Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Gelombang Monster X


__ADS_3

Perpaduan antara energi sihir dan aura pembunuh milik Zero seketika menciutkan nyali Sean yang baru saja meremehkannya. Bukan hanya Sean, kedua petualang di sampingnya pun langsung bergidik ngeri saat merasakannya. 


Ini untuk pertama kalinya mereka merasakan energi sihir serta aura pembunuh yang begitu menyesakkan. Dan sialnya pemiliknya ternyata sosok yang barusan Sean remehkan. 


Energi sihir dan aura pembunuh yang keluar itu bahkan sampai terasa ke tempat Gladius yang saat ini masih sibuk mengumpulkan inti monster. Gladius tersenyum sinis melihat ketiga petualang itu dan berpikir bahwa mereka telah salah menyinggung seseorang. 


'Apa-apaan orang ini. Kenapa dia mempunyai aura pembunuh dan energi sihir sebesar ini.'


'Bukankah orang ini terlalu berbahaya. Lalu bagaimana bisa orang sepertinya ada di sini.' 


Bobby dan Iris benar-benar merasa kurang beruntung karena telah berurusan dengan orang seperti Zero, sosok yang seharusnya tidak mereka singgung. 


'Tidak kusangka, selain kuat ternyata pria di depanku ini merupakan sosok yang haus darah. Sial, aku benar-benar ceroboh sampai berani meremehkannya.' Sean menyesali perkataannya barusan yang telah menyinggung perasaan Zero


Zero hanya memperlihatkan energi sihir dan aura pembunuhnya itu selama tiga puluh detik namun itu cukup untuk menakuti mereka bertiga. 


Itu juga cukup untuk membuat orang-orang yang tak jauh dari tempat itu bertanya-tanya tentang siapa pemilik dari energi yang begitu menakutkan tersebut. 


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud meremehkanmu. Sungguh, aku hanya khawatir kau nanti akan kewalahan jika melawan semua monster itu seorang diri. Maka dari itu kita menawarkan pilihan itu karena menurut kita itu yang terbaik. " Sean mencoba mengubah suasana hati Zero yang menjadi buruk gara-gara dirinya. 


"Apa yang dia katakan benar. Kita sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu. Kita hanya takut jika nanti tidak bisa mendapatkan keuntungan yang cukup dalam gelombang monster ini. " 


"Benar. Kita hanya ingin kau berlaku adil pada semuanya."


Kedua petualang lain di sampingnya ikut melakukan hal yang sama agar membuat suasana hati Zero kembali seperti semula. 


Pandangan Zero masih tajam menatap mereka bertiga, tetapi tidak lebih tajam saat menatap Sean. Zero kelihatannya kurang suka dengan orang yang mempunyai kepribadian licik dan pandai bersilat lidah sepertinya. 


Seiring menghela nafas, Zero kembali duduk di kursinya. Dia lalu berkata, "Dengar, kalian tidak berhak memaksaku atau siapapun untuk melakukan itu karena gelombang monster ini bukanlah milik kalian. Semua orang di sini berhak memburu berapapun yang mereka bisa. Lagipula tidak ada peraturan yang melarang kita untuk melakukan itu." Zero memberikan sepatah saran untuk mereka. 


Ini juga demi kebaikannya. Jika saja ada peraturan yang memaksanya untuk membatasi perburuan itu, tentunya Zero tidak akan bisa meningkatkan statusnya dengan cepat. 

__ADS_1


"Benar apa yang dia katakan. Kita hanya perlu bekerja lebih keras jika ingin memperoleh keuntungan yang besar dalam perburuan nanti," kata Bobby yang setuju dengan saran Zero. 


Sean dan Iris tersenyum kaku saat mengetahui mereka tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan Zero barusan. 


"Sudah pergi dari sini dan jangan menggangguku lagi atau kalian akan menyesal," ancam Zero mengusir mereka. 


Ketiga petualang itu pun pergi dari hadapan Zero dan sepakat tidak akan lagi mencari masalah dengannya. 


Setelah mereka pergi, Gladius yang sudah mengumpulkan semua inti monster itu menghampiri Zero. 


"Ada apa dengan mereka, Tuan? Kenapa tadi Tuan terlihat kesal sekali dengan mereka sampai-sampai Tuan harus mengeluarkan aura pembunuh." Gladius bertanya karena penasaran dengan masalah yang terjadi antara Zero dan ketiga petualang itu. 


"Bukan masalah besar. Mereka hanya memaksaku untuk tidak mengambil bagian buruan mereka di gelombang monster nanti. Dan aura pembunuh tadi aku tunjukkan hanya untuk menakut-nakuti mereka." Zero memberitahukan masalah yang terjadi padanya tadi. 


"Dasar orang-orang bodoh, berani sekali mereka memaksa Tuan melakukan itu. Mereka sepertinya sudah bosan hidup." Gladius membela Zero meski Zero tidak menanggapinya. 


"Kau sudah selesai mengumpulkan semuanya?" tanya Zero melihat ke arah kantong berukuran sedang yang dibawa oleh Gladius. 


"Bagus. Kalau begitu ayo kita cari penginapan untuk istirahat," ajak Zero melangkah pergi dari tempat itu. Gladius mengangguk dan mengikutinya dari samping. 


Di tengah perjalanan mencari penginapan, sekelompok party tiba-tiba berteriak dan menghentikan langkah Zero dan Gladius. 


"Maaf karena sudah menghentikan kalian seperti ini," kata salah satu dari mereka tersenyum canggung karena tidak terbiasa berhadapan dengan orang seperti Zero. 


"Tidak perlu basa-basi, cepat katakan saja, apa yang ingin kalian sampaikan," kata Zero menyuruh mereka untuk mengatakan tujuannya segera meskipun dia sudah tahu tujuannya itu. 


"Kami di sini hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih kami karena anda sudah menyelamatkan nyawa ketua kami," kata salah satu anggota party itu. Dia dan rekannya membungkukkan setengah badannya sekali, menunjukkan sikap terima kasih.  


Zero melihat kelihatannya mereka bukan party yang buruk. Ekspresi dan cara mereka bersikap menggambarkan kalau mereka adalah orang-orang yang bersahabat. 


"Jika bukan karena anda yang menyelamatkan saya, mungkin saat itu nyawa saya sudah melayang. Saya sangat berterima kasih atas hal itu," kata ketua party itu yang sebelumnya sempat diselamatkan oleh Zero. Bahunya kini terbalut oleh kain setelah baru selesai diobati. 

__ADS_1


"Padahal aku tidak mempunyai niatan untuk menyelamatkanmu. Kebetulan saja saat itu petirku menyambar ke monster yang hampir membunuhmu." Zero menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Aku tahu. Meski begitu, itu tidak menghilangkan fakta kalau anda sudah menyelamatkanku," kata ketua party itu.


Ketua party itu kemudian mengeluarkan sesuatu berupa kantong dari balik bajunya dan menyerahkannya pada Zero.


"Kami tidak mempunyai sesuatu yang mahal untuk membalas pertolongan anda. Kami hanya bisa memberikan ini sebagai rasa terima kasih kami karena anda sudah menolongku. Semua ini adalah inti monster yang sebelumnya kami kumpulkan," jelas ketua party itu menunggu Zero untuk mengambil sekantong inti monster itu.


"Ambil kembali inti monster itu. Aku tidak menginginkannya," tolak Zero.


Gladius yang berdiri di sampingnya sedikit terkejut mendengar Zero menolaknya.


"Kenapa anda menolaknya? Kami ikhlas kok memberikan ini untuk anda," kata ketua party itu memaksa Zero untuk menerimanya. Anggota party-nya pun ikut memaksanya.


"Sudah kubilang aku tidak menginginkannya." Zero mendorong kantong di tangan ketua party itu, menunjukkan kalau dia menolaknya.


"Jika memang kalian ingin membalasnya, berikan aku sesuatu yang lain," kata Zero menjelaskan alasan mengapa dia tidak ingin menerima kantong berisi inti monster itu.


"Apa itu?" tanya ketua party itu tidak tahu apa yang diinginkan oleh Zero. Gladius di sampingnya juga penasaran ingin mengetahui apa yang Zero inginkan dari mereka.


"Aku menginginkan informasi tentang salah satu bangsawan di kota ini. Jika kalian bisa memberikannya aku anggap semua ini lunas," jelas Zero sambil tersenyum tipis.


"Wah, kebetulan sekali kita tinggal di kota ini. Bangsawan seperti apa yang anda maksud itu? Mungkin kami mempunyai informasi tentangnya," kata salah satu anggota party itu yang ahli dalam mencari informasi.


Zero merasa beruntung mendengar mereka ternyata adalah orang-orang yang tinggal di kota ini. Ini merupakan kesempatan yang bagus bagi Zero untuk mencari tahu lebih banyak tentang orang itu.


Zero kemudian menjelaskan ciri-ciri bangsawan yang sedang dia cari di kota ini sampai akhirnya dia mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan tentang bangsawan itu dari mereka.


'Jadi dia orangnya...' Zero tersenyum dingin layaknya seorang pembunuh yang kejam setelah mengetahui identitas bangsawan tersebut.


'Tunggu saja setelah semua ini selesai...'

__ADS_1


__ADS_2