
Gildart melihat penampilan Zero dan Gladius tampak biasa-biasa saja. Selain Gladius yang terlihat cukup kuat, dimata Gildart, Zero terlihat tidak ada apa-apanya.
Gildart tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan daun emas yang hanya tumbuh di puncak kematian ini secara dia mengetahui bahaya yang harus dihadapi untuk sampai kesana sangatlah besar. Dia hanya bisa menarik kesimpulan jika mereka berdua pasti hanya beruntung menemukan daun ini di salah satu tempat atau mencurinya dari salah seorang.
'Aku harus bisa mendapatkan daun ini. Aku juga harus bisa mendapatkan keuntungan yang besar..." batin Gildart
"Lima ratus koin emas, bagaimana?" Gildart tersenyum lebar menaikan tawarannya.
"Terlalu sedikit." Zero menjawab malas. Dia melihat pemilik toko ini sepertinya ingin mendapatkan keuntungan yang besar dari daun emas ini.
'Orang ini cukup merepotkan juga…' Gildart mengamati Zero yang seperti tidak mudah untuk dibodohi. Meski begitu dia sebisa mungkin ingin meraup keuntungan yang besar.
"Seribu koin emas. Itu cukup untuk kalian bersenang-senang di kota ini selama beberapa tahun." Senyuman Gildart sedikit melebar. Dia berpikir orang seperti mereka pasti akan tergiur dengan uang sebesar itu. Tapi sayang dugannya salah.
Zero menghela nafas pelan mendengar harga yang ditawarkan oleh Gildart masih terlalu rendah.
Gladius yang sejak tadi diam hanya bisa mengamati negosiasi mereka sambil sesekali melirik ke salah satu tempat karena merasakan kehadiran orang lain di tempat itu.
Zero mengambil daun itu kembali dan berkata, "Anda tahu kan daun ini sangat langka dan banyak dicari oleh orang-orang. Petugasmu tadi bilang padaku katanya daun ini dapat menyembuhkan segala jenis penyakit dan kutukan. Artinya harga dari satu daun ini seharusnya setara dengan nyawa seseorang..." Zero memainkan daun itu di tangannya, "Pertanyaannya sekarang, menurutmu berapa harga dari satu nyawa seseorang itu?" Zero menyunggingkan sudut bibirnya seolah menantang.
'Orang ini...' Gildart merasa tidak bisa bermain-main lagi dengan orang seperti Zero.
"Ya. Apa yang kau ucapkan memang benar. Namun, meskipun daun ini dapat menyembuhkan segala jenis penyakit tetapi untuk mengolahnya menjadi obat berkualitas tinggi memerlukan keahlian seorang alchemist yang tinggi, dan untuk mencari orang-orang seperti mereka tidaklah mudah dan memerlukan uang yang tidak sedikit." Gildart tidak mau kalah dan berusaha mendapatkan daun itu dengan keuntungan yang besar.
Zero menutupi wajahnya sambil terkekeh pelan seperti ingin tertawa. Dia kemudian menghela nafas dan mengeluarkan satu botol cairan berwarna emas yang tidak lain adalah daun emas yang sudah diracik menjadi obat.
"Bagaimana dengan ini?" Zero menaruh botol itu di depan Gildart yang seketika membuatnya tercengang sampai kehabisan kata-kata.
'Dia mempunyai obat ini...' batin Gidart terkejut sekaligus gembira.
Gildart menggeleng keras untuk mengambil kesadarannya kembali. Dia kemudian tertawa renyah, "Kenapa kau tidak menunjukkan yang ini saja langsung padaku jika kau ternyata mempunyai."
Gildart hendak meraih botol itu namun Zero segera mengambilnya kembali dengan cepat.
"Jadi, berapa harga terbaik yang bisa aku dapatkan?" Suara Zero terdengar angkuh sambil memainkan botol itu di tangannya.
Gildart menghela nafas dalam kemudian memutuskan harganya, "Seratus ribu koin emas. Aku akan membayarnya sekarang juga," katanya penuh penekanan seolah itu harga terbaik yang bisa dia ajukan.
"Tidak mau. Itu masih terlalu sedikit untuk harga nyawa seseorang." Zero menjawab malas tanpa menatap Gildart dan masih memainkan botol itu di tangannya.
'Sial, aku harus bisa mendapatkan obat itu...aku harus bisa mendapatkannya...' Gildart mulai terbawa emosi.
__ADS_1
"Dua ratus ribu koin emas. Kau bisa membeli apapun dengan uang itu."
"Tidak mau…"
"Baik, baik, empat ratus ribu."
"Ditolak…"
'Tidak ada pilihan lain.' Gildart yang kehabisan kesabaran melirikkan matanya ke salah satu tempat seperti memberi kode pada seseorang.
Sesaat berikutnya beberapa pengawal pribadinya yang merupakan seorang assassins keluar dan muncul di hadapan Zero dan Gladius. Kelima orang assassins yang berpakaian serba tertutup itu langsung menghunuskan pedang pendeknya ke arah mereka berdua.
"Empat ratus ribu koin emas dan nyawa kalian akan selamat," ancam Gildart.
"Akhirnya kalian muncul juga." Zero dan Gladius tersenyum tipis melirik ke arah mereka tanpa takut sama sekali dengan pedang yang terhunus ke arahnya.
Sejak tadi Zero dan Gladius sudah menyadari kehadiran mereka berlima dan Zero sengaja memancing emosi Gildart agar dia memanggil mereka.
Kelima assassins itu mengerutkan dahinya heran melihat mereka berdua masih bisa tenang saat dihadapkan dengan situasi seperti ini.
"Lupakan soal harganya. Serahkan botol itu sekarang juga maka nyawa kalian akan selamat." Gildart mengulurkan tangannya sambil menyeringai tidak sabaran mengancam mereka.
Ini merupakan cara yang paling menguntungkan untuk bisa mendapatkan item bernilai tinggi itu menurutnya. Dia sering menggunakan cara ini jika dalam kondisi seperti ini.
Gildart menangkap botol itu dengan senyuman melebar. Dia sangat senang karena akhirnya bisa mendapatkan item bernilai jual tinggi itu apalagi didapatkan secara cuma-cuma.
Disaat Gildart larut dalam kesenangannya, Zero diam-diam melepas cincin yang tersemat di jarinya dan seketika membuat para assassins itu mundur ke belakang karena terkejut merasakan energi sihir yang sangat besar dalam diri Zero.
Senyuman Gildart seketika memudar saat itu juga. Dia tidak kalah terkejutnya saat mengetahui energi sihir luar biasa tersebut ternyata berasal dari dalam tubuh Zero yang semula dia pikir hanyalah seorang penyihir biasa.
Gildart langsung menyadari, pasti kedua daun itu memang murni didapatkan dari puncak gunung kematian. Dia kini merasa sial karena telah menyinggung orang sepertinya.
Merasa ini kesempatanya, Gladius menggerakkan tangannya melilit tubuh kelima assassins yang menjauh itu menggunakan rantainya, membuat mereka tidak bisa apa-apa.
Keadaan kini berbalik delapan puluh derajat. Gildart tidak bisa berhenti bergetar dan sama sekali belum bergeming dari posisinya saat merasakan energi sihir milik Zero dari jarak dekat.
"S-Siapa kau sebenarnya?" Gildart terlihat ketakutan.
Zero mengambil botol itu dari tangan Gildart tanpa menyentuhnya dan berkata, "Bukan siapa-siapa. Aku hanya pelanggan yang mampir di toko ini dan ingin menawarkan item ini saja." Zero memainkan botol itu kembali di tangannya. Dia melirik ke Gladius di sampingnya lalu memberi perintah.
Gladius yang mengerti segera menggerakkan tangannya sampai rantai kecil keluar dengan cepat dan menghujam jantung Gildart lalu menghilang begitu saja.
__ADS_1
Gildart sejenak mendadak sulit bernafas dan berpikir dia akan mati setelah jantungnya dihujam. Namun anehnya dia masih hidup dan saat melihat ke arah dadanya, dia tidak menemukan bekas darah apapun seolah rantai barusan tidak pernah menembusnya.
"Aku sudah melilit jantungmu dengan rantai penghakimanku. Sekali saja kau berani macam-macam dengan tuanku, aku akan menggerakkan rantai itu untuk membunuhmu." Gladius menunjukkan senyuman ramahnya, tetapi senyumannya itu malah membuat Gildart ketakutan.
"Kenapa kau melakukan ini padaku! Kumohon lepaskan, aku tidak ingin mati! Aku bersumpah tidak akan berbuat macam-macam." Gildart memohon sambil bersujud di depan mereka.
"Salah kau sendiri karena berani duluan mengancamku." Zero menguap malas.
"Berdiri dan duduklah kembali. Jika kau masih ingin hidup sekarang jawab semua pertanyaanku dan layani aku sewajarnya."
"Ba-baik." Gildart buru-buru berdiri dan duduk di tempatnya semula. Dia kali ini mencoba bersikap baik di depan Zero demi menyelamatkan nyawanya.
"Jawab dengan jujur. Kenapa kau begitu antusias sekali mendapatkan obat ini?" Zero menunjukkan botol berisi cairan emas itu pada Gildart.
Zero menyadari sejak tadi Gildart sangat ambisius sekali untuk mendapatkan obat itu dan bahkan berani menawar harga yang sangat tinggi, padahal dia bisa saja menolaknya dan menyuruhnya untuk menjualnya di tempat lain.
Gildart terdiam, ragu untuk menjawab pertanyaan Zero.
"Jawab. Jika kau tidak menjawabnya dalam lima detik kau akan tewas." Gladius menyadarkan keraguan Gildart.
"B-baik, aku akan menjawabnya." Gildart buru-buru merespon.
Gildart menghela nafas singkat kemudian menjelaskan, "Sebenarnya...sebenarnya, beberapa hari belakangan ini ada seorang bangsawan kaya raya yang mendatangiku untuk mencari obat yang bisa menyembuhkan anaknya yang lumpuh dan tidak bisa melihat. Dia berani membayar berapapun jika aku mempunyai obat seperti itu," jelas Gildart. Dia merasa tidak ada lagi harapan untuk bisa mendapatkan uang yang besar dari menjual obat itu.
"Lalu menurutmu berapa besar uang yang bisa kau dapatkan jika kau berhasil menjualnya ke bangsawan itu?" tanya Zero.
"Antara lima atau sepuluh juta koin emas mungkin bisa," jelasnya berdasarkan perkiraannya.
"Hahaha! Jika aku orang bodoh pasti sebelumnya aku sudah langsung mengambil tawaranmu yang pertama. Kau memang tua bangka yang licik sekaligus bodoh," ejek Zero.
Gildart hanya bisa mengumpat kesal dalam hatinya.
"Aku akan memberimu seribu koin emas jika kau mau memberitahukan padaku dimana tempat bangsawan itu," kata Zero memberikan penawaran.
"Apa tidak bisa sedikit ditambahkan lagi?" Gildart langsung menggingit bibirnya setelah mengucapkan itu.
"Hah~ Padahal aku sudah berbaik hati padamu. Kau masih ingin nyawamu selamat, kan?" Zero menatap Gildart tajam.
"Jika aku mati, kau tidak akan bisa mendapatkan informasi itu, dan sebelum kau berhasil mendapatkannya juga kau akan menghadapi banyak masalah lain dengan orang-orangku dan perajurit kota ini." Gildart memberikan ancaman halus pada Zero.
Zero menatap Gildart tajam diikuti aura sihir keluar dalam dirinya mengintimidasi Gildart.
__ADS_1
"Tua bangka... kau pikir aku takut dengan semua itu, hah?"