung, orang-orang yang tadi mengintai Zero dan desa itu ternyata ada sembilan orang. Mereka semua mempunyai penampilan yang sama layaknya seorang ninja, yang membedakannya hanya wajah mereka tidak tertutupi kain, membuat raut keterkejutan dari wajah mereka terlihat jelas saat berhadapan dengan Zero.


Saat ini ketujuh orang diantara mereka sudah Zero lumpuhkan sementara sisanya tewas karena sempat mencoba melarikan diri.


"A-Apa yang ingin kau lakukan pada kami?" tanya salah satu dari mereka ketakutan. Kedua kakinya yang telah Zero lubangi membuatnya tidak bisa melarikan diri.


Nasib yang lainnya pun sama. Sama-sama tidak berdaya. Mereka kini hanya bisa pasrah menunggu takdir yang akan terjadi selanjutnya.


Zero berjongkok di depan orang itu kemudian menjawab,"Tidak ada. Aku hanya ingin mencari informasi dari kalian. Kalian kesini karena sedang mencari informasi juga bukan? Atau bisa dibilang kalian sudah mendapatkannya." Zero tersenyum ramah di depannya. Anehnya senyumannya itu malah membuat orang itu semakin ketakutan.


"Kau...kau pasti Venom, bocah yang sudah mengacaukan perang itu, kan?" seru salah seorang di belakang Zero.


Mereka semua mengenali tentang ciri-ciri bocah tersebut karena mereka saat ini memang sedang ditugaskan untuk mencarinya.


Berdasarkan yang mereka dengar dari satu-satunya orang yang berhasil selamat pasca kejadian itu ciri-ciri bocah tersebut yang paling mencolok yaitu bagian matanya yang tergores, sama persis dengan sosok yang ada di depannya sekarang.


"Ho~ jadi kau mengenalku rupanya..." Zero menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah orang yang mengenalinya itu, "Tidak...kalian semua pasti mengenalku." Zero melihat semuanya juga mengenalinya.


'Pantas saja mereka tadi berusaha melarikan diri secepat mungkin dariku.' Begitu pikir Zero saat mengingat kejadian sebelumnya.


"J-Jadi benar itu kau." Orang yang tengah Zero dekati merangkak mundur ketakutan.


"Ya. Kenapa? Apa kau ingin meminta tanda tangan dariku?" Zero terkekeh menanggapi ketakutan orang itu, "Kalau begitu aku bisa memberinya gratis, tapi dengan syarat tanda tangannya harus menggunakan darah kalian, bagaimana?" Zero tersenyum lebar, berdiri di tengah-tengah mereka semua.


Semuanya bergidik ketakutan melihat senyuman bocah di hadapannya yang terlihat jelas menakutkan.


"Ku-kumohon lepaskan kami!"


"Biarkan kami hidup!"


"Kami akan melakukan apapun yang Anda inginkan!"


Semuanya serempak bersujud memohon ampunan pada Zero. Mereka masih mempunyai keinginan untuk hidup dan tak ingin nasibnya sama dengan dua orang rekannya tadi yang sudah tiada.


"Boleh saja." Zero menyilangkan kedua tangan di dadanya, "Asalkan kalian jawab dulu semua pertanyaanku." Dia menaikkan satu sudut bibirnya di depan mereka.


"B-Baik! Kami akan menjawabnya!" seru mereka segera menurutinya.


Zero melepas lipatan tangan di dadanya kemudian bertanya, "Pertama, sebutkan dulu siapa kalian? Kedua, bagaimana caranya kalian bisa menemukan tempat ini?"


Mereka saling berpandangan memutuskan siapa yang akan menjawabnya sebelum pemimpin mereka memutuskan yang menjawab.

__ADS_1


"Kami semua dari regu pengintai kerajaan yang ditugaskan untuk mencari tahu tentang keberadaan anda. Kemarin sore kami mendengar informasi dari seseorang, katanya ada naga putih yang terbang ke arah sini...


Saat kami menuju ke sini, kami tidak sengaja mendengar suara yang sangat keras berkali-kali. Kami pun memutuskan mengeceknya hingga sampai ke tempat ini," jelas sosok yang memimpin kelompok itu.


"Mm...Begitu, ya." Zero memahami penjelasannya dan melihat orang itu tidak sedang membohonginya.


'Ah...Ini salahku juga karena tidak melihat situasi sekitar terlebih dahulu.' Zero menghela nafas dalam hatinya. Dia mengakui kesalahannya karena telah bertindak ceroboh.


"Apa hanya kalian saja disini yang ditugaskan untuk mencariku?" tanya Zero.


"B-Benar." Mereka mengangguk cepat.


Zero meneliti wajah mereka satu persatu dan menemukan mereka tidak sedang berbohong. Akan hal itu dia merasa beruntung karena informasi tentang lokasi tempat desa itu setidaknya masih belum bocor sampai ke orang-orang luar. Untuk sekarang dia sebisa mungkin ingin desa yang sedang dibangun ini tidak diketahui banyak orang karena dia tidak ingin menimbulkan banyak masalah karenanya.


'Mereka jelas bukan orang-orang biasa…" Dari awal Zero sudah melihat itu, 'Sepertinya mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi kerajaanku,' pikirnya memikirkan keuntungan yang bisa didapat dari mereka.


"Apa kalian yakin masih ingin tetap hidup?" Zero menilik keyakinan mereka.


"Ya. Kami masih ingin tetap hidup."


"Tolong lepaskan kami."


"Kami berjanji tidak akan memberikan informasi apapun yang kami dapatkan disini."


"Baik, aku akan membiarkan kalian hidup, tapi dengan satu syarat." Zero tersenyum sambil mengangkat satu jarinya.


Mereka saling berpandangan sebelum pemimpin kelompok itu memutuskan bertanya.


"Apa itu?" Mereka berharap syarat yang Zero ajukan tidak buruk.


Zero mengulurkan tangannya ke pemimpin kelompok itu lalu berkata, "Mulai sekarang kalian bergabunglah dengan kerajaanku."


Ketujuh orang itu saling berpandangan, merasa ragu untuk menerimanya. Bagaimanapun juga mereka saat ini masih bagian dari pasukan kerajaan. Mereka masih mempunyai tugas yang harus diselesaikan. Namun mau bagaimana lagi, keadaan mereka saat ini membuat mereka tidak mempunyai banyak pilihan.


"Bagaimana, tidak sulit bukan?" Zero tersenyum penuh makna seolah ingin memperlihatkan kalau dirinya bisa membunuh mereka semua kapan saja.


"Baik, kami akan menerimanya!"


"Ya. Kami akan bergabung dengan Tuan!"


Rasa takut akan kematian membuat semuanya setuju menerima tawaran Zero.

__ADS_1


"Tidak perlu takut. Aku akan memperlakukan kalian dengan baik jika kalian juga bisa berperilaku baik. Namun, jika kalian berani sekali saja berkhianat…" Tatapan Zero yang semula ramah berubah menjadi tajam diiringi aura sihir keluar dari dalam dirinya menekan tubuh mereka, "Aku bersumpah akan membuat kalian bersimbah darah dan menyesal karena telah hidup di dunia ini..." Suara Zero terdengar mencekam di telinga mereka sebelum dia menarik aura sihirnya kembali.


"Kami tidak akan melakukannya."


"Mulai saat ini kami akan menjadi abdi Tuan yang setia."


Zero bisa melihat kata-katanya barusan membuat mereka tidak akan pernah lagi berani bertindak bodoh untuk kedepannya.


"Bagus..." Zero senang mendapatkan bawahan yang bisa diandalkan seperti mereka.


Setelah mereka menerima tawaran untuk bergabung dengannya, Zero mengobati kaki mereka yang terluka dan menghidupkan kembali kedua orang yang tadi dia bunuh.


Mustahil…


Ketujuh orang itu terkejut bukan main saat menyaksikan rekannya yang tadi sudah tiada kini hidup kembali. Sama halnya dengan kedua orang yang sudah dibangkitkan kembali itu. Mereka awalnya tidak mengerti dengan keadaannya namun setelah mendengar penjelasan dari rekannya dan teringat akan kejadian sebelumnya, mereka semua—bukan hanya kedua orang itu— segera bersujud di hadapan Zero dan berjanji akan setia menjadi bawahannya selamanya.


Kesembilan orang itu merasa menjadi bawahan seorang dewa seperti Zero bukanlah suatu hal yang buruk jika dibandingkan menjadi bagian dari pasukan kerajaan mereka sebelumnya.


"Berdirilah, sekarang ikuti aku. Aku akan mengenalkan kalian pada yang lain."


Zero membawa mereka semua ke desa dan memperkenalkannya pada semua orang di sana. Orang-orang di desa awalnya terkejut mendengar siapa kesembilan orang itu tapi selanjutnya mereka menerimanya dengan baik.


Kesembilan orang itu merasa senang melihat mereka bukanlah orang-orang yang buruk dan terlihat mereka sangat menghormati sosok Zero. Mereka bersembilan merasa memang tidak salah pilih untuk menjadi bagian dari desa yang akan Zero ubah menjadi kerajaan ini.


"Tugas kalian sekarang yaitu mengamati orang-orang yang akan memasuki hutan yang menjadi pintu masuk menuju kerajaanku." Zero memberi tugas seperti ini untuk mereka karena dia sudah tidak perlu takut lagi jika mereka berkhianat. Semuanya tergambar jelas di wajah mereka.


"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan tugas ini sebaik mungkin." Mereka dengan senang hati menerima tugas itu.


Berdasarkan yang mereka katakan, mereka semua merupakan seorang Assassin penyihir kelas satu yang biasa bertugas mengintai seseorang, dan tugas yang Zero berikan ini sesuai dengan kriteria mereka.


Setelah memberikan tugas pada mereka, Zero kembali mengamati desa itu. Walaupun matahari sudah bersiap pulang ke peraduan, semua orang di desa masih sibuk bekerja tanpa kenal lelah membangun desa ini.


Saat malam hari tiba, Zero seperti biasa memberikan pesta yang meriah sebagai upah dari hasil kerja keras mereka.


Rasa lelah yang sebelumnya mereka rasakan seketika terlupakan oleh pesta yang meriah itu. Kesembilan orang itu pun ikut menikmati pesta yang Zero berikan dan untuk kesekian kalinya mereka merasa tidak salah pilih bergabung dengan desa ini.


Dalam satu hari ini sudah banyak hal yang sudah terjadi. Ah tidak, lebih tepatnya semenjak empat hari Zero menapaki dunia ini sudah banyak hal-hal yang sudah terjadi, seperti dirinya bertemu dengan Sherria lebih cepat dari yang dia kira, menyelamatkan desa, menghidupkan kembali Charla dan orang-orang desanya, menyatukan mereka semua dan saat ini membangun desa kecil ini menjadi kerajaan.


Waktu yang terjadi empat hari ini seperti terasa sangat lama bagi Zero. Takdir satu demi satu menyelesaikan semua tujuan dan keinginannya dengan begitu cepat tanpa pernah dirinya perkirakan.


"Ah… kuharap hari-hari selanjutnya masih sesuai dengan yang aku harapkan."

__ADS_1


Like & Coment


__ADS_2