
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Semua ras duyung yang berkumpul menatap Akira dengan penuh rasa tidak percaya saat menyaksikan secara nyata bocah manusia yang sejak tadi mereka hina ini mampu membunuh salah satu orang terkuat diantara mereka hanya dalam sekali ayunan tangan.
Apakah yang baru saja mereka lihat ini nyata? Bagaimana bisa seorang bocah manusia itu mempunyai kekuatan yang begitu menakutkan? Siapa dia sebenarnya? Itu yang semua orang pertanyakan saat melihat aksi Akira yang mengguncangkan tersebut.
Aksi yang baru saja Akira perlihatkan seketika membuat pandangan semua orang padanya berubah. Ada yang menatapnya penuh ketakutan seakan rasa takut pada Binatang Jahanam saja belum cukup kuat untuk menekan rasa takut mereka pada sosok bocah manusia di depannya ini.
Beberapa dari mereka pun ada yang mengeluarkan isi perutnya karena tak tahan menahan mual saat melihat darah salah satu rekannya berhamburan tepat di depan mata. Ada juga yang terjatuh lemas dan bahkan tidak sadarkan diri karena merasa putus asa menyadari sebuah ancaman baru telah tiba.
Semuanya sepakat kehadiran Akira akan menjadi sebuah ancaman baru di kehidupan mereka selain Binatang Jahanam.
"Ah...sepertinya aku terlalu berlebihan menggunakan skill Infinity Touch-ku..." Akira melihat tubuh Faltra yang sudah tidak berbentuk dan mulai berubah menjadi partikel cahaya sebelum menghela nafas.
"Mo...mo...monster!!" Memecah perhatian, salah seorang ras duyung menjerit ketakutan, terjatuh ke belakang sambil merangkak mundur dengan tubuh gemetar.
"Ahh!!!" Yang lainnya pun ikut menjerit histeris, terutama perempuan, mereka berhamburan panik ke segala arah.
"Semuanya! Berlindung! Selamatkan diri kalian!" Para ras duyung yang kelihatannya memiliki kemampuan mulai membentuk formasi, bersiap melindungi kawanannya yang lain. Mereka mengumpulkan energi sihir pada telapak tangannya hingga mengeluarkan senjata berupa trisula lalu memposisikannya tuk bersiap melawan Akira.
Melihat kepanikan mereka, Akira menggeleng pelan,"Bodoh…apa yang kalian lakukan? Kalian pikir bisa pergi dari tempat ini? Dan kalian…" Akira melihat sekumpulan ras duyung yang sudah membentuk formasi, menatap rendah mereka semua, "Kalian pikir bisa mengalahkanku, hah?"
Setelah berkata demikian, Akira mengeluarkan aura sihir yang begitu besar dalam tubuhnya, membuat tubuh sekumpulan ras duyung yang kepanikan dan mencoba melarikan diri itu menjadi terasa berat hingga pada kondisi dimana mereka menjadi tidak bisa bergerak dan dipaksa dalam posisi berlutut.
Aura sihir yang Akira keluarkan ini merupakan kemampuan khusus dari salah satu class-nya— Magician. Aura ini akan sangat efektif untuk menekan musuh dalam jumlah yang banyak dan pengaruhnya akan semakin besar pada musuh yang mempunyai sihir yang lemah.
"Ah, kenapa ini?"
"Tubuhku tidak bisa bergerak."
"Apa ini ulahnya?"
"Sial! Kalau begini kita bisa mati!"
"Tidak! Aku tidak ingin mati lagi!"
"Seseorang tolong selamatkan kami…"
Semua orang mulai membicarakan keadaannya masing-masing sebelum pandangan mereka serempak terarah pada Akira yang kini tengah menatap mereka semua dingin.
Begitu pandangan mereka terarah pada Akira, semua orang bisa melihat dengan jelas aura sihir yang terpancar dalam tubuhnya. Aura sihir berwarna biru tersebut menghasilkan angin yang bergerak sangat cepat mengitari tubuh kecilnya meliputi listrik statis yang memperlihatkan kilatan-kilatan kecil diantara sisinya. Jujur, mereka kini semakin takut terhadap bocah tersebut.
"Apa yang harus kita lakukan? Dengan keadaan seperti ini kita tidak bisa melindungi yang lain!"
"Sial! Siapa manusia ini sebenarnya?"
"Kekuatannya sangat mengerikan!"
Para ras duyung yang sudah memegang senjata mengumpat kesal pada kondisinya yang tidak bisa bergerak. Berdiri saja mereka sudah tidak mampu apalagi harus melindungi yang lain.
Ketakutan terukir jelas di wajah mereka saat melihat Akira mulai berjalan dengan langkah santai mendekati para ras duyung yang memegang senjata itu. Setiap Akira melangkah dan setiap jaraknya semakin dekat membuat beban di tubuh mereka pun semakin berat.
"Kumohon... tolong jangan bunuh kami. Jangan buat kami menderita lagi..." Salah seorang ras duyung bertubuh kekar yang merupakan pemimpin dari kelompok bersenjata itu memohon, diikuti dengan yang lainnya.
"Maafkan perbuatan kami sebelumnya. Kami mengaku salah..."
"Benar..."
"Tolong maafkan kami…"
Semua orang mulai menyatakan rasa bersalahnya pada Akira. Mereka benar-benar tidak berdaya di hadapannya dan hanya bisa pasrah memohon ampunan.
Harus mereka akui kini mereka menyesal karena tidak mendengar perkataan Zaltra tadi. Sekarang mereka tahu kenapa Zaltra begitu bersikeras menyuruh mereka mendengarkan penjelasannya, semua itu karena Zaltra tidak ingin kejadian seperti ini terjadi.
Akira tidak menanggapi perkataan mereka. Dia terus berjalan mendekati sekumpulan ras duyung itu sampai ketika tiba beberapa langkah dari mereka, Akira mengeluarkan sesuatu berupa kapsul dari kantong ajaibnya lalu melemparkannya ke bawah dan seketika sebuah kursi menyerupai singgasana muncul di sana.
__ADS_1
"Otto…" Akira menaiki kursi itu dan duduk santai disana layaknya seorang raja, melipat kakinya dengan tangan bertopang pipi diantara sisi kursi.
Akira kemudian berkata, "Bodoh... siapa juga yang ingin membunuh kalian. Lagi pula nyawa kalian tidak bisa menambah poin status yang kumiliki. Tidak ada manfaatnya."
Akira sudah melihat setelah Faltra tewas dia tidak mendapat apapun, kemungkinan yang lain pun sama. Dia berpikir akan jauh lebih baik jika memanfaatkan mereka daripada menjadikan mereka sebagai musuh.
Akira melihat ada ketakutan yang teramat sangat dari para kelompok bersenjata itu.
'Ah...Sepertinya mereka menjadi ketakutan padaku. Pertama-tama aku harus menenangkan mereka terlebih dulu, setelah itu aku akan memastikan mereka untuk menuruti setiap perkataanku.' batin Akira mengutarakan tujuannya.
Semua ras duyung saling berpandangan karena tidak mengerti dengan penuturan Akira barusan.
"Apa yang ingin Tuan lakukan pada kami…" Salah seorang berbadan kekar memberanikan diri bertanya sesopan mungkin. Sikapnya pada Akira kini berubah, padahal sejak tadi dia terus memprovokasi rasnya untuk membencinya.
"Tidak ada. Selagi kalian bisa bersikap baik di depanku, aku juga akan melakukan hal yang sama, " jawab Akira sambil perlahan mulai menghilangkan aura sihir yang menekan tubuh mereka.
Semua ras duyung tidak lagi merasakan ada tekanan pada tubuhnya dan bisa bergerak bebas sekarang. Namun kelihatannya mereka tidak berani kabur dari tempat itu bahkan untuk melangkah sedikitpun. Mereka kini mencoba bersikap sebaik mungkin di depan Akira agar tidak lagi menyinggungnya dan menghindari kejadian yang tidak-tidak.
Akira menegakkan tubuhnya, mengedarkan pandangan melihat seluruh ras duyung yang sempat ingin menyelamatkan diri itu. Dia juga menemukan beberapa orang terkapar tidak sadarkan diri, diantaranya para lansia dan perempuan yang sepertinya syok dengan kejadian tadi.
"Berkumpulah…" Suara Akira pelan namun mampu terdengar jelas ke kuping mereka.
Semua ras duyung yang berada di kejauhan sejenak saling berpandangan satu sama lain ragu sebelum memutuskan menurut dan berjalan beriringan mendekati Akira.
Akira menemukan ada beberapa orang yang sepantaran dengannya tampak masih menatapnya dengan penuh kebencian meski mereka saat ini berusaha menutupinya di depan Akira.
"Kalian menyadari kesalahan kalian bukan?" tanya Akira selepas mereka semua sudah berkumpul.
"B-Benar. Kami minta maaf, Tuan."
"K-Kami telah salah menilai, Tuan…"
"Maafkan kami…"
Mereka menjawab dengan terbata-bata, rasa takut masih menyelimuti diri mereka.
"Aku sudah dengar dari Zaltra soal kalian sangat membenci manusia, jadi aku tidak terlalu peduli kalian ingin menilaiku seperti apa…
Namun..." Akira kembali mengeluarkan aura sihirnya, menekan tubuh mereka dalam posisi berlutut.
"Namun bukan berarti kalian harus memperlakukan pemimpin kalian dengan cara seperti itu. Kalian seharusnya berterima kasih padanya. Dia rela melakukan hal yang hina di depan sosok yang sangat dia benci, semua itu demi kalian semua. Jika bukan karena dia, aku tidak mau repot-repot mengulurkan tanganku untuk membantu kalian."
Selesai memberikan seporsi ceramah pada mereka, Akira menarik lagi aura sihirnya membuat tubuh mereka kembali normal.
Semuanya serempak melihat Zaltra yang tengah terkapar tidak sadarkan diri di belakang Akira kemudian meminta maaf dan mengakui kesalahannya karena yang Akira katakan sepenuhnya benar.
Setelah itu salah seorang berbadan kekar memberanikan diri maju ke depan dan bertanya, "Maaf Tuan, maksud perkataan Tuan barusan... itu berarti Tuan sunggug ingin menolong kita?" tanya nya hati-hati. Semua orang mulai berharap semoga itu memang benar.
"Ya. Aku akan membantu kalian keluar dari tempat ini."
"Benarkah?"
Semua orang yang berkumpul tidak bisa menutupi rasa senangnya setelah mendengar jawaban Akira. Mereka menarik nafas lega karena akhirnya Akira tidak akan lagi menjadi sebuah ancaman, malahan bisa dibilang menjadi seorang sekutu yang bisa diandalkan.
Satu persatu dari mereka mulai menaruh rasa hormat pada Akira. Sesuai perkataan Zaltra sebelumnya, ternyata sosok manusia yang ada di depan mereka sekarang ini tidak seperti manusia yang mereka kenal, begitu kata hati mereka.
"Jangan salah paham dulu, bodoh..."
Raut wajah semua orang berubah ketika kata-kata tersebut keluar dari mulut Akira. Mereka memandangi Akira penuh tanya.
"Aku membantu kalian bukan berarti aku peduli pada kondisi kalian. Ingat, aku bukanlah sosok yang biasa kalian kenal sebagai pahlawan. Atau pahlawan konyol yang biasa kalian dengar di kisah-kisah masa kecil kalian yang rela melakukan apapun bahkan untuk mati sekalipun hanya demi mengharapkan satu kata terimakasih belaka.
Konyol sekali...
Anggap saja aku adalah pahlawan yang mencari keuntungan dan kompensasi yang setimpal dengan yang akan aku lakukan. Jadi, sekarang apa yang bisa kalian berikan padaku sebagai bayaran yang setimpal membebaskan kalian dari tempat ini?"
Semua orang saling berpandangan terlihat ragu untuk menjawab keinginan Akira. Mereka yang mulai menaruh rasa hormat pun menariknya kembali rasa itu saat tahu Akira melakukan ini ternyata ada maunya.
Melihat tidak ada satupun yang menjawab, Akira turun dari singgasananya, "Baiklah, untuk sekarang diskusikan permintaanku itu. Aku ingin ke kamarku dulu. Sekalian urus mereka yang tidak sadarkan diri."
__ADS_1
Dalam sekali pukulan, Akira merubah kursi singgasananya itu menjadi debu lalu berjalan ke belakang tuk kembali ke kamarnya. Menyaksikan hal itu semuanya serempak menelan ludah dan bergidik ngeri dengan kekuatan Akira yang menakutkan.
Akira berhenti melangkah tepat di samping Zaltra yang masih tidak sadarkan diri, "Dan katakan pada dia untuk ke kamarku setelah dia sadar..." titah Akira menoleh sebentar ke kerumunan dan kembali melangkah.
"B-Baik!"
Setelah jaraknya cukup jauh, Akira bisa mendengar percakapan mereka. Mereka terdengar sedang mulai mendiskusikan permintaan Akira. Sebagian ada juga yang mengeluh dan memaki Akira di belakangnya.Akira yang mendengarkan hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
*~*
'Sebisa mungkin aku ingin mencari keuntungan lain di tempat ini. Apa mereka mempunyai sesuatu yang menarik.' Selama merebahkan tubuhnya di ranjang, Akira memikirkan keuntungan lain yang bisa dia dapat di lantai ini.
"Tuan..." Suara seseorang yang Akira kenal terdengar dari balik pintu ruangan.
"Masuk."
Setelah dipersilahkan, Zaltra bersama adiknya memasuki ruangan Akira. Akira membangkitkan tubuhnya, cukup terkejut melihat Zaltra ternyata kesini bersama adiknya.
Faltra terlihat kesulitan berekspresi di depan Akira. Wajahnya masih tampak jutek dan seperti enggan menatapnya.
Akira terkekeh melihat Faltra, "Oh, kau hidup kembali ternyata. Maaf, maaf, tadi aku hanya ingin mengetes apakah yang kakakmu ucapkan itu benar atau tidak," ucap Akira terdengar mengejek.
Faltra dalam hatinya diam-diam mengumpat kesal pada Akira. Dia sebenarnya masih tidak bisa percaya kalau bocah manusia ini ternyata memiliki kekuatan yang menakutkan.
Namun setelah mendengar perkataan semua orang yang menyaksikan bagaimana dirinya saat itu lenyap seketika, dia akhirnya menelan ketidakpercayaan itu, terlebih saat mengetahui semua rasnya mulai menerima kehadiran Akira karena takut menjadikannya sebagai sebuah ancaman.
"Tuan, maafkan perbuatan adikku sebelumnya." Zaltra menekuk kepala Faltra untuk membungkuk bersamaan dengannya, "Faltra, kau juga minta maaf." ucap Zaltra pelan melotot tajam Faltra.
Faltra dengan helaan nafas singkat menjawab malas,"Iya-iya, maaf... "
"Hah? Ngomong apa kau barusan. Aku tidak dengar." Akira pura-pura tidak mendengar.
"Maaf."
"Aku tidak mendengarnya."
"Maaf."
"Hah?"
Faltra menegakkan tubuhnya, menatap Akira geram dan berteriak, "Maaf! Aku minta maaf! Kau dengar tidak, bocah!"
Pletak!
Sebuah jitakan mendarat keras di kepala Faltra.
"Apa yang kau lakukan..." Faltra balik melotot geram pada kakaknya sambil mengelus bekas jitakannya.
"Kenapa kau malah berteriak..." Zaltra balas melotot tajam Faltra dengan rahang mengeras.
Akira tertawa pelan melihat tingkah mereka berdua.
"Sudah hentikan." Akira mengangkat satu tangannya menyuruh mereka berhenti.
Mereka berdua berhenti dan kembali menatap Akira.
"Tuan, apa kau memaafkan perbuatan adikku?" tanya Zaltra.
Akira menggeleng pelan, "Masih belum..."
"Kenapa?" protes Faltra mengangkat satu alisnya.
Akira menyipitkan matanya menatap tajam Faltra,"Aku baru akan menerima permintaan maafmu setelah kau melakukan satu syarat," kata Akira dingin membuat tubuh Faltra sedikit bergidik dan menelan ludah, dia merasakan firasat buruk Sementara Zaltra merajut kedua alisnya penasaran.
"A-Apa itu?" tanya Faltra.
Akira tersenyum sinis lalu mengulurkan satu kakinya dan berkata,
"Jilat dulu sepatuku..."
__ADS_1