Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Perampok Bulan Merah


__ADS_3

Zero bersama semua anggotanya kembali ke guild untuk melaporkan hasil quest berkategori pahlawan yang telah berhasil mereka selesaikan.


Saat memasuki guild semua petualang yang penasaran segera menanyakan bagaimana hasil dari quest itu.


Zero hanya menjawab singkat kalau dirinya berhasil menyelesaikan quest itu kemudian melenggang pergi mengabaikan mereka menuju ke tempat administrasi.


Semua petualang takjub jika apa yang dikatakan Zero itu benar. Pasalnya quest tersebut sangatlah sulit, bahkan petualang pangkat pangkat pahlawan yang dulu pernah mencoba menjalankan quest itu gagal dan menganggap quest itu tidak akan pernah bisa terselesaikan oleh siapapun.


Jika memang Zero berhasil menaklukannya itu berarti Zero jauh lebih kuat dan hebat dari petualang pangkat pahlawan sekalipun.


Seperti biasa, Clarise yang selalu melayani Zero dan anggotanya segera membawa mereka masuk ke sebuah ruangan.


Zero langsung saja memperlihatkan kantong sulit berukuran sedang berisikan kristal hijau yang didapatkan dari tumbuhan parasit di kota itu sebagai bukti kalau dia dan anggotanya telah menyelesaikan quest tersebut.


"Sesuai dugaanku, Zero-san dan yang lainnya pasti berhasil menyelesaikan quest ini," kata Clarise yang percaya akan kemampuan Zero dan anggotanya.


Zero sudah menebaknya dari awal kalau Clarise yang telah memilih semua quest yang merepotkan ini untuknya. Meski semuanya merepotkan namun hasil yang didapatkan dari setiap quest itu selalu bisa memuaskan Zero.


"Ini imbalan atas keberhasilan kalian…" Clarise menyerahkan sekarung kecil berisikan puluhan gepok uang kertas.


"Wah~ Banyak sekali…" Zero serta yang lainnya terkesan melihat imbalan dari quest tersebut.


"Semua uang kertas itu jumlahnya tiga juta koin emas. Kami harap imbalan itu sebanding dengan apa yang sudah kalian lakukan," jelas Clarise sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Ya. Memang seharusnya begitu. Ini sudah lebih dari cukup untuk membayar jasa kami karena telah menyelamatkan kota itu. " Zero mengambil imbalan tersebut dengan senyuman.


"Ambil ini…" Zero memberi selembar uang kertas dari imbalan itu pada Clarise.


"Ah, tidak perlu, Zero-san. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa terus menerima pemberian, Zero-san. Sudah cukup, Zero-san sudah terlalu baik padaku." Clarise yang tidak enak hati menolak pemberian Zero.


Clarise sebelumnya juga pernah menerima uang yang jumlahnya sangat besar dari Zero atas penjualan daun emas waktu itu, padahal dia sama sekali tidak mengharapkannya. Dia merasa Zero sudah kelewat baik padanya.


"Anggap saja ini uang tip dariku karena kau sudah memilihkan quest yang bagus untukku."


Setelah dipaksa beberapa kali oleh Zero dan lainnya akhirnya Clarise mau menerimanya.


"Terima kasih, Zero-san. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan, Zero-san. Jika ada aku akan berusaha melakukannya," ujar Clarise sambil menundukkan sedikit wajahnya merasa sangat berterima kasih pada Zero.


"Kau bisa membalasnya suatu saat." Zero tersenyum tipis kemudian mengeluarkan satu lembar quest yang tersisa.


"Hm...Tinggal satu quest lagi, ya…" gumam Zero melihat quest terakhirnya.


"Setelah aku menyelesaikan quest ini aku akan dipromosikan menjadi petualang pangkat Diamond, kan?" tanya Zero memastikan.

__ADS_1


"Ya. Jika Zero-san gagal pun kami akan mengusahakan Zero-san untuk menjadi petualang pangkat Diamond, karena Zero-san sudah sangat layak mendapatkannya," jelas Clarise menunjukkan senyumannya kembali.


"Begitu, ya…" Zero cukup senang mendengarnya.


"Quest terakhir ini menyuruhku untuk mengatasi Perampok Bulan Merah yang terkenal sering meresahkan masyarakat." Zero membaca lembaran quest terakhirnya.


"Benar. Kusarankan agar Zero-san hati-hati dengan perampok ini. Soalnya mereka terkenal kejam dan sangat kuat. Terutama pemimpin mereka," jelas Clarise memperingatkan.


"Apa saja memang yang sudah mereka lakukan sampai mereka terdengar sangat berbahaya?" tanya Zero.


"Setahuku mereka biasa merampok seseorang yang memiliki kekayaan yang sangat besar. Biasanya dilakukan pada para bangsawan atau konglomerat. Dan mereka biasa melancarkan aksinya itu pada malam hari. Selain merampok mereka juga sering melakukan aksi pembunuhan pada para bangsawan," jelas Clarise.


"Begitu, ya…"


'Sepertinya mereka bukan sekelompok orang yang mudah untuk diatasi…' pikir Zero.


"Oh, iya. Omong-omong quest ini hanya menyuruhku untuk mengatasi perampok ini saja. Sedangkan aku tidak mempunyai petunjuk apapun itu untuk mencari tempat atau keberadaannya," ujar Zero.


"Ah, maaf, kalau itu Zero-san harus mencarinya sendiri." Clarise tersenyum kaku.


"Benar, aku bisa melakukan itu." Zero teringat dengan salah satu skillnya yang mampu melacak keberadaan seseorang hingga jarak tak terhingga.


"Apa kalian mempunyai benda atau sesuatu yang berkaitan dengan perampok itu?" tanya Zero.


"Baik, kalau begitu aku akan mencarinya nanti."


Setelah membahas hal itu Zero bersama yang lainnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.


Selesai berkemas diri, Zero dan Gladius menuju ke tempat salah satu ksatria suci yang mereka kenali. Sedangkan Charla dan yang lainnya disuruh untuk tidak mengikutinya dan bebas melakukan apapun dengan uang pemberiannya.


Hanya ada satu orang ksatria suci yang Zero kenali di kota ini. Dia bersama Gladius mencari tahu tempatnya tinggal dengan menanyakan informasi tentangnya pada satu bangsawan yang belakangan pernah dia tolong: Edward.


Tak lama bercakap-cakap, Zero pun mendapatkan alamat rumahnya dan segera bergegas menuju ke sana.


Tok, Tok, Tok…


Zero mengetuk pintu rumah Lawrence, salah satu ksatria suci yang dia kenali itu. Beberapa saat menunggu akhirnya pintu rumahnya terbuka.


Zero terkejut saat mengetahui siapa yang membukakan pintu itu. Seorang perempuan berambut sebahu berpapasan dengan Zero.


"Kau…" Perempuan itu menunjuk sosok pria yang setengah matanya tergores penuh keterkejutan.


Zero tersenyum kaku, tidak menyangka jika adiknya Lawrence akan tinggal satu rumah dengannya. Gladius di sampingnya tersenyum ramah seperti ingin menunjukkan kalau mereka adalah orang baik.

__ADS_1


"Kalau tidak salah kau adiknya Lawrence, kan?" Zero mencoba bersikap santai di depan adiknya Lawrence : Minerva.


"Ya, benar. Ada urusan apa kalian ke sini?" tanya Minerva dengan nada tak suka. Tatapannya masih tajam seperti waktu itu saat melihat Zero.


"Aku ingin bertemu dengan kakakmu. Apa dia ada di dalam?" Zero melirik ke arah dalam rumah yang cukup besar itu.


"Ada urusan apa kau dengannya? Kalau tidak ada urusan yang penting lebih baik kalian pulang saja." Minerva bersikap curiga menatap Zero dan Gladius sambil bersilang tangan di dada, tidak memperbolehkan mereka masuk.


"Apa dia ada di dalam?" Zero mengulangi pertanyaannya lagi dengan senyuman ramah namun hatinya sangat kesal dan ingin menghabisi wanita di depannya ini. Dia kali ini menyesal tidak menghabisi wanita merepotkan ini saat itu.


"Minerva siapa?" Suara seorang pria terdengar oleh mereka sampai beberapa saat kemudian sosok pria yang tengah memakai piyama tidur muncul dari belakang Minerva.


"Oh, kalian rupanya. Ada apa malam-malam datang kesini? Apa ada sesuatu?" tanya Lawrence tanpa mempedulikan ekspresi Minerva yang jutek menatap mereka.


"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," ujar Zero.


"Oh, kalau begitu ayo masuk," ajak Lawrence.


"Kakak kenapa menyuruh mereka masuk. Aku tidak mengizinkannya. Mereka pasti mempunyai niat jahat pada kita." Minerva menghalangi langkah Zero dan Gladius.


"Minerva, hilangkan sifat kecurigaanmu itu. Mereka adalah tamuku, mereka bukanlah orang jahat, jadi biarkan mereka masuk," kata Lawrence terdengar sedikit membentak mengomeli adiknya.


Lawrence percaya jika sosok yang telah menyelamatkan kekasihnya ini bukanlah sosok yang seperti adiknya pikirkan. Sebelumnya dia juga mendapatkan informasi dari Edward kalau Zero bukanlah orang biasa. Edward saat itu menyuruhnya untuk menghormatinya dan jangan pernah menyinggungnya saat berurusan dengannya.


Minerva mendengus kesal sambil menghentakkan kaki lalu pergi dari hadapan mereka dan kembali ke kamarnya.


Setelah Minerva pergi, Zero dan Gladius dibawa masuk oleh Lawrence dan dibawa ke ruangannya.


"Sesuatu seperti apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" tanya Lawrence tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Aku ingin mencari petunjuk soal keberadaan Perampok Bulan Merah. Seseorang mengatakan padaku jika ksatria suci di kota ini mengetahui banyak informasi tentangnya," ujar Zero.


"Kalau boleh tahu untuk apa kalian mencari mereka?" tanya Lawrence.


Zero tidak langsung menjawab, melainkan mengeluarkan selembar kertas quest terakhirnya dan menaruhnya di meja di depannya, menunjukkannya pada Lawrence.


"Aku bersama anggota party-ku mendapatkan quest untuk mengatasi mereka," jelas Zero.


"Hmm… begitu, ya. " Lawrence mengambil selembar quest itu lalu membacanya untuk memastikan.


'Ini quest asli... Dia sungguh mendapatkan quest seperti ini...Seperti perkataan ayah, mereka sepertinya bukan orang biasa.' batin Lawrence mengamati Zero yang terlihat tidak seperti penampilannya. Apalagi quest ini hanya diberikan oleh petualang yang mempunyai pangkat tinggi dan dipercaya mampu menjalankannya.


"Baik, aku akan memberitahukan semua informasi yang aku ketahui tentang perampok itu pada kalian."

__ADS_1


__ADS_2