Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Pertandingan Kita Berdua


__ADS_3

"Ah maaf, aku mengganggu, ya." Sherria segera berbalik badan dan memaki dirinya sendiri karena muncul di depan mereka berdua di waktu yang tidak tepat.


Zero dan Charla langsung membangkitkan dirinya saat menyadari kehadiran Sherria. Mereka berdua merasa canggung karena terciduk sedang memperlihatkan kemesraan mereka di depan Sherria.


"K-Kalau begitu aku pergi. Kalian boleh melanjutkannya lagi." Sherria melangkahkan kakinya buru-buru meninggalkan mereka berdua. Perasaannya kini bercampur aduk setelah menyaksikan apa yang terjadi di depannya barusan.


"Tunggu, Sherria." Charla berlari mengejar adiknya.


Zero yang ditinggal sendirian oleh mereka berdua menghela nafas sambil menggaruk belakang kepalanya. Perasaan dan pikirannya saat ini sulit dijabarkan atas apa yang sudah terjadi barusan.


Zero menengadahkan kepalanya ke atas dan menemukan langit sudah sore. Dia kemudian melangkahkan kakinya mengikuti mereka berdua untuk menyuruhnya pulang.


*~*


Suasana dalam kamar yang hening terasa canggung. Kedua kakak beradik saling tidur membelakangi sejak tadi tanpa ada satu katapun yang keluar untuk mencairkan suasana tersebut. Sampai akhirnya sang kakak memutuskan lebih dulu bersuara memecah keheningan.


"Sherria," panggil Charla


"..." Tapi Sherria tidak membalas panggilannya.


"Ada apa, Sherria? Kenapa Sherria sejak tadi diam." Charla membalikkan badannya menghadap Sherria.


"Tidak ada." Sherria menanggapi.


"Apa Sherria marah padaku gara-gara tadi?" tebak Charla.


"Tidak..."


"Lalu?"


"Aku marah pada diriku sendiri, Nee-san."


"Kenapa begitu?"


Sherria terdiam selama beberapa detik kemudian menjawab, "Seharusnya aku tahu kalau Zero-sama itu milik Nee-san. Tapi aku..." kata-katanya tertahan.


"Zero-sama bukan milik siapa-siapa, Sherria." Charla memeluk adiknya, memberikan sentuhan kasih sayang seorang kakak.


"Aku melihatnya... Sampai saat ini pun Zero-sama masih belum bisa lepas dengan kekasihnya yang dulu," lirih Charla di telinga Sherria.


"Kekasihnya? Apa Zero-sama pernah mempunyai kekasih selain Nee-san?" Sherria penasaran.


"Ya. Zero-sama pernah mempunyainya..."


Charla memposisikan tidurnya menghadap langit dan mulai menceritakan pada Sherria tentang sosok yang dulu pernah singgah di hati Zero sekaligus sosok yang saat itu pernah mengkhianatinya.


Namun anehnya meskipun kekasihnya yang dulu pernah mengkhianatinya, Charla dapat melihat Zero seperti tidak pernah bisa melepaskan sosok tersebut dari pikirannya.

__ADS_1


"Zero-sama…" Sherria merasa sedih mendengar cerita pengkhianatan kekasih Zero yang dulu.


"Meski begitu, dia adalah wanita pertama yang Zero-sama cintai dan pernah menjadi penyemangat untuknya tetap hidup di dunianya yang sungguh menyedihkan." Charla menghela nafas pelan di ujung kalimatnya teringat akan cerita Zero tentang betapa busuknya orang-orang di dunianya.


"Zero-sama pernah bilang padaku kalau tingkahku mirip sekali dengannya," Charla terkekeh mengingat itu, "Kemungkinan Zero-sama menghidupkanku kembali dan memperlakukanku seperti ini karena dia berpikir kalau aku adalah dia." Charla tersenyum di ujung kalimatnya, senyumannya mengandung arti yang sangat dalam.


"Buktinya meski aku sudah menyatakan cintaku padanya tapi dia sama sekali belum membalasnya." Charla terkekeh kembali.


"Eh, kenapa? Bukankah Nee-san sudah menjadi kekasihnya?" Sherria berbalik menghadap kakaknya, terkejut mendengar penuturannya.


"Tidak. Zero-sama tidak pernah menganggapku seperti itu." Charla ikut berbalik menghadap Sherria.


"Lalu?" Sherria menurunkan sedikit alisnya.


Charla menghela nafas kemudian tersenyum, "Entahlah…"


"Kalau Sherria mencintai Zero-sama katakan saja. Selama Zero-sama tidak mempermasalahkannya Sherria juga boleh memilikinya." Charla menyentuh hidung Sherria. Dia sudah menebak perasaan Sherria sedari awal. Oleh karena itu dia tidak ingin ada pertengkaran dengan adiknya hanya karena gara-gara ini.


"Nee-san…" Sherria membenamkan wajahnya di dada kakaknya sambil meneteskan air mata.


"Zero-sama sudah menyelamatkanku dari majikanku yang dulu... Dia yang sudah menghilangkan semua kesedihan di masa laluku… Dan sekarang dia juga yang sudah membawakanku kebahagiaan dengan mempertemukanku kembali dengan Nee-san, ayah dan ibu…"


Charla mengelus-elus kepala adiknya dengan lembut,"Ya. Aku tahu itu…aku juga sangat berterima kasih pada Zero-sama karena sudah mempertemukanku kembali dengan kalian."


"Nee-san..."


Selama beberapa menit mereka terdiam, saling meluapkan perasaannya masing-masing dalam pelukan hangat sepasang kakak beradik. Walaupun bukan saudara kandung mereka terlihat sangat saling menyayangi satu sama lain.


"Bagaimana kalau sekarang kita berlomba?" Charla melepas pelukannya dan menyeka jejak air mata di kelopak mata Sherria, "Siapa diantara kita yang mendapatkan cintanya duluan?" usul Charla.


"Eh, tapi… Apa Nee-san tidak apa-apa?"


"Tentu saja. Karena kau adikku aku tidak keberatan kalau harus berbagi denganmu." Charla tersenyum berseri menampilkan deretan giginya.


"Nee-san…" Sherria tidak tahu bagaimana menanggapi tawaran kakaknya. Namun di satu sisi dia merasa senang dengan suatu hal yang dia sendiri sulit mengerti. Untuk itu dia tersenyum.


"Fufufu~ Dengan begini sekarang aku sudah melakukannya tiga kali?" Charla menampilkan ekspresi sombong di depan adiknya sambil menunjukkan tiga jarinya.


"Kenapa wajah Nee-san terlihat sombong begitu." Sherria mengerutkan dahinya dengan seulas senyuman hambar.


"Karena aku sudah melakukannya tiga kali. Tiga kali…" Wajah Charla terlihat semakin menjengkelkan.


Sherria terkekeh melihatnya. Dia menghadapkan posisi tidurnya ke depan, "Sebenarnya aku sudah melakukannya dua kali…" balasnya tidak mau kalah.


"Eh~ Katanya Sherria baru melakukannya sekali." Charla mencubit pipi Sherria kemudian ikut memposisikan tidurnya menghadap ke langit.


"Tapi tidak masalah. Karena untuk sekarang aku masih menang darimu," ujarnya penuh semangat

__ADS_1


"Ingat Sherria, ini pertandingan kita berdua."


Sherria hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia merasa bersyukur mempunyai kakak perhatian seperti Charla yang selalu bisa mengerti perasaannya.


*~*


Keesokan harinya mereka berdua kembali berlatih bersama Zero. Dari roman-romannya terlihat kini mereka sangat bersemangat sekali dan seperti sedang saling berlomba memperlihatkan hasil latihannya.


Charla tampak sudah mulai bisa mempelajari cara menggunakan pistol pemberian Zero biarpun masih terdapat banyak kekurangannya.


Sementara Sherria sudah mulai belajar merubah energi sihirnya menjadi senjata untuk menyerang.


Zero tidak tahu apa yang menyebabkan mereka seperti itu tetapi dia senang sekali melihatnya.


"Sudah cukup, kalian berdua kemarilah…"


Mereka berdua menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Zero.


"Aku akan membantu kalian membuat lingkaran sihir." Zero merasa perlu mengembangkan fondasi sihir mereka lebih jauh.


"Benarkah?"


"Lagi?"


Mereka berdua senang sekali mendengarnya.


Zero mengangguk kemudian menyuruh mereka berdua duduk dan memposisikan dirinya.


Zero lalu mengeluarkan semua inti monster yang saat itu dia dapatkan dan mulai membantu membuat lingkaran sihir dalam diri mereka.


Setelah itu mereka kembali berlatih seperti biasa.


Hari-hari mereka jalani dengan latihan dan seiring berjalannya waktu bakat mereka terus terasah.


Sampai dua minggu kemudian mereka sudah bisa memperlihatkan bakatnya pada Zero.


Berkat bantuan Zero kini Charla dan Sherria sudah menjadi seorang penyihir kelas dua.


"Sherria coba perlihatkan hasil latihanmu selama ini," titah Zero. Dia ingin melihat perkembangan Sherria yang setiap harinya terus meningkat.


Sherria mengangguk penuh semangat dan bersiap memperlihatkan hasil terbaik dari latihannya selama dua minggu ini pada gurunya.


Sherria memposisikan dirinya kemudian mengangkat kedua tangannya ke depan, "Sebagai sumber dari kekuatan alam, aku memerintahkanmu, putar balikkan hukum alam dan ubahlah angin dalam diriku menjadi kekuatan." Seiring Sherria merapalkan mantra itu, pusaran angin terbentuk di telapak tangannya.


"Typhon!"


Ketika menyebut satu kata itu, Pusaran angin di telapak tangan Sherria meluncur ke arah batang pohon yang sudah layu hingga menghancurkannya berkeping keping.

__ADS_1


Like & Coment


__ADS_2