Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Bangkitlah


__ADS_3

Di depan Zero sekarang seluruh penduduk desa sudah berkumpul. Mereka yang tadi tidak hadir seperti anak-anak dan lansia kini semuanya berkumpul di satu tempat. Berdasarkan penjelasan yang Zero terima kurang lebih ada dua ratus orang yang tinggal di desa ini dan sebagian yang tidak berkumpul sekarang sedang sakit atau keluar.


Zero tidak sendiri, dia temani Sherria dan Fluffy yang selalu tersenyum di sampingnya. Mungkin agak lucu jika ada orang yang melihat seorang bocah ingusan dengan dikelilingi dua gadis polos tengah menatap angkuh para orang tua yang usianya jauh lebih dewasa.


"Apa kalian sudah tenang?" Zero bertanya pada penduduk desa yang sebelumnya telah menghabisi para pengacau itu. Semua mayat mereka Zero bakar menjadi abu tanpa perlu repot-repot menguburnya.


"Sudah, Tuan," kata mereka yang tadi ikut andil.


"Baguslah kalau begitu…" Zero tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Terimakasih Tuan, karena telah menyelamatkan desa kami," kata mereka serempak memberi hormat pada Zero dan dua gadis di sampingnya.


Zero terkekeh pelan sambil menyilangkan kedua tangan di dada, menengadahkan sedikit kepalanya, menatap angkuh mereka semua, "Jangan salah paham dulu. Aku membantu kalian bukan berarti aku peduli pada kondisi kalian. Ingat, aku bukanlah sosok yang biasa kalian kenal sebagai pahlawan. Atau pahlawan konyol yang biasa kalian dengar di kisah-kisah masa kecil kalian yang rela melakukan apapun bahkan untuk mati sekalipun hanya demi mengharapkan satu kata terimakasih belaka.


Konyol sekali...


Anggap saja aku disini sebagai pahlawan yang mencari keuntungan dan kompensasi yang setimpal dengan yang sudah aku lakukan. Dengan kata lain aku ingin meminta imbalan atas jasaku barusan."


Pernyataan Zero mengejutkan mereka semua, termasuk Levy yang menjadi orang yang meminta bantuan padanya.


Meski ikut terkejut mendengarnya, Sherria di sampingnya tidak ingin menyela perkataan Zero dan mencoba diam tidak ingin ikut campur. Mungkin baru pertama kali ini Sherria melihat sosok Zero yang angkuh seperti ini.


Dilihat dari caranya bersikap, mereka semua bisa menebak pasti Zero menginginkan sesuatu yang sangat besar.


"Apa yang tuan inginkan dari kami?" Pria dewasa yang menjadi perwakilan mereka bertanya.


"Hm…" Zero tidak langsung menjawab. Dia mengelus dagunya mengamati keadaan desa sebelum menjentikkan jarinya dan menjawab,"Sudah kuputuskan, sebagai bayarannya aku menginginkan desa ini. Semua yang ada di desa ini sekarang adalah milikku."


Permintaan Zero membuat para penduduk desa yang mendengarnya sesaat berhenti bernafas. Permintaan ini menurut mereka terlalu besar untuk dikabulkan.


"Tapi Tuan…ini...ini terlalu besar." Pria dewasa terbata-bata menolak permintaan Zero.


Zero berhenti bersuara saat mendengar penolakan itu. Dia menatap dingin para penduduk desa, membuat mereka menelan ludah secara bersamaan, sebelum sesaat berikutnya Zero tertawa lantang.


"Hahaha! Kalian jangan salah dulu mengartikannya. Tenang saja, aku tidak akan mengusir kalian dari desa ini dan juga aku tidak akan berbuat apapun atau sampai melukai kalian."


Para penduduk desa masih belum memahami apa maksud perkataan Zero. Namun mereka merasa lega mendengar Zero tidak akan berbuat apapun padanya.


"Maaf, Tuan. Bisa coba jelaskan lebih jelas lagi," kata Pria dewasa mewakili mereka semua. Zero mengangguk pelan.


"Baik, biar kuberitahu pada kalian. Mulai hari ini juga desa ini adalah milikku dan kalian yang ada desa ini adalah abdiku." Zero bersikap angkuh di hadapan mereka.


"Aku ingin kalian tetap tinggal disini dan membantuku mengolah desa ini dengan baik. Aku sudah memutuskannya, mulai saat ini juga kita akan mengubah desa ini menjadi kerajaan," jelas Zero yang membuat para penduduk desa yang mendengarnya terkejut.

__ADS_1


"Ehh!!"


Semua yang ada di sana berteriak, bahkan Sherria di sampingnya ikut bereaksi. Mendengar desa sekecil ini akan diubah menjadi kerajaan? Jelas hal itu membuat mereka terkejut sekaligus tidak percaya.


"Kenapa kalian sebegitu terkejutnya." Zero mengerutkan dahinya dengan seulas senyuman, menatap mereka heran.


"Kerajaan? Apa kami tidak salah dengar, Tuan?" Pria dewasa itu memastikan.


"Tentu saja." Zero mengangguk mantap.


"Itu mustahil, Tuan."


"Benar, itu mustahil."


Para penduduk desa ikut mengatakan kalau itu adalah suatu hal yang mustahil untuk di capai.


"Tidak ada yang mustahil jika aku sudah memutuskannya." Zero menyunggingkan sudut bibirnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


Meski Zero terlihat begitu yakin dengan keputusannya tapi mereka masih tetap tidak percaya.


"Apa kalian ingin melihat sesuatu yang lebih mustahil dari ini?" Zero tersenyum penuh makna ke arah mereka.


Para penduduk desa saling berpandangan tidak bisa menebak apa itu.


"Baik, akan aku bahas lagi hal ini nanti. Sekarang bawa aku ke tempat mayat teman kalian yang sebelumnya dibunuh oleh mereka," titah Zero yang membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang ingin dilakukannya.


"Apa yang ingin Tuan lakukan pada mereka?" Pria dewasa semakin penasaran.


"Sudah jelas, aku akan menghidupkannya kembali, karena mereka sekarang adalah abdiku juga." Zero berkata santai seolah menghidupkan orang yang sudah mati adalah hal yang mudah


"Menghidupkannya kembali?" Mereka mengerutkan dahinya mendengar kalimat tersebut. Mereka memastikan apakah barusan tidak salah dengar.


"Mustahil. Itu adalah suatu hal yang tabu untuk dilakukan." Semua orang setuju kalau itu tidak akan mungkin terjadi. Tidak ada yang bisa menentang yang namanya takdir. Semua yang mati tidak akan bisa hidup kembali. Sherria yang di sampingnya pun masih sependapat dengan mereka.


"Sudah bawa saja aku. Aku tidak suka banyak tanya." Zero berkata dingin, mengeluarkan sedikit aura sihirnya mengintimidasi mereka.


"B-baik, Tuan. Ikuti aku." Pria dewasa itu mencoba menuruti perkataan Zero. Dia menuntun Zero ke satu tempat. Mereka yang penasaran mengikutinya.


"Flo, kau bermain saja dengan mereka." Zero meminta salah satu dari mereka untuk membawa Fluffy bermain dengan anak-anak lainnya sebelum melangkah mengikuti pria dewasa itu.


"Sherria, aku akan membuktikannya padamu. Aku bisa menghidupkan kakakmu kembali." Zero berkata pelan sambil menggenggam tangan Sherria.


"Baik, Zero-sama aku akan coba mempercayainya…" Sherria tersenyum ringan menatap Zero.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Zero mengamati setiap sisi desa sambil memikirkan berbagai hal yang menarik untuk membangun desa tersebut.


"Ini tempatnya, Tuan."


Zero akhirnya sampai ke tempat tujuan. Dia bersama Sherria dibawa masuk ke dalam suatu ruangan oleh pria dewasa itu. Ruangannya tidak terlalu besar dan hanya beralaskan tanah saja. Sebagian orang yang tidak bisa masuk terpaksa harus menunggu diluar.


Zero menemukan di dalam ruangan tersebut terdapat sembilan mayat yang tergeletak di tanah dan tertutup kain putih yang menutupi semua bagian tubuhnya.


"Apa hanya mereka saja?"


"Ya, Tuan. Hanya mereka yang tadi gugur setelah berjuang melindungi desa ini."


Zero mengamati mayat itu sesaat, kemudian berdiri di tengah-tengahnya. Semua orang yang ada di dalam menyaksikan secara seksama apa yang akan Zero lakukan. Mereka ingin memastikan apakah yang Zero katakan tadi benar atau tidak. Termasuk Sherria yang berharap banyak kalau itu memang benar.


Zero menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata. Dia kini sedang berkonsentrasi penuh untuk menghidupkan mayat di depannya. Sebenarnya dia belum pernah mencoba ini dan bisa dibilang dia melakukan ini karena ingin membuktikannya juga.


Zero mencoba mengingat kembali semua persyaratan yang dibutuhkan untuk memastikan semuanya sudah terpenuhi.


'Syarat pertama aku membutuhkan bentuk fisik seseorang yang ingin aku bangkitkan. Kedua tergantung pada orang yang ingin aku bangkitkan, apakah dia masih mempunyai keinginan untuk hidup atau tidak. Ketiga aku harus memberikan seribu Orb sebagai persembahan. Keempat aku harus mendapatkan class necromancer untuk menggunakan sihir terlarang ini. Dan yang terakhir setengah umurku akan berkurang..." Zero sudah memastikan kalau semuanya sudah terpenuhi.


"Baik, kurasa sudah semuanya." Zero membuka matanya bersiap mulai menghidupkan kembali sembilan orang yang terbaring di depannya.


Zero memposisikan diri kemudian menyatukan kedua tangannya, lalu dia menempelkan kedua tangannya itu ke tanah sampai sebuah pola sihir berwarna gelap membentuk lingkaran terlihat mencakup semua mayat yang terbaring kaku itu.


Setelah itu dia pun mulai merapalkan mantra.


"Namaku Zero. Aku disini memanggil kalian wahai para jiwa yang masih mempunyai keinginan hidup untuk kembali pada raga kalian. Lawan lah takdir. Bebaskanlah diri kalian dari belenggu yang memasung jiwa kalian disana dan kembali lah ke sini, temuilah semua orang yang menurutmu berharga dan selesaikanlah semua urusan yang ada di dunia ini agar suatu saat kalian bisa tenang disana..." Seiring berkata demikian sebuah cahaya yang menyilaukan keluar dari pola sihir berwarna gelap itu, disusul dengan segumpal cahaya hijau yang tampak muncul dari langit dan masuk ke dalam raga kesembilan mayat itu.


Semuanya yang menyaksikan hal itu tercengang terlebih saat menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.


"Namaku Zero! Dengan semua persembahan yang aku berikan, aku menyuruh kalian untuk hidup kembali!"


"Bangkitlah…"


——


Happy New Year All


Dua chap ini jumlahnya 3000 kt lebih, anggap saja satu chpt yang kemarin saya janjikan disatuin di dua chpt ini.


Harapan saya di tahun selanjutnya semoga saya bisa menjadi lebih baik lagi, baik dalam hal apapun, termasuk menulis.


Mohon dukungannya semua. Di tahun selanjutnya Saya akan coba lebih konsisten lagi dalam menulis dan memuaskan kalian para pembaca.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2