
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Keduanya kembali bertarung. Pedang hitam dan pedang putih saling beradu menghasilkan gelombang dan dentingan yang sangat keras. Bahkan tanah yang menjadi pijakan mereka ikut terkena dampaknya.
"Kepppaarrat! Sudah cepat mati sana!!"
Membawa perasaan negatif yang terus bertambah besar dalam dirinya, Akira menyerang membabi buta tanpa peduli dengan serangan yang berhasil didaratkan oleh Demios pada tubuhnya.
Akira sudah sangat-sangat murka. Sejak tadi dia tidak bisa mengukur seberapa besar kekuatan makhluk buatan di depannya ini sampai semua cara yang dia kerahkan tidak ada yang berlaku.
Bahkan dalam mode ini pun Akira masih saja bisa didesak oleh Demios hingga kini dipaksa dalam posisi bertahan.
"Sial! Sial! Sial!" Akira terus mengumpat selagi menahan setiap serangan dari pedang yang Demios ayunkan padanya.
Status HP dan staminanya sudah terkuras banyak. Dia tidak bisa mempertahankan mode ini terlalu lama. Dia tidak tahu apakah bisa memenangkan pertarungan ini atau tidak.
"Tidak, aku harus menang! Apapun yang terjadi aku harus menang! "Akira mencoba menyemangati dirinya sendiri, bertekad untuk menang. Dia berusaha mengubah haluan ke posisi menyerang. Biarpun dia tidak bisa melukai tubuh Demios tapi dia tetap berjuang, berharap secercah keajaiban datang.
Sayangnya yang namanya keajaiban tidak akan pernah datang ke orang yang selalu bernasib sial seperti Akira. Sekuat apapun dia berjuang pada akhirnya hasilnya tetap sama. Akira lagi-lagi dipojokkan oleh Demios yang entah kenapa kekuatannya kini meningkat beberapa kali lipat hingga membuatnya tidak berdaya.
"Sialan! Cepat matilah! Kenapa kau keras kepala sekali!" Alih-alih menyerah Akira malah semakin beringas menyerang Demios.
Emosi yang membakar dirinya membuat Akira menyerang tanpa berpikir dan hal itu memberikan banyak celah bagi Demios mendaratkan serangan.
Dalam beberapa pola gerakan yang terampil, Demios mengayunkan pedangnya ke samping, mengarahkannya pada bagian bawah bilah pedang Akira dan membuat pedang tersebut terlepas dari genggamannya.
Tring!
"Celaka!" Akira seketika menjadi panik.
Selanjutnya Demios mengayunkan satu pukulan ke atas membuat Akira melayang di udara. Demios pun melesat ke udara dan melontarkan beberapa tebasan beruntun kemudian Akira dipentalkan balik ke bawah hingga menghantam tanah dan menghasilkan cekungan yang lumayan besar.
__ADS_1
Tidak berhenti sampai disitu saja, Demios melesat kembali ke bawah dan mendaratkan satu serangan dengan menginjak tubuh Akira yang terkapar menggunakan kedua kakinya, membuat cekungan yang sebelumnya lumayan besar menjadi sangat besar. Setelah itu Demios bergerak mundur.
Akira kini terkapar tidak berdaya. Tubuh kecilnya sudah babak belur dan dia sudah sangat lelah. Nafasnya memburu.
"Kenapa...kenapa...kenapa...." Akira memandangi langit sore yang mulai tampak kekuningan seiring dia kembali ke mode asalnya.
"Kenapa lagi-lagi seperti ini...?" Akira mempertanyakan keadaannya yang selalu ditimpai oleh kesialan. Saat menoleh ke samping, Akira menemukan Demios sudah memasang kuda-kuda bersiap mengakhiri hidupnya.
"Sial...apanya yang akan menang... apanya yang akan keluar dari tempat ini... semuanya percuma...Sekeras apapun aku berusaha hasilnya tetap sama..." Akira tersenyum prihatin melihat Demios sudah mengangkat pedangnya sampai satu titik cahaya muncul di ujung pedangnya. Kematian tidak bisa dielakkan lagi. Akira sudah pasrah...
Akira memandangi langit, meratapi detik-detik kematiannya dengan berbicara pada langit, "Sudah berapa kali kau mempermainkanku... mengapa kau tidak merasa sedikitpun kasihan padaku...apa aku pernah berbuat salah padamu, hah...tolong jawab...kenapa...kenapa hidupku selalu sial seperti ini..."Akira yang tidak tahan lagi mulai meneteskan air matanya. Air matanya mengandung rasa lelah, marah, frustasi dan kesedihan yang sulit diartikan.
"Sialan..."
Akira menoleh ke Demios untuk memastikan kematiannya kali ini mungkin tidak bisa terelakkan lagi. Dalam hatinya dia sedikit berharap ada secercah keajaiban yang datang menolongnya.
"Untuk apa aku berjuang selama ini jika hasil akhirnya akan seperti ini..."Akira melihat cahaya di ujung pedang yang dipegang Demios sudah terkumpul.
Sampai ketika Demios mulai mengayunkan pedangnya dan cahaya putih mengarah ke arahnya, waktu entah kenapa menjadi terasa sangat lambat bagi Akira.
Maaf, Charla...padahal aku sudah mendapatkan cara untuk menghidupkanmu, tapi sepertinya aku harus berakhir disini...
Maaf, Flo...sepertinya kita kalah...aku tidak bisa mengeluarkanmu dari tempat ini, aku tidak bisa bersamamu lagi...aku akan mati...kuharap kau bisa menemukan tempat yang layak disana ..." Akira memejamkan matanya bersiap menerima kematian untuk yang kesekian kalinya.
"Squekk!"
Namun ketika Akira mendengar sebuah suara yang sangat keras dan dekat sekali, Akira langsung membuka matanya lagi.
"Flo..." Kedua pasang mata Akira menemukan sesosok naga putih kini berdiri di depannya menjadi tameng dan menyelamatkannya dari kematian.
"..." Suasana menjadi hening untuk sesaat.
"Squekk..." Fluffy terhuyung ke belakang saat serangan yang Demios lepaskan mengenainya. Dia terjatuh dan kembali ke wujud manusia.
Akira yang menyaksikan itu menahan nafasnya sebelum berteriak dan langsung bangkit mendekati Fluffy tanpa peduli dengan rasa sakit pada tubuhnya.
__ADS_1
"Flo...kenapa...kenapa kau melakukan ini..." Akira membawa Fluffy ke dalam pangkuannya. Wajahnya bergetar, air matanya mulai mengalir.
"M-maaf..." Fluffy dengan segenap usaha melafalkan satu kata itu sambil tersenyum. Air mata ikut keluar dari kelopak matanya.
"Untuk apa kau meminta maaf...seharusnya aku yang berkata seperti itu. Karena gara-gara diriku yang lemah, kau menjadi seperti ini...Seharusnya kau tidak perlu menyelamatkanku, Flo... " Situasi saat ini mengingatkan Akira kembali pada kejadian sebelumnya saat kepergian Charla. Momen yang menyedihkan kembali terulang. Sosok yang dia kasihi lagi-lagi pergi meninggalkannya.
"Sial..! Kenapa kau selalu merenggut sosok yang kukasihi...! Belum cukup kau membuatku menderita...!" Akira berteriak sambil memandangi langit meluapkan kekesalannya ke sosok yang ada disana.
Meski waktu yang dia habiskan bersama Fluffy masih terbilang singkat, tapi Fluffy sudah menjadi sosok yang sangat berharga bagi Akira. Kehilangannya membuat dia bersedih.
Fluffy menggerakkan tangannya memegang dada Akira membuat pandangan Akira kembali padanya, "Ku-kumohon… hi...hiduplah..." Fluffy tersenyum hangat. Tangannya yang menempel di dada Akira mengeluarkan cahaya putih dan secara mengejutkan tubuh Akira perlahan sembuh, semua lukanya pun kembali tertutup begitupun dengan status HP-nya saat ini.
"Lukaku...Flo, apa yang…" Akira kesulitan berkata-kata menyaksikan apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Flo, jangan-jangan…" Kata-kata Akira terhenti saat melihat Fluffy perlahan memejamkan matanya.
"Hiduplah…"
Ketika memegang dada Akira, Fluffy menyerahkan semua yang dia punya hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Flo...Flo...! Flo…!" Wajah Akira bergetar melihat Fluffy tidak lagi bernafas di pangkuannya. Dia menggerak-gerakkan tubuh Fluffy namun tidak ada reaksi. Fluffy sudah tiada.
"FLO!!" Akira berteriak sangat kencang menghadap langit sebelum pandangannya segera terarah pada Demios yang berdiri tak jauh di depannya.
"KEPPARRATT!!" Akira menatap Demios penuh amarah sampai urat-urat di wajahnya keluar memperlihatkan wajah yang menakutkan.
Akira menjatuhkan Fluffy dari pangkuannya kemudian berdiri. Amarah kini membuncah di dadanya. Dia tidak terima sosok yang dia kasihi lagi-lagi pergi tepat di depan matanya.
"Keppaarrat...akan kubuat kau dan orang yang menciptakanmu menyesal..."
Akira menatap bengis Demios dengan gigi digertakkan. Tubuh Akira tiba-tiba memancarkan aura berwarna merah darah sebelum warnanya berubah menjadi warna hitam bercampur merah pekat.
Wujud Akira kembali berubah. Tanduk muncul di kedua sisi dahinya, gigi-gigi taringnya memanjang layaknya gigi hewan buas. Aura hitam kali ini menyelimuti seluruh tubuhnya, memperlihat wujud asli dari seorang iblis dengan kedua bola mata merah menyala.
Emosi negatif yang bergejolak di dalam diri Akira membawanya pada satu mode terakhir yang belum pernah dia gunakan.
__ADS_1
"Berserker Last Mode..."